Management PT Freeport Indonesia Temui MPH-PGI

Pertemuan antara MPH-PGI dengan management PT FI

JAKARTA,PGI.OR.ID-Management PT Freeport Indonesia (PT FI) menemui MPH-PGI dalam rangka memberikan informasi terkait perselisihan antara manajemen PT FI dengan eks karyawan PT FI. Pertemuan berlangsung di Lt 2 Grha Oikoumene, Jakarta, Kamis (9/8).

Mewakili Management PT FI, Nikodemus B. Purba selaku Vice President Compensation & Benefit Management, menjelaskan bahwa konflik ini bermula sejak tanggal 11 Januari 2017 ketika pemerintah menerbitkan paket regulasi yang membatasi eksport produk olahan (konsetrat tembaga), dan mensyaratkan pemegang Kontrak Karya (KK) untuk mengubah bentuk pengusahan pertambangan dari KK menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), agar dapat eksport.

Selama ini, 40 persen konsentrat PT FI dimurnikan di dalam negeri (di PT Smelting), dan 60 persen eksport. Dampak dari paket dari regulasi ini mulai pertengahan Januari 2017 PT FI berhenti beroperasi total karena pada saat yang bersamaan terjadi mogok kerja di PT Smelting.

Sejak Januari 2017 Freeport-McMoRan (FCX) dan PT FI memutuskan untuk melakukan program efisiensi dengan cara mengurangi signifikan investasi modal. Akibatnya PT FI melakukan pengurangan angkatan kerja terkait pengembangan tambang bawah tanah. Hingga April 2017 perusahaan-perusahaan kontraktor PT FI merumahkan 2490 pekerja kontraktor dan melakukan furlough (pembebasan dari kewajiban bekerja) sebanyak 823 pekerja. Langkah tersebut sebenarnya tidak diinginkan oleh PT FI sehingga mereka menawarkan pensiun dini, melakukan pertemuan dengan Serikat Pekerja yang difasilitasi oleh Kemenakertrans RI dan Muspida Kabupaten Timika untuk menemukan jalan keluar.

Pada bagian lain, sejak 12 April 2017 tengah berlangsung proses sidang dugaan tindak pidana penggelapan iuran anggota SPSI terhadap Ketua PUK SPSI. Pada saat itu ratusan pekerja PT FI dan kontraktor tidak masuk kerja dengan alasan menghadiri sidang ini. Mereka mangkir lebih dari lima hari berturut-turut, dan telah dilakukan panggilan masuk kerja pertama dan kedua kepada masing-masing pekerja sesuai dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT FI.

Selanjutnya Nikodemus B. Purba menjelaskan bahwa PT FI telah menghubungi para pekerja untuk kembali bekerja, termasuk melalui surat kabar dan radio, iklan, poster, surat kepada pimpinan komunitas, surat resmi kepada pekerja agar mereka kembali pekerja dan menjelaskan konsekuensi jika tidak kembali bekerja sebagaimana tertuang dalam PKB. Sebanyak 286 memenuhi panggilan bekerja, dan 3274 pekerja memilih untuk tetap tidak bekerja. Dalam situasi ini PT FI menganggap bahwa yang tidak bekerja telah mengabaikan kewajiban kerja mereka dan dengan demikian telah secara sukarela mengundurkan diri sebagaimana diatur dalam Undang-undang Ketenagakerjaan dan PKB.

Akibatnya pekerja yang tidak memenuhi panggilan untuk bekerja ini merasa hak-haknya sebagai karyawan tidak dipenuhi termasuk BPJS Kesehatan, pemblokiran rekening, dan jumlah pesangon yang tidak sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. Dan mereka mengadukan persoalan ini ke berbagai instansi pemerintah, LSM maupun lembaga keumatan seperti PGI.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Umum PGI Pdt. Gomar Gultom menjelaskan bahwa Grha Oikoumene merupakan rumah bersama bagi semua orang, khususnya yang tersingkirkan. “Eks karyawan PT Freeport Indonesia juga sudah datang ke tempat ini untuk menyampaikan apa yang mereka alami, tentu hal ini juga terbuka bagi PT FI untuk menyampaikan informasi apa yang penting disampaikan ke PGI terkait dengan kasus ini,” jelas Sekum PGI.

Sekum PGI berharap agar PT FI mengkomunikasikan hal ini secara baik dengan eks karyawan PT FI dan berupaya untuk memperhatikan sisi kemanusiaannya, dan silahkan menggunakan mekanisme hukum yang ada. Fungsi advokasi PGI adalah menyuarakan persoalan ini kepada pemerintah agar pemerintah segera mengambil langkah untuk menyelesaikan perselisihan antara PT FI dengan eks karyawan PT FI.

Pada kesempatan itu, PT FI menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan MPH-PGI dan sangat memahami posisi PGI dalam persoalan ini.

Selain Nikodemus, hadir pula mewakili PT FI yaitu Frans Wonmaly, Frederik Magai, Virgo H. Salosa, Tommi Parmando, Hanggono W. Widodo, dan John Rumainum. Sementara dari PGI Pdt. Karel Phil Erari, Irma Riana Simanjuntak, Pdt. Henrek Lokra, Albertus Patty, dan Arie Moningka.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*