Kesetiaan Kepada Tuhan: Sumber Kehidupan

Oleh : Weinata Sairin

“Sebab Tuhan, Allahmulah Allah segala allah, dan Tuhan segala tuhan , Allah yang besar, kuat dan dahsyat yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; (Ulangan 10:17).

Kita semua hidup di zaman yang penuh turbulensi sekarang ini, sebuah era yang tidak pernah kita bayangkan walaupun para penulis buku futuristik telah sedikit menggambarkannya kepada kita dalam buku-buku mereka lebih dari lima belas tahun yang lalu.  Ditengah-tengah berbagai keriuhan politik ada juga  peristiwa yang amat khas yang mengguncang rasa kemanusiaan kita. Misalnya pernah terjadi pembunuhan yang dilakukan seorang suami terhadap istrinya dengan pistol yang dibelinya jutaan rupiah. Konon perkawinan mereka baru lima tahun, perkenalan lewat FB dan memiliki profesi yang sama.

Perceraian mereka sedang dalam proses penggarapan dan agaknya suami sebagai sosok yang sering lakukan KDRT tidak dalam posisi menyetujui perceraian itu, sehingga kondisi psikologis itulah yang memicunya menembakkan pistolnya ke arah sang istri beberapa kali hingga mati, dan perceraian en concreto tak bisa lagi ditampik.

Urusan kegaduhan tembak menembak tidak saja terjadi di negeri kita tetapi juga pernah terjadi di Amerika.,umat yang sedang beribadah di Gereja First Baptist Sutherland Springs USA ditembaki oleh seseorang yang mengakibatkan 27 orang tewas dan 20an orang luka-luka. Kedua peristiwa penembakan ini sejatinya menampilkan peradaban manusia yang amat rendah, yang nuraninya telah sirna tergerus oleh dinamika sebuah dunia modern.

Kegaduhan, situasi yang riuh rendah hampir setiap saat terjadi di dunia kita sekarang ini baik oleh peristiwa yang didalamnya ada penembakan maupun yang tanpa ada penembakan. Realitas itu terjadi di negeri kita dan juga di manca negara. Kegaduhan yang amat sering terjadi ini ada yang membuat orang traumatik namun ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Berita-berita yang acap menjadi trending topik di medsos kemudian ada juga yang menjadi topik dalam percakapan warga Gereja. Misalnya berita tentang “penyanderaan” 1300 warga di daerah Papua; atau yang agak berkaitan dengan politik yaitu Putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa warga negara para penghayat kepercayaan dapat menuliskan apa yang mereka anut itu dalam kolom “agama”. Berita-berita seperti ini  pada lapis-lapis tertentu di masyarakat menghadirkan semacam kehebohan baru.

Umat Israel, umat pilihan Allah, yang diceritakan dalam Kitab Ulangan, bukanlah umat yang telah disentuh oleh perkembangan teknologi informasi, sebagaimana yang dihadapi warga Gereja di kekinian zaman. Perkembangan teknologi memang telah menjadi bagian dari kemajuan peradaban manusia dengan berbagai dampaknya baik positif maupun negatif. Belum lahirnya apa yang  disebut sebagai ‘teknologi informasi’ di zaman Perjanjian Lama, tidak berarti umat Israel tidak mengalami pergumulan yang serius.

Umat Israel selalu hidup dalam ketergodaannya kepada ilah, berhala yang dipercaya bangsa-bangsa pada zaman itu. Israel bersikap “plin-plan”, “mencla-mencle”, inkonsisten dalam mengimplementasikan imannya kepada Allah. Acapkali Israel skeptis terhadap Allahnya, mereka lebih suka kepada ilah yang kasat mata, yang bisa dilihat, yang bisa dipegang. Israel acap lupa bahwa Allah yang telah menjadikan mereka umat pilihan itu, adalah Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Sikap amnesia umat Israel yang terjadi berulang-ulang dalam sejarah mereka karena mereka tergoda pada sesuatu yang sesaat, yang kasat mata, dimensi luaran dan temporer.

Kitab Ulangan ini mengulang kembali hukum dan pernyataan penting yang pernah diungkapkan pada kitab-kitab sebelumnya sehingga dapat membekali umat Israel sebagai umat pilihan Allah mampu menjalankan tugasnya membawa bangsa-bangsa lain, yang belum mengenal Allah, menjadi mengenal bahkan percaya kepada Allah.

Kitab Ulangan Pasal 10:12-22 oleh LAI perikopnya diberi judul “Orang Israel diperingatkan supaya taat dan bersyukur”. Ini menegaskan dengan lebih kuat bahwa ada soal dengan ketaatan umat Israel yang labil, yang tidak konstan, oleh karena itu perikop ini menampilkan ayat-ayat pengingatan tentang kesiapaan Allah kepada Israel.

Israel diminta untuk takut akan Tuhan, hidup sesuai dengan jalan yang ditunjukanNya, mengasihi Dia, beribadah kepadaNya dengan segenap hati dan jiwa (ayat 12). Israel harus berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan, mengasihi orang asing, menjadikan Allah sebagai pokok pujian karena Ia telah melakukan perbuatan dahsyat (ayat 13, 19, 21). Ayat yang dikutip diawal tulisan ini menyatakan secara tegas bahwa Allah yang dipercaya Israel itu adalah Allah yang Maha Besar, kuat dan dahsyat, tidak tertandingi, tidak pandang bulu dan tidak menerima suap. Pernyataan yang amat definitif dan dahsyat tentang Allah hendak mengingatkan Israel agar mereka setia dan teguh beriman kepada Allah. Apalagi dikaitkan dengan hakikat kedirian mereka sebagai umat pilihan yang akan menjadi “magnet” bagi bangsa lain untuk percaya kepada Allah.

Ayat-ayat Kitab Ulangan yang dikutip diatas penting bagi kita sebagai “Israel baru” yang diutus Allah di era digital. Iman kita mestinya sebuah iman yang tegar, kukuh, kuat, konsisten yang tidak pudar oleh godaan dunia modern yang merayu dalam beragam bentuk. Hindarkan terjebak pada kenikmatan sesaat dengan menanggalkan iman kita. Tumbuh dan mandirikan iman kita dengan memperhadapkannya kepada beragam tantangan konkret.

 

Editor: Markus Saragih

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*