Tuhan Melihat Sampai ke Hati

BAKI ~ 30 Agustus 2015 | Renungan Minggu XIV Setelah Pentakosta

Bacaan Alkitab : Kidung Agung 2:8-13; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8,14-15,21-23

[P]erjumpaan antara Injil dan budaya ternyata tidak hanya menjadi pergumulan gereja dewasa ini, tetapi jauh sebelum gereja membentuk dirinya sebagai institusi sudah terjadi pergesekan yang signifikan di antara keduanya. Bahkan sampai sekarang diskusi tentang topik ini selalu menimbulkan perdebatan yang panjang dan alot. Sebagai manusia yang mewarisi nilai-nilai budaya sekaligus manusia beragama diperhadapkan pada pertanyaan etis: “Apakah kita mau mengutamakan salah satunya atau memperlakukan keduanya secara bersama atau bahkan tidak sama sekali?”

Kedatangan para ahli Taurat dan orang Farisi untuk menemui Yesus diawali dengan sebuah pemandangan yang menarik ketika mereka melihat beberapa orang murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh, lalu mereka mempertanyakan hal itu kepada Yesus. Sebagai orang yang hidup di tengah-tengah komunitas Yahudi, Yesus sendiri mengetahui adat-istiadat yang dimiliki bangsa Yahudi. Karena itu, Yesus merespons dengan mengkritik cara orang Farisi dan ahli Taurat memahami adat istiadat dan mengatakan “sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri” (ayat 9).

Kritik Yesus selanjutnya dengan mengutip salah satu bunyi Hukum kelima “hormatilah ayahmu dan ibumu” yang dalam penerapannya oleh orang Farisi dan ahli Taurat ternyata diberlakukan tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan dari hukum itu, yaitu dengan melegitimasi ketaatan kepada Tuhan dalam bentuk pemberian korban adalah hal yang lebih utama daripada menghormati (mengurus) orangtua. Menurut Yesus hal yang prinsip bukanlah apa yang dari luar dan masuk ke dalam diri orang tersebut yang menajiskan, tetapi apa yang keluar dari orang itu. Itulah yang menajiskannya (ayat 15). Karena itu, Yesus tidak menegur para murid yang dinilai menyalahi adat-istiadat orang Yahudi. Sebab yang terpenting bagi Yesus adalah apa yang mewujudnyata dalam sikap dan perbuatan, apakah itu perbuatan baik atau perbuatan buruk, bukan apa yang “masuk”; diterima, dipelajari, diresapi, diketahui dan dipahami. Renungan Minggu XIV Setelah Pentakosta 30 Agustus 2015 Bacaan Alkitab : Kidung Agung 2:8-13 Mazmur 15 Yakobus 1:17-27 Markus 7:1-8,14-15,21-23 Tuhan Melihat Sampai ke Hati 207

Ungkapan “dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu?” mengartikan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui isi hati orang lain sedekat apapun relasi yang terjalin. Isi hati akan terungkap dalam bentuk perbuatan nyata dari orang tersebut, sehingga setiap perbuatan adalah cerminan dari isi hati orang tersebut. Ajaran Yesus ini mengingatkan kita supaya tidak memusatkan tujuan kita dengan “memasukan” banyak hal dari luar ke dalam diri kita apakah itu pengetahuan, informasi, wawasan, dan sebagainya. Tentu semua yang didapatkan sangat bermanfaat dan mendorong peningkatan motivasi dalam hidup, tetapi yang mau Yesus tegaskan adalah apakah yang masuk itu akan mengeluarkan kebaikan atau keburukan? Bisa saja ada banyak pengetahuan tentang kebaikan yang kita terima, tetapi akan mengeluarkan keburukan atau sebaliknya.

Di sinilah kita meletakkan fungsi hati kita untuk mengontrol semua pikiran dan perilaku kita. Tuhan tidak akan mempertanyakan seberapa banyak pengetahuan, ilmu dan wawasan yang kita miliki. Yang akan menjadi titik tolak adalah seberapa besar hal-hal itu mendorong, mempengaruhi, dan mengontrol kita untuk menghasilkan buah-buah yang baik dan benar dalam tindakan. Kedalaman hati kita menjadi pusat perhatian Tuhan supaya Roh Kudus membantu kita mengelola dan mempertimbangkan semua yang masuk, sehingga tidak mencelakakan hidup kita. Tidak ada seorangpun dari antara kita yang bebas dari pengaruh adat-istiadat kita masing-masing dan mungkin kita masih terus menghidupinya sampai sekarang. Nilai-nilai kebajikan yang dipelihara dalam adat-istiadat kita akan menjadi bermakna jika kita juga mampu memberi makna injil yang setara dalam pemberlakuannya. Marthin Luther, tokoh reformasi dalam salah satu tulisannya mengatakan begini, “Siapa yang dibenarkan oleh iman, dia akan meresponsnya dengan ucapan syukur dan kasih yang menyempurnakan. Melalui iman pada janji Allah, seseorang menerima anugerah keselamatan dan kemampuan untuk mengasihi dari hati dan bukan karena dorongan hukum dari luar dirinya.” Demikianlah Tuhan melihat kita sampai pada kedalaman hati kita. (RL)