Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Lewat Live-in Interfaith TAB Goes to Poso VII, PGI Dorong Anak Muda Aktif Bangun Kerukunan Antarumat Beragama & Rawat Kebhinnekaan Indonesia

Thumbnail
Author

admin

21 Jul 2026 16:27

Share:

POSO, PGI.OR.ID-Di tengah keberagaman Indonesia, peran pemuda dan pemudi tidak hanya menjadi harapan masa depan, tetapi juga penggerak perubahan di masa kini. Dengan semangat, kreativitas, dan kepedulian yang dimiliki, generasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan nilai-nilai perdamaian, baik di lingkungan gereja maupun di tengah masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melalui Biro Pemuda dan Remaja PGI bekerja sama dengan Mission 21, Kemitraan Emansipatoris PGI–PKN, dan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) menggelar program Live-in Interfaith Tanah Air itu Bhinneka (TAB): Goes to Poso Angkatan VII pada 19–25 Juli 2026 di Poso, Sulawesi Tengah. Program ini mempertemukan pemuda lintas agama dan berbagai daerah di Indonesia untuk belajar bersama mengenai keberagaman, membangun dialog, serta memperkuat semangat hidup berdampingan dalam damai.

Pada sesi yang bertajuk "Peran Pemuda/Pemudi dalam Dinamika Bergereja dan Bermasyarakat", Wakil Sekretaris Umum PGI Pdt. Lenta Enni Simbolon mengajak peserta melihat keberagaman Indonesia sebagai anugerah yang harus terus dirawat. Menurutnya, kebhinnekaan yang diwariskan para pendiri bangsa tidak akan tetap terjaga tanpa usaha bersama. Pengalaman konflik horizontal yang pernah terjadi di Poso menjadi pengingat bahwa kerukunan harus terus diperjuangkan oleh semua pihak. "Iman yang bertumbuh tidak hanya terlihat dari rajin beribadah, tetapi juga dari keberanian keluar dari tembok-tembok gereja atau tempat ibadah untuk membangun relasi dengan sesama," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa gereja tidak dipanggil hanya untuk dirinya sendiri, melainkan hadir bagi masyarakat yang lebih luas, termasuk mereka yang berbeda agama, suku, budaya, maupun latar belakang. Karena itu, pemuda didorong untuk hadir di tengah masyarakat dengan sikap terbuka, membangun persahabatan, serta aktif merawat kerukunan antarumat beragama. Dalam pemaparannya, Pdt. Lenta menekankan bahwa seluruh agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan perdamaian. "Tidak ada agama yang mengajarkan kebencian atau perang. Semua agama mengajarkan hidup rukun, saling menghormati, dan hidup berdampingan. Nilai-nilai itu harus kita bawa ke ruang publik agar tercipta masyarakat yang damai dan kebhinnekaan tetap terjaga," katanya. Ia juga mengajak peserta agar tidak menjadi penonton ketika menghadapi persoalan di masyarakat. Menurutnya, anak muda harus menjadi bagian dari solusi melalui dialog, mendengar secara aktif, serta mencari jalan keluar bersama. "Pemuda harus menjadi motor penggerak. Mereka perlu berkolaborasi, bukan hanya dengan sesama generasi muda, tetapi juga dengan generasi yang lebih tua demi kemanusiaan, kebersamaan, dan persatuan," tambahnya.

Dalam sesi diskusi, Pdt. Lenta juga menyinggung tantangan yang kerap dihadapi generasi muda, yakni anggapan bahwa mereka masih minim pengalaman sehingga sering kali tidak diberi ruang untuk memimpin maupun menyampaikan pendapat. Ia justru mendorong para peserta untuk tidak kehilangan keberanian menyuarakan gagasan dan kritik secara santun. "Kalau merasa suara kalian belum didengar, jangan berhenti bersuara. Tetaplah menyampaikan kritik yang membangun, baik di gereja, sinode, maupun di lingkungan masyarakat. Suara anak muda penting untuk mengingatkan dan membawa perubahan," ujarnya. Ia berharap para peserta dapat menjadi generasi yang kritis, memiliki nalar yang baik dalam melihat persoalan, mampu menerima kritik, sekaligus menyampaikan pendapat dengan cara yang bijaksana. Pdt. Lenta juga mengajak peserta mengikuti media sosial PGI sebagai ruang untuk memperoleh informasi sekaligus menyebarkan narasi-narasi positif mengenai keberagaman, perdamaian, dan peran pemuda. Menurutnya, sebagai generasi digital, anak muda memiliki posisi strategis untuk menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan nilai-nilai toleransi melalui media sosial.

Selain Pdt. Lenta Enni Simbolon, materi juga disampaikan oleh Sekretaris Umum Majelis Sinode GKST, Pdt. Jetroson Rense, serta Steering Committee Kemitraan Emansipatoris PGI–PKN, Pdt. Yani Gara. Peserta juga mengikuti sesi "Religiositas dan Budaya di Poso" yang dibawakan oleh dosen STT GKST Tentena, Pdt. Dr. Asyer Tandapai. Sementara kegiatan team building dipandu bersama oleh tim PGI, Kemitraan Emansipatoris PGI–PKN, dan GKST.

Kepala Biro Pemuda dan Remaja PGI, Pdt. Rosiana Purnomo, bersyukur rangkaian kegiatan hari pertama berjalan dengan baik meskipun sempat mengalami sedikit penyesuaian jadwal. Menurutnya, tujuan utama hari pertama adalah membantu peserta memahami kondisi sosial dan budaya Poso, sekaligus membangun keakraban di antara peserta yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. "Kami berharap mereka mendapatkan banyak informasi mengenai masyarakat dan budaya Poso, sekaligus membangun relasi, saling mengenal, dan belajar menghargai satu sama lain," katanya.

Salah satu peserta, Ayumi dari Sinode Gereja Protestan Indonesia di Buol Toli-Toli (GPIBT), mengaku awalnya merasa tegang mengikuti kegiatan tersebut. Namun suasana itu perlahan berubah ketika para peserta mulai saling mengenal melalui berbagai sesi diskusi dan permainan. Menurutnya, materi yang disampaikan para narasumber membuka wawasan baru mengenai sejarah Poso dan bagaimana masyarakat setempat mampu bangkit setelah melewati masa-masa konflik. Ia juga menikmati sesi team building karena mengajarkan pentingnya strategi, kerja sama, komunikasi, dan kekompakan. "Buat saya, hari pertama ini seratus persen luar biasa. Ini bukan akhir dari pertemuan kami, tetapi awal dari perjalanan bersama. Saya belajar bahwa kedamaian tidak hadir begitu saja. Kedamaian harus dibangun, dirawat, dan dikonstruksikan bersama oleh kita semua," ungkap Ayumi.

Melalui program Live-in Interfaith Tanah Air itu Bhinneka (TAB): Goes to Poso Angkatan VII, PGI berharap lahir semakin banyak anak muda yang berani menjadi agen perdamaian. Tidak hanya aktif di lingkungan gereja, tetapi juga hadir di tengah masyarakat sebagai jembatan dialog, pembawa harapan, dan penjaga semangat kebhinnekaan Indonesia. (BRNDS)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Peletakan Batu Pertama Tandai Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium T...
by admin 21 Jul 2026 21:11

JAKARTA,PGI.OR.ID-Peletakan batu pertama menandai pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tabitha PGI Cikini ha...

Menyikapi Disrupsi AI, PGI Susun Panduan Teologis bagi Pelayanan Gerej...
by admin 21 Jul 2026 17:08

JAKARTA, PGI.OR.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (F...

Lewat Live-in Interfaith TAB Goes to Poso VII, PGI Dorong Anak Muda Ak...
by admin 21 Jul 2026 16:27

POSO, PGI.OR.ID-Di tengah keberagaman Indonesia, peran pemuda dan pemudi tidak hanya menjadi harapan masa depa...