PGI Bersama Gereja dan Mitra Kemanusiaan Menjangkau Pengungsi Korban Krisis Kemanusiaan di Wilayah Terpencil Papua
admin
05 Jan 2026 10:15
PAPUA, PGI.OR.ID-Konflik bersenjata yang berkepanjangan di Papua terus menimbulkan krisis kemanusiaan di berbagai wilayah. Ribuan warga terpaksa mengungsi dan hidup dalam kondisi serba terbatas, jauh dari rumah, sumber penghidupan, dan rasa aman. Anak-anak, perempuan, serta lansia menjadi kelompok paling rentan di tengah keterbatasan pangan, layanan dasar, dan situasi keamanan yang belum stabil.
Merespons situasi tersebut, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bergerak melalui gereja-gereja setempat dan lembaga mitra kemanusiaan untuk menjangkau para pengungsi di berbagai wilayah Papua. Pendekatan ini menempatkan gereja lokal sebagai pendamping utama komunitas terdampak, memastikan bantuan menjangkau mereka yang paling membutuhkan, sekaligus menjaga martabat para penyintas konflik. Upaya kemanusiaan ini berlangsung secara bertahap sejak Desember 2025 di sejumlah wilayah terdampak, dimulai dari daerah-daerah yang paling sulit dijangkau.

Di Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Pada 3–4 Desember 2026, sebanyak 120 paket sembako berhasil dikirimkan ke wilayah ini melalui penerbangan kemanusiaan Mission Aviation Fellowship (MAF). Dengan akses darat yang nyaris mustahil ditempuh, pesawat misi kecil MAF kembali menjadi penghubung utama antara kepedulian dan kebutuhan mendesak masyarakat di pedalaman Papua. Keterbatasan kapasitas pesawat membuat hanya 120 paket yang dapat diangkut pada penerbangan pertama, sementara 80 paket lainnya disimpan dan diamankan di gudang MAF untuk dikirim pada jadwal penerbangan berikutnya.

Kedatangan pesawat disambut hangat oleh warga. Anak-anak berlarian mendekat, sementara para orang tua dan lansia menunggu dengan penuh harap. Paket sembako yang diterima menjadi penopang hidup keluarga-keluarga terdampak, khususnya menjelang Natal dan akhir tahun—masa yang seharusnya dirayakan dalam damai, namun kerap dibayangi konflik. Bantuan tersebut tidak hanya bermakna secara material, tetapi juga menjadi simbol solidaritas dan penguatan harapan di tengah situasi sulit.
Di wilayah Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, rangkaian distribusi bantuan dilaksanakan pada 17–18 Desember 2025. Sebanyak 321 paket sembako dan hygiene kit disalurkan kepada 321 kepala keluarga pengungsi korban konflik bersenjata. Para penerima berasal dari jemaat GKI Tanah Papua dan umat Gereja Katolik setempat. Distribusi ini mencerminkan solidaritas lintas gereja yang mengedepankan kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang denominasi.
Kegiatan di Aifat diawali dengan rapat koordinasi bersama Ketua PGIW Papua, Pdt. Hiskia Rollo, tim lapangan, dan para pihak terkait untuk memastikan distribusi berjalan aman dan berkeadilan. Selain bantuan pangan, dukungan rohani turut diberikan melalui pembagian 500 Alkitab kepada pengungsi di Aifat Timur dan Aifat Selatan. Program ini juga dilengkapi dengan dukungan psikososial dan kegiatan trauma healing bagi 100 orang dewasa dan anak-anak, menggunakan modul pemulihan Muria Damai Sentosa yang disesuaikan dengan konteks lokal.
Upaya kemanusiaan serupa juga dilakukan di wilayah Pegunungan Bintang. Pada 20 Desember 2025, sebanyak 200 paket bantuan pangan didistribusikan kepada keluarga pengungsi dan kelompok paling rentan melalui dukungan penerbangan MAF. Bantuan ini menyasar keluarga dengan anak-anak, lansia, serta warga yang selama berbulan-bulan hidup dalam keterbatasan akibat konflik dan keterisolasian wilayah. Distribusi dilakukan bersama mitra gereja lokal, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), serta perwakilan komunitas setempat untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Proses penyaluran di Pegunungan Bintang dilaksanakan dengan menjunjung prinsip akuntabilitas dan penghormatan terhadap martabat penerima. Situasi keamanan yang belum stabil membatasi mobilitas tim dan dokumentasi kegiatan. Pembatasan tersebut dilakukan demi keselamatan semua pihak, tanpa mengurangi komitmen transparansi dan tanggung jawab kemanusiaan. Dalam kondisi tersebut, bantuan disalurkan secara tenang dan tertib, tanpa sorotan berlebihan, melalui kerja-kerja sunyi yang berfokus pada kebutuhan nyata pengungsi.
Sementara itu, pada 21 Desember 2025, bantuan pangan juga menjangkau para pengungsi dari Nduga dan Anggruk yang berada di Jayapura. Sebanyak 200 paket bantuan disalurkan kepada 172 kepala keluarga pengungsi di beberapa titik pengungsian. Sebanyak 130 paket didistribusikan melalui pendampingan GKI Tanah Papua di Jemaat Siegfried Zollner, Koya Koso. Sisanya, 70 paket, disalurkan melalui jaringan KINGMI Papua dan KINGMI Indonesia kepada pengungsi di Kampung Nafri, Taruna Sentani, dan Pos PI Nafri.

Rangkaian distribusi bantuan ini menegaskan peran penting gereja dan komunitas lokal sebagai pendamping yang hidup bersama para pengungsi, mengenal kebutuhan mereka secara langsung, serta menjaga martabat manusia di tengah krisis. Di tengah keterbatasan dan tantangan keamanan, kerja kemanusiaan terus bergerak—melalui pesawat kecil, perjalanan darat yang panjang, dan solidaritas lintas iman—membawa harapan nyata bagi masyarakat Papua yang terdampak konflik. (ST-EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Mengurai Pikiran Pokok Sidang MPL-PGI 2026: Rumah sebagai Ruang Iman d...
MERAUKE.PGI.OR.ID — Rangkaian Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI...
Sidang MPL-PGI 2026 Resmi Dibuka: Gereja Adalah Satu Tubuh yang Dipang...
MERAUKE, PGI.OR.ID — Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 re...
Model Koordinasi dan Kolaborasi Gereja-gereja di Indonesia bersama Lem...
HONG KONG,PGI.OR.ID-Pertemuan Ecumenical Diakonal Collaboration as an Answer to the Global Polycrisis di Tao F...

