PGI Dorong Pemuda Gereja di Papua Gunakan Media untuk Suarakan Keadilan dan Perdamaian
admin
15 Sep 2026 08:17
JAYAPURA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendorong pemuda gereja di Tanah Papua untuk semakin aktif memanfaatkan media digital sebagai ruang dialog, advokasi, serta penguatan narasi keadilan dan perdamaian. Dorongan tersebut menjadi bagian dari Lokakarya “Dialog dan Media untuk Keadilan dan Perdamaian di Papua” yang berlangsung di Jayapura, 14–16 September 2026. Kegiatan ini mempertemukan orang muda dari berbagai gereja untuk belajar mengolah informasi, menyampaikan suara secara bertanggung jawab, sekaligus membangun narasi yang dapat berkontribusi bagi perdamaian di Papua.
Saat membuka lokakarya, Pdt. Darwin Darmawan (Sekretaris Umum PGI) mengatakan, situasi konflik dan permusuhan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Papua justru menjadi panggilan bagi orang muda untuk hadir sebagai agen perdamaian. “Dalam konteks Papua yang mungkin ada konflik, ada permusuhan, mestinya kita bisa menghadirkan diri sebagai agen-agen perdamaian,” katanya.

Menurut Pdt. Darwin, media memiliki peran penting dalam upaya tersebut. Media tidak hanya menjadi sarana untuk menyampaikan informasi, tetapi juga dapat digunakan untuk memperbaiki keadaan, membuka ruang dialog, dan menghadirkan narasi yang memberikan harapan. Karena itu, ia menilai keterlibatan orang muda dalam menggunakan media untuk menyuarakan perdamaian perlu terus didorong. Terlebih, orang muda memiliki kedekatan dengan berbagai platform digital dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan beragam bentuk konten yang dapat menjangkau publik secara luas.
Pdt. Darwin juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas kelompok dalam membangun ekosistem perdamaian. Gereja, organisasi masyarakat sipil, relawan, komunitas media, keluarga, maupun pemerintah perlu mengambil bagian dan berjalan bersama. “Kalau dalam konteks media yang sekarang kita lakukan, misalnya kita berkolaborasi dengan sebanyak mungkin orang. Ada dari NGO, ada dari relawan, ada dari gereja, dari berbagai tempat,” jelasnya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut perlu diarahkan untuk menciptakan atmosfer perdamaian yang kuat, antara lain dengan memperbanyak media dan konten yang membawa pesan positif. “Kalau kesemuanya ini bisa berkolaborasi membangun ekosistem atau atmosfer perdamaian yang baik, saya kira itu penting. Sebab kita membutuhkan perdamaian, kita membutuhkan keadilan untuk Papua yang lebih bagus, untuk Indonesia yang lebih maju,” ujarnya.
Ia berharap media perdamaian tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama. Dengan demikian, ruang digital tidak hanya dipenuhi informasi yang berpotensi memperuncing konflik, tetapi juga diisi cerita, pengalaman, dan kabar baik yang memperkuat harapan serta semangat hidup bersama. “Media-media perdamaian, kalau ini bisa jadi gerakan bersama, saya kira ruang-ruang digital akan diisi oleh berita-berita baik,” pungkasnya.
Keadilan bukan sekadar wacana
Pesan tentang keadilan dan perdamaian juga disampaikan Pdt. Nelson Kapitarauw dalam khotbah pada ibadah pembukaan lokakarya. Berangkat dari refleksi Mikha 6:8, ia mengajak orang muda untuk tidak hanya berbicara tentang keadilan, tetapi mewujudkannya melalui tindakan nyata.

Menurut Pdt. Nelson, terdapat perbedaan besar antara berbicara mengenai keadilan dan benar-benar menghadirkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Keadilan bukan sekadar konsep atau wacana, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam tindakan. Dalam konteks Papua, kata dia, keadilan membutuhkan keberanian moral untuk memperjuangkan kebenaran, menghormati martabat setiap manusia, serta memberikan perhatian kepada mereka yang lemah dan suaranya kerap tidak terdengar.
Karena itu, ketika orang muda menggunakan media untuk berbicara mengenai persoalan Papua, suara tersebut perlu disampaikan dengan keberanian sekaligus kerendahan hati. Media dapat menjadi sarana untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan, tetapi penggunaannya tetap harus dilandasi tanggung jawab.
Orang muda sebagai suara dari Papua
Sekretaris Departemen Pelayanan Kasih dan Keadilan GKI-TP, Pdt. Dora Palumbun, mengatakan karya jurnalistik dan visual yang dihasilkan orang muda dapat menjadi bagian dari sikap kritis terhadap berbagai situasi yang terjadi di Papua. “Dengan penulisan laporan, film, atau foto-foto yang dibuat oleh orang-orang muda sebagai bagian dari sikap kritis mereka terhadap situasi Papua, suara itu bisa didengar oleh banyak orang,” ujar Pdt. Dora.
Menurutnya, kemampuan orang muda dalam mengolah informasi dan menyampaikannya kepada publik perlu dibarengi dengan tanggung jawab. Persoalan yang terjadi di Papua tidak cukup hanya diberitakan, tetapi perlu disampaikan secara tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Upaya tersebut menjadi bagian dari kerja bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Papua dan Biro Pemuda dan Remaja PGI (BPR PGI) dalam mendorong keterlibatan orang muda dalam membangun narasi perdamaian.

Melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, orang muda diajak untuk berani berbicara tentang perdamaian, keadilan, dan kebenaran melalui cara-cara yang sederhana, namun tetap bertanggung jawab.“Ini adalah cara yang kemudian digunakan oleh PGIW Papua bekerja sama dengan PGI untuk melatih orang-orang muda berbicara tentang perdamaian, tentang keadilan, tentang kebenaran, dengan cara yang sederhana dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Pdt. Dora menilai, semakin banyak ruang ekspresi dan penyampaian informasi yang sehat, semakin terbuka pula kesempatan bagi masyarakat untuk memahami persoalan secara lebih utuh. Komunikasi yang bertanggung jawab juga diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman dan menjadi salah satu jalan untuk mencegah konflik.
Membawa kasih dan kebenaran melalui media
Harapan serupa disampaikan peserta lokakarya. Bela Julianti dari Klasis Sentani GKI di Tanah Papua mengatakan, pembelajaran mengenai ruang aman dan nyaman mendorong orang muda, khususnya pemuda Kristen, untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan kasih dan pesan perdamaian.
“Harapannya, melalui pembelajaran tentang bagaimana menciptakan ruang yang aman dan nyaman, teman-teman pemuda, terutama yang beragama Kristen, baik Katolik maupun Protestan, dapat menggunakan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan kasih Kristus. Dengan begitu, kita bisa turut mendorong terciptanya perdamaian. Karena menurut saya, kasih adalah sumber utama untuk mewujudkan perdamaian,” ujar Bela.

Sementara itu, Wengjeb Sopki, utusan Keuskupan Jayapura bidang Komisi Hak Asasi Manusia, berharap lokakarya tersebut membekali dirinya dan peserta lainnya dengan kemampuan untuk menghasilkan konten yang mampu menggambarkan realitas Papua secara lebih utuh. Ia berharap dapat belajar membuat film pendek maupun tulisan yang menyampaikan fakta dan pengalaman masyarakat di lapangan.
“Berharap dapat belajar dan bisa membuat konten-konten film pendek untuk memberikan sesuatu yang benar yang terjadi di lapangan, karena banyak media yang mungkin tidak menggambarkan sesuai dengan fakta yang kami sedang hadapi di lapangan. Sehingga melalui film-film pendek, kemudian melalui tulisan juga dengan cara yang berbeda, kami bisa menyampaikan kebenaran,” ujarnya.
Selanjutnya, sebanyak 40 peserta lokakarya akan mendapatkan materi tentang produksi konten video menggunakan telepon genggam. Setelah menerima materi, peserta akan langsung mempraktikkannya dengan membuat video pendek secara berkelompok. Sesi ini akan menghadirkan narasumber dari Kelompok Kerja Komdigi di Jayapura, Watchdoc, Yakoma PGI, serta mitra BPR PGI.
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
PGI Dorong Pemuda Gereja di Papua Gunakan Media untuk Suarakan Keadi...
JAYAPURA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendorong pemuda gereja di Tanah Papua untuk s...
LAPORAN DANA GEMPA FLORES 14 SEPTEMBER 2026
LAPORAN DANA GEMPA FLORES 14 SEPTEMBER 2026Laporan Dana Darurat Respons Gempa Flores merupakan bentuk transpar...
PGIW Kalbar Lanjutkan Aksi Sosial di Gereja-gereja: Lindungi Tubuh, Ku...
PONTIANAK, 13 September 2026 — Di tengah kabut asap yang semakin pekat dan berbahaya di Kalimantan Barat, Pe...

