PGI dan GKPM Dorong Kemandirian Petani melalui Program Ketahanan Pangan Berbasis Keluarga di Mentawai
admin
04 Nov 2026 22:16
MENTAWAI, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) dan dukungan Gereja Yesus Kristus Orang-Orang Suci Zaman Akhir (OSZA) terus mendorong penguatan ketahanan pangan berbasis keluarga melalui pengembangan pertanian padi di Kepulauan Mentawai. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan lanjutan Pelatihan Pertanian Padi dan Penguatan Ketahanan Pangan Berbasis Keluarga bagi warga GKPM di GKPM Pogari, Kecamatan Sipora Utara, Kepulauan Mentawai, pada 31 Oktober–5 November 2026.
Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta dari tiga kelompok tani GKPM Pogari ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Sosial-Ekonomi PGI periode 2024–2029. Program tersebut ditetapkan dalam Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) di Merauke, Papua Selatan, pada 30 Januari–2 Februari 2026, dengan Kepulauan Mentawai dan Pulau Sumba sebagai wilayah sasaran.
Program ini bertujuan mendorong keterlibatan gereja dalam pengembangan pertanian lokal, memperkuat keterampilan jemaat dalam budidaya padi secara produktif dan berkelanjutan, serta meningkatkan produksi beras lokal guna mengurangi ketergantungan masyarakat Mentawai terhadap pasokan beras dari luar pulau.
Sebelumnya, pada 30 Juni–4 Juli 2026, PGI telah menyelenggarakan pelatihan pertanian padi bagi jemaat GKPM Pogari. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, tiga kelompok tani mulai mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh dengan mengembangkan tanaman padi varietas IF-8, IF-16, dan IF-20, hasil budidaya Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), di lahan pertanian seluas kurang lebih 20 hektare.

Pdt. Etika Saragih, Sekretaris Eksekutif PGI Bidang Keadilan dan Perdamaian, menjelaskan bahwa program pemberdayaan sosial-ekonomi di Mentawai difokuskan pada pengembangan pertanian padi di lahan sekitar 20 hektare. Dalam pelaksanaannya, PGI bersama mitra melakukan uji coba tiga varietas benih unggul untuk menemukan jenis padi yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan lingkungan Mentawai.
“Di Mentawai ini, program pemberdayaan sosial-ekonomi dilaksanakan di area lahan sekitar 20 hektare. Kami melakukan intervensi dengan tiga jenis bibit unggul di bawah bimbingan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia, yaitu IF-8, IF-16, dan IF-20. Melalui uji coba ini, kami ingin menemukan varietas yang paling sesuai dan memberikan hasil terbaik bagi Mentawai,” jelasnya. Menurut Pdt. Etika, hasil pemantauan sementara menunjukkan adanya perkembangan yang menggembirakan. Sejumlah lahan diperkirakan berpotensi menghasilkan produktivitas sekitar 10–11 ton per hektare. Capaian tersebut menjadi perkembangan yang sangat berarti jika dibandingkan dengan hasil panen petani pada masa tanam sebelumnya yang bahkan belum mencapai satu ton per hektare.
“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Sebelumnya, berdasarkan informasi yang kami terima dari para petani, hasil panen mereka bahkan belum mencapai satu ton per hektare. Sekarang, dengan intervensi dan pendampingan yang tepat, beberapa lahan diperkirakan dapat mencapai produktivitas 10–11 ton per hektare,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan PGI tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil panen dalam satu musim tanam. Lebih jauh, program ini diarahkan untuk membangun kemandirian petani sehingga pada masa mendatang mereka mampu mengelola seluruh proses pertanian secara mandiri, mulai dari penyediaan pupuk, pembuatan pestisida berbahan alami, hingga proses penanaman dan pemeliharaan tanaman. Dengan demikian, petani tidak terus-menerus bergantung pada bantuan dari luar, tetapi memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan pertanian secara berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.
Pelatihan lanjutan pada November 2026 ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan masa tanam pertama sekaligus meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola pertanian. Materi pelatihan tidak hanya berfokus pada teknik budidaya padi, tetapi juga mencakup pengembangan pertanian dengan pendekatan organik, pemanfaatan sumber daya alam setempat, serta penguatan kehidupan keluarga sebagai fondasi ketahanan pangan.
_1793869467.jpeg)
Pada sesi pengelolaan pertanian, H. Masroni memperdalam pembekalan mengenai karakteristik tanaman padi dan berbagai aspek teknis yang perlu diperhatikan dalam proses budidaya. Materi yang disampaikan meliputi metode penanaman, penentuan waktu tanam, pengelolaan lahan, karakteristik dan tingkat keasaman tanah (pH), pengaturan kebutuhan air, serta pemeliharaan tanaman untuk memperoleh hasil panen yang optimal. Melalui materi tersebut, para petani diajak memahami bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman, tetapi juga oleh kemampuan mengenali kondisi tanah, memilih metode budidaya yang tepat, mengatur waktu tanam, dan melakukan pemeliharaan secara berkelanjutan.
_1793869480.jpeg)
Sementara itu, Ir. Yuswohadi memberikan pembekalan mengenai jenis-jenis pupuk organik dan pemanfaatannya dalam pertanian padi. Peserta juga mendapatkan pengetahuan dan praktik langsung mengenai pembuatan pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti tumbuh-tumbuhan dan kotoran hewan. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari pengembangan pertanian di Pogari. Tanaman padi yang dikembangkan diarahkan menggunakan pupuk dan pestisida berbahan alami, tanpa mengandalkan produk kimia sintetis. Para petani bahkan dibekali keterampilan untuk membuat sendiri pupuk dan bahan pengendali hama dari sumber daya lokal. Dengan demikian, petani diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada input pertanian dari luar sekaligus menekan biaya produksi.

Selain aspek pertanian, pelatihan ini pada hari pertama juga memberikan perhatian khusus pada penguatan keluarga melalui sosialisasi pedoman Ecclesia Domestica yang disusun PGI. Dalam sesi tersebut, Kepala Biro Keluarga dan Anak PGI, Equivalent Pangasi Rajagukguk menyampaikan pentingnya keluarga sebagai gereja rumah tangga yang dibangun melalui pembagian peran, tanggung jawab, dan kepedulian di antara setiap anggota keluarga. Keluarga tidak hanya menjadi tempat tinggal bersama, tetapi juga ruang untuk saling melayani, bekerja sama, dan membangun kemandirian. Dalam konteks ketahanan pangan, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam mengelola sumber daya yang tersedia, memenuhi kebutuhan pangan, serta membangun kebiasaan hidup yang saling menopang. Dengan demikian, nilai-nilai spiritualitas dapat diwujudkan dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.
_1793869503.jpeg)
Penguatan kehidupan keluarga juga dibahas dalam sesi “Membangun Ketahanan Keluarga Melalui Komunikasi Antar Generasi” yang disampaikan Elly Diah Praptanti, Direktur YAKOMA PGI. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya komunikasi yang jujur, terbuka, dan bertanggung jawab di antara anggota keluarga, baik antara suami dan istri, orang tua dan anak, maupun antargenerasi. Komunikasi keluarga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga kesediaan untuk saling mendengarkan, memahami perbedaan, dan memeriksa kebenaran informasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, keluarga perlu menjadi ruang pertama untuk membangun kebiasaan menyaring dan meneruskan informasi yang benar. Komunikasi yang sehat diharapkan memperkuat hubungan antaranggota keluarga sekaligus meningkatkan ketahanan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup evaluasi masa tanam pertama dan pembahasan tindak lanjut program ketahanan pangan, termasuk penguatan pengelolaan koperasi dan kelompok tani. Langkah ini diharapkan dapat membangun sistem pengelolaan hasil pertanian yang lebih terorganisasi serta meningkatkan efisiensi pembiayaan dan keberlanjutan usaha pertanian jemaat.
_1793869523.jpeg)
Ephorus GKPM, Pdt. Esrom Tasirebbeb, menyampaikan apresiasi atas kerja sama PGI dan GKPM dalam mengembangkan pertanian padi di Mentawai. Ia menjelaskan bahwa proses penanaman padi telah berjalan dan tanaman yang dikembangkan kini mulai mendekati masa panen. Perkembangan ini menjadi hal yang menggembirakan bagi jemaat sekaligus menunjukkan bahwa upaya membangun ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan pertanian lokal mulai memperlihatkan hasil. Pdt. Esrom berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada satu masa tanam, tetapi terus dilanjutkan dan dikembangkan pada periode-periode berikutnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PGI dan seluruh mitra yang telah mengambil bagian dalam pelaksanaan program tersebut. Dukungan dan kolaborasi berbagai pihak diharapkan semakin memperkuat kemandirian jemaat dalam mengelola potensi pertanian serta mewujudkan ketahanan pangan di Mentawai.
Sementara itu, Pdt. Famahato Zalukhu, koordinator sekaligus pendamping lapangan Program Ketahanan Pangan GKPM, menjelaskan bahwa program kerja sama antara Sinode GKPM dan PGI telah dilaksanakan sejak akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Saat ini, tanaman padi yang dikembangkan telah memasuki fase berbuah dan dipersiapkan untuk panen. Menurutnya, perjalanan menuju fase tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah proses perubahan pola pertanian jemaat dari metode tradisional menuju pengelolaan pertanian yang lebih modern. Perubahan ini membutuhkan proses pembelajaran dan pendampingan karena para petani harus menyesuaikan diri dengan teknik budidaya yang baru.
“Tentu banyak tantangan yang kami hadapi. Dari sisi petani, kami perlu mendampingi mereka untuk beralih dari pola pertanian tradisional menuju pertanian yang lebih modern. Selain itu, kami juga menghadapi tantangan alam. Pernah terjadi kekeringan selama kurang lebih dua bulan tanpa hujan sehingga tanah menjadi pecah-pecah dan tanaman padi hampir mati kekeringan. Namun, puji Tuhan, hujan akhirnya turun dan tanaman dapat kembali tumbuh,” ungkapnya.
Selain kekeringan, para petani juga menghadapi serangan hama penggerek batang yang mengancam pertumbuhan tanaman padi. Menghadapi kondisi tersebut, kelompok tani berkoordinasi dengan pihak terkait melalui pendampingan PGI. Melalui koordinasi tersebut, penanganan hama dapat dilakukan sehingga tanaman padi kembali menghijau dan berkembang hingga memasuki fase berbuah. “Puji Tuhan, setelah berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, tanaman padi kembali menghijau dan akhirnya berbuah. Kami bersyukur karena sebentar lagi akan melaksanakan panen bersama PGI dan seluruh jemaat,” tambahnya.
Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana. Ia mengapresiasi inisiatif GKPM dan PGI yang telah memulai pendampingan pengembangan pertanian padi bahkan sebelum pemerintah daerah menjalankan program serupa.
“Kami sangat mengapresiasi karena melihat GKPM bersama PGI sudah memulai program ini lebih dahulu dibandingkan pemerintah daerah. Pemerintah daerah tentu ikut mendukung agar program dan pendampingan ini tidak berhenti sampai di sini,” ungkapnya. Rinto menegaskan bahwa keberlanjutan program harus menjadi perhatian bersama. Setelah panen raya dilaksanakan, kegiatan penanaman kembali perlu segera dilakukan agar pengembangan pertanian padi dapat berlangsung secara berkesinambungan.
“Setelah panen hari ini, kita harus mulai kembali menanam agar program ini terus berlanjut dan tidak berhenti. Kami juga berharap GKPM terus melakukan pendampingan bersama PGI sehingga masyarakat tidak hanya memiliki ketahanan pangan, tetapi juga mengalami peningkatan ekonomi melalui usaha persawahan dan pengembangan pertanian padi,” tambahnya.

Sebagai puncak kegiatan, pada Rabu, 4 November 2026, dilaksanakan panen raya sebagai ungkapan syukur atas hasil masa tanam pertama program ketahanan pangan tersebut. Panen raya ini melibatkan PGI, pimpinan Sinode GKPM, Bupati, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, kelompok tani, dan jemaat GKPM. Momentum ini sekaligus menjadi ruang untuk merayakan kerja bersama dan melihat hasil nyata dari upaya pemberdayaan yang telah dimulai. Masa panen ini disambut dengan penuh syukur dan sukacita oleh para petani binaan, terlebih karena produktivitas pertanian menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Hal ini menjadi satu kisah best practice dalam program pemberdayaan ketahanan ekonomi yang diharapkan akan terus dikelola secara berkelanjutan.
Program ketahanan pangan berbasis keluarga di Mentawai tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi padi, tetapi juga pada pembentukan kemandirian ekonomi, penguatan solidaritas antarjemaat, dan kesadaran untuk memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Melalui penguatan kapasitas petani, pengembangan pertanian dengan pendekatan organik, serta pembentukan keluarga yang saling menopang, gereja diharapkan semakin berperan dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. (EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Pembukaan Konas Perempuan Gereja 2026: Menentukan Langkah Bersama di T...
SIPOHOLON, PGI.OR.ID-Pembacaan akta serta pemukulan gong oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, ...
PGI dan GKPM Dorong Kemandirian Petani melalui Program Ketahanan Panga...
MENTAWAI, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Gereja Kristen Protestan Mentawai...
Hadiri Sidang Tahunan KWI, PGI Serukan Semangat Oikoumenisme untuk Mer...
JAKARTA, PGI.OR.ID – Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Darwin Darmawan, ber...

