Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Ketum PGI Dorong Gereja Kritis Membaca Situasi Ekonomi dan Memperkuat Ketahanan dari Basis Keluarga

Thumbnail
Author

admin

28 Oct 2026 19:55

Share:

JAKARTA, PGI.OR.ID— Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menegaskan pentingnya membaca perkembangan ekonomi Indonesia secara kritis, bukan hanya berdasarkan indikator makroekonomi dan pergerakan pasar, tetapi juga dengan memperhatikan dampaknya terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat. Di tengah ketidakpastian ekonomi, gereja perlu memahami persoalan yang dihadapi bangsa secara jujur dan menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi pelayanan yang konkret bagi jemaat dan masyarakat.

Pandangan tersebut diungkapkan dalam diskusi lebih lanjut setelah gelaran kegiatan Economy Outlook 2027 yang diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Dana Pensiun Kristen Indonesia (BKS Dapen-KI) di Ruang Pertemuan PGI Lantai 3, Grha Oikoumene, Jakarta, Selasa (27/10/2026). Diskusi ini merupakan bagian dari kegiatan bertajuk “Market Outlook Pasca Statement MSCI: Strategi Alokasi Aset dan Mitigasi Risiko Investasi Dana Pensiun”, dengan Prof. Ferry Latuhihin sebagai narasumber.

Dalam salah satu bagian paparannya, Prof. Ferry Latuhihin mengingatkan bahwa tekanan pasar belum tentu mencapai titik terendah. Karena itu, kita harus tetap waspada terhadap berbagai risiko yang masih membayangi pasar serta mempertimbangkan strategi ekonomi yang tepat untuk menghadapinya.

Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menekankan bahwa kondisi ekonomi nasional perlu dibaca lebih luas daripada sekadar angka pertumbuhan, indikator pasar, dan kepercayaan investor. Perkembangan ekonomi juga harus dilihat dari pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama ketika kenaikan harga kebutuhan hidup tidak diimbangi peningkatan pendapatan yang sebanding.

Situasi tersebut dapat memperberat beban keluarga dan meningkatkan kerentanan sosial. Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), penurunan pendapatan, serta kemungkinan terganggunya keberlanjutan pendidikan anak merupakan sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dengan demikian, tantangan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menyangkut ketahanan keluarga dan keberlangsungan kehidupan sosial.

Dalam konteks ini, persoalan ekonomi berkelindan dengan polycrisis yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, yaitu situasi ketika berbagai krisis saling berkaitan dan memperbesar dampak satu sama lain. Tekanan ekonomi yang dialami keluarga, misalnya, dapat berimbas pada pendidikan anak, relasi dalam keluarga, dan kemampuan masyarakat menghadapi persoalan lainnya.

Bagi PGI, pembacaan terhadap situasi semacam ini penting agar gereja tidak terjebak pada pemahaman ekonomi yang hanya bertumpu pada indikator makro. Gereja perlu mencermati kenyataan yang dialami masyarakat sekaligus memahami kemungkinan perkembangan ke depan. Karena itu, diskusi bersama para pakar menjadi salah satu cara untuk memperkaya pemahaman dan membangun dasar yang lebih kuat dalam merumuskan respons terhadap situasi bangsa.

Pemahaman Ekonomi Harus Diterjemahkan Menjadi Pelayanan

Pdt. Jacklevyn menekankan bahwa pemahaman terhadap kondisi ekonomi tidak seharusnya berhenti pada diskusi atau menjadi bahan refleksi semata. Pemahaman tersebut perlu diterjemahkan menjadi langkah pelayanan yang konkret, terutama bagi keluarga dan kelompok masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi maupun sosial.

Salah satu perhatian penting dalam hal ini adalah penguatan ecclesia domestica, yakni keluarga sebagai gereja. Keluarga merupakan ruang penting bagi pertumbuhan iman, pembentukan karakter, penanaman nilai solidaritas, dan pengembangan daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Ketika keluarga menghadapi kesulitan ekonomi, gereja perlu hadir melalui pendampingan dan kepedulian yang nyata. Perhatian terhadap keluarga yang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan, keberlanjutan pendidikan anak, serta penguatan solidaritas antarsesama jemaat menjadi bagian dari respons yang perlu dikembangkan.

Menurutnya, perhatian terhadap kondisi ekonomi juga perlu menjadi pertimbangan bersama dalam pelaksanaan program pelayanan PGI bersama gereja-gereja anggota agar relevansi program masing-masing semakin menjawab kebutuhan nyata jemaat dan masyarakat. Perspektif ketahanan ekonomi keluarga, perlindungan kelompok rentan, pendidikan anak, dan pemberdayaan masyarakat dapat diintegrasikan ke dalam program-program sesuai konteks dan kapasitas pelayanan masing-masing.

Dengan demikian, gereja tidak hanya menyampaikan keprihatinan terhadap situasi bangsa, tetapi juga mengambil bagian dalam memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi tantangan. Sikap kritis terhadap kondisi ekonomi perlu berjalan bersama kesediaan untuk mencari jalan keluar dan mengembangkan tindakan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Pdt. Jacklevyn juga menekankan pentingnya membangun harapan di tengah situasi yang tidak mudah. Namun, harapan tersebut tidak boleh dibangun dengan mengabaikan kenyataan atau bertumpu pada optimisme semata. Harapan perlu berakar pada pembacaan situasi yang jujur, pemahaman yang bertanggung jawab, dan tindakan nyata untuk memperkuat ketahanan keluarga serta masyarakat.

Kepercayaan Investor dan Tata Kelola Perlu Mendapat Perhatian

Sementara itu, Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, menyoroti pentingnya sikap kritis dalam membaca kondisi pasar modal dan perekonomian Indonesia. Menurutnya, sikap kritis tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk pesimisme. Sikap tersebut justru diperlukan untuk mengenali berbagai persoalan yang perlu dibenahi, khususnya dalam tata kelola keuangan dan pasar modal, dengan bertumpu pada pengetahuan, pengalaman, dan bukti empiris.

“Kita tidak boleh jatuh pada pesimisme, tetapi juga jangan optimistis berlebihan. Kita perlu melihat keadaan dengan bijaksana, berlandaskan pengetahuan dan pengalaman, agar dapat mengelola portofolio secara lebih bertanggung jawab,” ujarnya.

Pdt. Darwin juga mengingatkan bahwa pengelolaan dana pensiun bukan sekadar persoalan memperoleh keuntungan investasi. Di dalamnya terdapat kepercayaan dari orang-orang yang telah menitipkan dana masa depan mereka kepada lembaga pengelola. Kepercayaan tersebut harus dijaga melalui keputusan investasi yang cermat, tata kelola yang baik, dan pertimbangan risiko yang matang.

Dalam kaitannya dengan perekonomian nasional, ia menegaskan bahwa kepercayaan investor merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, berbagai penilaian lembaga internasional terhadap kondisi pasar dan perekonomian nasional perlu dicermati secara kritis, dengan mempertimbangkan perspektif serta kepentingan yang mungkin melatarbelakanginya.

Meski demikian, masukan dan indikator dari lembaga internasional tersebut tetap dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi untuk mengidentifikasi persoalan dan memperbaiki kebijakan. Evaluasi terhadap kebijakan yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi investor menjadi penting, bukan semata-mata untuk merespons penilaian dari luar, melainkan juga untuk memperkuat transparansi, kepastian kebijakan, dan fundamental ekonomi nasional.

Pdt. Darwin mengingatkan bahwa gereja-gereja perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan terburuk tanpa kehilangan harapan terhadap perbaikan tata kelola pemerintahan dan pemulihan kepercayaan publik. Kepercayaan merupakan salah satu modal penting dalam relasi ekonomi, sementara membangunnya kembali setelah hilang bukanlah perkara mudah.

“Kepercayaan dari orang-orang yang menaruh dana pensiunnya kepada kita harus kita kelola dengan baik, untuk kebaikan bersama dan bagi hormat serta kemuliaan nama Tuhan,” katanya.

Membaca Situasi Bangsa, Membangun Harapan

Diskusi Economy Outlook 2027 ini memperlihatkan pentingnya membaca persoalan ekonomi dari dua sisi yang saling berkaitan: dinamika pasar dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Pemahaman mengenai risiko ekonomi, kepercayaan, dan tata kelola perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap keluarga, pendidikan anak, serta ketahanan sosial.

Bagi PGI, perhatian terhadap perkembangan ekonomi merupakan bagian dari tanggung jawab gereja untuk hadir di tengah kehidupan bangsa. Gereja perlu bersikap kritis terhadap kenyataan yang dihadapi masyarakat, terbuka terhadap kajian dan masukan para ahli, serta bersedia mengevaluasi program pelayanannya agar semakin relevan dengan kebutuhan jemaat.

Dengan pemahaman yang jujur dan respons yang konkret, gereja diharapkan tidak hanya mampu menyuarakan keprihatinan terhadap situasi bangsa, tetapi juga membangun solidaritas dan memperkuat ketahanan masyarakat. Di tengah ketidakpastian, panggilan gereja adalah membangun harapan yang berpijak pada kenyataan dan diwujudkan melalui tindakan nyata bagi kehidupan bersama. (EDP)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
PERSETIA Rayakan HUT ke-63 dalam RUA 2026: PGI Tegaskan Pentingnya Kol...
by admin 29 Oct 2026 13:30

MAKASSAR,PGI.OR.ID — Perkumpulan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) menggelar Rapat Umum Anggo...

Sidang MPH PGI Dibuka, Evaluasi Pelayanan Gereja dan Tegaskan Pentingn...
by admin 29 Oct 2026 12:24

JAKARTA, PGI.OR.ID — Gereja dipanggil untuk tetap hadir, menyuarakan kebenaran, dan menghadirkan pengharapan...

Ketum PGI Dorong Gereja Kritis Membaca Situasi Ekonomi dan Memperkuat ...
by admin 28 Oct 2026 19:55

JAKARTA, PGI.OR.ID— Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty,...