Perkuat Solidaritas Oikoumene, Ketua Umum PGI Turun Langsung ke Wilayah Terdampak Gempa Flores
admin
17 Aug 2026 20:36
FLORES, PGI.OR.ID — Dua hari setelah gempa bumi besar mengguncang Flores dan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026, masyarakat di berbagai daerah terdampak masih berada dalam situasi penuh kecemasan. Gempa susulan dalam skala kecil masih terjadi, sementara banyak warga memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian karena khawatir kembali ke rumah yang rusak atau terdampak guncangan.
Di tengah situasi tersebut, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn (Jacky) F. Manuputty, melakukan perjalanan langsung ke sejumlah wilayah terdampak sebagai bentuk solidaritas dan empati Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Pada 17 Agustus, Pdt. Jacky bersama tim dari Sinode GMIT dan Klasis Flores Barat melakukan perjalanan dari Labuan Bajo menuju Ruteng, kemudian melanjutkan perjalanan ke Reok, Manggarai Tengah. Reok menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak berat dengan 27 korban jiwa, berdasarkan informasi yang diterima tim di lapangan.
Dari Reok, tim semula berencana melanjutkan perjalanan menuju Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, yang merupakan salah satu wilayah pusat gempa. Namun, rencana tersebut belum dapat dilakukan karena akses jalan menuju Mbay masih belum terbuka. Tim akhirnya kembali ke Ruteng untuk bermalam dan mempersiapkan perjalanan berikutnya.
Perjalanan ke Mbay akan dilanjutkan pada 18 Agustus melalui jalur selatan, dengan rute Ruteng–Borong (Manggarai Timur)–Aimere–Bajawa (Ngada)–Mbay. Dari Mbay, tim akan melanjutkan perjalanan menuju Ende untuk bermalam. Perjalanan ini diperkirakan dimulai sekitar pukul 08.00 dan, apabila kondisi jalan memungkinkan, tim diperkirakan tiba di Ende sekitar pukul 21.00. Dari Ende, perjalanan Ketua Umum PGI selanjutnya akan dilanjutkan menuju Kupang, setelah terlebih dahulu mengunjungi empat kabupaten terdampak di wilayah Flores untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat, mendengarkan kebutuhan para penyintas, serta memperkuat koordinasi respons bersama gereja dan jejaring kemanusiaan. Rute ini dipilih karena perjalanan kembali dari Ende menuju Labuan Bajo membutuhkan waktu belasan jam.

Menyaksikan Langsung Kecemasan Para Penyintas
Perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan untuk melihat kerusakan akibat gempa. Di berbagai titik, tim berjumpa dengan masyarakat yang masih hidup dalam suasana ketidakpastian. Banyak warga masih tinggal di tenda-tenda mandiri dan tenda pengungsian karena gempa susulan dalam skala kecil masih terus terjadi.
Di tengah tenda-tenda tersebut terdapat lansia, anak-anak, perempuan, penyandang disabilitas, dan keluarga yang harus menjalani hari-hari mereka jauh dari rumah. Wajah-wajah mereka menyimpan kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi pada hari-hari berikutnya. Sebagian warga kehilangan rumah dan harta benda. Sebagian lainnya harus menghadapi kehilangan orang-orang terkasih. Rumah-rumah rusak, demikian pula sejumlah fasilitas umum dan rumah ibadah, baik gereja maupun masjid.
Dalam perjalanan tersebut, Pdt. Jacky juga menyempatkan diri berbincang dan mendoakan warga yang berada di tenda-tenda mandiri. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mendengarkan langsung pengalaman para penyintas sekaligus menghadirkan penguatan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Kebutuhan Masih Mendesak
Dari komunikasi dengan tim dan warga di lapangan, sejumlah kebutuhan masih sangat mendesak, terutama bahan makanan dan minuman, obat-obatan, minyak angin, serta kebutuhan anak-anak. Ketersediaan barang di Ruteng juga mulai terbatas karena sebagian kebutuhan telah diborong pemerintah daerah untuk mendukung penanganan bencana.
Pada sektor kesehatan, ketersediaan tenaga dokter untuk mendukung klaster layanan kesehatan juga masih sangat terbatas. Karena itu, dukungan tenaga kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang perlu segera dikoordinasikan bersama.
Respons gereja juga terus diperkuat melalui Pos Terpadu GMIT yang telah dibentuk sejak 15 Agustus 2026. Pos ini menjadi bagian penting dalam koordinasi pelayanan dan distribusi bantuan, sekaligus menghubungkan kebutuhan di lapangan dengan dukungan dari jejaring gereja dan lembaga kemanusiaan.

“Ini Musibah Kemanusiaan”
Dalam kunjungannya, Pdt. Jacky menegaskan bahwa bencana ini tidak mengenal batas suku maupun agama. Gempa telah membawa penderitaan kepada masyarakat secara luas dan karena itu harus dilihat sebagai persoalan kemanusiaan bersama. “Saat ini akibat bencana alam banyak warga terdampak tidak memandang suku dan agama. Ini adalah musibah kemanusiaan. Tidak gampang kehilangan harta benda, tidak gampang kehilangan orang-orang tersayang. Rumah-rumah rusak, rumah ibadah, masjid dan gereja juga rusak.”
Menurutnya, situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi kebersamaan masyarakat. Berbagai bantuan akan datang dan koordinasi terus dilakukan oleh pemerintah, gereja, lembaga kemanusiaan, serta berbagai pihak lainnya. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu dibangun, yaitu kekuatan masyarakat dari dalam diri mereka sendiri. “Hari ini kebersamaan kita diuji. Akan ada banyak bantuan yang datang, koordinasi-koordinasi telah dilakukan. Tetapi yang terpenting adalah kekuatan kita dari dalam. Bagaimana kita bangkit.”
Semangat solidaritas kemanusiaan tersebut juga tampak dalam respons Pos Terpadu GMIT yang dalam penyaluran bantuannya menjangkau warga terdampak tanpa membedakan latar belakang agama. Bantuan juga disalurkan kepada warga Muslim yang turut menjadi penyintas gempa. Bagi gereja, kehadiran di tengah bencana bukan pertama-tama tentang siapa yang dilayani berdasarkan identitas, melainkan tentang siapa yang sedang membutuhkan pertolongan. Dalam situasi seperti ini, penderitaan menjadi ruang untuk merawat persaudaraan, saling menopang, dan menghadirkan kemanusiaan yang melampaui batas-batas perbedaan.

Menjaga Harapan di Tengah Kehilangan
Kehadiran Ketua Umum PGI di tengah para penyintas juga membawa refleksi bahwa respons terhadap bencana tidak boleh berhenti pada distribusi bantuan. Di balik kebutuhan logistik terdapat manusia yang sedang berjuang memulihkan rasa aman dan kehidupannya. Harta benda dapat hilang. Rumah dapat rusak. Bahkan orang-orang terkasih dapat pergi untuk selamanya. Namun, satu hal tidak boleh hilang: harapan.
Harapan akan pemulihan dari Tuhan harus terus dijaga. Karena itu, gereja hadir bukan hanya untuk membawa bantuan, tetapi juga untuk mendengar, menemani, mendoakan, menguatkan, dan menjaga agar harapan para penyintas tetap hidup. Bencana boleh meruntuhkan rumah dan menghancurkan banyak hal, tetapi tidak boleh meruntuhkan persaudaraan dan solidaritas. Dari kekuatan yang tumbuh di dalam diri masyarakat, ditopang oleh doa, kebersamaan, dan dukungan berbagai pihak, para penyintas diharapkan dapat perlahan bangkit dan memulai kembali kehidupan mereka.

Memperkuat Respons Oikoumene
Sejalan dengan perjalanan Ketua Umum PGI, sejumlah relawan gereja dan jaringan oikoumene juga mulai bergerak dan dijadwalkan tiba melalui Labuan Bajo pada 18 Agustus untuk memperkuat respons di berbagai wilayah terdampak. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat pelayanan gereja, baik dalam pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan kesehatan, pendampingan masyarakat, maupun memastikan koordinasi dan distribusi bantuan berjalan semakin tepat sesuai kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, perjalanan Ketua Umum PGI akan terus berlanjut menuju Mbay, Ende, dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Perjalanan ini menjadi bagian dari upaya untuk melihat secara langsung kondisi para penyintas, mendengarkan kebutuhan mereka, sekaligus memperkuat koordinasi bersama gereja-gereja dan jejaring kemanusiaan yang sedang bekerja di tengah situasi darurat. Perkembangan situasi akan terus diperbarui seiring dengan perjalanan dan asesmen yang dilakukan oleh tim.
Di tengah Flores yang sedang berduka, gereja memilih untuk tidak berjarak dari penderitaan. Gereja hadir dan berjalan bersama para penyintas—membawa bantuan, merawat kemanusiaan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga agar harapan tetap menyala. Sebab di tengah kehilangan dan ketidakpastian, ketika rumah-rumah rusak dan kehidupan berubah dalam sekejap, harapan tidak boleh padam. Flores harus bangkit, dan gereja akan terus berjalan bersama mereka dalam proses pemulihan.
(ST-EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Perkuat Solidaritas Oikoumene, Ketua Umum PGI Turun Langsung ke Wilaya...
FLORES, PGI.OR.ID — Dua hari setelah gempa bumi besar mengguncang Flores dan sejumlah wilayah di Nusa Tengga...
GMIT | LAPORAN SITUASI 2 - GEMPA BUMI FLORES, NTT
GMIT | LAPORAN SITUASI 2GEMPA BUMI FLORES, NTTGempa bumi M7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur ...
Rapat Koordinasi PGI Bersama Jejaring: GMIT Pimpin Koordinasi Oikoumen...
JAKARTA, PGI.OR.ID — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8...

