Peletakan Batu Pertama Tandai Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini
admin
21 Jul 2026 21:11
JAKARTA,PGI.OR.ID-Peletakan batu pertama menandai pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini hasil kerja sama Yayasan Kesehatan (Yakes) PGI Cikini dengan Perkumpulan Penghiburan Kedukaan (PPK) Tabitha, yang dilaksanakan pada Selasa (21/7/2026).
Kehadiran rumah duka dan krematorium yang lokasinya dalam kawasan bersama dengan RS Primaya PGI Cikini ini, sebagai wujud komitmen untuk terus berkembang, memberikan pelayanan kedukaan yang terpadu, terjangkau, penuh penghormatan, dan dikelola secara profesional, serta sentuhan kasih, bagi setiap keluarga.
Prosesi peletakan batu pertama dilakukan usai ibadah oleh Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty (Ketua Umum PGI), Richard Anugerah Gunawan (Ketua Umum PPK Tabitha), Dr. Agustin Teras Narang (Ketua Yakes PGI Cikini), Chris Kanter (Ketua Tim Investasi Kawasan PGI Cikini), Pdt. Cordelia Gunawan (Ketua Umum BPMSW), dan Jaya Tahoma Sirait (Ketua Tim Proyek Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium PGI Cikini). Tumpukan batu yang telah diletakkan dalam galian tanah, kemudian ditutup dengan coran semen.

Selain pengurus Yakes PGI Cikini, PPK Tabitha, dan MPH-PGI, peletakan batu pertama juga disaksikan oleh perwakilan GKI, Pimpinan PT Oikohugis Cikini, pimpinan sinode gereja anggota PGI, pendeta, serta mitra kerja.
Pdt. Jacky Manuputty dalam sambutannya mengajak seluruh pihak untuk menaikkan rasa syukur atas tuntunan Allah sehingga boleh tiba pada pelaksanaan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini. “Ucapan syukur ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan iman bahwa segala pelayanan yang kita rintis adalah karya Allah sendiri, yang mempercayakan kepada gereja dan kita semua tanggung jawab untuk hadir dalam setiap fase kehidupan manusia, termasuk pada saat yang paling rapuh, yakni ketika keluarga berduka melepas orang yang dikasihinya,” ujar Ketum PGI.

Sejak awal berdirinya, lanjut Pdt. Jacky Manuputty, Yakes PGI Cikini telah menjadi wujud nyata panggilan gereja untuk melayani kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang. Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium ini adalah kelanjutan dari panggilan itu, memperluas pelayanan kasih dari ruang persalinan dan ruang rawat, hingga ke ruang perpisahan terakhir.
“Di sinilah letak makna teologis yang perlu kita tegaskan bersama, proyek ini hadir sebagai bentuk diakonia, pelayanan kasih yang meneladani Kristus, yang berbelas kasih kepada mereka yang berduka dan menyertai umat-Nya dari kelahiran hingga kematian. Syukur ini sekaligus mengingatkan kita sebagai gereja, atau lembaga kristiani, yang membangun serta mengelola rumah duka dan krematorium, bahwa kita berbeda dengan lembaga-lembaga sekuler sejenis yang kerap mengutamakan logika pasar dan orientasi profit di balik pembangunan rumah duka dan krematorium,” tandas Pdt. Jacky Manuputty.
Dia menambahkan, sebagai Gereja kita dipanggil untuk hadir di titik-titik yang sering ditinggalkan oleh logika pasar. Duka adalah momen yang rentan terhadap eksploitasi, di mana keluarga yang berduka kerap menghadapi beban biaya yang memberatkan di tengah kesedihan mereka. Melalui fasilitas ini, kita ingin memastikan bahwa pelayanan pemakaman dan kremasi dilakukan dengan bermartabat, terjangkau, dan penuh empati pastoral, sebuah kesaksian bahwa kasih Kristus menyertai umat-Nya sampai akhir, dan bahwa gereja tidak menjadikan momen kerapuhan manusia sebagai ladang keuntungan.

Diakhir sambutannya, mewakili MPH-PGI, Pdt. Jacky Manuputty menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah bekerja keras di balik layar hingga rencana ini dapat terwujud. Secara khusus, apresiasi mendalam kepada Yakes PGI Cikini, yang telah menyediakan lahan dan menggagas visi pelayanan ini dengan penuh komitmen.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Yayasan Tabitha dari Gereja Kristen Indonesia, mitra strategis yang telah berbagi keahlian, pengalaman, dan sumber daya sehingga proyek ini dapat berjalan dengan baik. Pemerintah Daerah Jakarta yang telah memberikan ijin bagi pembangunan rumah duka dan krematorium ini. Kemitraan lintas sinode seperti ini adalah wujud ekumenisme yang hidup,bukan sekadar wacana persatuan, tetapi kerja sama nyata dalam pelayanan kemanusiaan.
Demikian pula kepada para arsitek, kontraktor, tenaga ahli, serta seluruh pihak yang telah mempersiapkan perencanaan teknis dengan cermat, dan kepada segenap jemaat serta donatur yang telah mendukung, baik melalui doa maupun sumbangsih nyata.
“Kiranya batu pertama yang kita letakkan hari ini menjadi tanda peneguhan komitmen bersama, bahwa gereja senantiasa hadir melayani dengan kasih, bukan mencari laba. Semoga Rumah Duka dan Krematorium ini kelak menjadi tempat yang membawa penghiburan, martabat, dan pengharapan akan kebangkitan bagi setiap keluarga yang datang berduka, dan marilah kita serahkan seluruh proses pembangunan ini ke dalam tangan Tuhan, memohon penyertaan-Nya agar dapat diselesaikan dengan baik dan menjadi berkat bagi banyak orang,” pungkasnya.
Hal senada juga disampaikan Agustin Teras Narang. Menurutnya, peletakan batu pertama ini merupakan langkah awal dari kerja sama yang telah dilakukan oleh Yakes PGI Cikini, PGI, dan PPK Tabitha. “Semua ini dalam rangka untuk membuat yang terbaik dalam bidang kesehatan, sebagaimana upaya yang juga kita lakukan dalam bidang pendidikan, serta pekabaran Injil. Tantangan ke depan luar biasa, dan biarlah pembangunan ini bukan kehendak kita, melainkan kehendak Allah,” ujarnya.
Sedangkan Richard Anugerah Gunawan berharap peletakkan batu pertama ini menjadi awal yang diberkati Allah. Sebab itu, diperlukan kesatuan hati, dan dengan komitmen yang sungguh untuk hormat dan kemuliaan Allah.

Target Pembangunan 12-15 Bulan
Rumah Duka dan Kramatorium Tabitha PGI Cikini akan dibangun menjadi 3 lantai dengan luas bangunan 9500 meter persegi. Pembangunannya ditargetkan rampung dalam waktu 12-15 bulan. “Rencananya setelah semua proses berjalan lancar kita targetkan waktu pembangunan antara 12-15 bulan, sehingga di bulan November atau Desember 2027 sudah bisa dilakukan soft opening atau grand opening,” ujar Ketua Tim Proyek Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini, Jaya Tahoma Sirait.
Dijelaskan pula, fasilitas yang disediakan nantinya yaitu 16 ruangan rumah duka (3 ruang VIP, 8 ruang standar, dan 5 ruangan ekonomi), masing-masing ruangan memiliki luas yang berbeda-beda. Sedangkan untuk krematorium disediakan 2 ruangan. (MS)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Peletakan Batu Pertama Tandai Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium T...
JAKARTA,PGI.OR.ID-Peletakan batu pertama menandai pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini ha...
Menyikapi Disrupsi AI, PGI Susun Panduan Teologis bagi Pelayanan Gerej...
JAKARTA, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (F...
Lewat Live-in Interfaith TAB Goes to Poso VII, PGI Dorong Anak Muda Ak...
POSO, PGI.OR.ID-Di tengah keberagaman Indonesia, peran pemuda dan pemudi tidak hanya menjadi harapan masa depa...

