Merajut Ketangguhan dari Sumatra: Gereja-Gereja Menguatkan Koordinasi Tanggap Darurat dalam Semangat Diakonia Oikumenis
admin
12 Feb 2026 09:17
MEDAN, PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama JAKOMKRIS PBI, CDRM & CDS, YEU, Fondasi Hidup, UEM, dan KN-LWF serta para mitra menyelenggarakan Workshop Pembelajaran Koordinasi Respons Tanggap Darurat Bencana yang Dipimpin Gereja Lokal pada 10–11 Februari 2026 di Hotel Grand Inna, Medan. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan evaluasi bersama atas respons gereja-gereja terhadap bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir tahun 2025.
Workshop ini diikuti oleh perwakilan gereja-gereja anggota, PGIW, pos-pos terpadu oikoumene di berbagai wilayah terdampak, serta jejaring mitra kemanusiaan. Seluruh peserta menjadi narasumber, berbagi pengalaman nyata dalam mengelola pos terpadu, mendistribusikan bantuan, mengoordinasikan relawan, serta membangun kemitraan lintas gereja dan lembaga. Kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan praktik baik, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan rekomendasi untuk penguatan kapasitas gereja dalam respons tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana.
Di sela-sela rangkaian UEM General Assembly 2026 yang berlangsung di Grand City Hotel, Medan, Pdt Jacklevyn F. Manuputty selaku Ketua Umum PGI menyempatkan diri mengunjungi para peserta workshop. Kehadiran tersebut menjadi bentuk dukungan langsung terhadap upaya gereja-gereja di Sumatera dalam membangun koordinasi respons yang efektif dan kontekstual.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PGI mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada tim-tim pos terpadu yang telah bekerja di lapangan dalam merespons situasi darurat selama ini. Ia menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan gereja merupakan wujud nyata panggilan iman yang diwujudkan dalam solidaritas dan aksi nyata.

Ketua Umum PGI juga menegaskan peran PGI sebagai hub atau titik sambung oikumenis yang mendorong kerja sama dan kolaborasi lintas gereja serta mitra kemanusiaan. Dalam gerak oikumenis, terdapat dua arus utama yang saling melengkapi, yaitu Christian-based approach dan church-based approach. Pendekatan berbasis Kristen (Christian-based) menekankan peran lembaga-lembaga Kristen dalam menghadirkan respons kemanusiaan yang profesional dan terorganisir. Sementara itu, pendekatan berbasis gereja (church-based) menegaskan peran gereja-gereja lokal melalui unit-unit Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dalam melakukan aksi langsung di tengah jemaat dan masyarakat.
“Semua ini kita lakukan untuk membangun ketangguhan warga jemaat. Ketangguhan itu dimulai dari spiritualitas—bukan sebagai korban, melainkan spiritualitas sebagai penyintas,” tegasnya. Spiritualitas penyintas inilah yang menjadi fondasi pelayanan gereja, agar warga jemaat tidak terjebak dalam narasi ketidakberdayaan, tetapi bangkit sebagai subjek yang tangguh dan bermartabat.
Dalam sesi-sesi pembelajaran, para peserta secara terbuka membagikan cerita sukses maupun kendala yang dihadapi selama respons banjir dan longsor di Sumatera. Diskusi berlangsung hangat dan penuh kejujuran. Tantangan terkait pengelolaan logistik dan dana, koordinasi relawan, pengelolaan data dan informasi, hingga dinamika kemitraan diakui sebagai bagian dari proses yang perlu terus diperbaiki.
_1770877083.jpeg)
Melalui diskusi kelompok dan pleno, peserta mendalami aspek pengelolaan pos terpadu—mulai dari manajemen bantuan, struktur dan pembagian peran, hingga model koordinasi internal dan eksternal. Keterbukaan dalam berbagi pengalaman memperkuat komitmen bersama untuk meningkatkan kapasitas dan menyusun langkah tindak lanjut yang lebih sistematis, termasuk penyusunan rekomendasi advokasi kepada pemerintah dalam upaya pemulihan pasca bencana.
Kegiatan ini juga merupakan pengejawantahan nyata dari diakonia ekumenis—pelayanan kasih yang dilakukan bersama sebagai satu tubuh Kristus melampaui batas denominasi, wilayah, dan peran kelembagaan. Dalam perspektif ini, “berbagi roti” bukan sekadar metafora solidaritas, melainkan praktik iman yang menghadirkan keadilan, pemulihan, dan keberpihakan kepada mereka yang terdampak bencana. Diakonia ekumenis memanggil gereja untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi membangun kesaksian bersama melalui kolaborasi yang terorganisir dan saling memperkuat.
_1770866817.jpeg)
Sinergi dukungan sumber daya, penggalangan dan pengelolaan dana, pendampingan teknis, serta penguatan jejaring antara PGI, JAKOMKRIS PBI, CDRM & CDS, YEU, Fondasi Hidup, UEM, KN-LWF dan berbagai mitra lainnya mencerminkan wajah gereja yang melayani secara kolektif. Di dalamnya, diakonia tidak dipahami sebagai tindakan karitatif semata, tetapi sebagai gerakan transformatif yang memperjuangkan martabat penyintas, memperkuat kapasitas lokal, dan membangun ketangguhan komunitas secara berkelanjutan. Solidaritas ini menegaskan bahwa di tengah krisis, gereja hadir sebagai persekutuan yang hidup—bergerak bersama, berbagi beban, dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui aksi kemanusiaan yang nyata dan terkoordinasi.
Dari Medan, komitmen itu kembali ditegaskan: gereja-gereja di Indonesia akan terus memperkuat koordinasi, memperdalam pembelajaran, dan membangun ketangguhan yang berakar pada spiritualitas penyintas, demi menghadirkan harapan yang nyata di tengah situasi bencana. (ST)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Workshop Tanggap Darurat Bencana: Pimpinan Gereja Sumatra Teguhkan Kol...
MEDAN, PGI.OR.ID-Pertemuan penyampaian hasil Workshop Pembelajaran Koordinasi Respons Tanggap Darurat Bencana ...
PERNYATAAN SIKAP PGI: Dialog dan Penegakan Hukum Berbasis HAM Merupaka...
JAKARTA, PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus k...
Merajut Ketangguhan dari Sumatra: Gereja-Gereja Menguatkan Koordinasi ...
MEDAN, PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama JAKOMKRIS PBI, CDRM & CDS, YEU, Fond...

