Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Menyikapi Disrupsi AI, PGI Susun Panduan Teologis bagi Pelayanan Gereja Melalui Kegiatan FGD

Thumbnail
Author

admin

21 Jul 2026 17:08

Share:

JAKARTA, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Respons PGI terhadap Disrupsi  Kecerdasan Buatan di Grha Oikoumene, Jakarta, Selasa (21/7). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh para teolog, akademisi, ilmuwan komputer, pakar keamanan siber, praktisi AI, ahli etika, pakar hukum, serta para pelayan gereja untuk bersama-sama menyusun landasan teologis dan etis bagi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kehidupan bergereja. FGD diawali dengan refleksi yang dibawakan oleh Pdt. Etika Saragih, Sekretaris Eksekutif PGI Bidang Keadilan dan Perdamaian yang menempatkan Homo Imago Dei sebagai pokok refleksi teologis. 

Membuka FGD tersebut, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, mengajak gereja memandang perkembangan AI secara kritis tanpa kehilangan pengharapan. Menurutnya, AI mampu menyediakan informasi dan pengetahuan secara instan, termasuk pengetahuan keagamaan, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman iman yang lahir dari perjumpaan dengan Allah. "Pengetahuan tentang Tuhan mungkin dapat diakses melalui teknologi. Namun pengalaman berjumpa dengan Tuhan, mengalami kasih-Nya, panggilan-Nya, dan relasi yang hidup dengan sesama adalah sesuatu yang tidak dapat direplikasi oleh AI," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk terus menghadirkan ruang-ruang perjumpaan yang membangun relasi, empati, dan kesadaran akan kehadiran Allah di tengah perubahan zaman. Menurutnya, teknologi adalah hasil kreativitas manusia yang membawa banyak manfaat, tetapi tetap memiliki batas ketika mulai mengaburkan hakikat manusia sebagai gambar dan rupa Allah (imago Dei). Pdt. Jacklevyn juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat memunculkan berbagai kegelisahan baru. Karena itu, gereja perlu terus membangun kesadaran kritis agar mampu mendampingi generasi masa depan menghadapi perubahan tersebut. "Hidup kita tidak ditentukan oleh algoritma. Hidup kita ditentukan oleh kejutan-kejutan anugerah dalam perjalanan kehidupan. Selama manusia masih memiliki relasi dengan Tuhan dan sesama, di situlah kemanusiaan tetap menemukan maknanya," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan PGI sekaligus Koordinator FGD, Alfian Komimbin, menjelaskan bahwa penyelenggaraan FGD dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan AI yang telah merambah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pelayanan gereja. Menurutnya, AI kini mulai dimanfaatkan dalam pendidikan teologi, pelayanan pastoral, penerjemahan Alkitab, penyusunan materi liturgi, komunikasi gereja, administrasi organisasi, hingga produksi berbagai konten digital. Namun perkembangan tersebut belum diikuti dengan tersedianya pedoman teologis dan etis yang komprehensif bagi gereja. "Situasi ini membuka peluang terjadinya penggunaan AI secara tidak kritis, pelanggaran privasi dan hak cipta, penyebaran informasi keagamaan yang keliru, hingga berkurangnya dimensi relasional yang menjadi inti pelayanan gereja," jelas Alfian.

Ia mengatakan bahwa PGI sebenarnya telah menempatkan isu AI sebagai salah satu isu strategis dalam Dokumen Keesaan Gereja (DKG) dan Pokok-Pokok Tugas Bersama (PPTB) 2024–2029 melalui kerangka polikrisis. Berbagai seminar, semiloka, dan penguatan literasi mengenai AI maupun cyber ecumenism juga telah dilakukan. Namun hingga kini belum tersedia panduan resmi yang memberikan arah teologis, etis, pastoral, dan kelembagaan mengenai respons gereja terhadap disrupsi AI.

Menurut Alfian, penyusunan panduan tersebut akan berpijak pada dua pendekatan teologis yang dinilai relevan. Pertama, open ecclesiology yang memandang gereja sebagai komunitas yang terbuka, relasional, dan menghadirkan hospitalitas bagi dunia tanpa kehilangan identitasnya sebagai tubuh Kristus. Kedua, digital theology, yang melihat transformasi digital bukan sekadar perubahan teknologi komunikasi, tetapi juga perubahan cara manusia membangun relasi, menghayati iman, membentuk komunitas, serta memahami kebenaran di era digital. "Kedua pendekatan ini menjadi landasan bagi gereja untuk membangun respons yang kreatif, kritis, dan bertanggung jawab terhadap perkembangan AI," katanya.

Melalui FGD ini, PGI menargetkan lahirnya Panduan Respons PGI terhadap Tantangan Disrupsi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang tidak berhenti pada pernyataan normatif, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pedoman pelayanan, pendidikan, komunikasi, perlindungan data, advokasi sosial, serta tata kelola kelembagaan gereja.

Selain itu, forum ini diharapkan mampu merumuskan pembacaan teologis bersama mengenai AI, memetakan peluang dan risiko penggunaannya di lingkungan gereja, menyusun prinsip-prinsip etis, mengidentifikasi langkah strategis jangka pendek, menengah, dan panjang, serta membangun mekanisme kerja yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. FGD ini adalah kolaborasi antara Biro Litbang, Bidang Keadilan dan Perdamaian, serta YAKOMA PGI. (NAS)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Peletakan Batu Pertama Tandai Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium T...
by admin 21 Jul 2026 21:11

JAKARTA,PGI.OR.ID-Peletakan batu pertama menandai pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini ha...

Menyikapi Disrupsi AI, PGI Susun Panduan Teologis bagi Pelayanan Gerej...
by admin 21 Jul 2026 17:08

JAKARTA, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (F...

Lewat Live-in Interfaith TAB Goes to Poso VII, PGI Dorong Anak Muda Ak...
by admin 21 Jul 2026 16:27

POSO, PGI.OR.ID-Di tengah keberagaman Indonesia, peran pemuda dan pemudi tidak hanya menjadi harapan masa depa...