Aku adalah awal dan yang Akhir  (bdk. Wahyu 22:12-13)

Tidak ada produk di keranjang.

BeritaBerita PGIUtama

Refleksi Sabtu Sunyi lewat Pameran Virtual

JAKARTA, PGI.OR.ID – “Salah satu keagungan manusia adalah kreativitas khususnya dalam bidang seni“

Demikian disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom saat membuka Pameran Lukisan Virtual Festival Sastra dan Rupa (SaPa) Kristiani melalui zoom pada Sabtu, 3 April 2021.

Menurut Pdt. Gomar, proses kreatif yang tidak ada batasnya ini adalah sebuah anugerah yang sangat mulia dalam diri manusia. Sebagai sebuah anugerah, di dalamnya juga terkandung panggilan. Terkait atas panggilan ini, karya seni dapat mencerminkan kebenaran dan keindahan dalam membangun kemanusiaan.  Proses berkesenian ini menjadi sangat penting kini di tengah dunia yang saat ini didominasi oleh ragam tawaran kemudahan dunia digital tetapi sangat memiskinkan imajinasi kita.

Dalam bagian lainnya, Pdt. Christian Galabara Alfadio Putra, STh, seorang perupa dan rohaniwan berbagi mengenai tema “Art-Theo-Logy”. Sebagai seorang pendeta yang berkecimpung dalam kehidupan gereja, baginya melakukan pembinaan, pengajaran, serta berkhotbah menjadi keseharian, verbal menjadi bentuk ekspresi teologis guna mewartakan Wahyu Allah di tengah-tengah jemaat. Akan tetapi sebagai seseorang yang gemar melukis tentu saja ekspresi teologis tidak hanya terbatas dalam bentuk verbal saja. Seni Visual (lukis) menjadi salah satu cara juga dalam mengekspresikan iman dengan bentuk yang berbeda. Menurutnya, seni visual berperan saat ada perasaan yang bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena bingung entah apa yang harus diungkapkan dan entah apa yang bisa diungkapkan.

Menurutnya, dengan kita melihat setiap makhluk hidup pada saat yang sama kita memandang Kristus. Dengan melihat semua materi yang menyusun alam semesta ini, di situlah kita memandang Kristus. Dari sinilah berangkat proses berkesenian yang dilakukannya dalam memandang realitas yang kompleks sebagai bentuk kehadiran Kristus. Oleh sebab itu, tema-tema kerapuhan, ketidakberdayaan, ketidakadilan, kesedihan, keberdukaan, dan lain sebagainya menjadi cara mengekspresikan kehadiran Kristus yang tidak dapat dikomunikasikan melalui verbal tetapi melalui lukisan.

Salah satu perupa yang turut mengikutsertakan karyanya, Tiarma Sirait mengatakan bahwa salah satu lukisannya yang berjudul “I am Calling You” terinspirasi dari kerinduannya untuk mengajak semua orang di masa pandemi ini dapat lebih saling memperhatikan, saling bergandeng tangan, berbagi dan bersolidaritas. “Melalui karya ini saya hendak memanggil mereka dengan seluruh kekuatan saya, kata-kata saya, melalui kuas-kuas saya.” Baginya, lukisan ini juga hendak menggambarkan situasi pandemi, di mana kita tidak bisa hidup sendiri, itu sebabnya bekerjasama akan membuat seluruh dunia menjadi lebih baik. Menariknya, karyanya tersebut disusun berupa kumpulaan kliping selama pandemi dengan berbagai judul.

Anastasia Re, perupa lainnya memilih berbicara tentang topik seni dan kesehatan mental. Dalam kesempatan itu, Anastasia yang beberapa karyanya juga terpajang di lantai 2 Grha Oikoumene tersebut mengatakan bahwa tahun 2016 merupakan titik yang terasa paling berat dalam hidupnya. Namun kemudian ia menyadari dengan melukis ia mampu untuk mengenal dirinya dengan lebih baik pun demikian dengan caranya berkomunikasi dengan orang lain. “Saya kemudian mulai melukis hal-hal yang saya sukai, seperti melukis paus biru di laut, yang mengingatkan saya akan sesuatu yang menjadi impian saya sejak dulu untuk memiliki rumah dekat laut.” Ditambahkannya, berkarya adalah proses mengeksplorasi diri atau proses mengenal diri sendiri karena sesungguhnya otak kita seperti otot, semakin lama kita melatih diri maka semakin kita mampu mengatasi emosi yang muncul sehingga dapat memperbaiki bagian-bagian tertentu dalam hidup kita.

Handaka Mukarta yang menjadi moderator dalam acara tersebut menutup pemaparan para narasumber dengan menyimpulkan bahwa melalui seni, kita mampu mengelola emosi regulasi kita.

Menanggapi sharing perupa tersebut, Ita Siregar sebagai salah satu Panitia Festival berkata bahwa apa yang telah dibagikan para narasumber sangat berkaitan dengan Tema Festival Sastra dan Rupa Kristiani tahun 2020/2021 “Kau Rasa Beta Rasa” yang hendak mengajak bersolidaritas dalam suka-duka diilhami seruan Kitab Suci “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.” (Galatia 6:2)

Selain para narasumber dan beberapa perupa, pembukaan pameran virtual ini juga dihadiri Ketua Panitia Festival Sastra dan Rupa Kristiani 2020 Wisnu Sasongko, perupa Setyoko Hadi dan Yessica Patricia dari Biro Pemuda dan Remaja PGI. Pameran ini berlangsung hingga 10 April 2021 di lantai 2, Grha Oikoumene, Jl. Salemba 10, Jakarta Pusat.

 

Pewarta : Yessica Patricia/Phil