Workshop Tanggap Darurat Bencana: Pimpinan Gereja Sumatra Teguhkan Kolaborasi Respons Bencana Berbasis Gereja
admin
12 Feb 2026 11:18
MEDAN, PGI.OR.ID-Pertemuan penyampaian hasil Workshop Pembelajaran Koordinasi Respons Tanggap Darurat Bencana yang Dipimpin Gereja Lokal kepada para pimpinan gereja di Sumatra yang juga merupakan member UEM Asia dilaksanakan pada 10 Februari 2026 di Grand City Hotel, Medan. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memaparkan proses, capaian, serta pembelajaran penting dari perjalanan respons gereja-gereja dalam menghadapi bencana di Sumatra Utara. Dalam presentasinya, Banu Subagyo selaku Ketua Dewan Pengarah Jakomkris bersama Effendy Aritonang dari Fondasi Hidup Indonesia menegaskan bahwa respons gereja lahir dari panggilan moral dan pastoral di tengah situasi darurat, meskipun pada awalnya gereja-gereja belum memiliki kesiapsiagaan dan sistem yang terbangun dengan baik.
Melalui aktivasi enam Pos Respons Bersama (Pos Terpadu) di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang, Mebidang–Langkat, dan Dairi—yang diinisiasi secara sinodal namun dipimpin oleh pemimpin lokal—gereja-gereja mulai menemukan pola koordinasi yang lebih efektif. Workshop yang melibatkan 13 gereja dan 8 lembaga berbasis iman ini juga menegaskan pergeseran paradigma dari respons jangka pendek menuju pendekatan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Aksi Antisipatif yang lebih komprehensif, sekaligus mendorong integrasi isu perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana ke dalam pelayanan gereja, termasuk penguatan kepemimpinan pemuda dan perempuan. Keterbatasan anggaran—karena sebagian besar gereja belum memiliki pos khusus tanggap bencana—diakui sebagai tantangan bersama yang perlu dijawab melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi lintas gereja.

Paparan tersebut mendapat respons positif dari para pimpinan gereja yang hadir. Mereka mengapresiasi proses dan hasil workshop karena memberikan gambaran yang jelas mengenai tapak perjalanan gereja-gereja yang mulai bergerak, walau dalam keterbatasan. Moderamen GBKP, Pdt. Krismas Barus, menegaskan harapan agar GBKP dapat menjadi sahabat bagi seluruh gereja di Sumatera Utara melalui mekanisme kesiapsiagaan yang telah dibangun, serta memanfaatkan dukungan teknis berupa data dan pemetaan hasil kolaborasi guna memperkuat keterlibatan bersama. Ephorus GKPS, Pdt. John Christian Saragih, menyampaikan komitmen GKPS untuk berjalan seiring dengan road map yang telah tersedia dan menyiapkan daya dukung bagi kolaborasi yang sedang dan akan berlangsung. Bishop GKPI, Pdt. Dr. Humala Lumbantobing, M.Th., menekankan pentingnya sinergi, kecepatan respons, dan perencanaan ke depan yang terintegrasi agar gereja mampu bergerak lebih efektif dalam situasi krisis. Apresiasi juga datang dari Pdt. Dr. Dyah Ayu Krismawati, Sekretaris Eksekutif Regional Asia UEM, yang menilai langkah kolaboratif ini sebagai wujud ideal gerak bersama gereja dan lembaga oikumenis; UEM pun menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan kolaborasi ini.
Menutup pertemuan, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menggugah gereja untuk memaknai kegelisahan sebagai penanda iman yang menggerakkan umat, seraya menegaskan pentingnya pendekatan berbasis gereja sebagai first responder. Dalam pendekatan ini, gereja tidak hanya menghadirkan bantuan, tetapi juga mengelola praktik berteologi warga di tengah bencana, menumbuhkan spiritualitas yang memampukan umat melihat diri sebagai penyintas yang bermartabat, serta menghadirkan intervensi sebagai tindakan pastoral yang memulihkan. Melalui penguatan kapasitas dan jejaring berbagi sumber daya, perwujudan oikumene in action diharapkan semakin nyata dan berkelanjutan di tengah realitas krisis yang dihadapi umat.
_1770877288.jpeg)
Pertemuan di Grand City Hotel, Medan, tidak sekadar menjadi forum laporan dan apresiasi, tetapi juga ruang refleksi bersama tentang makna kehadiran gereja di tengah krentanan. Pembelajaran dari workshop ini menegaskan bahwa gereja dipanggil bukan hanya untuk bereaksi ketika bencana terjadi, melainkan untuk membangun kesiapsiagaan, memperkuat kapasitas, dan merawat jejaring solidaritas sebagai bagian dari panggilan imannya. Dari keterbatasan lahir kesadaran akan pentingnya berjalan bersama; dari pengalaman respons darurat tumbuh komitmen menuju gereja yang lebih tangguh, kolaboratif, dan berakar pada spiritualitas yang memulihkan. Dengan semangat oikumene yang hidup, langkah-langkah yang telah dimulai ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi pembelajaran, tetapi terus berlanjut menjadi gerakan nyata—di mana gereja hadir sebagai sahabat, penggerak harapan, dan penjaga martabat umat di tengah setiap krisis. (ST)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Workshop Tanggap Darurat Bencana: Pimpinan Gereja Sumatra Teguhkan Kol...
MEDAN, PGI.OR.ID-Pertemuan penyampaian hasil Workshop Pembelajaran Koordinasi Respons Tanggap Darurat Bencana ...
PERNYATAAN SIKAP PGI: Dialog dan Penegakan Hukum Berbasis HAM Merupaka...
JAKARTA, PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus k...
Merajut Ketangguhan dari Sumatra: Gereja-Gereja Menguatkan Koordinasi ...
MEDAN, PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama JAKOMKRIS PBI, CDRM & CDS, YEU, Fond...

