Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Dari Masyarakat Poso, 50 Peserta Live-in Interfaith TAB VII Perdalam Analisis Sosial dan Belajar Mendengar Sebelum Menilai

Thumbnail
Author

admin

24 Jul 2026 08:23

Share:

POSO, PGI.OR.ID-Memasuki hari kedua pelaksanaan Live-in Interfaith: Tanah Air itu Bhinneka (TAB) Angkatan VII "Goes to Poso" (21/6/2026), para peserta mulai memasuki tahapan yang lebih mendalam. Setelah sehari sebelumnya saling mengenal dan membangun keakraban, kini mereka dibekali kemampuan untuk mengamati, mendengar, dan memahami kehidupan masyarakat melalui sesi Dasar Asumsi dan Analisis Sosial. Pembekalan ini menjadi bekal penting sebelum para peserta terjun langsung ke lapangan. Mereka diajak mempelajari cara melakukan observasi dan wawancara secara etis agar mampu memahami berbagai fenomena sosial dari sudut pandang masyarakat, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau stigma.

Materi disampaikan oleh Pdt. Dr. Tony Tempake, pendeta Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang juga merupakan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Menurut Pdt. Tony, kegiatan seperti ini sangat penting bagi generasi muda Indonesia karena mempertemukan mereka yang berasal dari latar belakang sosial, budaya, dan agama yang berbeda dalam satu ruang belajar bersama. "Mereka datang dengan latar belakang yang beragam, tetapi selama proses ini mereka belajar menjadi saudara. Tumbuh kesadaran bersama bahwa mereka memiliki hati nurani kolektif sebagai pemuda Indonesia yang bertanggung jawab membangun masa depan bangsa," ujarnya.

Ia berharap pengalaman selama Live-in Interfaith TAB VII akan melahirkan generasi muda yang menjadi agen perdamaian di daerahnya masing-masing. "Banyak orang menyebut Indonesia penuh perbedaan. Saya lebih senang menyebutnya sebagai keragaman. Ada keragaman budaya, agama, dan kepercayaan. Namun, di atas semua keragaman itu ada persatuan dan persaudaraan. Kiranya melalui kegiatan ini Indonesia semakin Pancasilais, semakin merdeka, dan semakin sejahtera," katanya.

Kepala Biro Pemuda dan Remaja PGI, Pdt. Rosiana Purnomo, menjelaskan bahwa hari kedua menjadi titik awal peserta memperoleh pengalaman langsung bersama masyarakat. "Kalau hari pertama lebih banyak informasi dan membangun keakraban antarpeserta, maka hari kedua kami mulai membawa mereka untuk berelasi dengan masyarakat setempat. Kami ingin mereka mengenal Poso bukan hanya dari cerita orang lain, tetapi dari pengalaman mereka sendiri," jelasnya.

Melalui observasi dan wawancara, peserta diajak melihat bagaimana masyarakat membangun kehidupan bersama, memahami nilai-nilai yang hidup di tengah warga, sekaligus mempelajari dinamika sosial yang berkembang di Lembomawo dan Kabupaten Poso. Sebelum turun ke lapangan, para peserta terlebih dahulu mendapatkan pembekalan mengenai analisis sosial agar mampu melakukan pengamatan dan wawancara secara objektif, menghormati narasumber, serta memahami konteks sosial yang mereka temui.

Menurut Pdt. Rosiana, perkembangan para peserta selama dua hari pertama juga sangat menggembirakan. Ia melihat ikatan antarpeserta semakin erat. Mereka mulai merasa nyaman, saling terbuka, dan membangun persahabatan lintas iman dengan lebih alami. Hal lain yang membuatnya terkesan adalah sikap peserta saat melakukan wawancara. "Mereka belajar memanusiakan manusia. Ketika ada warga yang merasa tidak nyaman untuk diwawancarai, mereka tidak memaksa. Mereka berhenti dan menghargai keputusan narasumber. Itu pembelajaran yang sangat penting," ujarnya. Selain itu, hubungan peserta dengan keluarga asuh yang akan mereka tinggali juga mulai terbangun dengan baik.

Pdt. Rosiana menambahkan bahwa setiap penyelenggaraan TAB selalu memilih daerah yang memiliki sejarah sosial tertentu. Menurutnya, Poso dipilih bukan karena konflik masa lalunya, melainkan karena keberhasilannya membangun rekonsiliasi dan kehidupan yang damai. "Banyak orang mengenal Poso hanya dari sejarah konfliknya. Lewat pengalaman ini kami ingin peserta melihat sendiri bagaimana kehidupan masyarakat hari ini. Jangan langsung percaya pada stigma. Lihat, dengarkan, rasakan, lalu pahami," katanya. Ia berharap pengalaman tersebut akan membentuk cara pandang baru para peserta ketika kembali ke daerah masing-masing. “Harapannya, ketika nanti mereka menghadapi persoalan sosial di daerah asal, mereka tidak langsung menghakimi atau memberi label negatif. Mereka belajar bahwa di balik setiap fenomena selalu ada proses dan cerita yang perlu dipahami terlebih dahulu.”

Salah seorang peserta, Efrem dari Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti kegiatan ini. Ia mengatakan materi tentang analisis sosial membantunya memahami bahwa kebudayaan memiliki berbagai fungsi, mulai dari fungsi sosial, adaptif, hingga eksplanatori. Menurutnya, pembekalan yang diberikan sebelum turun ke lapangan sangat membantu ketika melakukan observasi dan wawancara dengan masyarakat. "Ternyata melakukan analisis sosial tidak semudah yang saya bayangkan. Tetapi materi dari Pak Tony menjadi bekal yang sangat membantu ketika kami berbicara dengan masyarakat. Kami belajar bagaimana membangun pendekatan yang sederhana tetapi tetap menghargai narasumber," ungkapnya.

Setelah seluruh kelompok selesai melakukan observasi, para peserta kembali berkumpul untuk mempresentasikan hasil temuan masing-masing. Dari proses tersebut, mereka menemukan banyak cerita dan sudut pandang yang berbeda mengenai kehidupan masyarakat Poso. Selanjutnya, peserta lintas agama bersama-sama menyusun sebuah draf refleksi yang akan dibacakan pada Malam Budaya sebagai bagian dari rangkaian kegiatan TAB VII.

Bagi Efrem, pengalaman paling berharga justru datang dari perjumpaan dengan peserta lain yang memiliki latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda. "Di Flores saya hidup di lingkungan yang mayoritas Katolik. Di sini saya bertemu teman-teman dari berbagai agama, termasuk penghayat kepercayaan. Pengalaman ini membuat saya semakin terbuka dan semakin menghargai keberagaman yang ada di Indonesia," katanya. Ia berharap pengalaman selama mengikuti Live-in Interfaith TAB VII pada 19–25 Juli 2026 tidak hanya membawa perubahan bagi dirinya, tetapi juga menjadi bekal untuk menghadirkan dampak positif bagi masyarakat ketika kembali ke daerah asal.

Melalui pembekalan analisis sosial, pengalaman hidup bersama keluarga asuh, serta dialog lintas iman yang berlangsung selama sepekan, Live-in Interfaith: Tanah Air itu Bhinneka (TAB) Angkatan VII "Goes to Poso" tidak hanya mengajarkan pentingnya toleransi, tetapi juga membentuk generasi muda yang mampu mendengar sebelum menilai, memahami sebelum menghakimi, dan menjadi pembawa damai di tengah keberagaman Indonesia.  (BRNDS)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Ketua Umum PGI Bekali 50 Pemuda Lintas Iman Bangun Kepeloporan Sosial,...
by admin 24 Jul 2026 11:09

POSO, PGI.OR.ID-Perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil. Semangat itulah yang dihidupi ...

Dari Masyarakat Poso, 50 Peserta Live-in Interfaith TAB VII Perdalam A...
by admin 24 Jul 2026 08:23

POSO, PGI.OR.ID-Memasuki hari kedua pelaksanaan Live-in Interfaith: Tanah Air itu Bhinneka (TAB) Angkatan VII ...

Perkuat Pelayanan Gereja untuk Advokasi Pekerja Migran, PGI Selenggara...
by admin 22 Jul 2026 15:52

JAKARTA, PGI.OR.ID-Kasus Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada 2026 didominasi oleh maraknya pengiriman ilegal, ...