Kemuliaan Duniawi: Kemuliaan Fana

Oleh Pdt. Weinata Sairin

Quam cito transit gloria mundi, ‘Betapa cepat kemuliaan duniawi itu lewat´”

 

Banyak orang terpukau pada sesuatu yang biasa disebut “duniawi”. Memang acap kali orang membedakan secara dualitas, misalnya jasmani-rohani, horisontal-vertikal, duniawi-surgawi, dan sebagainya. Kata “duniawi” biasanya dihubungkan dengan segala sesuatu yang ada, terjadi dan berlangsung di dalam dunia, yang sifatnya fana, temporer dan sementara. Duniawi biasaya juga dihubungkan dengan jasmani, sesuatu yang bisa dilihat, diraba, nampak secara kasat mata. Dalam arti tertentu, kata “duniawi” mengandung konotasi negatif yang dianggap bisa menggerus kekuatan spiritual dan ketangguhan iman seseorang.

Pada kalimat berikut, makna kata “duniawi” bisa terbaca dengan agak jelas. “Di lantai 17 hotel Alqindi, setiap orang bisa menikmati kondisi surga dunia. Banyak orang mencari kesenangan duniawi ditempat itu”. “Sesudah keluar dari penjara, ia tidak lagi melakukan aktivitas duniawi yang melawan hukum, ia fokus pada pemantapan rohani melalui seorang guru rohani”.

Dari banyak literatur keagamaan, istilah “duniawi” memang nyaris bernuansa negatif, apalagi jika dikontraskan dengan dimensi “surgawi”, “kesurgaan”. Duniawi, sekuler, yang seringkali dipertentangkan dengan yang sakral dan vertikal memang kosa kata yang amat dikenal dalam kehidupan kita sebagai umat yang beragama.

Sejak awal, agama-agama menyatakan dengan amat jelas dan eksplisit bahwa “dunia” itu termasuk benda yang diciptakan. Dunia bukan benda kekal dan abadi yang berada di luar ruang dan waktu. Dunia adalah ciptaan agung dan maha besar dari Allah, Khalik alam semesta. Karena itu, dunia adalah benda yang fana, termasuk segala sesuatu yang ada di dalam dunia.

Manusia diciptakan Allah agar ia mengukir karya terbaik ditengah dunia, mengelola bumi ini dengan seluruh kekayaan yang ada agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemaslahatan umat manusia dari abad ke abad. Sayangnya, nafsu penguasaan manusia terhadap bumi amat besar, ia eksploitasi isi perut bumi tanpa mengalkulasi dengan matang dampaknya bagi generasi berikut dan bagi perkembangan alam itu sendiri. Walaupun narasi agama-agama amat jelas menyatakan bahwa kewargaan kita bukan di dunia ini tapi di surga, yang akan dialami dimasa datang, namun manusia terlena pada hal-hal yang duniawi. Manusia berupaya dengan segala cara bahkan yang bertentangan dengan agama untuk mencapai kesuksesan, demi mempertahankan “kemuliaan duniawi”.

Orang membeli sertifikat, membeli gelar, mengabaikan dan berpura-pura tak tahu undang-undang hanya untuk mempertahankan kemuliaan duniawi, orang tidak takut lagi pada hukuman Tuhan, bahkan terus menerus berbohong, menipu dan mengelabui Tuhan, orang tidak taat hukum dan mencari alibi untuk bebas dari proses peradilan. Negeri ini sudah tidak lagi sepenuhnya negeri yang warga negaranya taat beragama, tapi negeri yang warganya masih repot berdiskusi untuk mengatur kolom agama di KTP sehingga lupa untuk beragama secara utuh penuh.

Para pejabat agama, tokoh dan lembaga agama harus berupaya terus mencari pola dan bentuk yang relevan dalam proses pembinaan kehidupan beragama di zaman ini. Pola dan bentuk itu menolong umat sehingga mereka dapat mewujudkan keberagamaan yang kafah (sempurna) dalam realitas konkret. Kemuliaan dunia itu cepat lewat bersama usia yang makin uzur. Jangan terpukau pada kemuliaan duniawi, pada harta, tahta, jabatan dan kemasyhuran. Mari kita wujudkan terus hidup yang taat hukum dan takut kepada Tuhan.

 

Editor: Beril Huliselan

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*