Menyalakan Terang di Tengah Kabut Kebangsaan: Pesan Pastoral PGI kepada Gereja-gereja di Indonesia Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81
admin
15 Aug 2026 10:10
Saudara-saudara terkasih, salam sejahtera dalam kasih Kristus!
Sebentar lagi tiba saatnya kita merayakan delapan puluh satu tahun kemerdekaan Indonesia yang dikemas dalam tema besar, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Menjelang perayaan akbar ini, kita diajak untuk berhenti sejenak dan merenung: sudah sejauh mana kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di negeri ini?
Sebab, pada saat ini, kita menyaksikan media sosial kita dipenuhi keluh kesah dan sikap pesimis. Ada seruan aksi turun ke jalan menjelang tanggal tujuh belas. Berkembang tagar-tagar yang menyuarakan “tidak ada Hari Merdeka” bagi mereka yang masih mengalami ketidakadilan ekonomi, kemiskinan struktural, ketidakadilan agraria, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Banyak ungkapan kemarahan terhadap kecenderungan oligarki yang mencengkeram kebijakan publik. Meluap kekecewaan terhadap keseriusan penegakan hukum atas korupsi yang berulang. Di tengah itu semua, populisme, polarisasi afektif, dan fenomena absurditas kebenaran (post-truth) berkembang marak. Kita diperhadapkan pada situasi kritis untuk membedakan mana keprihatinan yang tulus bagi bangsa ini dan mana yang sering ditiup-tiupkan untuk memprovokasi perpecahan anak-anak bangsa.
Saudara-saudara terkasih,
Menghadapi potret keprihatinan bangsa ini, gereja-gereja dan umat Kristen dipanggil untuk tidak memilih salah satu dari dua sikap yang sama-sama keliru. Di satu sisi, berdiam diri seolah-olah tidak ada yang perlu dirisaukan. Di sisi lain, tenggelam dalam sinisme dan keputusasaan seolah-olah harapan telah sirna bagi bangsa ini. Iman Kristen mengajarkan kepada kita jalan ketiga, yaitu terlibat secara kritis dalam melihat persoalan, namun dengan hati yang tetap menyala oleh pengharapan.
Kita tentunya mengingat Nabi Yeremia ketika ia menuliskan surat kepada umat yang terbuang di Babel dan menyampaikan pesan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7, TB2). Jika umat Israel dipanggil untuk mendoakan dan mengusahakan kesejahteraan negeri asing tempat mereka dibuang, terlebih lagi kita dipanggil untuk mendoakan dan mengusahakan kesejahteraan tanah air kita sendiri, Indonesia. Inilah tanah yang Tuhan percayakan kepada kita untuk kita rawat dan perjuangkan bersama.
Maka, saat kita menyongsong perayaan delapan puluh satu tahun kemerdekaan bangsa ini, kita terpanggil, pertama-tama, untuk mendoakannya. Marilah kita berdoa dan bersyukur atas anugerah kemerdekaan yang Tuhan karuniakan bagi bangsa ini serta atas penyertaan Tuhan selama delapan puluh satu tahun perjalanan bangsa ini. Hendaklah kita juga berdoa dengan jujur bagi berbagai persoalan yang membingkai potret keprihatinan bangsa ini.
Kita berdoa bagi para pemimpin bangsa agar hati mereka dilembutkan untuk sungguh-sungguh berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, bukan pada kepentingan kelompok. Kita berdoa bagi para penegak hukum agar mereka memiliki keberanian dan integritas untuk sungguh-sungguh menegakkan hukum, tanpa pernah surut oleh tekanan kekuasaan maupun uang. Kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian ekonomi agar mereka tidak kehilangan martabat dan harapan. Kita berdoa secara khusus bagi saudara-saudara kita di Papua yang terus-menerus terpapar kekerasan bersenjata agar keadilan dan perdamaian menjadi nyata bagi mereka.
Kita berdoa bagi anak-anak muda yang marah dan kecewa agar kemarahan itu menggelorakan semangat untuk membangun, bukan menghancurkan. Dan kita berdoa bagi kita sendiri, gereja Tuhan di Indonesia, agar semakin menyatu dalam panggilan bersama untuk menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah bangsa ini, bukan menjadi penonton yang pasif di tengah bangsa yang sedang terluka.
Saudara-saudara terkasih,
Iman Kristen bukan saja mengajarkan kita untuk berdoa, tetapi juga menuntun doa yang sejati kepada tindakan. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu adalah terang dunia ... Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik….” (Matius 5:14, 16, TB2). Sebagai terang, kita tidak dipanggil untuk mengutuk kegelapan, melainkan untuk menyala di tengah gelap itu.
Maka, menyalakan terang dan harapan bagi bangsa berarti gereja hadir secara nyata dalam pelayanan kemanusiaan bagi mereka yang miskin dan terpinggirkan; umat Kristen menjadi teladan integritas di tempat kerja dan ruang publik, menolak budaya suap dan pembiaran korupsi; keluarga-keluarga Kristen mendidik anak-anaknya untuk mencintai tanah air dengan cara yang kritis, tetapi tidak sinis; setiap kita berani menjadi jembatan perdamaian di tengah masyarakat yang mudah terprovokasi oleh hoaks dan ujaran kebencian; serta kita bersedia memelihara kelestarian seluruh ciptaan bagi kelangsungan hidup kita dan generasi berikutnya.
Kita bersyukur telah menjalani delapan puluh satu tahun kemerdekaan dari penjajahan. Namun, kemerdekaan sejati harus diwujudkan melalui kesediaan untuk terus memperjuangkan keadilan bagi semua, apa pun agama, suku, dan latar belakangnya. Delapan puluh satu tahun bukanlah usia yang tua bagi sebuah bangsa, tetapi merupakan usia kematangan untuk jujur mengakui kekurangan sambil terus bergerak menuju cita-cita kesejahteraan bersama.
Pada akhirnya, kami mengajak agar perayaan kemerdekaan ini dilakukan dengan rendah hati: bersyukur atas kebebasan dan kedaulatan yang telah dicapai, jujur mengakui apa yang masih harus diperjuangkan, dan teguh berkomitmen untuk terus menyalakan terang di tengah kabut kebangsaan. Sebab, seperti kata pemazmur, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah jerih payah orang yang membangunnya….” (Mazmur 127:1, TB2). Mari kita serahkan bangsa ini ke dalam tangan Tuhan sambil terus bekerja untuk menghadirkan harapan bagi masa depannya.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Tuhan memberkati Indonesia.
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Menyalakan Terang di Tengah Kabut Kebangsaan: Pesan Pastoral PGI kepa...
Saudara-saudara terkasih, salam sejahtera dalam kasih Kristus!Sebentar lagi tiba saatnya kita merayakan delapa...
Sinode-Sinode Gereja Tegaskan Komitmen Transformasi Sekolah Kristen da...
TANGERANG SELATAN, PGI.OR.ID – Transformasi sekolah-sekolah Kristen di Indonesia semakin mendapat perhatian ...
Membuka Round Table Discussion MPK-PGI, Ketum PGI Ajak Gereja Wujudkan...
TANGERANG SELATAN, PGI.OR.ID — Gereja-gereja di Indonesia didorong untuk tidak berhenti pada diskusi mengena...

