Pembukaan Konsultasi Nasional VIII POUK 2019

BANTEN,PGI.OR.ID-Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang membuka secara resmi Konsultasi Nasional (Konas) VIII Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK) 2019, di Hotel Olive, Tangerang, Banten, Kamis (13/6).

Penekanan tombol oleh Ketua Umum PGI sebagai tanda dibukanya Konas VIII POUK 2019.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PGI menegaskan pentingnya gereja-gereja dan POUK mengamalkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, guna menanggulangi kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme, serta kerusakan lingkungan, bersama seluruh anak bangsa tanpa melihat latarbelakang.

“Itulah panggilan dari gerakan oikumene kita, yang tidak boleh berakhir dalam kesatuan struktural, tapi sebagai wujud pelayanan dan kesaksian gereja bagi kesejahteraan bangsa ini. Kita harus berpikir positif dan kreatif, tanpa kehilangan identitas. Keempat isu ini harus dimasukkan dalam program-program gereja dan POUK di seluruh Indonesia,” tandasnya.

Sebab itu, dia berharap agar konsultasi ini melahirkan rumusan yang dapat mengatasi pergumulan bersama, baik dalam kehidupan bergereja maupun berbangsa.

Pentingnya melahirkan rekomendasi bagi kesejahteraan masyarakat juga disampaikan perwakilan Kesbangpol Provinsi Banten, Maman. “Rekomendasi tersebut secara khusus bagi kesejahteraan masyarakat Banten, dan secara umum bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Unsur Pemda Banten, MPH-PGI, perwakilan POUK dan PGIW saat pembukaan.

Maman menambahkan, dalam kemajemukan masyarakat saling bergantung satu terhadap yang lainnya, sehingga perlu mengembangkan komunikasi yang dapat menciptakan kerukunan, saling menerima dan memahami. Selain itu, perlu sinergitas antara gereja, masyarakat dan pemerintah.

Hal senada juga disampaikan Ketua Panitia Konas VIII POUK 2019 Pdt Edward Ladasi. Menurutnya, dari kegiatan ini diharapkan ada pemikiran kritis, kreatif, dan konstruktif bagi gerakan oikoumene dan bangsa Indonesia.

Konas VIII POUK 2019 akan melanjutkan dan memperdalam percakapan-percakapan pada Konas-Konas sebelumnya. Oleh karena itu, Konas kali ini menjadi ruang percakapan-evaluatif, yang diharapkan akan menghasilkan beberapa pokok pemikiran teologis-pastoral dan programatis untuk dua tahun ke depan.

Sedangkan tujuan kegiatan ini adalah terciptanya ruang komunikasi konsultatif yang mengerucut pada beberapa pokok rekomendasi tentang pemikiran teologis-pastoral yang programatis secara realistis dan terukur.

Untuk mencapai tujuan itu, maka arah dari proses percakapan konsultatif selama Konas VIII POUK 2019 yaitu, di hari pertama (13/6), usai ibadah dan seremoni pembukaan, diawali dengan percakapan konsultatif tentang tema Sidang Raya XVII PGI 2019: Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir (bdk. Wahyu 22:13). Percakapan ini diantar oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang.

Dalam terang tema ini, peserta akan memasuki percakapan konsultatif tentang panggilan hidup umat beragama, termasuk umat Kristen di Indonesia, dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Percakapan ini akan difasilitasi oleh para panelis, yaitu Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si, dan Ketua MUI Banten Dr. KH. M. Romly. Dari mereka diharapkan akan memperoleh penajaman kesadaran keberagamaan yang berwawasan kebangsaan Indonesia.

Dilanjutkan dengan sesi pengetahuan dan ketrampilan tentang masalah-masalah kebencanaan. Percakapan ini penting mengingat wilayah Indonesia adalah wilayah yang rawan bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, dan tanah longsor serta kerusahan lingkungan, dengan nara sumber mantan Kepala Pengawas Gunung Berapi Dr. Surono, dan mantan Kepala BNPB Laksda. Purn. Willem Rampangilei.

Di hari kedua (14/6), percakapan konsultatif akan diawali oleh penyamaan persepsi tentang hubungan kerja dan kelembagaan POUK-POUK dengan PGIW-PGIW serta POUK-POUK dengan gereja-gereja anggota PGI. Penyamaan persepsi ini didasarkan pada Buku Pedoman Kerja POUK hasil Sidang MPL-PGI tahun 2018 di Palopo. Percakapan ini akan difasilitasi oleh Sekretaris Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, unsur PGIW yang diwakili oleh Ketua PGIW Banten Pdt. Elkarya C. Telaumbanua, unsur gereja anggota PGI yang diwakili oleh Ketua Senode GPIB Pdt. Paulus Kariso Rumambi, dan unsur POUK yang diwakili oleh Abraham Raubun.

Usai sesi ini, peserta akan memasuki sharing wilayah terfokus dengan dengan topik-topik percakapan krisis kebangsaan, krisis keesaan, krisis ekologi, tantangan budaya, dan tantangan pendidikan.

Percakapan-percakapan konsultatif dalam bentuk sharing wilayah terfokus tersebut berlangsung dalam sorotan semangat teologis-pastoral tema dan subtema SR XVI PGI 2014: Tuhan Mengangkat Kita dari Samudra Raya, pikiran pokok Sidang MPL-PGI 2019: Spritualitas Keugaharian: Membangun Demoktasi yang Adil bagi Kesejahteraan Semua, dan tema SR XVII PGI 2019: Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir.

Kemudian dilanjutkan dengan pleno hasil sharing wilayah terfokus. Diharapkan pleno akan dihasilkan beberapa rekomendasi pertimbangan teologis-pastoral dan program-program pelayanan tentang burning issues yang ditemukan oleh setiap kelompok diskusi.

Memasuki hari ketiga (15/6), diawali dengan launching buku Pedoman Kerja POUK dan Bunga Rampai POUK di Indonesia. Seluruh rangkaian Konas VIII POUK 2019 akan ditutup dengan ibadah Penutupan dan Sakramen Perjamuan Kudus.

PGIW Banten dan BP POUK Banten menjadi tuan rumah Konas VIII POUK 2019. Saat pembukaan, selain perwakilan POUK se Indonesia, hadir pula perwakilan PGIW, Kesbangpol Prov. Banten, dan Pembimas Kristen Protestan Prov. Banten.

 

Pewarta: Markus Saragih

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*