PGI Bersama KP2MI Gelar Edukasi Program SMK Go Global dan Migran Aman
admin
18 Sep 2026 22:12
JAKARTA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Kementrian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melaksanakan kegiatan Edukasi Program SMK Go Global dan Migrasi Aman, secara hybrid, di ruang Auditorium Lt 5 Grha Oikoumene, Jakarta, pada Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang dalam rangka memberikan pemahaman dan informasi secara langsung mengenai peluang kerja di luar negeri, prosedur penempatan yang benar, potensi risiko bekerja secara unprosedural, serta berbagai program pemerintah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapan calon pekerja migran Indonesia (CPMI).
Sekitar 100 orang peserta yang mewakili sinode gereja anggota PGI, lembaga keumatan, STIKES PGI Cikini, Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, serta mahasiswa, turut hadir.

Ketua Umum PGI Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan yang merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MoU antara PGI dan KP2MI ini, sebagai panggilan bersama untuk mempersiapkan warga negara yang akan memilih bekerja di luar negeri. Sehingga mengurangi resiko pekerjaan migran yang bermasalah. “Kami memang punya concern yang sangat kuat dengan ini karena isu pekerja migran ini adalah juga isu gereja yang kami kumuli selama ini. Karena itu kami membangun kerjasama dengan kementerian untuk melihat bagaimana seharusnya,” tandasnya.
Usai sambutan, Pdt. Jacky Manuputty didapuk untuk menyampaikan materi bertajuk Peran Gereja dalam Pengiriman dan Perlindungan Pekerja Migran ke Luar Negeri. Menurutnya, gereja memiliki tiga ranah pelayanan, yaitu pertama, pembekalan-pra pemberangkatan. Gereja membekali dengan literasi hukum, pengenalan modus TPPO, dorongan jalur prosedural, dan pembekalan rohani bagi calon PMI.
Kedua, pendampingan selama bekerja. Gereja melayani ibadah bersama, konseling pastoral, dan advokasi hukum lewat jejaring gereja lintas negara serta KBRI/KJRI. Ketiga, pemulihan dan reintegrasi. Gereja melakukan konseling trauma, pendampingan ekonomi, dan pemulihan relasi keluarga bagi PMI serta anak yang ditinggalkan.

Menurutnya, persoalan buruh migran berakar pada ketimpangan ekonomi dan tata kelola migrasi yang belum berpihak pada martabat pekerja. Sebab itu, suara profetik gereja terhadap persoalan ini, yaitu perkuat regulasi dan jalur bebas biaya mencekik, percepat revisi UU No. 21/2007 selaras Protokol Palermo, serta tindak tegas sindikat perdagangan manusia.
Sebagai keynote speach, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KP2MI, Dwi Setiawan Susanto dalam paparannya menegaskan bahwa Program SMK Go Global merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam rangka mempersiapkan 500.000 tenaga kerja di sektor pengasuh atau perawat orang sakit/lansia/anak-anak, tukang las, perhotelan/pelayanan (sektor industri yang mencakup hotel, restoran, dan pariwisata), perawat (medis), serta supir truk.
Lebih jauh dia menjelaskan, tujuan KP2MI/BP2MI dalam program SMK Go Global yaitu menyiapkan lulusan SMK kompeten dan tersertifikasi global, membuka akses penempatan prosedural dan perlindungan menyeluruh, menguatkan sinergi antar kementerian, lembaga, dan industri Melakukan penempatan lulusan SMK yang kompeten serta tersertifikasi global.

Berdasarkan data, lanjut Dwi Setiawan Susanto, kebutuhan pelatihan untuk target penempatan, pemerintah menargetkan pelatihan 300.000 CPMI lulusan SMK dan 200.000 CPMI umum untuk jabatan caregiver/careworker, welder, truck driver, hospitality, dan sektor lainnya, yang akan ditempatkan di Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, Kawasan Eropa, Turki, Taiwan, dan Maladewa secara bertahap selama beberapa tahun kedepan dan memperhatikan kondisi geopolitik dunia.
Edukasi Program SMK Go Global dan Migrasi Aman menghadirkan lima narasumber, Devriel Sogia (Direktur Pemetaan Pasar Kerja Luar Negeri), Abri Danar Prabawa (Direktorat Kelembagaan Vokasi KP2MI/BP2MI), Panji Krisnowo (Pengantar kerja Ahli Madya), Minan Sahroni (Analis Kebijakan Ahli Madya) dan Arie Puji Lestari (BPJS Ketenagakerjaan).
Dari kelima narasumber, peserta mendapat informasi dan pengetahuan terkait peluang kerja di luar negeri, prosedur penempatan yang benar, potensi risiko bekerja secara unprosedural, serta berbagai program pemerintah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapan calon pekerja migran Indonesia di pasar global.

Dorong perhatian Gereja-gereja
Ditemui usai pertemuan, Wakil Sekretaris Umum PGI Pdt. Lenta Enni Simbolon mendorong gereja-gereja untuk sungguh-sungguh memperhatikan dan mem-follow up masukan dari diskusi tersebut, dengan terus mendapatkan informasi yang lebih update dari website atau juga dari media sosial dari KP2MI. “Supaya anak-anak muda kita, di usia-usia produktif yang ingin mencari pekerjaan di luar negeri sungguh-sungguh bisa bekerja dengan jalur yang benar sehingga migrasi mereka itu aman, dan hak-hak mereka terlindungi,” ujarnya.
Dengan demikian, lanjut Pdt. Lenta Enni Simbolon, semua pihak akan menjadi tenang, karena siapapun yang diutus dari desa, kota, dari mana pun, dari seluruh penjuru Indonesia, bekerja di luar negeri dengan aman, bisa dipastikan akan terlindungi. Dia pun berharap akan ada kelanjutan-kelanjutan dari apa yang telah dipercakapkan dalam kegiatan ini.
Edukasi Program SMK Go Global dan Migrasi Aman yang dilaksanakan oleh PGI bersama KP2MI menjadi bukti komitmen dari kedua lembaga tersebut terhadap persoalan Pekerja Migran Indonesia, dan sekaligus sebagai langkah konkret yang berkelanjutan untuk terus membangun kolaborasi. (MS/BRNDS)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Perkuat Kerja Sama, PGI dan Komnas Perempuan Tandatangani MoU
JAKARTA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap...
LAPORAN SITUASI #2 KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN KALIMANTAN
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berdampak pada kualitas udara, kesehatan, lingkungan, dan aktivitas...

