Break Every Yoke: Orang Muda dan Pembaruan Gerakan Oikoumene di Asia
admin
23 Apr 2026 11:58
JAKARTA,PGI.OR.ID-Pertemuan Raya Pemuda Asia (Asian Ecumenical Youth Assembly/AEYA) 2026 diselenggarakan oleh Dewan Gereja Asia (CCA) di Chiang Mai, Thailand,pada 17 sampai 21 April 2026 sebagai ruang perjumpaan orang muda dari berbagai negara Asia dan sekitarnya untuk merayakan oikoumene Asia, merefleksikan iman, serta meresponsnya dalam kerangka Missio Dei—misi Allah di dunia.
Mengusung tema “Break Every Yoke” (Yes. 58:6), seluruh rangkaian kegiatan mengajak peserta untuk mengenali, merefleksikan, dan merespons berbagai “kuk” atau belenggu yang dihadapi orang muda masa kini, baik yang bersifat personal maupun struktural.
Sejak awal, suasana oikoumenis terasa kuat melalui ibadah pembukaan yang mengundang peserta untuk meratap, berdoa, dan berseru dalam pengharapan. Tema ini kemudian diperdalam melalui berbagai sesi tematik, diskusi kelompok, serta dialog lintas konteks.

Dalam berbagai percakapan, terungkap realitas kompleks yang dihadapi orang muda di Asia: ketidakstabilan politik, krisis ekonomi, tekanan sosial-budaya, migrasi paksa, hingga tantangan identitas di era digital. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, para peserta menemukan bahwa mereka memikul “kuk” yang serupa. Oleh karenanya, AEYA menjadi ruang aman bagi orang muda untuk berbagi cerita, mendengarkan satu sama lain, serta membangun solidaritas. Di sinilah oikoumene dihidupi: bergumul bersama, sekaligus bersukacita bersama.
Refleksi teologis yang disampaikan dalam berbagai sesi menegaskan bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari keadilan. Panggilan untuk “mematahkan kuk” dipahami bukan hanya sebagai tindakan spiritual, tetapi juga sebagai mandat sosial untuk menghadirkan transformasi. Isu-isu seperti patriarki, eksploitasi ekonomi, krisis ekologis, kesenjangan digital, serta eksklusi sosial diangkat sebagai bentuk-bentuk belenggu yang perlu dihadapi secara kolektif. Dalam konteks ini, orang muda didorong untuk menjadi agen profetis yang mampu menjembatani perbedaan, membangun solidaritas, serta menghadirkan harapan.

Selain itu, dinamika era digital turut menjadi perhatian. Di tengah arus informasi dan budaya pencitraan, identitas diri kerap kali dibentuk oleh algoritma dan ekspektasi sosial. Karena itu, peserta diajak untuk kembali pada pemahaman bahwa identitas dibangun melalui relasi dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri, bukan sekadar validasi digital.
Diskusi juga menyoroti pentingnya membedakan antara iman sebagai propaganda dan iman sebagai misi. Iman yang sejati tidak memanipulasi atau mempertahankan kekuasaan, melainkan membebaskan, memulihkan, dan mendamaikan. Dalam kerangka ini, orang muda dipanggil untuk mentransformasi gereja dan masyarakat melalui kesaksian hidup yang nyata.
Sebagai bagian dari proses bersama, para peserta turut mendiskusikan dan merumuskan Communiqué AEYA 2026. Draf yang disiapkan sebelumnya dibahas secara kolektif dan disepakati melalui konsensus. Proses ini secara tidak langsung menjadi ajang pembelajaran sidang oikoumenis. Pada akhirnya, Communiqué ini menjadi ekspresi komitmen bersama orang muda Asia dalam merespons tantangan zaman secara kontekstual dan transformatif.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan ibadah selebratif-oikoumenis yang menegaskan kembali semangat persatuan dalam keberagaman. Dalam sambutannya, Sekjend CCA Dr Mathews George Chunakata menekankan bahwa pertemuan ini bukan hanya ruang refleksi, tetapi juga wadah untuk membangun persahabatan yang menjadi fondasi bagi masa depan gerakan oikoumene di Asia. Mengutip semangat Communiqué, "The future is not something we wait, but create," tegas Dr Chunakara menutup AEYA-2026.
Dengan berakhirnya AEYA-2026, para peserta kembali ke gereja dan komunitas masing-masing dengan membawa “kuk” yang baru—bukan lagi kuk penindasan, melainkan kuk kasih, harapan, dan panggilan untuk terus ambil bagian dalam misi Allah: menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. (RP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Seminar Paskah Nasional V: Sekum PGI Tegaskan Peran Gereja di Tengah K...
PALU, PGI.OR.ID — Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Dr. Darwin Darmawan, M...
“Marsiurupan” Pemuda HKBP Berikan Bantuan bagi Keluarga Terdampak ...
SUMUT,PGI.OR.ID-Pengakuan Iman HKBP mengajarkan bahwa manusia dipanggil untuk merawat ciptaan Allah dan memper...
Refleksi Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) 2026
Oleh: Rachel Nadine Tapilaha, GPIB.Mengikuti rangkaian kegiatan dalam Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) ...

