Model Koordinasi dan Kolaborasi Gereja-gereja di Indonesia bersama Lembaga Ekumenis Jadi Pembelajaran bagi Negara-negara Asia Pasifik
admin
30 Jan 2026 08:36
HONG KONG,PGI.OR.ID-Pertemuan Ecumenical Diakonal Collaboration as an Answer to the Global Polycrisis di Tao Fong Shan, Hong Kong, yang berlangsung selama dua hari (29–30/1/2026), mempertemukan para pemimpin gereja dan lembaga ekumenis dari Asia dan Pasifik untuk membahas jawaban bersama atas krisis global yang semakin kompleks.

Rangkaian acara berjalan terstruktur: dimulai dengan doa pagi, sambutan, dan pengenalan peserta, lalu dilanjutkan dengan refleksi tentang global polycrisis dari berbagai sub-kawasan. Diskusi kemudian berfokus pada Ecumenical Diakonia sebagai landasan bersama, menegaskan peran gereja sebagai kompas moral sekaligus aktor strategis dalam solidaritas global. Pada hari kedua, peserta meninjau kembali hasil diskusi, membahas mekanisme kolaborasi yang ada, serta merumuskan langkah-langkah praktis untuk memperkuat kerja sama di tingkat lokal, nasional, regional, dan global.
Dalam sesi khusus, model koordinasi dan kolaborasi gereja-gereja di Indonesia bersama lembaga ekumenis dipaparkan sebagai praktik baik yang layak dijadikan pembelajaran bagi negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Melalui pengalaman PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) dan ACT Alliance Indonesia Forum (ACTIF), ditunjukkan bagaimana gereja mampu menjadi pusat kesiapsiagaan, pemulihan, serta advokasi kebijakan publik dalam konteks pengurangan risiko bencana dan keadilan iklim.

Pdt. Shuresj Tomaluweng bersama Arshinta Soemarsono mempresentasikan hasil follow up pertukaran pengalaman Indonesia–Filipina yang dilaksanakan pada tahun 2024 lalu, yang memperlihatkan bahwa koordinasi lintas sinode, forum ekumenis, dan mitra global dapat menghasilkan sistem yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Model ini menekankan pentingnya tata kelola yang jelas, komunikasi yang luwes, kemitraan berbasis kesepakatan, serta sistem pengetahuan yang hidup melalui dokumentasi dan evaluasi berkala.

Dalam sesi khusus, model koordinasi dan kolaborasi gereja-gereja di Indonesia bersama lembaga ekumenis dipaparkan sebagai praktik baik yang layak dijadikan pembelajaran bagi negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Model ini menekankan level aksi berlapis:
• Lokal (jemaat/sinode) sebagai garda terdepan, dengan fokus pada community-led response yang memberdayakan jemaat sebagai agen aktif kesiapsiagaan dan pemulihan.
• Regional (PGIW/SAG) sebagai penghubung lintas sinode, memperkuat kapasitas dan kolaborasi.
• Nasional (PGI) berperan sebagai fasilitator utama, mengartikulasikan suara gereja dalam kebijakan, advokasi, dan koordinasi nasional.
• Jaringan eksternal melalui ACT Alliance, JAKOMKRIS PBI, NGO, pemerintah, dan akademisi, yang memperluas solidaritas dan dukungan teknis.

Dalam praktiknya, PGI tampil sebagai fasilitator yang memastikan alur koordinasi berjalan, sementara ACT Indonesia Forum (ACTIF) memainkan peran penting dalam menghubungkan gereja dengan jaringan global. Kehadiran JAKOMKRIS PBI sebagai forum bagi gereja-gereja di Indonesia dan lembaga oikumenis semakin memudahkan koordinasi dan kolaborasi lintas denominasi.
Namun, model ini juga menegaskan adanya tantangan: kapasitas penanggulangan bencana di tingkat lokal dan regional masih belum merata. Agar mekanisme koordinasi dan kolaborasi dapat berjalan optimal, diperlukan penguatan kapasitas jemaat dan sinode secara lebih sistematis, sehingga seluruh rantai koordinasi – dari lokal hingga global – dapat berfungsi dengan baik.
Para peserta menegaskan bahwa praktik Indonesia menunjukkan bagaimana gereja dapat bertransformasi dari sekadar pemberi bantuan karitatif menjadi agen pemberdayaan komunitas. Gereja tampil sebagai kompas moral sekaligus aktor strategis dalam memperkuat solidaritas global dan memperjuangkan martabat manusia serta kelestarian ciptaan.
Menariknya, dari diskusi ini berkembang ide bahwa beberapa negara Asia Pasifik berencana berkunjung ke Indonesia untuk mempelajari secara langsung bagaimana ecumenical diaconia hidup dalam mekanisme kolaborasi dan koordinasi yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman Indonesia bukan hanya inspirasi, tetapi juga laboratorium pembelajaran bagi kawasan, memperlihatkan bagaimana gereja dapat bertransformasi dari pemberi bantuan karitatif menjadi agen pemberdayaan komunitas sekaligus aktor strategis dalam memperjuangkan martabat manusia dan keadilan iklim.
Pertemuan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat struktur kolaborasi ekumenis di tingkat regional dan global, sekaligus menegaskan bahwa pengalaman Indonesia dapat menjadi model inspiratif bagi gereja-gereja di Asia Pasifik dalam menghadapi lanskap krisis global yang terus berubah. Model Koordinasi dan Kolaborasi Gereja-gereja di Indonesia dan Lembaga Ekumenis menjadi Model Pembelajaran bagi Negara-negara Asia Pasifik. (ST)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Mengurai Pikiran Pokok Sidang MPL-PGI 2026: Rumah sebagai Ruang Iman d...
MERAUKE.PGI.OR.ID — Rangkaian Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI...
Sidang MPL-PGI 2026 Resmi Dibuka: Gereja Adalah Satu Tubuh yang Dipang...
MERAUKE, PGI.OR.ID — Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 re...
Model Koordinasi dan Kolaborasi Gereja-gereja di Indonesia bersama Lem...
HONG KONG,PGI.OR.ID-Pertemuan Ecumenical Diakonal Collaboration as an Answer to the Global Polycrisis di Tao F...

