Sila Kelima Tapakan Pertama Melangkah Ke Sila-sila Berikutnya

PGI – Yogyakarta. Ibarat tangga, Sila Kelima pada Pancasila adalah anak tangga pertama yang ditapaki untuk melangkah ke Sila Keempat hingga Sila Pertama. Hal ini dikatakan Sri Sultan Hamengkubuwono X ketika berbicara sebagai keynote speaker (orasi kunci) dalam Pembukaan Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) di Sahid Rich Jogja Hotel, Senin (12/5/2014).

Sri Sultan HB X mengungkapkan hal ini karena Pancasila semakin dilupakan bangsa kita. Ini juga bertolak dari realitas dan berbagai dimensi anomali yang terjadi di masyakarat Indonesia. Sebagian besar masyarakat kita tidak mampu lagi mengaktualisasikan Pancasila sebagai falsafah hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sri Sultan HB X mengajak masyarakat Indonesia, mari kita mengaktualisasikan Pancasila mulai dari Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Menurut pandangan Gubernur DI Yogyakarta ini, “Jika Sila Kelima, Keempat, dan Ketiga dilaksanakan dengan baik, maka tangga Sila Kedua yang Berkemanusiaan akan tercipta dalam keadilan sosial, demokrasi dan persatuan. Bilamana keempat sila itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka penghayatan Sila Pertama: Berketuhanan Yang Mahaesa akan semakin kokoh.”

“Rasa Ketuhanan akan rendah jika orang terus-menerus bergulat dalam keterpurukan kemiskinan, tidak demokratis, tidak menghargai persatuan, dan kemanusiaan. Basis yang kuat dalam bidang ekonomi akan memperkukuh pula penghayatan terhadap Sila Ketiga, Kedua dan Pertama”, lanjutnya.

Karena itu, Sultan mengusulkan, dalam membangun peradaban Pancasila kita bisa mulai dari sila terakhir, yakni bagaimana menciptakan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Bertolak dari krisis multidimensional yang sekarang melanda, Sultan menengarai bahwa agama-agama dapat mengalami insignifikansi internal dan irrelevansi eksternal jika tidak mampu membarui dirinya.

Menurut Sultan, sekarang ini agama sudah memasuki masa post-dogmatic religion. “Kalau hanya menekankan kebenaran ajaran atau dogma agama, maka agama justru akan mengalami insignifikansi dan irrelevansi itu,” katanya. “Agama harus kembali menjadi cerita yang dapat menyemangati kehidupan sehari-hari.” (http://www.satuharapan.com/read-detail/read/pembukaan-kgm-ke-ix-pgi-keadilan-sosial-tuntutan-utama)

Paparan narasi kunci yang disampaikan Sultan dapat dikatakan menjadi platform para peserta KGM dalam mendiskusi keempat fokus subtema yang diangkat: Kemiskinan, Ketidakadilan, Radikalisme, dan Kerusakan Lingkungan.

KGM hari 1 - Suasana peserta yang hadir

Sekitar 200 peserta turut hadir dalam KGM ini. KGM ini akan masuk pada diskusi panel dan pleno pada esok hari hingga 15 Mei.

Sumber tulisan:
* Pdt. Gomar Gultom, M.Th. (Sekum PGI)
* www.satuharapan.com

Editor: Boy Tonggor Siahaan (Staf Litkom PGI)
Foto: satuharapan.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*