Aku adalah awal dan yang Akhir  (bdk. Wahyu 22:12-13)

Tidak ada produk di keranjang.

IndonesiaUtama

Pernyataan Sikap Keprihatinan Ormas Katolik Terkait Peristiwa Bom Bunuh Diri

JAKARTA,PGI.OR.ID-Pimpinan ormas Katolik yang terdiri dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Katolik (PK), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), bersama Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) mengeluarkan pernyataan sikap keprihatinan terkait bom bunuh diri di Paroki Katedral Makassar, Sulawesi Tengah, Minggu (28/3).

Dalam pernyataannya, mereka (pimpinan ormas Katolik, red), menyampaikan pertama, mengutuk keras peristiwa ledakan bom di areal gedung Katedral. Perbuatan jahat bom bunuh diri  ini  jelas-jelas bukan perilaku serta sikap orang beragama.

Kedua, mengajak segenap umat beragama tetap teguh dalam solidaritas, dan senantiasa bekerjasama mengawal kepentingan masyarakat dan bangsa, serta menghormati kerukunan hidup beragama.

Ketiga, kepada umat Katolik seluruh Indonesia dan khususnya di Paroki  Katedral Makassar, kami menyerukan agar tetap tenang, tidak terbawa  kecemasan serta larut dalam  rasa takut. Kita bawa segenap peristiwa dan kekecewaan ini dalam doa bersama.

Keempat, tragedi di Katedral Makassar kiranya menjadi pengingat kepada semua elemen bangsa dan lapisan masyarakat agar semakin memperkuat persatuan, solidaritas, kerjasama dalam kesatuan  bangsa dan tanah air Indonesia yang kaya oleh keragaman latarbelakang agama, budaya, dan suku.

Kelima, meminta Pemerintah, Polri dan TNI agar bisa mengungkap pelaku dan jaringannya agar mencegah peristiwa serupa terjadi dikemudian hari.

Dalam pernyataan sikap yang dikeluarkan pada Minggu (28/3) ini, ditegaskan pula, di tengah pandemi yang belum berakhir, seharusnya kita saling menjaga ketenangan dan ketertiban, menjalankan protokol kesehatan, giat beramal bhakti, serta terus menjalin solidaritas untuk warga masyarakat  terdampak.

Katedral Makassar memiliki jumlah umat Katolik terbesar di Makasar dan menjadi ikon gereja Katolik tertua di Sulawesi Selatan.

 

Pewarta: Markus Saragih