Rajin Itu Penting dan Perlu

Oleh Pdt. Weinata Sairin

Omnia superat diligentia, ‘Kerajinan mengalahkan segalanya’

 

Pada zaman baheula, kita masih ingat ‘peribahasa’ atau pepatah yang diajarkan oleh guru di Sekolah Rakjat. Bunyinya tegas dan jelas: “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Pepatah ini biasanya diulang-ulang penjelasannya oleh guru pada saat-saat khusus, misalnya pada saat para murid datang terlambat ke sekolah. Atau, pada saat diketahui bahwa para murid ternyata banyak yang tidak mengerjakan PR dengan berbagai alasan. Pada zaman itu, dirasakan bahwa nasihat, pembentukan karakter atau pembinaan budi pekerti cukup efektif lewat peribahasa. Karena itu, ada beberapa peribahasa yang harus dihafal oleh para murid pada zaman itu.

Sejak awal kita selalu mendapat nasihat orang tua agar rajin, tekun, bekerja keras, jujur dan berani. Sikap seperti itu mesti diwujudkan dalam pergaulan dan secara kontinu dilaksanakan sehingga sikap itu menjadi bagian dari gaya hidup kita. Orang tua amat besar perannya dalam memberi teladan, misalnya pukul 5 pagi sudah bangun dan terus bekerja hingga sore hari, bersikap jujur dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang sehingga sikap inklusif dan apresiasi terhadap kemajemukan sudah ditanamkan sejak kita kecil.

Dari pengalaman sejarah ternyata orang-orang besar dan ternama adalah sosok yang rajin dan tekun dalam menjalankan tugasnya. Rajin, tekun, semangat dan komitmen tinggi yang membuat mereka berhasil dalam bidangnya masing-masing. Para tokoh, penemu bukan tidak pernah gagal dalam eksperimen yang mereka lakukan. Mereka jatuh bangun, mereka gagal, tapi mereka belajar dari kegagalan dan bangkit lagi dengan energi baru.

Mereka juga tidak terlalu mempersoalkan usia mereka yang penting mereka masih bisa tetap berkarya. Thomas Alva Edison menunjukkan diri sebagai pekerja keras. Pada ulang tahun ke-80, seorang sahabatnya menyarankan agar ia memperlambat langkahnya jika berjalan. “Kau harus punya hobi tertentu. Mengapa kau tidak memilih golf saja?” kata kawannnya. “Aku belum terlalu tua!” kata Edison sang penemu. Thomas Edison adalah seorang yang rajin dan pekerja keras. Ketika seorang ibu meminta Thomas menuliskan semboyan bagi anak laki-lakinya, Thomas menulis: “Jangan pernah melihat jam!”

Thomas Edison mengabaikan waktu tatkala ia terobsesi untuk merampungkan tugasnya. Ia tidak terpenjara pada rundown yang telah disiapkan oleh siapapun. Terpenjara pada rundown bisa saja mengerdilkan daya kreativitasnya. Itulah sebabnya ia melarang untuk melihat jam. Acapkali kita orang modern “diperintah” oleh waktu dan itu acap mengganggu hubungan personal. Ketika kita sedang lakukan dialog dan orang yang kita ajak bicara itu selalu melihat jam tangannya maka suasana tidak lagi nyaman. Ketika kita sedang berpidato lalu ada ada orang yang memberi kode agar kita segera menghentikan pidato kita karena dianggap terlalu panjang, hal itu tak elok dan tak etis!

Kita memang harus menghargai waktu. Kita harus mengelola waktu dengan baik karena waktu adalah anugerah Tuhan. Namun, kita harus tetap menghargai hubungan antarmanusia dan nilai-nilai etik tatkala kita menghargai waktu. Sikap yang amat ketat terhadap waktu tidak boleh mengorbankan hubungan antarmanusia.

Agama-agama mengingatkan kita agar kita menjadi makhluk yang rajin dan bukan yang malas. Malas akan mengakibatkan kebodohan dan kemiskinan dan dua aspek itu yang menjadi musuh besar manusia disepanjang sejarah. Kebodohan dan kemiskinan membuat orang mudah dieksploitasi. Menarik sekali pepatah yang dikutip diawal bagian yang menyatakan bahwa kerajinan itu mengalahkan segalanya. Rajin beribadah, rajin berbuat baik, rajin berinteraksi dengan orang lain, rajin belajar, rajin berusaha, rajin yang berdimensi positif mesti menjadi bagian dari agenda kehidupan kita.

 

Editor: Beril Huliselan

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*