Mari Bicara dengan Hati-Hati

Oleh Pdt. Weinata Sairin

Cave quid dicis, quando et cui, ‘Hati-hatilah berbicara mengenai sesuatu, kapan saja dan kepada siapapun’”

 

Kata “hati-hati” yang berkonotasi ‘peringatan’, banyak kita temui di berbagai tempat dalam konteks dan maksud yang amat beragam. Di gedung pertemuan atau hotel, kita baca papan petunjuk “Hati-hati lantai licin”. Jika kita tidak hati-hati melangkahkan kaki pada lantai yang licin, akan sangat berbahaya, apalagi bagi mereka yang berusia lanjut; jatuh terlentang karena lantai yang licin bisa fatal akibatnya. Acap kita temui peringatan untuk berhati-hati pada tikungan jalan tajam. Ditulis di dekat tikungan itu “Hati-hati sering terjadi kecelakaan”. Berdasarkan pengalaman mungkin ditempat tersebut sering terjadi kecelakaan karena sopir ngebut justru pada tikungan tersebut.

Papan peringatan untuk berhati-hati memang sangat baik untuk ditempatkan di berbagai lokasi yang sering dikunjungi publik sehingga kecelakaan bisa diminimalisir. Namun persoalannya tidak terletak hanya pada ada atau tidaknya papan peringatan itu. Hal yang lebih penting adalah bagaimana publik membaca dan melaksanakan isi papan peringatan itu. Ada banyak kecelakaan terjadi justru karena ada saja orang yang tidak mau peduli dengan papan peringatan itu. Papan peringatan di depan palang perlintasan Kereta Api seringkali tidak diindahkan, motor dan mobil menerobos serta menabrak pintu perlintasan Kereta Api. Akibatnya, beberapa kali terjadi ada mobil yang tertabrak Kereta Api.

Ada juga peringatan yang ditempatkan di dekat pantai yang menyatakan bahwa jarak 1 meter sesudah papan peringatan itu, laut sudah dalam dan tidak boleh berenang di tempat itu. Tetapi selalu saja ada yang mengabaikan peringatan tersebut sehingga banyak yang tenggelam di dekat papan peringatan itu.

Dalam dunia perbankan, dan bidang keuangan pada umumnya, istilah “hati-hati”, prudent, acap kali digunakan. Kebijakan yang ditetapkan di bidang keuangan atau perbankan selalu ditetapkan dengan amat hati-hati, penuh kalkulasi dan perhitungan cermat karena dampaknya yang luas terhadap bidang lain serta kehidupan masyarakat.

Itulah sebabnya mengapa misalnya rencana untuk melakukan redenominasi, penetapan pecahan uang yang baru belum diwujudkan karena kajian menyeluruh dan komprehensif dianggap belum selesai.

Sebenarnya kehati-hatian itu diperlukan di semua bidang kehidupan, bukan hanya dibidang keuangan, perbankan atau dalam hal-hal praktis yang langsung berhubungan dengan kehidupan. Dalam bidang politik, hukum, keamanan, budaya, transportasi, perhubungan dan berbagai bidang lainnya, sangat diperlukan kehati-hatian. Dalam menulis dokumen, apapun bentuk dan jenis dokumen itu, dalam mengucapkan kata-kata diperlukan kehati-hatian. Bisa fatal akibatnya jika terdapat kesalahan dalam penulisan dokumen. Seseorang terhambat dalam pengurusan pensiun hanya karena ada perbedaan nama pada akta kelahiran, SK Pengangkatan Pegawai dan KTP. Belum lagi kesalahan dalam mengetik teks peraturan perundangan, akibatnya amat besar bagi lingkungan yang amat luas.

Ada banyak memori yang tersimpan dalam relung-relung hati kita sebagai masyarakat majemuk, tatkala banyak kata, istilah, terminologi yang digunakan oleh para petinggi yang menimbulkan permasalahan dan melukai batin kita. Ujaran kebencian, penodaan agama, penghinaan terhadap tokoh suci agama acapkali sadar atau tak sadar muncul di ruang publik disuarakan oleh tokoh, pejabat publik, penyelenggara negara dan pengarang buku. Dalam zaman teknologi Informasi (TI) sekarang ini, tidak bisa lagi dokumen-dokumen secara ketat dibubuhi kata-kata “Untuk Kepentingan Internal”. Sesuatu yang disebutkan “internal” sekarang ini dalam konteks dokumen, nyaris mubazir karena dokumen itu dengan kecanggihan smartphone bisa dengan mudah beredar ke segala penjuru.

Hal yang harus kita lakukan sekarang ini, terkait dokumen tertulis yang digunakan terbatas atau di-release ke khalayak adalah menggunakan bahasa yang santun dan elegan; tidak mendiskreditkan/menghujat pribadi, lembaga, agama, aliran keagamaan dan siapapun juga, sebaliknya mengajak orang lain mewujudkan hal-hal yang positif bagi masyarakat, bangsa dan negara. Ada sebuah fakta yang bisa diceritakan betapa informasi internal pada saatnya menjadi terbuka dan menimbulkan luka batin bagi yang terkena.

Dalam konteks zaman kita sekarang yang disebut “confidential” dan ” internal” menjadi amat relative. Kita perlu mengelola dokumen dengan baik agar tidak menimbulkan kegaduhan yang tak perlu. Pepatah kita amat jelas, mengingatkan agar kita hati-hati berbicara tentang sesuatu, kapan dan kepada siapa. Dengan mengingat dan mewujudkan pesan pepatah itu kita harap dunia menjadi lebih baik.

 

Editor: Beril Huliselan

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*