Presiden Jokowi Silaturahim dengan Perempuan Arus Bawah dan Aktivis: Bersama Memperkuat Bangsa

Perempuan Arus Bawah dan Aktivis dari berbagai organisasi dan daerah foto bersama Presiden Joko Widodo usai dialog

JAKARTA,PGI.OR.ID-Presiden Joko Widodo bersilaturahmi, dan melakukan dialog dengan sekitar 500 orang Perempuan Arus Bawah dan Aktivis dari berbagai organisasi dan daerah, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (6/3). Dalam pertemuan tersebut, Presiden didampingi oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Yohana Susana Yembise dan beberapa Menteri lainnya.

Pertemuan diawali dengan pemutaran video profil dari 16 perempuan arus bawah atas karya-karya mereka di tengah masyarakat. Pekerjaan mereka, antara lain dalam bidang kesehatan, pendidikan (guru), kepala desa, tokoh adat perempuan, penanganan kekerasan dalam rumah tangga, entrepreneur, penanggulangan sampah dan pelajar.

Dalam pertemuan tersebut Menteri KPPPA juga menyampaikan laporan pencapaian pemberdayaan perempuan yang telah menghasilkan 12 kritikal area, antara lain tentang kesetaraan antara laki-laki dan Perempuan. Kampanye HeForShe adalah salah satu upaya untuk mewujudkan kesetaraan tersebut. *HeForShe*merupakan bentuk komitmen pemerintah yang memposisikan pria agar lebih peduli terhadap kesetaraan gender. Sehingga di tahun 2030 planet 50:50 dapat terwujud, dimana perempuan dan laki-laki bersama-sama setara dalam keterlibatannya dalam pembangunan Indonesia.

Dalam sambutannya, Presiden menyatakan sangat bahagia karena dapat bertemu dengan perempuan arus bawah dari berbagai daerah. Dua hal utama yang disampaikan Presiden dalam sambutannya yaitu, pertama, peran perempuan sangat penting, perjuangan perempuan untuk mengayomi keluarganya dan mengatur kebutuhan anak-anaknya adalah perjuangan yang sangat berat. Kedua, Pemerintah telah melaksanakan program pemberdayaan perempuan, seperti: UMI, MEKAAR, Bank Wakaf, Mikro dan KUR. Program-program tersebut adalah program pemberdayaan ekonomi perempuan.

Dalam dialog langsung yang dipimpin oleh Presiden, empat perwakilan perempuan yang hadir menceritakan apa yang dilakukan oleh mereka dalam komunitasnya. Mereka yang berdialog langsung dengan Presiden yaitu pertama, Doliana dari Papua. Doliana menceritakan bahwa Mama-Mama Papua selama tiga belas tahun turun ke jalan berteriak untuk pembangunan Pasar Mama-Mama Papua.

“Mama-Mama gelar jualannya di atas karung di letakkan di atas tanah dan mama-mama berjualan dibawah terik matahari dan hujan. Tetapi setelah kunjungan Presiden ke Papua, hanya dalam waktu empat minggu, Pasar Mama-Mama selesai dibangun dan mama-mama telah dapat berjualan di pasar dengan fasilitas yang sangat baik, mama-mama telah berjualan di atas meja, tidak digelar di tanah,” katanya.

Doliana juga menyampaikan agar pemerintah membantu modal dagang untuk mama-mama di Papua. Merespon permohonan Doliana, Presiden langsung meminta Menteri BUMN, Rini Soemarno yang juga hadir dalam pertemuan ini agar membantu modal berdagang untuk Perempuan di Pasar Mama-Mama.

Perempuan kedua, Fitri. Fitri adalah penggerak Sekolah Perempuan penerima manfaat Kartu Indonesia Sehat (KIS). Fitri bersama kelompoknya mendata para Perempuan yang belum mendapatkan KIS. Fitri menyampaikan permohonannya agar pemerintah juga membantu fasilitas kesehatan reproduksi kepada perempuan, seperti fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan kanker servik. Presiden berjanji akan membantu permohonan Fitri.

Perempuan ketiga, Saraiyah dari Lombok Utara. Saraiyah menjelaskan bahwa ia membantu kasus Kekerasan dalam rumah tangga melalui mediasi. Kasus-kasus KDRT yang terjadi di tenda pengungsian setelah gempa Lombok, diusahakan penyelesaiannya melalui mediasi daripada memilih jalur hukum. Saraiyah menyampaikan harapannya agar bapak-bapak atau kaum pria tidak memukul perempuan atau isteri sekalipun mereka mengalami kesulitan dalam keluarganya. Dalam menanggapi harapan Saraiyah, Presiden mengatakan sangat setuju dan berharap juga para kaum pria selalu menghargai Perempuan sebagai mitra mereka.

Perempuan keempat, Nurul Latifah yang menceritakan bahwa masyarakat di desanya, di Mojokerta 80% bekerja sebagai pemilah sampah plastik. Nurul dan kelompoknya berusaha mendaur ulang sampah plastik di desanya. Namun, masalah yang dihadapi perempuan dalam pemilahan sampah ini adalah sampah plastik membawa dampak buruk pada kesehatan perempuan. Zat kimia yang ada pada sampah plastik berpengaruh kepada kesehatan perempuan dan anak-anak. “Oleh sebab itu, kami mengharapkan pemerintah untuk membantu kami memfasilitasi agar para perempuan tidak mengalami dampak buruk saat memilah dan mendaur ulang sampah plastik,” ujar Nurul.

Merespon keluhan Nurul, Presiden menginformasikan bahwa Indonesia pemilik sampah plastic terbesar kedua setelah Cina. “Jadi saya sangat mengapresiasi inisyatif yang dilakukan oleh Ibu Nurul. Dan saya berjanji akan membantu apa yang dihapkan oleh Nurul, demikian Presiden menanggapi permohonan Nurul,” tandas Presiden.

Diakhir dialog, Presiden menceritakan pertemuannya dengan Ibu Negara Afghanistan, Rula Ghani. Dalam kunjungan kerjanya ke Indonesia dan saat bertemu Presiden, Rula Ghani bercerita kepada Presiden bahwa Afghanistan terdiri dari 7 suku saja tetapi konflik telah berlangsung selama 40 tahun. Ada dua yang dirugikan dalam konflik yang terjadi yaitu perempuan dan anak-anak. Rula Ghani sangat mengapresiasi Indonesia yang terdiri dari banyak suku (714 suku) tetapi dapat menjaga kerukunan. Dengan tegas Presiden mengatakan agar jangan ada konflik antar suku, apalagi konflik karena agama. “Saya titipkan kepada semua agar kita menjaga kerukunan dan persaudaraan,” demikian Presiden mengakhiri dialog tersebut.

Pertemuan Presiden dengan perempuan arus bawah dan aktivis, diakhiri dengan doa bersama dan selanjutnya berfoto bersama dengan Presiden dan ramah tamah.

 

Pewarta: Repelita Tambunan

Editor: Markus Saragih

COPYRIGHT © PGI 2019

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*