Setia dalam Hidup Beragama

Oleh Pdt. Weinata Sairin

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga”. (Matius 10 : 32, 33)

Sikap setia dan taat asas (konsisten) sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Sikap itu mesti kita wujudkan dalam kehidupan keluarga dan dalam kehidupan di lingkup yang lebih luas. Setia dan konsisten, artinya “tetap”, ” tidak berubah”, tidak mengikuti arah angin, tidak menyanyi mengikuti gendang orang lain. Setia dan konsisten artinya stabil, tidak plin-plan, tidak mencla-mencle, tidak mudah berubah dan terpengaruh. Setia dan konsisten juga berarti terang-terangan, tidak menyembunyikan diri, tidak bersikap abu-abu, tetapi tidak juga mesti demonstratif dan secara arogan mempertontonkan kesiapaan kita. Kita sebagai warga gereja dituntut untuk setia tidak hanya pada “hal-hal yang besar” tetapi juga terhadap hal-hal yang kecil (Luk.19:17)

Dari pengalaman empiris, kita mencatat ada banyak orang yang selalu terpukau pada sesuatu yang “besar” dan acap tidak peduli, bahkan menutup mata, terhadap yang “kecil”. Di jemaat-jemaat kita juga acap terjadi semacam keluhan terhadap sikap pimpinan Jemaat yang lebih peduli pada “orang besar” ketimbang “orang kecil”. Yesus sendiri meneladankan sikap yang amat peduli terhadap mereka yang dimarginalisasi oleh masyarakat di zaman itu. Yesus berdialog, menangkap aspirasi mereka, Yesus duduk bahkan makan bersama dengan mereka. Narasi dalam Injil mengungkapkan semua kisah itu dengan terang benderang dan mestinya menjadi referensi utama dari gerak pelayanan Gereja.

Setia dalam melayani dan setia dalam mengaku nama Yesus memang bukan hal yang mudah dan sederhana. Oleh karena itu pembiasaan dalam melayani dan mengaku harus dimulai sejak dini. Gereja-gereja sudah sejak awal menyadari tentang pentingnya kedua aspek. Per istilah, kata pelayanan dan diakonia sudah menyatu dengan gereja. Eksistensi dan presensia gereja sebagai institusi yang melayani amat disadari dan difahami (Mrk. 10:45). Dalam konteks kesadaran tersebut, nama komisi yang ada dalam gereja sebagian besar mengakomodasi istilah ‘pelayanan’, misalnya Komisi Pelayanan Perempuan, Komisi Pelayanan Lansia, dsb.

Bahwa kemudian ada orang yang beranggapan atau berpandangan bahwa hal yang berbau pelayanan itu seolah meniadakan profesionalisme, pandangan itu mesti dikoreksi. Berorganisasi, berpaduan suara, berkoperasi, mengelola keuangan dsb. dalam konteks pelayanan gereja mesti dilakukan sesuai dengan standar profesional, tidak bisa dengan cara-cara kuno dan “amatiran”.

Setiap ibadah Minggu, umat mengucapkan rumusan teks Pengakuan Iman Rasuli (Symbolum Apostolicum). Rumusan tersebut, biasa juga disebut 12 fasal Pengakuan Iman, adalah sebuah kredo yang banyak digunakan oleh gereja-gereja di Indonesia. Rumusan yang ada, dalam bentuknya yang sekarang dibuat sekitar tahun 750, diucapkan setiap Minggu untuk mengingatkan umat tentang inti kepercayaan kristiani yang berbasis kuat pada pemahaman Trinitas. Pengakuan iman yang diucapkan dengan lantang, dan terkadang dengan sikap sempurna, mestinya dilanjutkan dalam kehidupan umat pada hari Senin -Sabtu di tengah dunia sekuler. Pelanjutan pengakuan iman dalam kehidupan konkret umat adalah bagaimana agar dimensi pengakuan itu diimplementasikan dalam tugas, pekerjaan dan kehidupan umat dimanapun.

Dalam konteks implementasi itu, umat tidak boleh berada dalam posisi menyembunyikan kekristenannya, atau bersikap ragu terhadap agama yang ia anut agar bisa menduduki jabatan-jabatan tertentu dalam sebuah lembaga. Umat harus terus terang tentang agama yang ia anut sehingga publik/ masyarakat disekitarnya jelas.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di beberapa institusi di negeri ini ada aturan-aturan tidak tertulis dan atau terselubung yang menyatakan bahwa menjadi pimpinan di institusi itu adalah sosok beragama tertentu. Di sebuah universitas negeri misalnya ada ketentuan bahwa syarat menjadi rektor adalah yang bisa membaca ayat-ayat kitab suci agama tertentu. Ada juga satu dua orang warga kita yang tegiur dengan sesuatu jabatan sehingga ia dengan mudah meninggalkan Yesus Kristus dan berpindah ke agama lain.

Ucapan Yesus dalam Injil Matius 10 : 32,33 yang dikutip diawal bagian ini amat lugas, tegas, keras dan sangat relevan di sepanjang zaman. Ada saja orang yang terpesona, terpukau, tegiur dengan pangkat, jabatan atau benda-benda lainnya yang dengan mudah kemudian menyangkali Yesus dan berpindah agama. Mereka terpenjara kepada kenikmatan sesaat, mereka tidak menghargai karya keselamatan yang telah diukir Yesus lewat penderitaan, siksaan dan kematian yang Ia jalani. Ada banyak orang yang menyangkal Yesus, berpindah agama, hidup dalam timbunan dosa yang menyesakkan. Kita harus setia kepada Yesus, kita harus mengaku namaNya secara verbal juga dalam tindak nyata.

Editor: Beril Huliselan

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*