Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Buka SABS 2026, Ketum PGI Soroti Krisis Migrasi dan Pekerja Migran di Asia

Thumbnail
Author

admin

25 Jun 2026 06:29

Share:

JAKARTA, PGI.OR.ID-Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, menghadiri pembukaan Konferensi Internasional Society of Asian Biblical Studies (SABS) 2026 yang berlangsung di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta, Rabu (24/6/2026). Konferensi internasional yang digelar setiap dua tahun ini berlangsung pada 23–27 Juni 2026 dengan mengangkat tema "Bible, Labour and Migration" (Alkitab, Buruh, dan Migrasi). Sebanyak 119 peserta dari 17 negara mengikuti pertemuan akademik yang mempertemukan para sarjana Alkitab, teolog, peneliti, dosen, dan mahasiswa dari berbagai negara di Asia.

Pembukaan SABS 2026 di STFT Jakarta dilakukan oleh Ketua STFT Jakarta Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, Ketua Umum PGI Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, serta Presiden Society of Asian Biblical Studies (SABS), Monica Jyotsna Melanchthon. Dalam sambutannya, Pdt. Jacklevyn menilai tema yang diangkat dalam pertemuan ini sangat relevan dengan situasi yang dihadapi banyak negara di Asia saat ini, khususnya terkait persoalan migrasi dan pekerja migran. Menurutnya, gereja-gereja di Indonesia dan Asia tengah menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya mobilitas tenaga kerja lintas negara yang tidak jarang diiringi berbagai persoalan kemanusiaan. “Tema konferensi tahun ini sangat relevan dan menyentuh pergumulan nyata masyarakat Asia. Gereja-gereja di Indonesia dan Asia sedang menghadapi persoalan migrasi dan pekerja migran sebagai salah satu krisis yang cukup serius di kawasan ini,” ujar Pdt. Jacklevyn.

Ia menjelaskan bahwa Asia menjadi kawasan penyumbang pekerja migran terbesar di dunia. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar di Asia. Selain itu, konflik dan peperangan yang terjadi di sejumlah wilayah juga menyebabkan meningkatnya jumlah pengungsi dan perpindahan penduduk. Menurutnya, kisah-kisah di balik migrasi dan pekerja migran tidak hanya berisi cerita yang mengharukan tentang ketangguhan dan perjuangan memperbaiki kehidupan keluarga, tetapi juga dipenuhi kisah-kisah tragis tentang penderitaan para pekerja migran yang terpisah dari keluarga mereka. Banyak di antara mereka menghadapi eksploitasi, diskriminasi, dan kekerasan. Hak-hak mereka sering kali tidak terlindungi, bahkan tidak sedikit yang akhirnya dipulangkan dalam peti jenazah. Karena itu, ia berharap hasil-hasil kajian yang lahir dari Konferensi Internasional Society of Asian Biblical Studies 2026 dapat memperkuat landasan teologis, spiritual, dan pastoral bagi gereja-gereja dalam melakukan advokasi terhadap pekerja migran. “Tema migrasi merupakan salah satu benang merah yang hadir dalam narasi Alkitab, mulai dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu. Kami berharap kajian-kajian yang dihasilkan dalam konferensi ini dapat memperkaya cara gereja memahami dan merespons persoalan migrasi secara kontekstual,” katanya.

Sementara itu, Presiden SABS Monica Jyotsna Melanchthon mengatakan bahwa konferensi ini menjadi ruang bagi para akademisi untuk memperkuat kerja sama dan mengembangkan studi Alkitab kontekstual di Asia. Menurut Monica, Society of Asian Biblical Studies sejak awal didirikan untuk mendorong penelitian dan penafsiran Alkitab yang memperhatikan realitas Asia, termasuk keragaman budaya, agama, bahasa, dan kondisi sosial masyarakatnya. “Bagi para peserta yang baru pertama kali mengikuti SABS, organisasi ini merupakan wadah untuk berbagi penelitian dan karya ilmiah yang berakar pada konteks Asia. Kami ingin membangun dukungan timbal balik, pertumbuhan intelektual, dan pengembangan profesional bagi para sarjana Alkitab,” ujarnya.

Monica juga menyoroti meningkatnya tekanan migrasi global. Mengacu pada proyeksi Bank Dunia, sekitar 1,2 miliar anak muda di negara-negara berkembang akan memasuki usia kerja dalam satu dekade mendatang. Kondisi ini diperkirakan akan meningkatkan tekanan migrasi, terutama di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara. Meski demikian, ia menilai migrasi tidak selalu harus dipahami sebagai persoalan semata. Migrasi juga membuka peluang bagi perjumpaan lintas budaya, pertukaran gagasan, solidaritas, dan pembentukan masyarakat yang semakin beragam. “Migrasi bukan sekadar perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Migrasi membawa identitas, budaya, nilai, keyakinan, dan pengalaman hidup yang membentuk dunia yang semakin multikultural,” katanya.

Melalui tema "Bible, Labour and Migration", Konferensi Internasional SABS 2026 di Jakarta diharapkan menghasilkan refleksi teologis dan kajian akademik yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi gereja, dunia pendidikan teologi, serta masyarakat dalam merespons isu migrasi dan pekerja migran di Asia. (BRNDS)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Buka SABS 2026, Ketum PGI Soroti Krisis Migrasi dan Pekerja Migran di ...
by admin 25 Jun 2026 06:29

JAKARTA, PGI.OR.ID-Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, mengh...

Perayaan HUT ke 30 UEM. Momentum Mengenang dan Menegaskan Kembali Komi...
by admin 21 Jun 2026 09:23

JAKARTA,PGI.OR.ID-United Evangelical Mission (UEM) merayakan HUT yang ke 30, di Gedung Smesko, Pancoran, Jakar...

Wapres Gibran Resmi Buka Pesparawi Nasional XIV 2026 di Manokwari, Gau...
by admin 20 Jun 2026 22:55

MANOKWARI, PGI.OR.ID – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, secara resmi membuka Pesta...