Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

PGI dan AYANA Tegaskan Peran Strategis Gereja dalam Keadilan Iklim

Thumbnail
Author

admin

07 Apr 2026 16:38

Share:

JAKARTA,PGI.OR.ID-Amanah Daya Nusantara (AYANA) bersama Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Aksi Iklim Berbasis Iman, Budaya, dan Komunitas di Grha Oikoumene, Salemba, Jakarta, Selasa (7/4).

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan PGIW Jakarta, PGIW Jawa Barat, PGIW Banten, PGIS Bekasi, serta sejumlah lembaga mitra seperti Adventus Development and Relief Agency (ADRA) Indonesia, World Vision Indonesia (WVI), dan Yayasan Cita Wadah Swadaya (YCWS). Forum ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat peran komunitas iman dalam merespons krisis iklim yang semakin nyata dan mendesak.

Dalam sambutan saat membuka FGD, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, menegaskan bahwa isu krisis ekologi bukanlah hal baru bagi gereja, melainkan pergumulan panjang yang terus berkembang seiring dinamika zaman. Ia mengingatkan bahwa sejak 1940, gereja-gereja di dunia telah bergumul dengan isu ekologi dan telah menghasilkan dokumen tentang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. “Isu krisis ekologi selalu hadir sebagai tantangan global sekaligus kenyataan konkret yang kita hadapi setiap hari. Karena itu, gereja tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab ini,” ujarnya.

Pdt. Jacky Manuputty juga menyinggung Dekade Ekumenis Aksi Keadilan Ekologi 2025–2034 yang diluncurkan secara global sebagai respons gereja-gereja terhadap keadaan darurat iklim. Dekade ini menekankan pentingnya pertobatan ekologis (ecological repentance) yang menyentuh perubahan cara hidup, pola pikir, dan praktik iman secara mendasar.“Gereja dipanggil bukan hanya untuk berbicara, tetapi menjadi bagian dari transformasi. Dari pola hidup yang eksploitatif menuju relasi yang memulihkan, dari dominasi menuju tanggung jawab, dari keterpisahan menuju harmoni dengan seluruh ciptaan,” tambahnya. Secara khusus PGI telah menempatkan krisis ekologis sebagai salah satu isu yang mendapatkan perhatian dalam tujuan strategis program-progam bidang dan biro di PGI.

Ia juga menegaskan pentingnya peran gereja sebagai pusat ketahanan komunitas, yang menghadirkan praktik nyata seperti penggunaan energi terbarukan, konservasi air, serta pemulihan keanekaragaman hayati. Selain itu, gereja didorong untuk terlibat dalam advokasi kebijakan, termasuk mendorong keadilan iklim, pendanaan ekologis, hingga pengakuan kejahatan ekologis (ecocide). 

Sementara itu, Rully Amrullah (Direktur Program AYANA)  menyampaikan bahwa organisasi tersebut merupakan bagian dari jaringan global Our Common Home yang berfokus pada penguatan aksi iklim berbasis komunitas iman. Indonesia, khususnya di kawasan Asia Tenggara, dipercaya menjadi salah satu simpul penting dalam pengembangan gerakan ini.

Dalam paparannya, AYANA menyoroti situasi kerentanan lingkungan di Indonesia. Dari sekitar 80.000 desa, lebih dari 53.000 di antaranya berada dalam status rawan bencana. Pengalaman bencana di berbagai wilayah, termasuk di Sumatera, menjadi pengingat kuat bahwa krisis iklim bukan ancaman masa depan, melainkan realitas yang sudah terjadi. “Komunitas agama memiliki posisi strategis dan tingkat kepercayaan tinggi di tengah masyarakat.Karena itu, peran tokoh agama sangat penting untuk menggerakkan kesadaran dan aksi nyata di tingkat akar rumput,” ungkap Rully.

FGD ini merupakan bagian dari rangkaian dialog lintas iman yang telah dan akan dilakukan ANAYA bersama berbagai komunitas keagamaan, termasuk dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Perwakilan Umat Budha Indonesia (WALUBI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) , Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), bertujuan membangun kolaborasi yang lebih luas dalam menghadapi krisis iklim secara bersama. 

Berbagi Praktik Baik dari Gereja

Selain pemaparan konseptual, forum ini juga diisi dengan berbagi pengalaman konkret dari para peserta mengenai berbagai inisiatif yang telah dilakukan di tingkat gereja dan komunitas.

Pdt. Herlin Kunu dari PGIW Jabar menyampaikan bahwa Sinode GPIB telah mendeklarasikan diri sebagai gereja yang berkomitmen pada kepedulian lingkungan sejak tahun 2023. Deklarasi tersebut menjadi dasar gerakan yang lebih luas dan terstruktur melalui berbagai bidang pelayanan di tingkat sinode. Salah satu upaya yang dilakukan adalah sosialisasi prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang terus digerakkan selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, GPIB juga mengembangkan pendekatan kreatif melalui gerakan “kolekte sampah”, yakni mengelola sampah sebagai bagian dari persembahan yang bernilai ekonomi dan ekologis.

Di tingkat jemaat dan lintas gereja, GPIB juga terlibat dalam kerja sama pengurangan sampah plastik, termasuk dengan pihak swasta melalui penyediaan fasilitas pengelolaan sampah. Edukasi lingkungan juga dilakukan sejak usia dini melalui program seperti Gereja Cinta Bumi, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. “Gerakan ini tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi terus diupayakan menjadi praktik hidup sehari-hari di gereja dan masyarakat,” ungkapnya. 

Sementara itu, Pdt. Benny Halim dari PGIW Banten menyoroti langkah sederhana namun berdampak dalam mengurangi penggunaan kertas di lingkungan gereja. Digitalisasi materi ibadah dan rapat dinilai mampu menekan penggunaan kertas secara signifikan. Namun demikian, ia mengakui masih ada tantangan yang dihadapi, khususnya terkait penggunaan plastik dan konsumsi listrik di gereja. “Plastik dan listrik masih menjadi pergumulan bersama. Ini membutuhkan hikmat dan inovasi agar gereja bisa semakin konsisten dalam praktik ramah lingkungan,” ujarnya.

Dari PGIW DKI Jakarta, Pdt. Melki Nguru membagikan pengalaman aksi nyata yang melibatkan banyak gereja dan pemangku kepentingan. Kegiatan yang dilakukan antara lain membersihan sungai, penanaman pohon, serta edukasi lingkungan kepada masyarakat. Ia menyebutkan bahwa aksi awal yang dilakukan di Jakarta Utara berhasil melibatkan ratusan peserta dari gereja dan instansi pemerintah. 

Antusiasme tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, melibatkan puluhan sinode gereja di berbagai wilayah Jakarta.“Total ribuan pohon telah ditanam, baik pohon produktif maupun pelindung. Ini menjadi wujud nyata kepedulian gereja terhadap lingkungan hidup,” jelasnya. 

Ke depan, PGIW DKI Jakarta juga merencanakan aksi lanjutan dalam rangka memperingati Hari Bumi dan Hari Lingkungan Hidup, sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam merawat ciptaan.

Melalui FGD ini, para peserta tidak hanya bertukar gagasan, tetapi juga membangun komitmen bersama untuk memperkuat aksi nyata di tingkat komunitas. Pendekatan yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis nilai iman diharapkan mampu menjangkau masyarakat lebih luas. 

Forum ini menegaskan bahwa krisis iklim adalah tanggung jawab bersama yang melampui batas agama dan institusi. Gereja, bersama komunitas linta iman, dipanggil untuk menjadi bagian dari solusi menghadirkan harapan, ketahanan dan perubahan nyata.

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
PGI dan AYANA Tegaskan Peran Strategis Gereja dalam Keadilan Iklim
by admin 07 Apr 2026 16:38

JAKARTA,PGI.OR.ID-Amanah Daya Nusantara (AYANA) bersama Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC) Persekutua...

Dari Perizinan ke Hak Konstitusional: FGD Tekankan Perspektif HAM bagi...
by admin 07 Apr 2026 15:51

JAKARTA, PGI.OR.ID-Kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak konstitusional yang dijamin oleh Undang-U...

Pelantikan Pengurus PGIW Sulselra 2026–2031: Diperbarui dalam Kristu...
by admin 07 Apr 2026 12:39

MAKASSAR, PGI.OR.ID— Pelantikan Pengurus Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan dan...