Mission 21 Gelar TOT Advokasi Berbasis Hak Asasi Perempuan

Peserta Training on Women’s Human Rights Advocacy for Faith-based Organizations

BASEL,PGI.OR.ID-Sejak 28 Juni-9 Juli 2016 yang lalu, Mission 21, sebuah lembaga misi, mengadakan pelatihan bagi pelatih (Training of Trainers) advokasi berbasis hak asasi perempuan (Training on Women’s Human Rights Advocacy for Faith-based Organizations). Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan lembaga mitra Mission 21 yang ada di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa. Lokakarya dilakukan di dua tempat yang berbeda, yaitu di Basel (28 Juni-3 Juli) dan di Geneva, Switzerland (4-9 Juli).

Pada kegiatan pertama, di Basel, peserta diajak untuk menggali pemahaman diri mengenai apa, siapa, bagaimana, kepada siapa, dan mengapa advokasi dilakukan. Para peserta dilatih untuk menemukan kelemahan, tantangan, kekuatan, dan kesempatan yang dihadapi, memetakan situasi, dan merancang strategi dalam membangun jejaring demi mencapai perubahan sosial yang berkeadilan bagi semua pihak, terlebih bagi kaum perempuan.

Pelatihan pertama ini dihadiri oleh 13 orang peserta dari tiga continent, yaitu: Asia (Indonesia), Afrika, dan Amerika Latin.

Kegiatan kedua, di Geneva, peserta dibekali dengan wawasan dan pengetahuan mengenai sejauhmana organisasi-organisasi berbasis keagamaan merespon kekerasan gender dan tantangan hak asasi perempuan, bagaimana lembaga-lembaga gereja, seperti Lutheran World Federation (LWF) menentukan kebijakan berbasis keadilan gender dan World Council of Churches (WCC) mengkoordinir anggotanya berdasarkan seksualitas.

Foto bersama usia pelatihan.
Foto bersama usia pelatihan.

Pada kesempatan ini, peserta juga diajak untuk menyaksikan secara langsung proses persidangan di United Nation (UN) Palais des Nations dalam rangka memperingati 64 tahun pembahasan mengenai Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman (CEDAW) dan implementasinya di negara-negara anggota PBB. Pada kegiatan kedua ini, peserta yang hadir sekitar 45 orang dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa.

“Advokasi yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan berbasis gender-justice merupakan sebuah strategi yang sangat vital dalam melakukan perubahan kebijakan, baik kebijakan yang dibuat oleh lembaga keagamaan maupun oleh pemerintah,” ungkap Pdt. Sri Yuliana yang hadir sebagai wakil dari PGI bersama lima orang utusan lainnya dari Pokja Mission 21 Indonesia.