Refleksi Kebangsaan PGI di Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI: Perjuangkan Persatuan, Keadilan, dan Hadirkan Kasih bagi Sesama
admin
19 Aug 2026 20:18
JAKARTA,PGI.OR.ID-Dalam semangat merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menggelar acara Refleksi Kebangsaan “Suara Indonesia”, di Lt 3 Grha Oikoumene, Jakarta, pada Selasa (18/8/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat, merasakan, dan merenungkan kembali perjalanan bangsa Indonesia setelah 81 tahun merdeka yang masih dipenuhi ketidakadilan, dan rasa takut. Selain itu, juga menjadi momentum mengajak kita untuk terus menjaga Indonesia sebagai rumah bersama, tempat setiap suara dihargai, dan setiap perbedaan menjadi kekuatan.
Refleksi kebangsaan diisi dengan aksi simbolis penempelkan kertas berwarna merah-putih, serta dialog teatrikal, yang menyoroti Indonesia, meski di tengah keindahan alamnya, keberagaman, dan masyarakatnya yang terus bertumbuh, namun masih diliputi tangis, ketidakadilan, hidup dalam ketakutan, dan suara yang tidak didengar. Lantunan tembang lagu, Siang Seberang Istana, yang berisikan kritik tajam terhadap ketimpangan sosial dan hilangnya kepedulian penguasa pada rakyat kecil, menambah harunya suasana.

Pada kesempatan itu, Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon dalam refleksinya mengingatkan bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Masih ada ketidakadilan, ketakutan, dan kelompok masyarakat yang kehilangan harapan. “Beberapa hari terakhir ada kasus penurunan bendera merah-putih seperti di Aceh dan Papua, juga pemasangan bendera Borneo Raya. Itu adalah tanda banyak suara yang ingin didengar tapi tidak didengar. Kemerdekaan kita ke-81 sesungguhnya bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi berani juga memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan kasih bagi sesama,” ungkapnya.
Dalam semangat HUT ke-81 Kemerdekaan RI, dia pun mengajak untuk selalu bersatu, sekaligus mengingatkan bahwa tugas kita tidak pernah selesai untuk merawat Indonesia, merawat merah-putih terus berkibar, merawat kasih dengan keadilan dan persatuan yang teguh. “Mari terus berdoa agar kita tetap satu, membangunnya, merawatnya, mencintainya, merah-putih utuh berkibar di tengah republik ini,” tandasnya.

Melalui refleksi kebangsaan ini, gereja didorong untuk melakukan hal-hal konkrit dalam rangka menciptakan perdamaian dan keadilan, sekecil apapun, yang didasari oleh cinta kasih. Gereja tidak tinggal diam, melainkan turut berjuang, dan tidak memperbesar luka. Sehingga gereja-gereja di Indonesia dipakai Tuhan sebagai alat transformasi bagi bangsa. (MS)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Rakernas PGIW/SAG 2026 Ditutup, Semangat Kolaborasi Jadi Bekal untuk B...
MANADO, PGI.OR.ID – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PGIW/SAG 2026 resmi ditutup melalui ibadah yang berlangs...
Rakernas PGIW/SAG 2026 Hasilkan 17 Rekomendasi untuk Memperkuat Geraka...
MANADO, PGI.OR.ID — Rangkaian Rapat Kerja Nasional Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah/Sinode Am ...
PGI Dorong Spiritualitas Keugaharian Menjadi Habitus Gereja di Tengah ...
MANADO, PGI.OR.ID — Di tengah polikrisis yang semakin kompleks, spiritualitas keugaharian tidak cukup hanya ...

