Menghidupi Hidup yang Berkehidupan

Oleh Pdt. Weinata Sairin

“I slept and dreamt that life was joy. I awoke and saw that life was service. I acted and behold service was joy”. (R. Tagore)

Hidup di tengah dunia yang gaduh gemuruh bukanlah sekadar hidup. Hidup bukan hanya kita ada, eksis, tampil dan dilihat orang lain. Keberadaan kita bukan keberadaan yang nir-makna, yang tanpa potensi, yang nihil dan zero. Kita sebagai manusia yang diciptakan Allah secara istimewa, kita berada dan mengada di pusaran zaman untuk menorehkan sejarah, mengukir karya terbaik bagi banyak orang.

Mengapa hidup mesti dihidupi dengan hal-hal yang menghidupkan dan bukan sekadar ada? Ya hidup itu adalah anugerah Allah, hidup adalah sebuah privilege yang Allah berikan kepada sang manusia fana, makhluk ciptaanNya. Sebab itu, hidup mesti bermakna, berbuah yang buahnya itu bisa dinikmati banyak orang.

Banyak orang menorehkan sejarah dan membangun peradaban dunia, namanya dikenal bukan hanya pada lingkup negaranya, tetapi juga pada level dunia. Para penulis, para penemu, seniman, politisi, negarawan, ahli stategi, mereka yang concern pada bidang pendidikan, HAM, ahli di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), ahli di bidang militer, mereka yang concern pada perjuangan rakyat jelata, pahlawan, komposer, koreografer, pejuang kemerdekaan, ya ratusan orang bahkan mungkin ribuan orang di seluruh jagat dunia telah mendedikasikan hidupnya bagi pemajuan peradaban dunia.

Mereka semua melakukan itu dengan dimotivasi agamanya, ilmu yang dimilikinya, pesan orang tua, bisa juga atas dorongan clannya (suku), ideologinya dan berbagai faktor yang memberi dorongan/motivasi untuk berkarya dalam konteks sejarah masing-masing.

Menarik membaca pernyataan Rabindranath Tagore sebagaimana dikutip di bagian awal tulisan ini. Ia tidur dan bermimpi bahwa hidup adalah sukacita. Tatkala ia bangun, ia melihat bahwa hidup itu adalah pelayanan. Dan ketika ia bertindak, ia menyaksikan bahwa pelayanan itu adalah sukacita.

Bagi Tagore, sebuah kehidupan bukan sesuatu yang monoton, yang membuat kita dililit sepi lalu merasa bete atau boring, meminjam kosakata anak gaul. Namun, kehidupan adalah sebuah dinamika, sebuah proses yang “sedang menuju” dan “sedang menjadi”. Bukan sesuatu yang sudah selesai, yang sudah arrived. Bagi Tagore, ada rangkaian yang tiada putus antara tidur, bermimpi, bangun dan melakukan sesuatu. Itu adalah rangkaian intgralistik yang didalamnya beberapa kata kunci bermain peran, yaitu sukacita dan pelayanan, joy and service. Sukacita dan Pelayanan adalah 2 kata kunci yang diperoleh Tagore melalui mimpi dan karyanya sesudah terbangun dari tidur.

Sebagai umat beragama, kita terus diingatkan untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas hidup yang Ia anugerahkan kepada kita. Kita bersyukur dan bersukacita atas anugerah itu. Sebagai respons kita atas anugerah Tuhan, kita juga diingatkan untuk hidup dengan melayani dan mengasihi sesama. Joy dan Service yang dikatakan Tagore dalam pepatahnya itu telah kita wujudkan dalam hidup kita melalui bentuk dan cara yang kontekstual. Pengingatan yang diberikan Tagore menjadi catatan penting bagi kita agar hidup menjadi hidup berkualitas, yaitu saat hidup kita adalah hidup yang menghidupkan. Menghidupkan mereka yang tiada berpengharapan, mereka yang tergerus dunia modern, mereka yang didiskriminasi karena sentiment Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA), dihujat dan dihina karena berbeda, mereka yang harkat dan martabatnya terpasung karena perbedaan politik dan yang tak mampu bersuara karena stigmatisasi.

 

Editor: Beril Huliselan

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*