PGI Dorong Pembelajaran dari Jawa Barat: Pemberdayaan Ekonomi, Gereja Tangguh Bencana, dan KBB
admin
28 Aug 2026 11:38
BANDUNG, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendorong penguatan jejaring dan pembelajaran bersama dengan gereja-gereja anggota di daerah. Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan pimpinan dan staf PGI ke kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Jawa Barat (PGIW Jawa Barat) di Bandung, Jumat (28/8/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Capacity Building PGI 2026 yang berlangsung pada 26–29 Agustus 2026 di Lembang dan Bandung. Mengusung tema “Kebersamaan yang Menguatkan: Membangun Keluarga PGI yang Produktif”, kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas serta memperkuat kekompakan personel PGI, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun relasi dengan gereja-gereja anggota sekaligus memahami dinamika pelayanan di tingkat lokal.
Rombongan PGI yang terdiri dari 39 orang disambut pimpinan PGIW Jawa Barat, antara lain Ketua Umum PGIW Jawa Barat Pdt. Paulus Wijono, Wakil Sekretaris Umum Pnt. Berkat Mendrofa, jajaran Majelis Pekerja Harian (MPH) PGIW Jawa Barat, para kepala komisi dan desk, serta perwakilan PGIS Kota Bandung.
Sekretaris Umum PGI, Pdt. Dr. Darwin Darmawan, memperkenalkan para personel PGI yang hadir sekaligus menjelaskan tujuan kunjungan tersebut. Menurutnya, kegiatan capacity building tidak hanya penting untuk meningkatkan kemampuan kerja, tetapi juga untuk membangun kebersamaan dan memperkuat keterhubungan PGI dengan jejaring oikoumenis di berbagai daerah.
“Kami melakukan capacity building supaya kapasitas kami lebih baik, tetapi juga untuk membangun kekompakan. Dalam kegiatan seperti ini, kami juga berkunjung ke mitra-mitra kita, khususnya dalam jaringan oikoumenis,” ujar Pdt. Darwin.

Ia menegaskan, kehadiran PGI di tengah gereja-gereja anggota perlu terus diperkuat agar pelayanan oikoumenis tetap berakar pada konteks dan kebutuhan nyata di daerah. “PGI sering dikritik tidak kontekstual. Karena itu, bagi kami PGI harus hadir dalam konteks-konteks lokal. Kami senang berkunjung dan berharap kunjungan ini menyemangati Bapak-Ibu semua supaya dinamika oikoumenis semakin baik, apalagi dalam konteks Jawa Barat yang memiliki banyak tantangan,” katanya.
Menjawab Pergumulan Gereja dan Masyarakat
Ketua Umum PGIW Jawa Barat, Pdt. Paulus Wijono, kemudian memaparkan kondisi, program, tantangan, serta peluang pelayanan gereja-gereja di wilayah Jawa Barat. Dengan cakupan wilayah pelayanan yang luas dan keragaman karakter gereja, PGIW Jawa Barat menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya manusia dan dukungan pendanaan, belum optimalnya iuran anggota, serta persoalan komunikasi antara PGIW dan simpul-simpul gereja. Kondisi tersebut berdampak pada belum meratanya distribusi informasi hingga ke gereja-gereja lokal.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, PGIW Jawa Barat terus mengembangkan program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan gereja dan masyarakat. Isu yang menjadi perhatian antara lain pemberdayaan ekonomi jemaat, kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB), kebencanaan, lingkungan hidup, hukum, serta perlindungan perempuan dan anak.
_1787894935.jpeg)
Salah satu perhatian penting ialah pemberdayaan ekonomi gereja dan jemaat. Penguatan ekonomi dipandang bukan semata-mata sebagai upaya meningkatkan pendapatan, melainkan juga bagian dari membangun ketahanan keluarga dan komunitas jemaat. Hal ini semakin relevan di tengah munculnya berbagai persoalan sosial-ekonomi, termasuk maraknya judi online dan pinjaman online. Gereja ditantang untuk hadir bukan hanya ketika persoalan telah terjadi, tetapi juga membangun ketahanan ekonomi keluarga sejak awal agar jemaat tidak mudah terjebak dalam praktik ekonomi yang merugikan.
PGIW Jawa Barat juga melihat peluang untuk memperkuat sinergi dengan PGIW di wilayah sekitar, gereja dan lembaga lintas aras, perguruan tinggi, rumah sakit, serta berbagai lembaga lintas agama yang telah memiliki jejaring kerja sama, khususnya dalam isu KBB dan kebencanaan.

Gereja sebagai Bagian dari Kesiapsiagaan Bencana
Dalam bidang kebencanaan, PGIW Jawa Barat memiliki pengalaman yang dapat menjadi pembelajaran bersama. PGIW Jawa Barat menjadi salah satu lembaga gerejawi yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam menyosialisasikan dan melatih gereja untuk menerapkan program Rumah Ibadah Tangguh Bencana.
Melalui pendekatan tersebut, gereja tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur sosial yang dapat berperan dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Dalam konteks Jawa Barat yang memiliki kerentanan terhadap berbagai jenis bencana, gereja dapat mengambil peran melalui edukasi, peningkatan kesiapsiagaan, penguatan komunitas, hingga respons ketika bencana terjadi.
Kepedulian terhadap lingkungan juga dikembangkan melalui kerja sama lintas agama. Komisi Lingkungan Hidup PGIW Jawa Barat, misalnya, bekerja sama dengan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) dalam mengembangkan gereja percontohan, antara lain melalui pengelolaan sampah.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa isu kemanusiaan dan lingkungan dapat menjadi ruang perjumpaan serta kerja sama lintas gereja dan lintas agama. Dalam momentum peringatan hari jadi Kota Bandung, gereja-gereja melalui jejaring Great Bandung juga mengembangkan kegiatan bazar yang menggunakan sampah sebagai alat pembayaran. Program tersebut disosialisasikan hingga ke berbagai kecamatan dan kelurahan sebagai bagian dari edukasi lingkungan sekaligus upaya membangun kesadaran masyarakat.
Memperkuat KBB dan Kehadiran Gereja di Ruang Publik
Kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) juga menjadi salah satu perhatian penting PGIW Jawa Barat. Melalui komisi hukum dan desk KBB, PGIW Jawa Barat turut melakukan advokasi terhadap berbagai persoalan intoleransi yang terjadi di wilayah Jawa Barat.
Perwakilan PGIS Kota Bandung menyampaikan bahwa PGIS bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) juga terlibat dalam menangani kasus-kasus intoleransi serta persoalan pengurusan rumah ibadah yang masih banyak terjadi di Kota Bandung. Kehadiran gereja di ruang publik juga diperkuat melalui pemanfaatan media sebagai sarana edukasi masyarakat. PGIW Jawa Barat, antara lain, bekerja sama dengan Radio Maestro untuk menghadirkan edukasi hukum dan berbagai topik yang relevan dengan kehidupan gereja dan masyarakat.
Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan PGIW Jawa Barat tidak hanya berfokus pada kehidupan internal gereja, tetapi juga berupaya menjawab persoalan konkret masyarakat melalui kerja sama lintas gereja, lintas lembaga, dan lintas agama.
Jawa Barat sebagai Simpul Pembelajaran
Menanggapi pemaparan PGIW Jawa Barat, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, mengatakan bahwa berbagai pengalaman pelayanan di Jawa Barat dapat menjadi sumber pembelajaran bagi PGI maupun gereja-gereja anggota di wilayah lain. Menurutnya, setiap wilayah memiliki konteks, tantangan, kekuatan, dan sumber daya yang berbeda. Karena itu, pengalaman pelayanan di satu wilayah perlu dipelajari untuk melihat model yang dapat dikembangkan atau direplikasi sesuai dengan konteks masing-masing daerah.
“Yang dilakukan di Jawa Barat memiliki isu-isu yang khas, terutama sesuai dengan konteks Jawa Barat. Apa yang disampaikan tadi bisa menjadi pembelajaran yang menarik bagi kita,” ujar Pdt. Jacklevyn. Ia menekankan pentingnya PGIW sebagai titik singgung oikoumenis yang mampu membaca secara tepat persoalan sekaligus mengidentifikasi kekuatan dan sumber daya gereja-gereja di wilayahnya.
_1787895241.jpeg)
“Kita punya kapasitas yang berbeda-beda. Bagaimana skema koordinasi itu sehingga semua resources bisa dikumpulkan dan didistribusikan? Di sinilah peran PGIW untuk menjadi titik singgung oikoumenis. Sehingga kita tahu persis di Jawa Barat apa masalahnya, apa kekuatannya, dan bagaimana model yang dikembangkan,” jelasnya. Menurut Pdt. Jacklevyn, pengalaman Jawa Barat juga dapat dibandingkan dengan pengalaman PGIW lainnya dalam menghadapi persoalan yang serupa.
“Misalnya pada isu yang sama, bagaimana skema ekonominya di Jawa Barat, bagaimana skema kebencanaannya, atau bagaimana isu perempuan yang sangat kuat di Jawa Barat. Ini bisa menjadi tempat pembelajaran,” katanya. Ia berharap proses pembelajaran tersebut tidak berhenti pada pertukaran cerita mengenai program, tetapi dapat melihat keseluruhan siklus pemberdayaan secara utuh, mulai dari kondisi awal, proses pelaksanaan, hingga dampak yang dihasilkan.
“Syukur-syukur kalau ada paket utuh. Dalam satu siklus pemberdayaan sudah tuntas, sehingga kita bisa melihat: starting-nya begini, di tengah jalan begini, ujungnya di sini,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan PGI dan gereja-gereja anggota untuk mengidentifikasi praktik baik yang dapat dikembangkan bersama, sekaligus memahami berbagai tantangan yang mungkin muncul dalam pelaksanaannya.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara PGI dan gereja-gereja anggota di daerah. Berbagai pengalaman PGIW Jawa Barat dalam pemberdayaan ekonomi, pengurangan risiko bencana, penguatan KBB, lingkungan hidup, serta kerja sama lintas agama diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan dikembangkan dalam perjumpaan-perjumpaan oikoumenis berikutnya.
Dengan demikian, capacity building tidak hanya berhenti pada peningkatan kapasitas internal PGI, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun keluarga oikoumenis yang semakin terhubung, saling belajar, dan mampu menghadirkan pelayanan yang relevan bagi gereja dan masyarakat. (NA-EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
PGI Dorong Pembelajaran dari Jawa Barat: Pemberdayaan Ekonomi, Gereja ...
BANDUNG, PGI.OR.ID — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendorong penguatan jejaring dan pembelaja...
Capacity Building PGI 2026: Membangun dan Menciptakan Budaya Hospitali...
BANDUNG,PGI.OR.ID-Mengusung tema Kebersamaan yang Menguatkan: Membangun Keluarga PGI yang Produktif, PGI kemba...
GMIT | SITUATION REPORT 5 - FLORES EARTHQUAKE, EAST NUSA TENGGARA (NTT...
GMIT | SITUATION REPORT 5🚨 FLORES EARTHQUAKE, EAST NUSA TENGGARA (NTT)A magnitude 7.7 earthquake struck th...

