PGI Laksanakan Kajian Strategis: Dari Ratapan Nehemia ke Pemetaan Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua
admin
28 Apr 2026 08:02
MANOKWARI, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melanjutkan langkah strategis dalam merespons krisis kemanusiaan di Tanah Papua melalui kegiatan Kajian Strategis Pemetaan Permasalahan Kemanusiaan di Papua (Pra-Simposium) yang berlangsung pada 27–30 April 2026 di Hotel Fujita Papua, Manokwari. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Biro Penelitian dan Pengembangan PGI bersama Biro Papua PGI, dengan Sinode Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) sebagai host.
Hari pertama dibuka dalam suasana reflektif melalui ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Tandi Randa dari Sinode GPKAI. Mengangkat Nehemia 1:3, ia menempatkan ratapan Nabi Nehemia sebagai cermin iman untuk membaca luka kolektif—sebuah panggilan bagi gereja untuk tidak mengabaikan realitas penderitaan yang masih dialami masyarakat Papua hari ini.
Laporan panitia yang disampaikan oleh Ketua Umum Panitia, Pdt. Dr. George Rumbekwan, D.Th., menegaskan bahwa Pra-Simposium ini merupakan langkah awal lanjutan untuk membangun pemetaan persoalan kemanusiaan Papua secara lebih sistematis, berbasis data, dan lintas perspektif.

Dalam sambutan-sambutan pembukaan, Ketua Majelis Umum Sinode GPKAI Pdt. Dr. Pilipus Manggaprou, Gubernur Papua Barat yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, serta Bupati Manokwari diwakili oleh Staf Ahli Bupati, menegaskan dan menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam merespons kompleksitas persoalan Papua yang tidak dapat diselesaikan secara sektoral, dan semua ini hanya dapat dilaksanakan jika basis data kuat dan terkonsolidasi.
Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon, menegaskan bahwa kehadiran seluruh peserta dalam forum ini merupakan bagian dari panggilan bersama gereja untuk membangun pemahaman yang lebih jernih dan komprehensif mengenai dinamika kemanusiaan di Papua. Ia menekankan bahwa Pra-Simposium ini mengintegrasikan data pastoral, refleksi teologis, dan analisis akademik sebagai dasar penyusunan kajian strategis gereja.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa persoalan kemanusiaan di Papua menuntut pendekatan kolektif antara gereja, pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil, serta menjadi landasan menuju Simposium Nasional Gereja dan Permasalahan Kemanusiaan di Papua yang direncanakan pada Agustus 2026.
Pembukaan kegiatan ditandai dengan seremoni pemukulan tifa oleh Wakil Sekretaris Umum PGI disaksikan oleh pimpinan sinode gereja anggota PGI di Tanah Papua, unsur pemerintah, serta perwakilan TNI dan Polri.
Memasuki sesi kuliah umum, pembahasan langsung diarahkan pada substansi persoalan.
Kepala Kesbangpol Papua Barat, Rheinhard Calvin Maniagasi, mewakili Gubernur Papua Barat memaparkan keterkaitan antara dinamika kemanusiaan, stabilitas sosial, tantangan dan strategi pembangunan di Papua.
Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, anggota Dewan Energi Nasional, menempatkan Papua dalam kerangka geopolitik energi nasional. Ia menyoroti tantangan ketergantungan impor energi, kebutuhan percepatan transisi energi terbarukan, serta agenda dekarbonisasi menuju net zero emission 2060 sebagai bagian dari arah pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Dalam perspektif yang lebih kontekstual, Dr. Ir. Agus Sumule dari Universitas Negeri Papua menguraikan bahwa persoalan Papua berakar pada berbagai dimensi yang saling terkait, mulai dari sejarah konflik, ketimpangan pembangunan, pelanggaran hak asasi manusia, hingga pengelolaan sumber daya alam yang belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat asli Papua.
Ia menegaskan bahwa penyelesaian persoalan Papua membutuhkan pendekatan dialog yang inklusif, pembangunan berbasis masyarakat lokal, penegakan HAM yang konsisten, serta pembangunan kepercayaan sebagai fondasi utama menuju perdamaian.

Kegiatan hari pertama ini diikuti oleh peserta dari gereja-gereja anggota PGI di Tanah Papua, PGIW, PGGP Papua, Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta (termasuk Sekolah Tinggi Teologi), NGO, jurnalis, serta mitra strategis lainnya. Komposisi peserta yang beragam ini mencerminkan pendekatan kolaboratif yang sedang dibangun dalam proses kajian ini.
Hari pertama Pra-Simposium ini semakin menandai upaya yang semakin serius berbasis gereja untuk mengintensifkan suara kenabian yang semakin basis pengetahuan yang serius, terukur, dan kolaboratif. Melalui proses ini, PGI menegaskan komitmennya untuk menghadirkan suara gereja yang profetis, berbasis data dan berpihak pada keadilan, perdamaian, dan martabat orang Papua yang semakin masif dan serius.
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Pdt. Arliyanus Larosa Serahkan Hasil Revisi Dokumen Pedoman Nasional P...
JAKARTA,PGI.OR.ID-Setelah melalui proses perbaikan, Ketua Tim Revisi Pedoman Persekutuan Oikoumene Umat Kriste...
PGI Laksanakan Kajian Strategis: Dari Ratapan Nehemia ke Pemetaan Kris...
MANOKWARI, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melanjutkan langkah strategis dalam mere...
Paskah Nasional V Sukses Digelar di Sulawesi Tengah, Ribuan Umat Hadir...
PALU, PGI.OR.ID-Sulawesi Tengah menjadi tuan rumah pelaksanaan Paskah Nasional V yang diselenggarakan oleh For...

