Pertemuan Pendeta se GTM Gumuli Persoalan Ajaran, Politik, dan Ekonomi

Salah satu nara sumber dalam Pertemuan Pendeta se GTM

MAMASA,PGI.OR.ID-Para pendeta di lingkungan Gereja Toraja Mamasa (GTM) menggelar pertemuan pada 21-24 Februari 2019, di GTM Jemaat Mawa, Klasis Bubunganna Kada Nene. Pertemuan tersebut mengusung tema: “Tuhan Mengangkat Kita dari Samudera Raya” (Band. Maz 71: 20b), dan subtema: “Tanggungjawab Pendeta untuk memperlengkapi, mendorong dan mengarahkan warga Gereja Toraja Mamasa dalam rangka menuju Kemandirian Teologi, Daya dan Dana”.

Ajaran gereja, politik dan ekonomi menjadi pokok perbincangan. Pdt. Michael Desmor dari Gereja Reformerd, Jakarta dalam membahasannya tentang pokok pikiran ajaran Kalvin dan apa itu Gereja Reformed menjelaskan,  Gereja Reformed atau Gereja Protestan merupakan salah satu nama yang harus disebutkan adalah Marthin Luther. Dia mereformasi gereja yang ada pada waktu itu, yang kita sebut gereja Katolik Roma.

Para pendeta serius mendengar paparan para nara sumber

“Luther sebenarnya tidak bermasuk untuk mendirikan gereja baru, tetapi dia hanya ingin menggabungkan pemikirannya dengan suara yang semakin keras meminta adanya perbaikan atas pelanggaran yang sangat jelas terlihat. Akan tetapi protes Luther menggema dengan otoritas yang didasarkan pada pencariannya sendiri yang dalam akan kebenaran alkitabiah. Bahkan Luther sampai pada keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa untuk beriman kepada Tuhan, gereja harus meletakkan otoritas absolut hanya pada Alkitab. Alkitablah yang dipegang oleh Luther dalam menyeruhkan reformasi,” jelasnya.

Dalam konteks politik, jelang Pileg dan Pilrpes, Pdt. Marthen Manggeng, M.Th, anggota DPD RI asal Sulawesi Barat mengungkapkan, warga GTM sebagai bagian tak terpisahkan dari warga masyarakat, bahkan salah satu tanggungjawab warga gereja dalam pesta demokrasi ini adalah ikut berperan secara aktif, dinamis, kratif dan kritis.

“Namun persoalan money politics merupakan masalah utama dalam pesta demokrasi ini. Selain itu, perlu pendampingan bagi warga GTM yang maju sebagai calon legislatif baik tingkat Kabupaten, Prpopinsi maupun Pusat serta untuk DPD RI. Untuk itu, perlu GTM mengeluarkan surat penggembalaan kepada segenap warga Gereja Toraja untuk ikut pesta demokrasi secara bertanggungjawab, tanpa money politics,” ujar Marthen dalam diskusi kelompok perwilayah.

Salah satu hal hangat yang didiskusikan dalam pertemuan ini adalah soal kemandirian, teologi, daya dan dana. Sebuah harapan, sekiranya ketiga kemandirian ini sudah dicapai, maka tentu kemandirian berdirinya GTM mulai dari jemaat, klasis dan Sinode akan membawah dampak yang cukup positif dalam kehidupan secara menyeluruh.  Dalam konteks GTM, ketiga kemandirian ini sedang digumuli yang akan dimulai dari para pendeta, majelis gereja dan warga gereja, GTM secara keseluruhan.

Ketiga kemandirian ini memang perlu melalui perjuangan, kerja keras, kerjasama untuk mencapainya, tetapi bila bergandengan tangan, maka harapan itu sedikit demi sedikit bisa kita raih dalam penyerahan sepenuhnya kehadapan Tuhan tentang pelayanan yang kita kerjakan.

Pertemuan Pendeta se GTM diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Makmur, M.Th. Kemudian, sambutan oleh Ketua BPK BKN, Ketua Sinode dan perwakilan pemerintah yang disampaikan oleh Wakil Bupati Mamasa.

Hadir dalam ibadah pembukaan, warga jemaat Mawa dan warga jemaat se Klasis Bubunganna Kada Nene’. Selain itu, hadir pula Wakil Ketua DPRD Mamasa dan Ketua DPRD Tana Toraja Welem Sambolangi, SE, yang merupakan bahagian keluarga besar masyarakat yang ada di Mawa’, Tabang.

 

Pewarta: Aleksander Mangoting

Editor: Markus Saragih

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*