NO. 

NAMA GEREJA (SINODE)

LOGO

1

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 7 Oktober 1861
Telepon: (0633)21707, 21122(Ext 100-139) | Fax: (0633)21596
e-Mail:  binbinemailok@yahoo.com
website: www.hkbp.or.id  

 

Profil Singkat

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) merupakan salah satu gereja terbesar di Asia Tenggara dan salah satu gereja pelopor berdirinya Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI). HKBP menjadi anggota PGI pertama pada 25 Mei 1950.Berdiri pada 7 Oktober 1861 sebagai hasil usaha Zending Rheinische Mission Geschelschaft (RMG) Bremen-Jerman, ditandai dengan dibaptisnya orang Batak pertama menjadi Kristen. Pada 11 Juli 1940 HKBP menjadi gereja yang mandiri dan Pdt. K. Sirait terpilih sebagai Voorzitter (Ephorus) pertama dari kalangan orang Batak. Dalam usianya yang sudah 150 tahun lebih, HKBP telah menyebar ke seluruh Indonesia dan luar negeri. Dalam pelayanannya kepada umat dan masyarakat, HKBP mengembangkan Tritugas panggilan gereja, yaitu: Koinonia, Diakonia dan Marturia.Saat ini, HKBP memiliki sekitar 4,5 juta jiwa anggota jemaat di seluruh Indonesia. HKBP juga mempunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado. Meski memakai nama Batak, HKBP juga terbuka bagi suku bangsa lainnya.Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor pusat di Pearaja (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) yang berjarak sekitar 1 km dari pusat kota Tarutung, ibu kota Kabupaten tersebut. Pearaja merupakan sebuah desa yang terletak di sepanjang jalan menuju kota Sibolga (ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah). Kompleks perkantoran HKBP, pusat administrasi organisasi HKBP, berada dalam area lebih kurang 20 hektar. Di kompleks ini juga Ephorus (=uskup) sebagai pimpinan tertinggi HKBP berkantor.

HKBP adalah anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), anggota Dewan Gereja-Gereja Asia (CCA), dan anggota Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (DGD). Sebagai gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di Jenewa, Swiss.

2

Banua Niha Keriso Protestan (BNKP)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 15 Mei 1938
Telepon: (0639) 21448 | Fax: (0639) 323.127
e-Mail:  sinodebnkp@yahoo.combiroprogram@yahoo.com
website: wikipedia

 

Profil Singkat

Injil diberitakan pertama kali di Nias oleh dua Pastor dari Gereja Roma Katolik Mission Etragers de Paris (Inggris) sekitar 1822-1823. Namun misi kedua pastor ini tidak tercapai, karena mereka meninggal dunia. Tahun 1865, Rheinische Mission Geschelschaft (RMG) dari Jerman mengutus Ludwig Erens Denninger dan tiba di Pulau Nias 27 September 1865. Awalnya, Denninger membuka sekolah di Gunungsitoli sambil memberitakan Injil. Tahun 1872 datang J.W. Thomas dan ditempatkan di Ombolat Seminari.Tahun 1873 tiba pula Kreamer dan tinggal bersama isterinya di Gunungsitoli. Berkat keuletan mereka memberitakan Injil dan bergaul akrab dengan masyarakat Nias, tahun 1874 seorang kepala kampung bernama Yawaduha membawa 25 warganya dibaptis Kreamer. Demikianlah seterusnya Injil itu menyebar ke seluruh Nias dan banyak yang menjadi Kristen.Namun seiring kemajuan kekristenan itu, muncul pula ajaran-ajaran sesat. Karena itu, timbullah kesepakatan orang-orang Kristen Nias di tahun 1936 untuk membentuk sebuah organisasi gereja di Nias yang diberi nama Banua Niha Keriso Protestan (BNKP). Nama inilah yang dipakai sebagai nama sinode hingga sekarang ini.BNKP aktif melaksanakan pelayanan pendidikan, ksehatan dan pekerjaan sosial. Gereja ini juga menerbitkan majalah Turia Rofa (Berita Salib). Tanggal 27 September dijadikan sebagai Yubelium BNKP. Kini BNKP hadir pula di luar Pulau Nias, serta wilayah pelayanannya antara lain di Pulau Nias, Medan, Padang, Pekanbaru, batam, Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota kecil lainnya.

Mitra kerja BNKP antara lain adalah Reformed Church of America (RCA), United Evangelical Mission (UEM) dari Jerman dan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat. Selain itu, BNKP menjadi anggota dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sejak 25 Mei 1950, Persekutuan Gereja-Gereja Wilayah Sumatera Utara, Dewan Gereja-Gereja Asia (CCA), Federasi Lutheran se-Dunia (LWF), dan Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (DGD).

3

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 18 April 1890
Telepon: (0628) 20466, 21524 | Fax: (0628) 20392
e-Mail: moderamen@gbkp.or.id
website: www.gbkp.or.id

 

Profil Singkat

GBKP adalah sebuah Gereja yang berdiri di tanah Karo dan melayani masyarakat Karo. Permulaan usaha pekabaran Injil ke daerah Karo bukan muncul karena tugas rohani. Usaha itu dimulai karena permohonan J.T. Creamers, seorang pemimpin perkebunan di Sumatera Timur. Ia berpendapat, jalan yang paling baik supaya penduduk asli daerah itu tidak menentang dan mengganggu usaha-usaha perkebunan ialah dengan mengabarkan Injil dan mengkristenkan mereka.GBKP diawali dengan kehadiran Pdt. H.C. Kruyt, seorang misionaris NZG ke tanah Karo 18 April 1890. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) GBKP. Untuk membantu Pdt. H.C. Kruyt dan para misionaris lainnya, NZG mengutus beberapa Guru Injil dari Minahasa. Pekabaran Injil dimulai dari satu Desa bernama Buluhawar. Sementara nama GBKP ditetapkan pada Sidang Sinode I, 21 Juli 1941 di Sibolangit, sekaligus pentahbisan dua orang Karo menjadi pendeta pertama orang Karo, Pdt. Palem Sitepu dan Pdt. Thomas Sibero. Sebelumnya mereka berdua mendapat pendidikan formal di Seminari Sipoholon (HKBP).Perkembangan Injil di karo sangat lambat. Perkembangannya yang pesat baru terjadi setelah peristiwa G30S-PKI yang mendorong banyak orang berlindung di GBKP. Sejak 1970, GBKP menekankan program pembinaan warga jemaat, termasuk keterlibatannya dalam memberdayakan warga gereja dan masyarakat.GBKP resmi menjadi anggota PGI 25 Mei 1950. Selain itu juga menjadi anggota Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (DGD). GBKP bermitra dengan Nederlanse Hervormde Kerk di Belanda, Evangelical Lutheran Church in America (ELCA) serta United Evangelism Mission (UEM) dari Jerman.

4

Gereja Methodist Indonesia (GMI)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: Mei 1905
Telepon: (061) 451.0570; 457.1191 | Fax: (061) 415.7118
e-Mail:  methodis@indosat.net.id
website: www.gmi.or.id

 

Profil Singkat

GMI adalah satu-satunya gereja di Indonesia yang hadir bukan sebagai hasil pekabaran Injil misi Belanda dan Jerman, melainkan hasil pelayanan misionaris dari Amerika yang bekerja di Malaysia dan Singapura. GMI juga satu-satunya gereja yang keanggotaannya WNI dan asing. Kebanyakan jemaat yang ada dimulai dari sekolah. Karena itu sekarang banyak jemaat yang juga mengelola sekolah. Pekabaran Injil melalui pendidikan umum dianggap cara terbaik sehingga jemaat cepat berkembang. Inilah salah satu kekhasan lain dari GMI.Tahun 1902. George F. Pykett, pimpinan Distrik Penang dari Konferensi Malaysia datang ke Medan. Dia mengunjungi Medan untuk melihat kemungkinan dibukanya pos pekabaran Injil. Saat itu belum ada misi Methodist. Di sana dia bertemu beberapa pendatang dari Penang tetapi sudah lama tinggal di Medan, dan pernah mendengar Injil melalui sekolah di Penang.Hong Teen, seorang Tionghoa yang pernah menjadi murid di Methodist Anglo Chinese School di Penang adalah salah satu yang ditemui Pykett. Hong Teen mendirikan sebuah sekolah di Medan. Dia meminta Pykett membantu memimpin Boy’s School. Tahun berikutnya, 1903, Pykett pindah ke Medan dan mendirikan Boy’s School. Pykett diizinkan juga untuk mengajar Alkitab setiap hari. Pykett lalu minta bantuan dua guru. Salah satunya ialah Salomon Pakianathan dari Anglo Chinese School di Penang. Pakianathan, seorang Tamil datang ke Medan pada Mei 1905. Dia seorang guru Kristen yang baik. Sambil mengajar, dia juga bersaksi tentang Yesus. Karena kesaksiannya itu beberapa kelompok PA terbentuk. Kelompok-kelompok ini menggunakan bahasa Hokkian dan Melayu. Jumlah orang-orang yang percaya bertambah.Tahun 1906, Pykett kembali ke Penang dan mengutus Ng. Kuan Jiu, seorang guru ke Medan. Pendeta John R. Denyes ditetapkan menggantikan kedudukan Pdt. Pykett. Sayang sekali, tahun itu juga Hong Teen melarang pelajaran agama Kristen di sekolahnya itu. Karena itu, Pakianathan pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Sebagaimana di Medan, Pakianathan berhasil membentuk beberapa kelompok PA. Persekutuan di Medan terhenti selama 2 tahun. Tahun 1910, Khoo Cian dan Lim Huay Gin datang ke Medan dari Singapura. Mereka mendirikan Anglo Chinese School dan memulai kebaktian. Pada Juni 1912 Lim Huay Gin menyerahkan tanggungjawab ibadah dan sekolah kepada Pdt. W.T. Ward. Ward menjadi misionaris pertama yag ditetapkan untuk melayani di Medan.

GMI merupakan bagian dari Gereja Methodist seDunia. GMI sekarang ini terdiri dari 2 wilayah, Wilayah I meliputi Aceh, Sumatera Utara, Riau dan Kepri yang berkedudukan di Medan. Wilayah II meliputi Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa, Bali, Kalimantan dan Papua berkedudukan di Jakarta. GMI adalah anggota WCC (2005), CCA, CCI dan WMC.

5

Gereja Kalimantan Evangelis (GKE)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 4 April 1935
Telepon: (0511) 335.4856 | Fax: (0511) 436.5297
e-Mail:  msgke@indo.net.id;  ms_gke@yahoo.com
website: www.gke.or.id

 

Profil Singkat

Pekabaran Injil bagi suku Dayak di Kalimantan dimulai Zending Barmen (RMG) yang mengutus dua penginjil dari Jerman, Heyer dan Branstein yang tiba di Jakarta pada tanggal 13 Desember 1834. Tetapi hanya Branstein yang berangkat ke Kalimantan dan tiba di Banjarmasin pada 26 Juni 1835. Lalu, 3 Desember 1836 tiba lagi 3 penginjil yaitu Beeker, Hupperts dan Krusman. Mereka langsung ditempatkan di pedalaman.Baptisan pertama terjadi 10 April 1839 yang dilayani Hupperts. Pekabaran Injil juga disertai pelayanan diakonia, seperti pendidikan, kesehatan dan pembebasan budak. Pasang surut terjadi ketika Perang Dunia I di mana RMG menyerahkan tugas Pekabaran Injil kepada Zending Basel di Swiss tahun 1920.Zending Basel meneruskan dan mengembangkan pekerjaan RMG sebelumnya, hingga pendirian Sekolah Tinggi Teologi tahun 1932. Zending Basel yang membidani lahirnya organisasi Gereja Dayak Evangelis (GDE) pada 4 April 1935 melalui Sinode Umum. Ini adalah Sinode Umum pertama GDE. Tetapi pada masa pendudukan Jepang GDE terputus hubungannya dengan Zending.Selanjutnya, GDE dipimpin pendeta Dayak yang pertama, Pdt. H. Dingang Patianom. Para pendeta GDE sadar bahwa gereja bukan hanya untuk orang Dayak, tetapi terbuka bagi semua orang. Karena itu, melalui Sidang Umum V tanggal 5-9 November 1950 diputuskan GDE berubah nama menjadi Gereja Kalimantan Evangelis (GKE).

Mulai tahun 1960 GKE memperluas wilayah pelayanannya ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Sejak itulah, kawasan pelayanan GKE meliputi seluruh wilayah Kalimantan. GKE yang berdenominasi Reformed ini merupakan anggota PGI sejak awal, 25 Mei 1950.

6

Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 25 Mei 1947
Telepon: (0432) 21370
Fax: (0432) 22828, 21865
e-Mail:

 

Profil Singkat

GMIST adalah salah satu gereja Protestan di Indonesia yang bermula di Kepulauan Sangihe dan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. GMIST termasuk anggota mula-mula dari Pereekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, yaitu sejak 25 Mei 1950.GMIST merupakan organisasi pelayanan yang lahir melalui kedatangan Zending Tukang dari Belanda sejak 1857. Pelayanan Zending ini berakhir pada 1935. Selanjutnya Zending menyerahkan tanggungjawab pelayanan kepada Komite Sangihe Talaud melaksanakan Sidang Sinode Pertama pada 1947. Tanggal pelaksanaan Sidang Sinode inilah juga yang ditetapkan sebagai hari lahirnya GMIST, 25 Mei 1947. Ketua sinode pertama adalah Yahya Salawati (1890-1964).Selama tahun-tahun pertama, sebagian besar jemaat-jemaat di kepulauan Talaud tidak masuk menjadi bagian dari gereja ini. Barulah tahun 1955, ketika Yahya Salawati diganti seorang dari suku Talaud, gereja-gereja di Talaud bergabung dengan GMIST. Kemudian dibentuklah klasis Indonesia Barat (resort Inbar) yang mencakup jemaat-jemaat orang Sangir dalam perantauan di Pulau Jawa dan Sumatera. Jumlah anggota GMIST di tahun 1997 tercatat 220.000 orang, tahun 1972, 183.344 orang atau lebih dari 90 persen dari seluruh penduduk kepulauan Sangir-talaud.GMIST yang berdenominasi Reformed ini melayani di wilayah pelayanan Sulawesi Utara, Jawa dan Sumatera.

7

Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 30 September 1934
Telepon: (0431) 351.036 | Fax: (0431) 351.161
e-Mail:  gmim@telkom.net
website:

 

Profil Singkat

GMIM merupakan salah satu gereja terbesar di Indonesia yang berarliran Calvinisme. GMIM didirikan di Minahasa, Sulawesi Utara. GMIM adalah bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI). Diproklamasikan sebagai gereja yang mandiri 30 September 1934, dan selama delapan tahun pertama dipimpin para pendeta Belanda, seperti Pdt. Dr. E.A.A. de Vreede. Kemudian sejak tahun 1945 kepemimpinan diemban pendeta pribumi dengan terpilihnya Ds. A.C.R. Wenas sebagai pimpinan gereja hingga sekarang.GMIM yang menjadi anggota PGI sejak 25 Mei 1950 ini, juga merupakan anggota dari Dewan Gereja-Gereja Asia, Dewan Gereja-Gereja se-Dunia dan Aliansi Gereja-Gereja Reformasi se-Dunia. Selain itu, GMIM juga merupakan bagian dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI) dan anggota dari Sinode Am Gereja-Gereja di Sulutteng (SAG) yang terdiri atas Gereja-Gereja di Sulawesi Utara dan Tengah.

8

Gereja Masehi Injili Di Bolaang Mongondow (GMIBM)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 28 Juni 1950
Telepon: (0434) 21280 | Fax: (0434) 22446
e-Mail:  gmibm@telkom.netsinodegmibm@gmail.com
website:

 

Profil Singkat

GMIMB adalah salah satu gereja beraliran Protestan di Indonesia yang bermula di daerah Bolaang Mongondo, Provinsi Sulawesi Utara. Gereja ini merupakan salah satu anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia sejak 20 Mei 1950. Penginjilan di daerah Bolaang Mongondow dilakukan para Zending yang datang dari Eropa sejak tahun 1904 dibantu dua orang pribumi yaitu Tumewu di Mariri, dan Th. Pangkei di Poopo. Tanggal 28 Juni 1950 terbentuklah Sinode GMIBM dengan Ketua Sinode yang pertama Pdt. P.M. Kolopita. Sebelumnya di abad ke-18 sudah terdapat ratusan orang Kristen di daerah pesisir Bolaang Mongondow. Tetapi daerah ini pun tidak mendapat perhatian yang cukup dari pihak VOC. Hingga di abad ke-19, Islam masuk dan Raja pun memeluk agama Islam. Tenaga NZG di Minahasa mengunjungi kelompok-kelompok perantau dari Minahasa yang terdapat di situ. Tetapi ketika NZG hendak mengutus seorang tenaga tetap, pemerintah Belanda melarangnya dengan alasan tidak bisa menjamin keselamatan utusan itu.Tahun 1904 Raja Cornelis Manoppo, seorang Islam, telah berbuat banyak membangun kehidupan rakyat, meminta Zending agar membuka sekolah-sekolah di daerahnya. NZG mengutus beberapa orang diantaranya ada yang membuka sekolah HIS di Kotamobagu. Di samping memperhatikan pendidikan, zending menekankan pemeliharaan terhadap orang Minahasa dan Sangir yang telah merantau ke daerah itu. Pekerjaan di kalangan orang asli yang beragama Islam tidak dilakukan secara langsung dan intensif. Pun para guru dan penghantar jemaat kebanyakan berasal dari Minahasa. Di antara mereka terdapat guru J. Pandegitor (guru sejak 1906, 1930 ditahbiskan menjadi pendeta pribumi) yang menjadi tokoh pemimpin waktu Perang Dunia. Namun ada pula sebagian orang asli Bolaang Mongondow yang masuk Kristen. Tahun 1970 mereka ini 20 persen dari jumlah anggota yang ketika itu meliputi 30.000 jiwa lebih (15-20 persen penduduk). Tahun 1997 anggota berjumlah 85.000 orangKemandirian gereja barulah mendapat perhatian pada tahun 1938 dengan kedatangan seorang zendeling dari Sangir, yang secara khusus didatangkan untuk itu (J. Langeveld). Ia mengadakan rapat para penghantar jemaat (permulaan 1939), kemudian kumpulan wakil-wakil jemaat (Desember 1939). Dalam rapat itu ditetapkan organisasi gereja yang bersifat sementara. Peresmian gereja mandiri (secara formal) berlangsung sesudah perang, yaitu pada tahun 1950. Sama seperti gereja-gereja lainnya di wilayah Sulutteng, Gereja Masehi Injili Bolaang Momgondow ini banyak menderita akibat pergolakan PERMESTA. Kini ZGMIBM memiliki 183 jemaat, 143 pendeta, dan 126.326 anggota jemaat.

9

Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 18 Oktober 1947
Telepon: (0458) 21050, 21141, 21136, 21459 | Fax: (0458) 21318, 21711
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GKST adalah hasil pekabaran Injil Dr.A.C.Kruyt dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) yang tiba di Poso pada tahun 1892; dan Dr. N.Adriani dari Nederlandsch Bijbelgenootschap yang tiba tahun 1895. Pembaptisan pertama dilaksanakan pada 25 Desember 1909 di Kasiguncu kepada Kepala Suku Pebato Papa I Wunte dan Ine I Maseka bersama seratusan orang pengikutnya. GKST ditetapkan sebagai Gereja oleh pemerintah pada tahun 1947. GKST kemudian dimandirikan sebagai gereja yang dewasa dengan Ketua Sinode yang pertama adalah Dr.E.Dijkhuis, dan berpusat di Tentena. GKST pernah mengalami masa sulit, yaitu ketika terjadi konflik Poso tahun 1998, 2000 sampai 2005. Dalam konflik tersebut, Sekretaris Umum Sinode GKST, Pdt. Rinaldy Damanik yang adalah Deklarator Perdamaian Malino untuk Poso, divonis 3 tahun penjara, atas tuduhan yang tidak dia lakukan, tetapi sesungguhnya ia melakukan pembelaan terhadap umat Kristen dan berani melakukan evakuasi korban di wilayah yang berbahaya yang membuatnya memiliki dan mempublikasikan data-data faktual tentang peristiwa konflik tersebut, serta melakukan protes keras terhadap pemerintah dan aparat keamanan. Tahun 2004, pada saat masih di dalam penjara, Pdt. Rinaldy Damanik dipilih menjadi Ketua Umum Sinode GKST oleh warga GKST.Gereja yang berdenominasi Reformed ini memiliki wilayah pelayanan di Sulawesi Tengah (Donggala, Poso, Pulau Banggai, Luwuk, Morowali, Kota Palu, Parigi-Mountong, Buol, Toli-Toli dan Tojo Una-Una), dan Sulawesi Selatan (Luwu, Luwu Utara, Toraja, Luwu Selatan, Luwu Timur, Palopo, Enrekang, Sidrap, Bone dan Kota Watampone).

Logo GKST2

10

Gereja Toraja (GETOR)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 25 Oktober 1947
Telepon: (0423) 21460, 21539, 21612, 21742 | Fax: (0423) 25143
e-Mail:  bpsgetor@gmail.com
website:

 

Profil Singkat

Cikal bakal Gereja Toraja berawal dari benih injil yang ditaburkan oleh guru-guru sekolah Landschap (anggota Indische Kerk-Gereja Protestan Indonesia), yang dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908. Para guru ini berasal dari Ambon, Minahasa, Sangir, Kupang, dan Jawa. Atas pimpinan dan kuasa Roh Kudus, terjadilah pembaptisan yang pertama pada tanggal 16 Maret 1913 kepada 20 orang murid sekolah Lanschap di Makale oleh Hulpprediker F. Kelleng dari Bontain. Pemberitaan injil kemudian di lanjutkan secara intensif oleh Gereformerde Zendingsbond (GZB) yang datang ke Tana Toraja sejak 10 Nopember 1913.GZB adalah sebuah badan zending yang didirikan oleh anggota-anggota Nederlandse Hervormde Kerk (NHK) yang m,enganut paham gereformeerd. GZB berlatarbelakang pietis, dalam arti sangat mementingkan kesalehan dan kesucian hidup orang Kristen. Injil yang ditaburkan oleh GZB di Tana Toraja tumbuh dan dibina oleh GZB selama kurang lebih 34 tahun lamanya. Paham teologi GZB yang pietis itu banyak mempengaruhi paham teologi warga Gereja Toraja sampai saat ini.Pada tahun 1947 terjadilah babak baru dalam sejarah penginjilan di kalangan masyarakat Toraja. tepatnya pada tanggal 25 – 28 Maret 1947 diadakanlah persidangan Sinode I di Rantepao yang dihadiri oleh 35 utusan dari 18 Klasis.Sidang Sinode I ini memutuskan bahwa orang-orang Toraja yang menganut agama Kristen bersekutu dan berdiri sendiri dalam satu institusi gereja yang diberi nama Gereja Toraja. Dalam rangka membina persekutuan, kesaksian dan pelayanannya sejak berdiri sendiri Gereja Toraja telah mengalami banyak pergumulan, baik yang berasal dari dalam dirinya sendiri (faktor internal), maupun yang berasal dari luar (farktor eksternal).

Pergumulan internal yang cukup menonjol segera mencuat ke permukaan yaitu kurangnya tenaga pelayan (SDM) yang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas untuk mampu melayani dan membina warga gereja yang mulai bertumbuh serta mulai menyebar ke luar wilayah Tana Toraja. Masalah lain yang cukup menantang ialah bagaimana sikap Gereja Toraja yang benar, baik dan tepat terhadap adat-istiadat dan kebudayaan Toraja.

Dalam arak-arakan gerakan oikoumene GT juga menjadi gereja pelopor karena termasuk anggota PGI pertama yaitu pada 25 Mei 1950. Gereja Toraja lahir dan tumbuh dari hasil kegiatan pekabaran injil misionaris Perhimpunan Pekabaran Injil Gereformeerd (Gereformeerde Zendingsbond-Belanda (GZB)). GZB didirikan oleh satu aliran dalam tubuh Gereja Hervormd Belanda (NHK). GZB mengutus penginjil dan guru-guru sekolah di kalangan Suku Toraja. Pdt. A.A. van de Loosdrecht menjadi misionaris pertama yang tiba di Rantepao, Sulawesi Selatan, pada 7 November 1913. Namun, tragis karena ia terbunuh di tempat itu. Atas kerja keras dan pengorbanan mereka, terbentuklah jemaat-jemaat di berbagai tempat yang kemudian mendirikan Gereja Toraja yang berdiri sendiri.

Injil berkembang pesat hingga tahun 1938 telah terdapat 14.000 orang Kristen dari 300.000 penduduk. Pada 25 Maret 1947, jemaat-jemaat sepakat membentuk suatu organisasi gereja yang bernama Gereja Toraja dalam sidang Majelis Am yang pertama di Rantepao. Gereja ini menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada tahun 1950.

Gereja ini berbentuk Presbiterial Sinodal yang berarti pengaturan tata hidup dan pelayana gereja yang dilaksanakan oleh para presbiteri (penatua, pendeta, dan diaken) dalam suatu jemaat dengan keterikatan dan ketaataan dalam lingkup yang lebih luas (klasis dan sinode).

Pada masa pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar, banyak anggota jemaat Gereja Toraja yang terbunuh.[2] Tahun 2000, anggota jemaatnya sebanyak 375.000 orang.

Saat ini, kantor Pusat Gereja Toraja terletak di Rantepao, Sulawesi Selatan. Gereja Toraja kemudian tersebar di luar Toraja, seperti Makassar, Surabaya, Jakarta, dan kota lainnya. Pada 2012-2013 Gereja Toraja menyelenggarakan acara mensyukuri 100 tahun Injil Masuk Toraja 1913-2013.

11

Gereja Toraja Mamasa (GTM)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 7 Juni 1947
Telepon: 0428-2841003 | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GTM adalah kelompok Gereja Kristen Protestan di Indonesia, yang berpusat di Jl. Demmatande No.17, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat (sebelumnya Kabupaten Mamasa pernah menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan) serta terdaftar sebagai anggota PGI pada tanggal 25 Mei 1950. Penginjilan dirintis tahun 1931, dan pendiri awal adalah Zending Cristelijke Gereformeed Kerk in Netherlands (dari Belanda), meskipun sebelumnya kekristenan dimulai oleh Indische Kerk. Tahun 1913/14-1928 Indische Kerk. Indische Kerk melakukan pembaptisan missal pada tanggal 12 Oktober 1914 sebagai awal kekristenan di Mamasa. Tahun 1928-1947  Zending Christelijke Gereformeerde Kerk (ZCGK) dari Negeri Belanda. Ada dua zendeling ZCGK yang sangat terkenal di kalangan warga Gereja Toraja Mamasa, yakni Ds. M. Geylense dan Ds. A. Bikker.Tahun 1947-Sekarang, GTM ditetapkan menjadi sebuah gereja lokal yang berdiri sendiri pada tanggal 7 Juni 1947 dalam sidang Sinode yang pertama di Minake, Malabo. Sejak Sidang Sinode Perta tersebut sudah 17 kali melasanakan sidang sinode Am.GTM yang berdenominasi Reformed ini memiliki wilayah pelayanan GTM tersebar di 2 Provinsi, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Sebagian besar jemaat GTM berada di Kabupaten Mamasa. Terbesar kedua ada di Kabupaten Mamuju dengan 8 Klasis. Satu Klasis di Mamuju Utara dan satu Klasis di Polewali Mandar. Ada dua Klasis di Sulawesi Selatan, Klasis Makassar dengan 8 jemaat dan 6 cabang kebaktian termasuk satu cabang kebaktian di Jakarta, serta Klasis Pare-pare yang meliputi Kabupaten Pinrang dan Kota Pare-pare.

 

12

Gereja Kristen di Sulawesi Selatan (GKSS)

menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 12 Juni 1966
Telepon: (0411) 854436 | Fax: (0411) 854436
e-Mail:  sinode_gkss@ilovejesus.net
website:

 

Profil Singkat

GKSS adalah salah satu kelompok Gereja Kristen Protestan di Indonesia yang bermula di Sulawesi Selatan, Indonesia dengan kantor pusat di Jalan Ketilang No. 4, Makassar, Sulawesi Selatan. Gereja ini dimulai pada zaman VOC. Pada zaman ini, VOC menenmpatkan pendeta untuk perawatan rohani para pegawainya di Makassar. Pada zaman Hindia Belanda, Indische Kerk menempatkan pendetanya di tempat itu. Pemerintah melarang segala usaha pekabaran injil kepada penduduk asli. Namun, Dr. F.B. Matthes, seorang ahli bahasa Bugis yang menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Bugis dan Makassar. Pada tahun 1851, NZG mengutus misionarisnya yang ditempatkan di Makassar, Bonthain, dan Bulukumba serta berusaha memberitakan Injil kepada penduduk asli. Pada tahun 1858, pemerintah melarang pekabaran Injil kepada penduduk asli sehingga mereka meninggalkan daerah itu.Tahun 1895 Nederlandse Zending Vereniging (NZV) mengutus misionarisnya, tetapi mereka tidk berhasil, maka dipindahkan ke Halmahera pada tahun 1905. Pada tahun 1933, GPI menempatkan Pdt. Binsberger di Makassar. Ia membuka pos pekabaran Injil di Lanjuanging, Maros, dan pulau Selayar. Sekolah pun dibuka untuk menarik perhatian penduduk. Pada tahun yang sama, Gereja Gereformeerd Surabaya menjadikan Sulawesi Selatan sebagai wilayah pekabaran Injilnya dengan mengutus Pdt. H. van den Brink. Van den Brink membuka Rumah Sakit yang dikenal dengan nama Rumah Sakit Labuang Baji. Gereja juga berkembang di Watan Soppeng, Jallo, Lampuiko, Karadiwang, dan Malino.Pada 7 Januari 1949, dibentuklah Panitia Penghubung dan Pengarah. Pdt Daeng Masikki dan kawan-kawan tidak puas dengan kelambanan pendewasaan jemaat-jemaat di sana karena tidak melibatkan mereka sehingga mereka membentuk Badan Pengurus Bakal Gereja Bugis dan Makassar Selebes Selatan pada Agustus 1949. Inisiatif ini disambut Zending sehingga pada 16 November 1949 dibentuk Bakal Gereja Kristen di Sulawesi Selatan. Badan pengurusnya disebut Badan Pekerja Pelaksana Gereja Sulawesi Selatan (BAPPELGRESS). Pada tahun 1954, namanya kemudian dibuah menjadi Gereja Kristen Protestan Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan dan pada tahun 1965 menjadi Gereja Kristen di Sulawesi Selatan. Pada tahun 1971-1973, terjadi gerakan massal masuk ke dalam Kekristenan di Pulau Selayar sehingga terjadi baptisan massal. GKSS menjadi anggota PGI pada tahun 1950. Jumlah anggotanya tahun 2000 adalah 5660 umat yang tersebar dalam enam klasis, yaitu Walanae (Soppeng), Mappatuwo (Pangkajene), Bulusaraung (Maros), Bawakaraeng, Selayar, dan Makassar.

Sistem yang digunakan adalah presbiterial-sinodal dan berpusat di Makassar. Badan pemeriksaan pembendaharaan gereja dibentuk Sinode Klasis dan Jemaat. GKSS menetakan 3 jabatan gerejawi, yaitu pendeta, penatua, dan diaken. Bentuk-bentuk pelayanan gereja: kebaktian jemaat, pelayanan Sakramen, pemberitaan Injil, pelayanan penggembalaan, pendidikan dan pembinaan warga gereja, disiplin gereja, dan pelayanan sosial. Gereja yang berdenominasi Reformed ini memiliki wilayah pelayanan di Sulawesi Selatan.

13

Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (GEPSULTRA)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 10 Februari 1957
Telepon: (0401) 3121.506 | Fax: (0401) 3122.626
e-Mail: gepsultra@telkom.net
website:

 

Profil Singkat

GEPSULTRA didirikan untuk wilayah pelayanan di provinsi Sulawesi Tenggara. Gereja ini terdapat di 40 lokasi di seluruh Sulawesi Tenggara. Bermula dari utusan Zending dari Netherlands Vereniging, Ds.H.van der Klift, tiba di Kolaka pada 16 Desember 1915. Lalu pindah ke Mowewe pada 17 September 1917 dan melakukan pembaptisan yang pertama kepada Paulus Wongga. Dari Desa Mowewe inilah Injil menyebar dan berkembang di Sulawesi Tenggara (Sultra).Pada masa penjajahan Jepang, para zending banyak yang ditawan dan dibunuh, sehingga pelayanan mulai ditangai para pendeta pribumi. Hasil Sidang Sinode pertama pada 7 Februari 1957 lahirlah Gereja Kristen Protestan di Sulawesi Tenggara (GKSTa) berpusat di Lambuya dengan Ketua Sinode yang pertama adalah Pdt.Piter Rumono. Kemudian, pada Sidang Sinode V GKSTa diubah menjadi Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (GEPSULTRA).GEPSULTRA yang bedenominasi Reformed ini memiliki 131 jemaat (7 klasis), 114 pendeta (data 2013) dengan wilayah pelayanan di Silawesi Tenggara.

14

Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 06 September 1949
Telepon: (0924) 21166 | Fax: (0924) 21302
e-Mai :
website:

 

Profil Singkat

Embrio GMIH dimulai dari kegiatan pekabaran Injil yan dilakukan oleh H. Van Dijken_tenaga utusan Utrechtsche Zendings Vereeniging (UZV) pada tahun 1867 di desa Duma, Galela. Seruan pertobatan selalu didengungkan kepada masyarakat Galela, karena ia menganggap perlu untuk mencabut kehidupan masyarakat Galela dari kekafiran. dengan agama berhala dibuang. Seperti perkawinan adat. Adapun usaha-usaha lain yang dilakukan dalam rangka mengembangkan dan memperluas pI di Halmahera adalah dalam bidang pertanian, pendidikan dan kesehatan. Nafas penginjilan di desa Duma Galela menjadi roh penginjilan Halmahera yang terus menjalar sampai di wilayah Barat, Timur dan Selatan. A. Hueting, Van Baarda, J.L.D. van der Roest, J.A.F. Schut dan J. Forgens turut memberikan kontribusi dalam ekspansi penginjilan di wilayah-wilayah lain.Jemaat-jemaat Zending yang sudah terbentuk tersebut kemudian mendapat pergumulan keras sebagai konsekuensi dari akibat gejolak Perang Dunia II. Akibatnya mereka harus mengurus diri sendiri ketika tenaga zending dipulangkan. Dalam suasana yang membingungkan tersebut, berbagai usaha-usaha mulai dipikirkan, terutama untuk memikirkan kemandirian sebuah Gereja di Halmahera. Upaya-upaya tersebut dimulai dari wilayah Barat Halmahera, tepatnya di wilayah Sahu dan Ibu. Kemudian berkembang ke wilayah Kao. S.B. Tolo adalah salah satu orang yang merintis kemandirian Gereja di Halmahera, di tengah-tengah cengkraman penjajahan Jepang kala itu. Upaya kemandirian tersebut juga dilakukan di belahan Utara Halmahera yang pelopori oleh Hopaja.Pada akhir PD II, para zendeling kembali ke Halmahera. Pada tahun 1946, kembalilah sejumlah tenaga zending, walaupun mereka sudah tidak lagi dengan panji UZV, karena mereka telah menggambungkan diri ke dalam badan zending VNZ. Ketika kembali mereka tidak menerima begitu saja pembentukan Gereja Protestan Halmahera (selanjutnya disingkat GPH). Mereka menerima nama GPH untuk sementara waktu, Di samping itu tetap mencari solusi terbaik bagi kemandirian. Dengan begitu menyebabkan berbagai konferensi dilaksanakan demi membahas masalah pendirian dan kemandirian Gereja. Selama periode ini, ada dua gagasan yang berkembang, yakni bergabung dengan GPM (Gereja Protestan Maluku) dengan pengaruh zending Belanda; atau mendirikan sebuah Gereja yang benar-benar mandiri di bumi Halmahera. Bagaimana pun juga, kembalinya zending ke Halmahera telah menemukan sebuah situasi yang benar-benar berbeda.Puncaknya ketika spirit kemandirian Gereja di Halmahera terus dibangun secara bersama-sama, baik oleh orang Halmahera dan juga para zendeling. Untuk merelisasikan semangat tersebut, zending mengambil tiga langkah konkret. Pertama, mereka berusaha menata kembali pekerjaan rutin gereja. Kedua, menahbiskan para guru jemaat/sekolah yang senior pada Agutsus 1946. Para guru jemaat tersebut adalah H.B. Hamijs, E. Polnaija, J.F. Noija, J. Djawa dan P.J. Joija. Ketiga, melakukan konferensi di Tobelo dari 11-18 Januari 1947 yang anggotanya terbatas, termasuk kelima guru jemaat yang ditahbiskan di atas.

Dalam rangka mempersiapkan penataan sumber daya Gereja, maka pada tahun 1947, enam guru jemaat/sekolah yang labih muda, yang mewakili ke enam suku di Halmahera di kirim ke SoE di Timor untuk belajar di Sekolah Theologia untuk Indonesia Timur. Dengan jalan ini orang-orang Halmahera menjamin bahwa kepemimpinan Gereja kelak akan dipegang oleh suku Halmahera sendiri dan tidak tergantung kepada orang-orang Ambon. Setelah itu, satu tahun kemudian diadakan Proto-Sinode kedua. Dalam pertemuan tersebut dihasilkan sebuah badan persiapan Sinode Gereja. Antara Juni 1948-Juni 1949, badan tersebut harus menghasilkan rumusan Anggaran Dasar dan Tata Gereja dengan sembilan pasalnya, yaitu : 1) Gereja; 2) Jemaat; 3) Jabatan; 4) Pelayanan Al-Kalam dan Tanda-Tanda Ezrar (Sakramen); 5) Nikah; 6) Umat Kristen di dalam Persekutuan adat dan masyarakat Baru; 7) Keuangan; 8) Hubungan dengan Gereja lain ; 9) Permohonan peraturan Gereja.

Jadi, sidang sinode pertama dilakukan di Tobelo dari 4-14 Juni 1949. Pada tanggal 4-5 Juni, Anggaran Dasar dan Tata Gereja diteliti, diamendir dan ahirnya diterima. Pada tanggal 5 Juni terjadi perdebatan hebat mengenai nama Gereja. Dan ketika permasalahan nama selesai, maka pada tanggal 6 Juni upacara berlangsung dan bersamaan dengan itu GMIH secara resmi didirikan. Ketua sinode yang pertama adalah Pdt. A. Ploeger dari VNZ. Keenam anggota lainnya dari Badan Pengurus ini terdiri dari tiga orang Halmahera (J. Junga, sebagai Sekretaris; Pdt. J. Djawa dan R.B. Djago) serta tiga orang Ambon (Pdt. E. Polnaija, Wakil Ketua; S.B. Lesnussa, Bendahara; dan J. Noija).

Sejak berdiri, GMIH terus menjalankan misi penginjilan di Halmahera dengan sifat dan pergumulannya menghadapi situasi dan kondisi Halmahera yang sebagai locus pelayanannya.

Halmahera adalah wilayah pelayanan GMIH. Pulau dengan 32 sub suku tersebut merupakan locus  yang menjadi tempat GMIH lahir dan berkembang. Pulau Halmahera dan pulau sekitarnya tersebut kemudian dibagi dalam 54 wilayah pelayanan. Saat ini jemaat definifnya berjumlah 427 jemaat. Secara geografis, GMIH memiliki wilayah pelayanan yang mencakup pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya.

 

15

Gereja Protestan Maluku (GPM)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 6 September 1935
Telepon: (0911) 352248,342442 | Fax: (0911) 312440
e-Mail:  sinode@ambon-wasantara.net.id
website: http://www.sinodegpm.org

 

Profil Singkat

GPM merupakan salah satu gereja di Indonesia yang beraliran Protestan Reformasi atau Calvinis. GPM berdiri di Ambon, Maluku pada tanggal 6 September 1935. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai hari kelahiran GPM. GPM memandirikan dirinya dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI) atau Indische Kerk sebagai bentuk kemandirian gereja. Lahirnya GPM diawali ibadah perdana Gereja Protestan Calvinis orang-orang Belanda, pegawai VOC di Ambon, 27 Februari 1605.GPM adalah gereja Protestan yang melayani di wilayah Provinsi Maluku (Pulau Buru, Pulau Seram, Pulau Ambon, Pulau-pulau Lease (Saparua, Haruku dan Nusalaut), Pulau-pulau Banda, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru (Dobo), Tanimbar, Babar, Leti-Moa-Lakor, Kisar hingga Wetar, dan Provinsi Maluku Utara (Ternate, Pulau-pulau Bacan, Pulau-pulau Obi, dan Kepulauan Sula) GPM bertumbuh dengan berbagai tantangan yang bukannya membuat umat Kristen di provinsi kepulauan ini mundur, tetapi semakin membuat semangat kekristenan mereka makin menyala-nyala.Tantangan-tantangan yang dihadapi mulai dari dibombardirnya wilayah Ambon pada Perang Dunia II oleh Jepang, yang menyebabkan separuh hamba Tuhan terbunuh dan penduduk di beberapa desa dibantai. Kemudian ketika pecahnya pemberontakan RMS di tahun 1950 berakibat pada hancurnya sebagian besar gereja di Ambon dan Seram. Kemudian yang terakhir ketika pecah kerusuhan antarwarga Kristen–Islam yang sangat disayangkan adalah buah tangan orang-orang yang membenci kedamaian. Sehingga kembali lagi gereja dan bangunan-bangunan penting milik GPM ikut hancur, fasilitas sekolah dan kampus Universitas Kristen hangus terbakar. Dua Klasis berhenti melayani dan ratusan warga yang ada di desa dan kota dibantai. Ribuan orang pun mengungsikan diri ke wilayah aman seperti Sulawesi Utara, Bali, dan Papua. Akibatnya di Ambon dan beberapa tempat bekas kerusuhan muncul pembagian wilayah-wilayah Islam dan Kristen yang sebenarnya sangat disayangkan, serta muncul trauma-trauma negatif yang masih tertanam pada kedua pihak.Kini GPM bekerja keras tidak hanya untuk membangun kembali gereja secara fisik tetapi juga secara mental dan spiritual. Dengan fokus membangun kehidupan masyarakat Kristen yang berlandaskan teologi hidup dan semangat “pela gandong” yang diharapkan dapat menyembuhkan luka-luka konflik dan kekerasan. Sehingga masyarakat Kristen di Maluku khususnya warga GPM dapat kembali melanjutkan pelayanan dengan semangat penginjilan yang teguh dan tidak terkungkung dalam kebodohan duniawi dengan salah satu cara yakni; memberikan pelayanan Injil yang komprehensif di tengah masyarakat, seperti tampak dari keikutsertaan dalam mencerdaskan anak-anak bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan. Sejarah mencatat GPM juga merupakan gereja pertama yang ikut mendirikan PGI, dan menjadi anggota PGI pertama pada 25 Mei 1950.

Saat ini GPM memiliki 1012 pendeta, dan 259 non pendeta, 32 klasis dan 754 jemaat dan 524.403 jiwa.

16

Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKITP)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 26 Oktober 1956
Telepon: (0967) 531.472
Fax: (0967) 533.192
e-Mail:  gktanahpapua@yahoo.com
website:

 

Profil Singkat

Para Penginjil dari Badan Misi Gossner Jerman yakni Johann Geissler, Schneider dan Carl Ottow tiba di Batavia (Jakarta) pada 7 Oktober 1852. Mereka berangkat dengan dari pelabuhan Rotterdam Belanda, dengan menggunakan Kapal yang bernama “Abeltasman”.Gereja Kristen Injili Tanah Papua (GKITP) berdiri pada 26 Oktober 1956 sebagai hasil pekabaran Injil yang dimulai oleh Ottow dan J G. Geissler. Pada 5 Februari 1855 Ottow dan Geisler tiba di Mansinam jam 6 pagi. Sauh kapal dilabuhkan dan tepat jam 9 mereka menginjakan kaki di pulau itu dengan mengucapkan doa sulung mereka “In Gottes Namen Bettraten Wir Das Land yang artinya “Dengan nama Tuhan Kami Menginjak Tanah ini”. Kemudian pada 1 Januari 1868 dua orang wanita, Sara dan Margaretha, yang biasa membantu di rumah penginjil Geissler menjadi orang Papua pertama yang dibaptis Pdt. Geisler.Sejak awal berdirinya, GKI di Tanah Papua adalah suatu gereja yang bersifat oikumenis, dan bukan gereja suku. Oleh karena itu, anggota-anggota jemaat GKI berasal dari orang Papua sendiri dan orang-orang bukan Papua dari berbagai suku dan bangsa serta dari berbagai latarbelakang keanggotaan gereja.Kehadiran dan keberadaan GKI di Tanah Papua adalah kehendak Tuhan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang nyata di tengah keterbelakangan, keterasingan, kebodohan dan kemiskinan. Oleh pemberitaan Injil peradaban baru Papua dimulai dan terus berlangsung sampai sekarang ini. GKI di Tanah Papua yang berdeonimasi Reformed ini melayani di wilayah Papua.

 

17

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 31 Oktober 1947
Telepon: (0380) 832.943; 826.927 | Fax: (0380) 831.182, 832.943
e-Mail:  sinodegmit@plasa.com;  sinodegmit@telkom.net
website:

 

Profil Singkat

Cikal-bakal GMIT bermula dari kedatangan Ds.Mattheus van den Broek pada tahun 1614 sebagai pelayan rohani pegawai-pegawai VOC di Kupang. Tetapi tidak lama kemudian pendeta ini pulang ke Belanda. Lalu, setelah kurang lebih 50 tahun, pada tahun 1670 datang Ds.Key Sero Kind, dan kemudian digantikan oleh Ds.A.Corpius tahun 1687 yang bekerja hanya setahun karena meninggal dunia. Demikianlah jemaat di Kupang tidak mendapat pelayanan yang sungguh-sungguh.Untuk melayani jemaat diangkat oleh seorang Kupang bernama Paulus. Kemajuan berarti terjadi pada abad ke-18, seiring dengan didirikannya benteng VOC di Kupang pada tahun 1701. VOC juga mendatangkan pendeta-pendeta ke P.Timor. Sejak itu berdirilah gereja dan sekolah-sekolah di Kupang. Pekabaran Injil pun mulai digiatkan ke beberapa pulau sekitar, seperti: Rote dan Sabu. Setelah VOC bubar, pekabaran Injil diambil-alih oleh lembaga Zending NZG (Nederlansche Zendeling Genootschap). Maka sejak 1817-1942 gereja di Timor menjadi bagian dari Indische Kerk. Pada masa inilah terjadi kemajuan pekabaran Injil yang pesat sampai ke pedalaman Timor dan sekitarnya. Alkitab dan nyanyian-nyanyian juga diterjemahkan para misionaris ke bahasa-bahasa setempat.Ketika para Zendeling ditawan oleh Jepang, kepemimpinan diambil-alih putra-putra Kupang dengan membentuk Badan Gereja Timor Selatan. Sebenarnya, gagasan pembentukan GMIT telah dimulai tahun 1933 untuk maksud memandirikan. Namun gagasan ini baru terealisasi pada 31 Oktober 1947, yang waktu itu terdiri dari 6 klasis dan dipimpin oleh Ds.Durkstra.GMIT adalah salah satu gereja yang tergabung dalam Gereja Protestan di Indonesia (GPI). Pada tahun 1948, gereja ini tergabung dalam World Christian Conference (WCC). Setelah tergabung dalam WCC, gereja ini juga tergabung dalam Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI), yang sekarang disebut Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) pada 25 Mei 1950. Gereja ini memiliki 6 klasis, yaitu Klasis Kupang, yang meliputi Kupang dan Amarasi; Klasis Camplong, yang meliputi Fatule’u dan Amfoang; Klasis SoE, yang meliputi Amanuban, Amanatum, Mollo, Timor Tengah Utara, dan Belu; Klasis Alor atau Pantar, yang meliputi Alor; Klasis Rote, yang meliputi Rote; dan Klasis Sabu, yang meliputi Sabu.

Alkitab, pada masa awal berdirinya gereja ini, belum tersedia. Karenanya Pdt. J. Huandao dan M.R. Pello menerjemahkan Alkitab dari bahasa Melayu ke dalam bahasa Timor. Mereka menggunakan kata uis neno mnanu, yang berarti ‘tuan langit yang tinggi’, sebagai kata penunjuk “Tuhan”.

18

Gereja Kristen Sumba (GKS)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950

Berdiri: 15 Januari 1947
Telepon: (0387) 61342,62279 | Fax: (0387) 61342,62279
e-Mail:  gks@indo.net.id
website:

 

Profil Singkat

GKS adalah lembaga gerejawi yang berkarya di Pulau Sumba, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pelayanan GKS meliputi empat Kabupaten yang ada di Sumba, yaitu Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. GKS berdiri sendiri pada tanggal 15 Januari 1947 setelah melewati beberapa periode, yakni periode perintisan (1881-1902), periode peletakan dasar (1902-1947) dan periode berdiri sendiri (1947).GKS hasil pekabaran Injil dari Zending Gereformeerde Kerken in Nederland (GKN) yang dimulai sejak tahun 1881. GKS mengalami berbagai dinamika dalam karya pelayanan di Sumba. Dinamika pelayanan tersebut mulai dari tahap mencari bentuk (1947-1972), tahap penyusunan rencana pendewasaan (1970-an), tahap pekabaran Injil dan berbenah diri (1980-1990) hingga mengalami pertumbuhan sampai sekarang ini.Sebagai gereja yang lahir hasil dari pekabaran Injil gereja dari Belanda (GKN) yang bercorak/azas Calvinis, maka GKS mewarisi corak/azas Calvinis. Dalam menjalankan Organisasi gerejawinya, GKS menerapkan sistim pemerintahan Prebiterial Sinodal dimana melalui sistim ini pada satu sisi memberi penekanan kepada Majelis Jemaat (Jemaat setempat) dan di sisi lain menekankan kebersamaan antar jemaat se-GKS melalui peran Sinode GKS.GKS merupakan salah satu anggota PGI tertua, yaitu  pada 25 mei 1950. Sekarang ini GKS memiliki 712 gereja dengan jumlah jemaat 386.000 jiwa dan pendetanya berjumlah 164 orang. Sedangkan Jumlah pelayan lainnya  sebanyak  656 orang, meliputi Guru Injil, Vicaris dan Penolong Guru Injil.

19

Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 11 November 1931
Telepon: (0361) 4424.862 | Fax: (0361) 4420.591
e-Mail:  gkpbbali@indosat.net.id
website: www.christianchurchbali.org

 

Profil Singkat

GKPB adalah gereja Protestan di Indonesia yang berpusat di Jl. Dr. Sutomo No. 101, Denpasar, Bali, dan terdaftar menjadi anggota PGI pada tanggal 25 Mei 1950. GKPB berdiri sebagai hasil penginjilan Christian and Missionary Alliance (CMA)  yang pada tahun 1930 mengutus Tsang Kam Foek (Tsang To Hang) ke Bali.Kemudian, 11 November 1931 ketua CMA, R. A. Affray membaptiskan 12 orang Bali asli di Yeh Poh, sungai kecil dekat dusun Untal-untal di Sesa Dalung. Hari pembaptisan yang pertama inilah yang ditetapkan sebagai hari lahirnya GKPB. Pada 14-16 Januari 1948 diadakan Sidang I di Blimbingsari diputuskan bahwa nama gereja adalah Persatuan Kristen Protestan Bali (PKPB) dan Ds. Made Runggu terpilih sebagai Ketua Badan Pekerja. Nama gereja itu kembali dirubah menjadi Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) pada Sidang IV Gereja Bali pada 20-21 April 1949. GKPB berbentuk presbiterial sinodal serta berazaskan pada sola gratia, sola fide dan sola scriptura. Gereja yang berdenominasi Reformed ini melayani di Pulau Bali.

20

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 11 Desember 1931
Telepon: (0341) 325.846, 325.873, 325.946 | Fax: (0341) 362.604
e-Mail: ma.gkjw@yahoo.comsekretariat_magkjw@yahoo.com
website :

 

Profil Singkat

GKJW adalah persekutuan gereja-gereja berbasis daerah di Jawa Timur yang dideklarasikan pada tanggal 11 Desember 1936 di salah satu Jemaat Kristen Jawa terkemuka saat itu, yakni Mojowarno, Kabupaten Jombang. Gereja ini termasuk anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).GKJW bermula dari pembaptisan perdana pada 12 Desember 1843 di Surabaya. Setelah anggotanya bertambah banyak, Gubernur Hindia Belanda membentuk persekutuan orang percaya pada 11 Desember 1931 dengan nama Pasamuwan-pasamuwan Kristen Djawi Wetan dengan pengakuan resmi Besluit No. 53 atau staatblad No. 372 tanggal 27 Juni 1932. Besluit itu menyebut persekutuan dengan nama Oost Javaansche Kerk, yang berubah nama menjadi Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Deklarasi GKJW sebagai gereja dilakukan dengan melalui pendirian suatu Majelis Agung (MA) yang merupakan upaya mempersatukan 29 raad pasamuwan alit (majelis jemaat) di seluruh Jawa Timur. MA merupakan suatu wadah sinodial yang telah ditawarkan oleh persekutuan pekabar Injil dari Belanda, yang selama hampir 100 tahun menjadi pengampu jemaat-jemaat Kristen Jawa tersebut. Saat itu, ada dua kelompok pekabar Injil yang bekerja di antara orang Kristen di Jawa Timur, yakni Nederlandsche Zending-genootschap (NZG) dan suatu panitia pekabar bernama Java Comite.Dekrit pengurus pusat NZG ditandatangani Konsul Jenderal Th. Boetzelaer van Dubbeldam, tertanggal i1 Oktober 1931, ditawarkan pendirian suatu gereja bagi orang Jawa Timur sebagai tindakan strategis dalam pekabaran Injil di Jawa. Bila dicermati, pendirian MA merupakan suatu siasat NZG yang saat itu menjadi pengampu berbagai jemaat Kristen bumiputra di Jawa Timur. Tekanan sosial politik yang muncul akibat tumbuhnya kesadaran nasionalisme Indonesia, seiring dengan mengerucutnya tekanan terhadap kristianisme di Nusantara, menghantar dibentuknya MA.

Pendirian MA sebagai wujud kesatuan sinodial, tak lepas dari usulan Dr. H. Kraemer, utusan Nederlands Hervormd Kerk (NHK) Belanda yang bekerja untuk NZG, guna mewujudkan suatu jemaat kristiani berbasis kewilayahan di Hindia Belanda sebagai sebuah gerakan kultur sekaligus politik. Bahkan selanjutnya MA GKJW didaftarkan ke Mahkamah Hindia Belanda sebagai suatu recht-persoon (badan hukum), sehingga memiliki kewenangan mengelola aset dan bertindak sebagai organisasi yang diakui pemerintah. Tampak, pendirian MA merupakan suatu siasat kebudayaan yang berada dalam koridor dinamika politik Hindia Belanda.

Sidang perdana MA diadakan keesokan hari setelah deklarasi, bertempat di gedung gereja Jemaat Mojowarno, Sabtu 12 Desember 1931. Mewakili NZG hadir C.W. Nortier (Ketua MA), C. van Engelen, S.A. van Hoogestraten dan J. Wiegers. Wakil umat Kristen Jawa Noeroso, Sriadi, Pdt. Driyo Mestoko, Guru Injil (GI) Tartib Eprayim, Poertjojo Gadroen, Jaret Parang, Raden Poeger, Raden Wiriodarmo dan kawan-kawan. Anggota sidang yang hadir pagi itu, sebenarnya bukan muka baru. Mereka adalah aktifis yang sejak lama berkutat dalam pergerakan Jemaat Kristen Jawa. Sejak Rencono Budiyo (berdiri 1898), Mardi Pracoyo (1912), Perserikatan Kaum Kristen (1918), hingga Panitia Pitoyo (1924) yang mempelopori pemandirian Jemaat Mojowarno, mereka sibuk mendorong pemandirian GKJW.

Sebelum sidang dibuka, seorang mantri guru dari Mojowarno, Soetikno, menyerahkan sebuah palu kayu jati buatannya sendiri. Palu itu bercandra sengkala “manjalmaning resi wadaning Kristus” yang ditranslasi ke dalam angka akan berbunyi 1931, yang merupakan tahun persidangan. Sejak saat itu menjadi tradisi GKJW, palu bikinan Soetikno hanya dipakai pada sidang MA saja.

Sebagai tema sidang diambil Pilipi 4:4-9, dengan penekanan pada ayat 6 yang berbunyi, Janganlah kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Persidangan dipimpin Ketua MA pertama, yakni Dr. C.W. Nortier. Sekretaris pertama MA daur dipilih melalui pemungutan suara. Calon terpilih adalah Raden Poeger (10 suara), melewati Moeljodihardjo (9 suara) dan Kentjono (5 suara). Pemilihan dilanjutkan dengan Bendahara MA, di mana terpilih seorang mantri guru, Poertjojo Gadroen (12 suara).         

Semasa penjajahan Jepang di Indonesia (1942-1945), timbul perpecahan di dalam tubuh GKJW yang disebabkan oleh proses politik dari praktik kolonial Jepang. GKJW mendapat sorotan saat itu karena dipandang sebagai kelompok orang Jawa dengan afiliasi ke Belanda. Sejumlah jemaat Kristen Jawa mengalami kesulitan untuk beribadah dan setelah penyiksaan terhadap sejumlah orang Tionghoa dan Kristen di Keresidenan Besuki, muncul desakan dari sejumlah tokoh Kristen Jawa untuk mencari perlindungan kepada Pemerintah Jajahan Jepang di Indonesia.

Tahun 1943 berdiri Raad Pasamuwan Kristen (RPK) di Jawa Timur untuk memenuhi maksud tersebut. Terjadi dualisme, karena baik RPK maupun MA GKJW sama-sama memiliki pengikut di sejumlah jemaat Kristen Jawa Timur. Dualisme ini tidak berkepanjangan, karena tokoh-tokoh Kristen Jawa banyak ditangkap menjelang akhir Perang Dunia ke II, antara lain: Pdt. Driyo Mestoko, Pdt. Tasdik, DR. B.M. Schuurman, Yeruboham Mattheus  dan lain-lain. Akibatnya baik RPK maupun MA GKJW sama-sama berada dalam keadaan vakum hingga Jepang akhirnya menyerah 14 Agustus 1945.

Melalui Persidangan MA GKJW di Jemaat Mojowarno, tanggal 4-6 Agustus 1946 dilakukan rekonsiliasi untuk mempertemukan kedua kubu yang pernah sama-sama memimpin umat Kristen Jawa Timur. Rekonsiliasi tadi ditandai sebuah ibadah perjamuan kudus pada tanggal 5 Agustus yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Pembangunan (atau lebih tepat Kebangunan) GKJW.

GKJW juga masih menggunakan Sahadat Kalih Welas dalam Kebaktian Minggu/Umum bila Bahasa Jawa  digunakan sebagai bahasa pengantar. Sahadat Kalih Welas adalah Pengakuan Iman Rasuli dalam Bahasa Jawa . Gereja yang berdenominasi Reformed ini melayani di Pulau Jawa.

 

21

Gereja Kristen Indonesia (GKI)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 26 Agustus 1988
Telepon: (021) 4585.0904 | Fax: (021) 4585.2899
e-Mail:  synodgki@indo.net.id
website:

 

Profil Singkat

GKI dapat dikatakan sebagai sebuah “gereja baru” di Indonesia sebagai buah penyatuan dari GKI Jawa Barat, GKI Jawa Tengah, dan GKI Jawa Timur. Ketiga Sinode GKI tersebut sudah menjadi anggota DGI (sekarang PGI) sejak DGI berdiri 25 Mei 1950.Berdirinya GKI melewati perjalanan sejarah yang panjang, dimulai dengan berdirinya ketiga gereja yang menyatu itu sebagai gereja yang berdiri sendiri-sendiri. Pada 22 Februari 1934 di Jawa Timur berdirilah gereja yang kemudian disebut GKI Jawa Timur. Demikian juga, pada 24 Maret 1940 di Jawa Barat berdirilah gereja yang kemudian disebut GKI Jawa Barat, dan pada 8 Agustus 1945 di Jawa Tengah berdirilah gereja yang kemudian disebut GKI Jawa Tengah.Awalnya, ketiga gereja ini dikenal dengan nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yaitu gereja berbahasa Hokian. Gereja THKTKH di Jawa Tengah dan Jawa Timur didirikan oleh Zending dari Belanda (Nederlandsche Zendings Vereeniging) sedangkan di Jawa Barat diawali oleh penemuan sebuah Alkitab berbahasa Melayu oleh Bapak Ang Boen Swie di 1858.Nama Gereja Kristen Indonesia sendiri mulai digunakan pada 1950. Penetapan nama ini menunjukkan kesadaran GKI untuk dapat menjalankan misi dan panggilannya secara nasional, tidak lagi terikat pada suku tertentu saja.

Sejak 27 Maret 1962 ketiga gereja itu memulai upaya menggalang kebersamaan untuk mewujudkan penyatuan GKI, dalam wadah Sinode Am GKI. Sesudah melewati perjalanan hampir tiga dekade, 26 Agustus 1988 ketiga gereja tersebut diikrarkan menjadi satu gereja. GKI berdenominasi Reformed dan memiliki wilayah pelayanan di Jawa, Bali, Lampung dan Batam.

22

Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 30 Mei 1940
Telepon: (0295) 385.337 | Fax: 0295-384.280
e-Mail:  sinodegitj@gmail.com
website:

 

Profil Singkat

GITJ adalah kelompok Gereja Kristen Protestan di Indonesia  yang berpusat di Pati, Jawa Tengah. Wilayah pelayanannya cukup luas yakni meliputi sebagian Jawa dan beberapa daerah transmigran di Sumatera.GITJ berdiri 30 Mei 1940 dari hasil penginjilan yang dilakukan oleh Pieter Jantz dari DZV-Belanda, yang dibantu oleh seorang penginjil pribumi bernama Tunggul Wulung. Semula GITJ hanya berada di sekitar wilayah Gunung Muria, tetapi kemudian berkembang ke Semarang, Salatiga, Yogyakarta, dan Sumatera. GITJ yang berdenominasi Reformed ini bergabung dengan PGI 25 Mei 1950.

 

23

Gereja Kristen Jawa (GKJ)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 17 Februari 1931
Telepon: (0298) 326.684, 326.351
Fax: (0298) 323.985
e-Mail:  sinodegkj@salatiga.wasantara.net.id;
sinodegkj@telkom.net
website: www.gkj.or.id

 

Profil Singkat

GKJ didirikan pada tanggal 17 Februari 1931 adalah sebuah ikatan kebersamaan Gereja-gereja Kristen Jawa yang seluruhnya berjumlah 307 Gereja yang terhimpun dalam 32 klasis dan tersebar di 6 provinsi di Pulau Jawa yaitu Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Diawali dari sembilan orang dari kalangan terbawah masyarakat Jawa dengan profesi buruh miskin tukang mbatik yang menjadi pembantu Ny. Van Oostrom Phillips di Banyumas, nekad berjalan kaki dalam rombongan kecil menerabas desa-desa dan pegunungan menuju ke Semarang  (sejauh sekitar 300 Km) untuk sekedar mendapatkan tanda baptis dari Zendeling NZG W. Hoezoo pada 10 Oktober 1858karena pemberian tanda babtis di karesidenan Banyumas oleh zendeling tersebut dilarang oleh pemerintah kolonial setempat. Mereka inilah cikal bakal pertama gereja GKJ; GKJ tumbuh pertama kali di kawasan Banyumas.

Setelah itu, dua lelaki dan tiga orang perempuan pekerja miskin batur (pembantu rumah tangga) Ny. Christina Petronella Phillips Stevens di Ambal, Purworejo yang menerima tanda baptis mereka di Gereja Indische Kerk Purworejo pada 27 Desember 1860. Itulah cikal-bakal dari yang disebut dan menamakan diri Gereja-gereja Kristen Jawa adalah golongan akar rumput lagi pula buta huruf, keluarga para pembantu rumah tangga dan buruh membatik, anggota masyarakat kelas bawah Boemipoetera zaman kolonial yang paling rendah status sosialnya.

Tumbuhnya kelompok Kristen awal ini segera disusul oleh tumbuhnya kelompok lain hasil pekabaran injil Nederlandche Gereformeerde Zendingvereniging (NGZV) yang mulai bekerja di Jawa Tengah sejak 1865 di Tegal (Muaratuwa) dan Purbalingga (plus Bobotsari dan Bojong), yang nantinya diambil-alih oleh Zending Gereformeerd Kerken (ZGK) sejak tahun 1896 dan dikembangkan dengan pusat-pusat penginjilan dari kota-kota Purwerejo–Temon, Kebumen, Yogyakarta, Surakarta, Banyumas-Purbalingga serta Magelang, Temanggung, semuanya di kawasan Jawa Tengah  Selatan (Jawa Tengah Utara menjadi ladang pekabaran Injil Salatiga  Zending).

Sejak ini muncullah puluhan pepanthan di sekeliling tiap-tiap pusat penginjilan di luar kelompok yang lama maupun kelompok “Wong Kristen Merdhiko”. Namun yang jelas, hampir semua warga gereja Jawa ini berlatar belakang petani miskin dan buta aksara. Hanya berkat jasa pelayanan sekolah dan rumah sakit yang diselenggarakan zending, secara lambat namun pasti generasi kedua warga Gereja Jawa bergeser, mereka mulai melek huruf, sebagai akibat pendidikan di sekolah maupun di rumah sakit zending sebagian generasi kedua ini beralih profesi menjadi guru dan perawat serta pegawai berbagai bidang pelayanan masyarakat termasuk di pemerintahan desa. Dari generasi kedua inilah kemudian lahir generasi ketiga warga geraja Jawa pra dan pasca kemerdekaan yang educated minded, yang dizaman kolonial didorong dan difasilitasi untuk belajar tidak hanya di “Volkschool” dan “Vervolgschool” namun juga di “Schakelschool”, HIS, MULO, bahkan “Kweekschool” dan HIK.

Jelasnya pertumbuhan gereja Jawa (di luar “Golongane Wong Kristen “Jowo” kang Merdhiko” yang masih belum bergabung dalam asuhan zending), apalagi sejak tahun 1900, sangat ditentukan oleh metoda dan realisasi Pekabaran Injl Zending ZGK yang tergelincir kepada kenyataan yang menyebabkan gereja Jawa tumbuh dalam ketergantungan yang akut pada para Pendeta Missi dan zendingnya.

Pendewasaan pepanthan Gereja-gereja Jawa pertama kali terjadi atas gereja Purworejo (4 Februari 1900) tak lama kemudian disusul pepanthan Temon. Namun pendewasaan ini ternyata lebih bersifat pamer kebisaan kepada Golongane Wong Kristen “Jowo” kang Merdhiko pimpinan Kyai Sadrach untuk membuktikan bahwa zending tidak bermaksud lain kecuali mendirikan gereja-gereja Jawa dengan pendeta-pendeta Jawa. Tanpa topangan zending, pendewasaan kedua gereja ini hanyalah ketergesaan semata. Mungkin baru pada pendewasaan kelompok Glonggong – Kebumen (3 November 1911) dan kelompok Gondokusuman Yogyakarta (23 November 1913).

Setelah berjalan 26 tahun hanya Gereja Gondokusuman yang pertama kali siap memanggil pendeta atas diri Ds. Ponidi Sopater pada tahun 1926 dari antara 17 gereja Jawa yang sudah didewasakan oleh zending yaitu Purworejo, Temon, Glonggong, Gondokusuman, Solo, Klaten, Tungkak, Patalan, Candisewu, Magelang, Kesingi, Palihan, Kebumen, Grujugan, Purbalingga, Grendeng dan Adireja.

Gereja-gereja ini menggeliat dibawah pimpinan Guru-guru Injil didikan “Opleiding School van de Helper bij de Dienst Woords” (Sekolah bagi Pembantu-pembantu Pada pelayanan Firman Tuhan/Sekolah Guru Injil) Yogyakarta dibantu serta oleh guru-guru sekolah zending dan mantri jururawat rumah sakit dan poliklinik zending. Merekalah para penumbuh dan pemimpin gereja Jawa sesungguhnya, namun di bidang dana dan ajaran ketergantungan gereja-gereja ini pada zending ZGK tidak bisa dipungkiri.

Pada tanggal 17-18 Februari 1931 gereja-gereja Jawa yang saat itu menamakan diri “Pesamoewan Kristen “Gereformeerd” ing Tanah Djawi Tengah sisih Kidoel”, yang masing-masing mengelompok dalam 5 klasis bersinode pertama di Kebumen, ini menjadi tonggak pertama persidangan sinode Gereja-gereja Jawa Tengah Selatan untuk disusul dengan sinode-sinode berikutnya, walaupun peran serta para Pendeta Missioner ZGK masih cukup besar untuk menuntun para pemimpin gereja Jawa berjalan menapaki kedewasaannya yang masih rapuh ini.

Kedewasaan Gereja-Gereja Kristen Djawa Tengah Selatan (sebutan yang akhirnya sering dipakai) menemukan kesempatan ketika gereja-gereja Jawa harus berjuang menegakkan kehidupannya sendiri saat para Pendeta Missi ditawan oleh pemerintah pendudukan Jepang sejak 1943 dan hubungan dengan gereja Eropa terputus. Saat ini era kemandirian gereja terlihat akan betul-betul mulai dapat dijalani. Namun ternyata gereja Jawa masih harus bersabar. Walaupun Gereja-gereja Kristen Jawa Tengah Selatan berhasil menggandeng saudara-saudaranya seperti Gereja Kristen Jawi Wetan, Gereja Kristen Jawa Tengah Utara – Parepatan Agung, Gereja Kristen Jawa – Sekitar Muria, Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee Jawa Tengah serta Gereja Kristen Pasundan Jawa Barat  dalam lembaga Dewan Permoesjawaratan Geredja-geredja Protestant di Indonesia (DPG di Indonesia) yang dibentuk tahun 1946 di Yogyakarta; dan lewat organisasi ini mereka mencanangkan euforia kemerdekaan dengan tidak mau lagi menerima bekas zending-zendingnya, namun keinginan ini harus mengalami sedikit perubahan. Gereformeerde Kerken in Nederland (GKN) dan Nederlandsch Hervormde Kerk (NHK) yang mewakili gereja pengutus masih menghendaki paling tidak adanya kerjasama dalam pekabaran Injil di Indonesia.

Basoeki Probowinoto selaku utusan Geredja-geredja Kristen Djawa Tengah Selatan yang menjadi motor DPG ketika hadir sebagai utusan Gereja Jawa dalam Sinode GKN di Eindhoven tahun 1948 harus bersedia melangkah surut karena dia diingatkan oleh seniornya (S.U.Zuidema) bahwa jika gereja-gereja Gereformeerd Belanda tidak lagi diberi peran dalam pekabaran Injil sama saja dengan mematikan mereka karena dalam pengertian mereka tidak ada gereja tanpa pekabaran Injil, yang berarti mereka berhenti sebagai gereja missioner. Terpaksa Gereja Jawa harus menerima konsep bekerjasama dengan bekas zendingnya lewat Regionaal Acccord dan Algemene Accord yang ditandatangi di Belanda tahun 1948.

Kerjasama ini berlangsung mulai tahun 1950-an saat Geredja-geredja Kristen Djawa Tengah Selatan disatukan dengan Geredja Kristen Djawa Tengah Utara dalam Sinode Persatuan di Salatiga 5 – 6 Juli 1949, dan sejak itu bernama Geredja-geredja Kristen Djawa Tengah (GKDT). Akibatnya sampai tahun 1970 kedewasaan gereja Jawa kembali terbelenggu dan dikerdilkan dibawah supremasi kucuran dana dan tenaga dari partner gereja Eropa. Basoeki Probowinoto sadar akan bahaya ini dan untuk itu pada tahun 1955 dia mengusulkan terobosan baru yang terkenal sebagai Nota Probowinoto, namun kenyamanan yang terlanjur dibentuk lewat kucuran dana yang berlimpah itu sulit untuk diubah. Baru sesudah secara tiba-tiba gereja partner ini menyatakan tidak lagi melanjutkan bekerjasama dalam Pekabaran Injil, justru inilah saat gereja Jawa (sejak tahun 1956 berubah nama menjadi Geredja-geredja Kristen Djawa/GKD) mendapat kesempatan menjalani kedewasaannya yang sesungguhnya dan harus dewasa dalam segalanya.

Sesudah memproses gereja-gereja Jawa yang tumbuh dan dikembangkan di antara para para transmigran di Sumatra (sejak 1936) menjadi Sinode tersendiri dengan nama Gereja-gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan – GKSBS, Gereja-gereja Kristen Jawa yang tersebar di enam propinsi di pulau Jawa (Banten, DKI-Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur) kini berkembang pesat, pada tahun 2011 menjadi 307 gereja, berhimpun dalam 32 Klasis, dengan jumlah warga sekitar +218.998 orang, dari segala lapisan masyarakat, baik dari kalangan lapisan rendah seperti petani kecil, buruh pabrik, pedagang candak- kulak, lapisan menengah seperti pegawai, pengusaha maupun wiraswasta sampai dengan lapisan tinggi pengusaha sukses dan pejabat tinggi negara, tersebar di berbagai tempat, di kota dan di desa, dengan dilayani 307 pendeta jemaat dan 16 pendeta pelayanan khusus. GKJ yang berdenominasi Reformed dan melayani di Pulau Jawa.

24

Gereja Kristen Pasundan (GKP)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 14 November 1934
Telepon: (022) 520.8723, 7080.2012
Fax: (022)-520.5698
e-Mail:  sinode@gkp.or.id
website: www.gkp.or.id

 

Profil Singkat

Kehadiran GKP tidak terlepas dari adanya Lembaga Pekabaran Injil Genootschap voor Inen Uitwendige Zending te Batavia (GIUZ) yang didirikan di Jakarta pada 1851 oleh beberapa orang Eropa dan beberapa Lembaga Pekabaran Injil. Lembaga ini bekerjasama antara lain dengan Lembaga Pekabaran Injil Zendeling Werkman di negeri Belanda. Diantara tokoh-tokoh pendiri GIUZ adalah Mr.F.L.Anthing dan Pdt.E.W.King. Mr.F.L.Anthing adalah orang pertama yang melakukan Pekabaran Injil kepada penduduk asli di Jawa Barat, dengan prinsip kerja: “Mengabarkan Injil oleh Penginjil Bumiputra”.

Mr.F.L.Anthing berhasil mendirikan Pos-pos Pekabaran Injil di Jakarta dan sekitarnya, yang seringkali disebut sebagai “Jemaat-jemaat Anthing”, antara lain Kampung Sawah, Pondok Melati, Gunung Putri, Cigelam, Cikuya (Banten), Tanah Tinggi, Cakung dan Ciater (dekat Serpong).

Selanjutnya, Zendeling Aolf Muhinickel dikirim oleh Zendeling Werkman ke Jakarta dan ditampung oleh GIUZ. Beliau bekerja di Cikuya, Banten tahun 1854-1859 sebagai Guru Sekolah Swasta dan diberi keleluasaan untuk mengabarkan Injil kepada penduduk pribumi.

Pada 11 Juli 1855 dua orang pribumi dari daerah Cikuya, yakni Minggu dan Sarma menerima Baptisan Kudus oleh Pdt.Bierhans di Jakarta. Pelayanan Baptisan Kudus dilakukan di Jakarta karena Muhinickel tidak mempunyai wewenang untuk melakukan pelayanan tersebut. (Dikemudian hari, GKP meresmikan dan memperingati Tanggal 11 Juli sebagai Hari Pekabaran Injil GKP). Setahun kemudian, tepatnya 7 Mei 1856, delapan orang lagi penduduk pribumi Cikuya-Banten menerima pelayanan Baptisan Kudus.

Pada 1862, LPI pertama, Nederlandsche Zendelings Vereeniging (NZV) mulai mengirimkan para Zendelingnya ke Jawa Barat. (NZV didirikan di Rotterdam tanggal 2 Desember 1858 oleh orang-orang dari Gereja Hervormd). Rombongan Zendeling NZV yang pertama yakni C.J.Albers, D.J.v.d.Linden dan G.J.Grashuis tiba di Jakarta. Mereka melanjutkan perjalanan ke Bandung bulan Maret 1863. Tetapi mereka harus menunggu 2 tahun baru kemudian memperoleh ijin kerja dari Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Belanda saat itu.

Karena belum memperoleh ijin kerja, Zendeling D.J.v.d. Linden pindah ke Cirebon, sedangkan Zendeling C.J.Albers pindah ke Cianjur dan mulai melakukan Pekabaran Injil di daerah itu. Sementara Pdt.E.W.King mendirikan Jemaat Rehoboth di Jatinegara-Jakarta. Tahun 1885 jemaat di Cikuya-Banten yang dibina Mr.F.L.Anthing dan “Jemaat-jemaat Anthing” lainnya serta jemaat peninggalan pelayanan Pdt.E.W.King dimasukkan dalam lingkup pelayanan NZV. Sejak tahun ini pelayanan Pekabaran Injil dikalangan masyarakat di Jawa Barat dilakukan oleh NZV dibantu oleh para Penginjil pribumi. Beberapa Zending yang pernah melayani di wilayah Jawa Barat antara lain A. Geedink (1870), P.N.Gijsman di SUkabumi (1872) dan J.Verhoeven di Majalengka dan sekitarnya (1876).

GKP menjadi gereja yang berdiri sendiri pada Rabu, 14 November 1934. Dr. N.A.C Slotemaker de Bruine, konsul Zending yang bertindak mewakili pimpinan NZV di negeri Belanda dalam suatu upacara di Gedung Gereja Jemaat Bandung membacakan piagam penyerahan sekaligus melantik RAD AGENG (Majelis Besar) sebagai badan pimpinan semua jemaat Kristen di Jawa Barat. Pada hari itu juga, diadakan Sidang pertama Rad Ageng terpilih sebagai Ketua Pengurus Harian Rad Ageng ialah Zendeling J.Iken dari NZV, Penulis D. Abednego dan Tan Goan Tjong sebagai Bendahara.

Sesudah menjadi Gereja yang mandiri, yang bernama Gereja Kristen Pasundan (GKP), maka ditahbiskan sejumlah Guru Injil Pribumi menjadi Pendeta. Berdiri Gereja Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee (sekarang dikenal sebagai Gereja Kristen Indonesia -GKI- Jawa Barat. Dimulai di Cirebon tahun 1863 dan kemudian dibanyak jemaat. Jemaat-jemaat Pasundan merupakan jemaat campuran orang-orang Sunda, Cina dan suku-suku lainnya. Mulai tahun 1930 berangsur-angsur jemaat-jemaat keturunan Cina berdiri disamping jemaat-jemaat Pasundan, tetapi masih tetap tergabung dalam GKP ketika dinyatakan berdiri sendiri tahun 1934).

Kepemimpinan GKP sejak 1942 mulai dipegang sepenuhnya oleh orang-orang pribumi (Bumiputra) karena dalam masa pendudukan Jepang para Zendeling Belanda tidak lagi dapat melakukan kegiatannya. Pengurus Harian Rad Ageng saat itu, terdiri: Ketua Pdt. Aniroen, J.Elia sebagai Sekretaris, Martinus Abednego sebagai Bendahara dan Pdt. Kasdo Tjokrosiswondo sebagai anggota. Pada tahun ini pula NZV menyerahkan pekerjaan pelayanan dan semua harta milik seperti Sekolah-sekolah dan Rumah-rumah sakit kepada GKP.

Pada masa transisi (1945-1949), setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), dalam keberadaan RI yang masih muda usia, terjadi pengacauan terhadap jemaat-jemaat GKP, antara lain di Cigelam, Gunung Putri dan Kampung Sawah. Banyak anggota jemaat yang terpaksa mengungsi atau pindah ke tempat-tempat lainnya. Dalam masa itu, Pdt. J.v.d.Weg yang sudah dibebaskan dari Kamp tawanan tentara Jepang pergi kembali ke Juntikebon, dimana sebelum pendudukan tentara Jepang ia sudah bekerja disana. Setibanya di Juntikebon, dia malah dibunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kedudukan Pengurus Harian Darurat GKP dipindahkan ke Garut sehubungan dengan gencarnya pertempuran antara Pasukan RI dengan pasukan Belanda di Bandung yang menyebabkan pengungsian besar-besaran pada penduduk kota itu. Mei 1946 GKP ikut mengambil bagian dalam upaya pembentukan Dewan Permusyawaratan Gereja-gereja di Jawa (DPG) yang diadakan di Yogjakarta. DPG merupakan wadah oikumenis 6 gereja di Pulau Jawa.

Persidangan VIII Rad Ageng di Bandung memutuskan istilah Rad Ageng diubah menjadi SINODE, dan istilah pengurus harian diubah menjadi Badan Pekerja sehingga nama lengkap pengurus hariannya menjadi Badan Pekerja Sinode GKP. GKP juga mengambil bagian dalam Konferensi pembentukan dan menjadi anggota Gereja-gereja di Indonesia (DGI), yang kini dikenal dengan nama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada 25 Mei 1950.

NZV diintegrasikan ke dalam Nederlandse Hervormde Kerk (Gereja Hervormd Belanda). Sejak itu GKP berhubungan dengan NHK melalui Dewan Pekabaran Injil NHK di Oegstgeest, negeri Belanda. Pada pemberontakan DI/TII, beberapa jemaat GKP di pedesaan mengalami gangguan dan yang paling parah dialami oleh jemaat di Tamiyang, dimana Pdt. Usman Sarin ditembak mati oleh gerombolan pengacau pada 1951. Sidang Sinode X GKP di Bandung mensahkan Tata Gereja GKP sebagai pengganti Tata Gereja yang diadakan sejak 1934.

Dalam gerakan oikoumene internasional GKP terlibat aktif dengan menjadi anggota dari Dewan gereja-gereja di Asia Timur (East Asian Christian Conference), yang dikemudian hari berubah menjadi Christian Conference of Asia (CCA), menjadi anggota Dewan gereja-gereja seDunia (World Council of Churches), menjadi anggota Aliansi sedunia Gereja-gereja Reformasi (World Alliance of Reformed Churches – WARC) dan kemudian menjalin hubungan kerjasama dengan Presbyterian Church of New Zealand.

Keseluruhan jumlah anggota jemaat GKP diperkirakan mencapai 30.000 jiwa, dengan 60 orang pendeta yang melayani, terdiri atas 42 orang pendeta jemaat, 8 orang pendeta dengan bidang khusus, dan 10 orang pendeta emeritus. Sidang Sinode ke XXVII GKP yang berlangsung pada 2-5 Juli 2012 di Hotel Grand Pesona, Cimande, Sukabumi, Bogor, telah memilih Pdt. Pdt. Supriatno dan Pdt. Paulus Wijono sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum Sinode GPK Periode 2012-2017.

Gereja yang bedenominasi Reformed ini memiliki wilayah pelayanan di Jawa Bagian Barat (Provinsi Jawa Barat, DKI Jaya dan Provinsi Banten).

 

25

Gereja Kristus (GK)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 12 Jun 1939
Telepon: 911.0536
Fax: 021-563.4118
e-Mail:  sinodegk@cbn.net.id;  sinodegerejakristus@ymail.com
website  :

 

Profil Singkat

GK adalah salah satu organisasi Gereja Kristen Protestan di Indonesia yang beraliran Presbiterian. GK memiliki gereja yang tersebar di 4 provinsi di Indonesia. Berawal dari Misi Penginjilan yang dijalankan oleh Methodist Episcopal Church Amerika ke Batavia pada tahun 1905 dengan mengutus J.R.Denyes dan B.F.West untuk menjajaki penginjilan kepada orang-orang pribumi di Pulau Jawa. Mereka sebenarnya tidak ingin memfokuskan penginjilan kepada orang-orang Tionghoa saja tetapi menjadikan orang Tinghoa sebagai batu loncatan untuk mencapai orang pribumi di Pulau Jawa.

Pada tahun 1910 Methodist Mission mengutus Worthington dan Baughman untuk merintis pekerjaan penginjilan di Batavia (kota). Hasil usaha mereka merupakan permulaan atau cikal bakal jemaat Gereja Kristus di kemudian hari. Walaupun dalam sejarah Methodist tidak tercatat dengan jelas, bahwa cikal bakal jemaat Gereja Kristus merupakan hasil dari pekerjaan Misi yang dijalankannya, namun kita dapat melihat bahwa pekerjaan sekecil apapun yang dipersembahkan untuk Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Hal itu terbukti dengan bertumbuh dan berkembangnya Gereja Kristus sampai saat ini.

GK memiliki wilayah pelayanan di Provinsi Jawa barat, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten.

 

26

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 31 Oktober 1948
Telepon: (021) 384.2895, 384.9917
Fax: (021) 385.9250
e-Mail:  ms.gpib@gpib.org
website: www.gpib.org

 

Profil Singkat

GPIB didirikan pada 31 Oktober 1948, yang pada waktu itu bernama  De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie berdasarkan Tata-Gereja dan Peraturan-Gereja yang dipersembahkan oleh proto-Sinode kepada Badan Pekerja Am (Algemene Moderamen) Gereja Protestan Indonesia.Teologi Gereja ini didasarkan pada ajaran Reformasi dari Yohanes Calvin, seorang Reformator Perancis yang belakangan pindah ke Jenewa dan memimpin gereja di sana. Ketika pertama kali terbentuk, GPIB mempunyai tujuh Klasis (kini disebut Mupel atau Musyawarah Pelayanan) dengan 53 jemaat.Klasis Jabar meliputi 9 jemaat: Jakarta, Tanjung Priok, Jatinegara, Depok, Bogor, Cimahi, Bandung, Cirebon, dan Sukabumi. Klasis Jateng meliputi 6 jemaat: Semarang, Magelang, Yogyakarta, Cilacap, Nusakambangan, dan Surakarta. Klasis Jatim meliputi 12 jemaat: Madiun, Kediri, Madura, Surabaya, Mojokerto, Malang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Singaraja, Denpasar, dan Mataram.Selain itu, Klasis Sumatera meliputi 7 jemaat: Sabang, Kutaraja, Medan, Pematang Siantar, Padang, Telukbayur dan Palembang. Klasis Bangka dan Riau meliputi 4 jemaat: Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Muntok dan Tanjungpandan. Lalu Klasis Kalimantan meliputi 8 jemaat: Singkawang, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Sanga-sanga dan Kotabaru serta Klasis Sulawesi meliputi 7 jemaat: Makassar, Pare-pare, Watansopeng, Raha, Palopo, Bone dan Malino.Sekarang ini GPIB memiliki 24 Musyawarah Pelayanan, yakni Mupel Sumatera Utara-Aceh (Sumut Aceh), Mupel Sumbaridar (Sumatera Barat-Riau Daratan), Mupel Kepri (Kepulauan Riau), Mupel Sumsel-Jambi (Sumatera Selatan-Jambi), Mupel Babel (Bangka Belitung), Mupel Lampung, Mupel Jakarta Pusat, Mupel Jakarta Utara, Mupel Jakarta Barat, Mupel Jakarta Timur, Mupel Jakarta Selatan, Mupel Bekasi, Mupel Banten, Mupel Jawa Barat I, Mupel Jawa Barat II, Mupel Jatengyo (Jawa Tengah-Yogyakarta), Mupel Jatim (Jawa Timur), Mupel Bali-NTB (Bali-Nusa Tenggara Barat), Mupel Kalbar (Kalimantan Barat), Mupel Kaltengsel (Kalimantan Tengah-Kalimantan Selatan), Mupel Kaltim I, Mupel Kaltim II, Mupel Kaltim III dan Mupel Sulselbara (Sulawesi Selatan-Sulawesi Tenggara-Sulawesi Barat).Pimpinan GPIB berada di tangan Majelis Sinode, yang dibantu oleh Pelayanan Kategorial (Pelkat), yaitu Pelkat Pelayanan Anak (PA), Pelkat Persekutuan Teruna (PT), Pelkat Gerakan Pemuda (GP), Pelkat Persekutuan Kaum Perempuan (PKP), Pelkat Persekutuan Kaum Bapak (PKB), Pelkat Persekutuan Kaum Lanjut Usia (PKLU) dan beberapa Departemen, seperti Departemen Teologi, Departemen Litbang (Penelitian dan Pengembangan) serta Departemen Pelkes (Pelayanan dan Kesaksian).Selain itu GPIB mempunyai sejumlah yayasan untuk melaksanakan pelbagai program pelayanannya, antara lain Yayasan Pendidikan Kristen GPIB, Yayasan Diakonia GPIB, Yayasan Dana Pensiun GPIB dan beberapa Yayasan yang dibawahi oleh Mupel maupun Jemaat.GPIB kini merupakan salah satu Gereja Protestan terbesar di Indonesia, dengan anggota-anggotanya yang banyak berasal dari Indonesia Timur. Namun dalam perkembangannya sekarang, anggota-anggota Gereja ini sangat berbaur dan dapat dikatakan hampir setiap suku bangsa di Indonesia terwakili di Gereja ini. Program-program pelayanannya mencakup pendidikan, pelayanan kesehatan, pembangunan masyarakat desa, dan lainnya. GPIB juga aktif di dalam dialog antar-iman dengan umat beragama lainnya dan kegiatan penerbitan untuk kebutuhan internal dan eksternal.

Kantor Sinode GPIB terletak di Jalan Medan Merdeka Timur 10,Gambir Jakarta. Saat ini Sinode GPIB memiliki 303 jemaat.

GPIB adalah anggota GPI, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Dewan Gereja-Gereja Asia (CCA), Aliansi Gereja-Gereja Reformasi se-Dunia (WARC), dan Dewan gereja-Gereja se-Dunia (WCC). GPIB menjadi anggota dari PGI sejak tanggal 25 Mei 1950. GPIB merupakan bagian Gereja Protestan Indonesia yang berdiri sendiri sebagaimana disetujui dan diputuskan melalui Surat Keputusan Wakil Tinggi Kerajaan di Indonesia tertanggal 1 Desember 1948 No. 2.

GPIB berdenominasi Reformeed dan memiliki wilayah pelayanan di Indonesia dan juga di manca negara.

 

27

Gereja Protestan di Indonesia (GPI)

Menjadi Anggota PGI: 25 Mei 1950
Berdiri: 6 Juni 1927
Telepon: (021) 351.9003
Fax: (021) 3483.0224
e-Mail:  BPHGPI@telkom.net
website: www.sejarah-gpi.org

 

Profil Singkat

GPI lahir di Ambon, Maluku pada tahun 1605, dengan nama De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie, atau lebih dikenal dengan Indische Kerk. Tetapi pada tahun 1619 kantor pusatnya dipindahkan ke Batavia seturut dengan berpindahnya kedudukan Gubernur Jenderal ke Batavia. Gereja Protestan ini mewarisi jemaat-jemaat yang ditinggalkan oleh misi Portugis dan dikemudian hari karena pekerjaan misi maka pelayanannya semakin meluas. Wilayahnya meliputi beberapa daerah antara lain: maluku, Minahasa, Kepulauan Sunda Kecil  (sekarang: Nusa Tenggara Timur, termasuk Pulau Sumbawa), Jawa, Sumatera, dan lainnya.

Berhubung wilayah pelayanan De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie itu begitu luas dan di beberapa daerah pelayanan mulai timbul persoalan maka pada pertemuan para pendeta tahun 1927 dihasilkan sikap bahwa keesaan gereja tetap dipertahankan tetapi wilayah-wilayah yang memiliki kekhususan diberi kemandirian yang lebih besar untuk mengatur pelayanannya sendiri. Maka pada Rapat Besar tahun 1933, jemaat-jemaat di Minahasa, Maluku, dan Timor diberikan keleluasan untuk menjadi gereja mandiri dalam persekutuan De Protestantsche Kerk in Nederlandsch–Indie.

Berdasarkan keputusan itu maka pada tahun 1934, jemaat-jemaat di daerah Minahasa dimekarkan menjadi gereja mandiri dengan nama: Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Satu tahun kemudian yaitu pada tahun 1935, jemaat-jemaat di daerah Maluku didewasakan lagi menjadi gereja mandiri dengan nama: Gereja Protestan Maluku (GPM). Jemaat-jemaat di daerah Sunda Kecil belum mendeklarasikan kemandiriannya karena persiapan-persiapan kemandiriannya terhambat oleh pecahnya Perang Dunia II. Karena itu, baru pada tahun 1947 jemaat-jemaat di daerah ini dimekarkan menjadi gereja yang mandiri dengan nama Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Lalu pada tahun 1948 dalam sidang Sinode di Bogor ditetapkan bahwa jemaat-jemaat yang berada di bagian Barat dari ketiga gereja saudara ini menjadi gereja yang mandiri dengan nama: Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). Pada tahun itu juga nama: De Protestantsche Kerk in Nederlandsch–Indie diganti dengan nama Gereja Protestan di Indonesia (GPI).

Selanjutnya wilayah-wilayah pekabaran Injil yang lain turut dimekarkan menjadi gereja mandiri yaitu: Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID-1964), Gereja Protestan Indonesia di Buol Toli-Toli (GPIBT-1964), Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo (GPIG-1964), Gereja Kristen Luwuk Banggai (GKLB-1976), Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI Papua-1985). Pada tahun 2000 jemaat-jemaat di daerah Banggai Kepulauan dimekarkan menjadi gereja yang mandiri dengan nama: Gereja Protestan Indonesia Banggai Kepulauan (GPIBK). Dua gereja lain yang menyatakan diri masuk ke dalam lingkungan GPI yaitu: Indonesian Ecumenical Christian Church (IECC-1998) dan gereja Masehi Injili di Talaud (GERMITA-2002). Dengan demikian ada dua belas Gereja Bagian Mandiri (GBM).

GPI telah memekarkan diri dalam beberapa gereja bagian, tetapi gereja-gereja itu terus memelihara keesaannya. Keesaan itu diwujudkan melalui, pertama, sidang-sidang gerejawi yang dilakukan satu kali setahun dan satu kali lima tahun untuk evaluasi dan penyusunan program kerja yang bersifat ekumenis. Kedua, Dokumen keesaan yang diterima dan diberlakukan dalam pergaulan ekumenis antara GBM ini yaitu Pemahaman Iman GPI, Kepejabatan, dan Peribadahan. Ketiga, Komitmen bersama GBM-GPI sebagai gereja saudara tidak boleh mendirikan gerejanya dalam wilayah gereja yang lain. Dengan komitmen ini, bila warga jemaat dari satu GBM yang karena tugas, berpindah ke satu wilayah lain di mana GBM yang lainnya sudah ada maka mereka dianjurkan untuk masuk dalam GBM itu. Keempat, memiliki akar tradisi ajaran gereja yang sama termasuk sakramen, yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Dengan demikian maka GPI adalah wujud keesaan dari gereja-gereja bagiannya yang tersebar di seluruh Indonesia, bukan super church.

Di samping keesaan itu, GPI juga mengakui kepelbagaiaan dan kekhususan dari setiap GBM, sebab setiap GBM memiliki kekhasannya sendiri dalam pelayanannnya, sesuai dengan bentuk keesaan GPI yakni: Kepelbagaian dalam keesaan. Artinya di dalam gereja (GPI) yang satu itu terdapat kemajemukan. GPI berdenominasi reformeed dan memiliki wilayah pelayanan di Indonesia.

28

Gereja Isa Almasih (GIA)

Menjadi Anggota PGI: 17 Juli 1956
Berdiri: 21 Juli 1946
Telepon: (024) 351.7141, 3515.649, 351.3970
Fax: (024) 356.4265
e-Mail:  gia_mph@yahoo.com
website: www.gia.or.id

 

Profil Singkat

Sejarah GIA dimulai dari lahirnya persekutuan doa (kemudian disingkat PD) yang diselenggarakan di rumah Bp. Tan Hok Tjoan di Jl. Brumbungan 6 Semarang. Pdt. Tan Hok Tjoan adalah pendiri Gereja Isa Almasih. Semula PD ini dihadiri oleh beberapa orang, yaitu Bp. Goei Swan Tong, Bp. Tan Sien Kiong, Bp. Liem Thiam Tjoan, Bp. Tjan Thiam Sioe, Bp. Tan Sien Kie, Bp. Liem Khiem Soe, dan lainnya.

Pada 18 Desember 1945 PD ini terpaksa dipindahkan, karena rumah Brumbungan 6 telah tidak memadai, karena semakin bertambahnya jumlah orang yang ikut dalam Persekutuan Doa itu. Pada saat itu direksi City Concern memberi pinjaman gedung bioskop Lux di Jl. Seteran Semarang. Jumlah peserta PD pada waktu itu sekitar 67 jiwa. Ketika itu PD ini menjadi Perhimpunan Sing Ling Kauw Hwee. Setelah empat bulan menggunakan Gedung Lux, jumlah jemaat yang hadir dalam kebaktian telah berjumlah sekitar 240 jiwa. Sementara itu, pada awal tahun 1946 Bp. Tan Hok Tjoan ditahbiskan sebagai pendeta oleh Pdt. Van Gessel; dan pada tahun yang sama Pdt. Tan Hok Tjoan menyatakan keluar dari GPdI dengan alas an yaitu perbedaan pendapat dalam tata-cara pelayanan mimbar, dan tidak diberikannya kebebasan kerja secara organisasi.

Pemakaian Gedung Lux hanya berlangsung 6 bulan. Oleh direksi City Concern, Perhimpunan Sing Ling Kauw Hwee diberi pinjaman Gedung Roxy di Jl. Gang Besen, Semarang. Pergumulan yang cukup berat pada saat itu adalah tempat ibadah. Oleh sebab itu pada Juni 1946 dibentuklah Yayasan  Sing Ling Kauw Hwee. Pendirian yayasan ini bertujuan untuk mendirikan sebuah gedung gereja. Pada 18 Juli 1946 dipilih 12 anggota majelis yaitu Tan Sien Kiong, Goei Swan Tong, Liem Thiam Tjoan, Tjan Thiam Sioe,  JCD. Meulenaar, Oei Khing Yoe, Tan Sien Kie, Liem Ping Hong, Nyoo Soen Liat, Tan Tjiang Tjay, Yoo Tik Liong, dan Go Sing Liam. Kemudian pada 21 Juli 1946 para majelis dilantik oleh Pdt. Tan Hok Tjoan. Tanggal 21 Juli menjadi tanggal resmi HUT Gereja Sing Ling Kauw Hwee. Pada waktu itu jumlah jemaat bertambah menjadi ± 350 jiwa.

Pada 3 November 1946 ibadah Sing Ling Kauw Hwee berpindah ke gedung Sobo Karti. Pada masa ini jumlah jemaat bertambah menjadi sekitar 550 jiwa. Pada 1949 tanah yang terletak di Jl. Pringgading 13 Semarang dapat dibeli, dan pada tanggal 15 Oktober 1949 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Pdt. Tan Hok Tjoan. Pada tanggal 4 Juni 1950 diadakan peresmian gedung gereja Sing Ling Kauw Hwee. Nama gereja Sing Ling Kauw Hwee kemudian berubah menjadi Gereja Isa Almasih melalui keputusan dalam Konferensi Gereja-gereja Sing Ling Kauw Hwee di Malang tahun 1955. Pada 1956 GIA diterima menjadi anggota ke-29 Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) [sekarang PGI].

GIA memiliki lima ciri khas yaitu Kerohanian, Pengetahuan, Penginjilan, Ketertiban dan Ekumenika. Kerohanian. Yang dimaksud di sini ialah proses menuju kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus sesuai Alkitab (Efesus 4:11-15) Dalam rangka pertumbuhan tersebut, perlu dipupuk pembinaan rohani yang seimbang agar GIA peka terhadap karya Roh Kudus yang Kharismatis dan yang Organis sehingga manifestasi karunia-karunia dan buah Roh Kudus nampak jelas dan nyata pada seluruh komponen GIA, bahkan merata dalam semua aspek kehidupan sehari-hari dari setiap warga jemaatnya. Untuk mencapai pertumbuhan rohani yang sedemikian, maka Jemaat-jemaat digairahkan melalui kelompok kelompok doa, puasa dan menggumuli Firman Tuhan secara tertib dan teratur.

Pengetahuan. Yang dimaksud ialah usaha memperoleh/ menggunakan pengetahuan (hikmat) yang sesuai dengan Firman Allah, untuk melengkapi hidup manusia dalam berbakti kepada Tuhan. (Amsal 4: 5-13; 9:10) Dalam rangka tersebut di atas GIA terbuka terhadap hasil-hasil Pengetahuan yang sesuai dengan Alkitab, bahkan memanfaatkan peranan pengetahuan yang bekal dan menunjang dalam pelayanan Injil bagi kemulian Tuhan Yesus Kristus. ( I Korintus 2: 10) GIA merasa terpanggil memperdalam pengetahuan intelektual, pendidikan , untuk memperoleh hikmat sehingga mampu menggali/menghayati kebenaran Alkitab untuk mengenal Kehendak Tuhan. Untuk mencapai tujuan tersebut, GIA menyelenggarakan Sekolah Tinggi Theologia Abdiel, sekolah – sekolah , pelayanan literatur dan lain-lainya.

Penginjilan. Yang dimaksud ialah usaha melaksanakan Pekabaran Injil (PI), yaitu menyaksikan Kabar Kesukaan (Injil /Firman Tuhan) kepada semua manusia agar percaya dan memperoleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Seorang saksi ialah seorang yang telah nampak dan mengalami secara pribadi makna dan hakekat kehidupan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tugas dan panggilan memberitakan Injil kepada segala bangsa harus dilaksanakan dengan bijaksana, tertib dan bertanggung jawab. (Matius 28 : 19; Kis 1:8) Untuk itu GIA memupuk dan mengerahkan seluruh Jemaat dan anggotanya dalam rencana terpadu, dalam semangat dan jiwa misioner sebagai corak hidup sehari-hari (I Korintus 9: 16) Bentuk PI: a. PI langsung dari jemaat berupa penyelenggaraan Tempat Pembinaan Rohani (TPR) dan sebagainya. b. PI tidak langsung melalui usaha-usaha Pelayanan Diakonia, Pendidikan, dan sebagainya.

Ketertiban. Yang dimaksud ialah usaha mewujudkan hidup bergereja yang sejahtera dan harmonis berdasarkan kasih melalui sarana tata Tertib yang teratur. I Korintus 14:33,40 Gereja adalah TUBUH KRISTUS yang terdiri dari banyak anggota, maka perlu ada tata tertib yang memadai, tapi luwes agar masing-masing anggota dapat berfungsi secara baik dan tepat(Ephesus 4: 15 – 16) Untuk maksud tersebut GIA selalu memperbaiki/memantapkan Tata Gereja dan Tata Tertibnya antara lain dengan terus membina kepemimpinan baik tingkat Sinodal maupun lokal sehingga koordinasi terus terjalin secara timbal balik, tertib dan serasi. Bahkan juga menjangkau kepada setiap warga jemaat untuk mendidik mereka supaya dapat mencerminkan kedewasaan hidup iman yang taat, tertib dalam bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ( I Kor.12:12-26)

Ekumenika, ialah usaha menjalin hubungan persekutuan dan kerja sama ekumenis berdasarkan doa Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 17:21). Untuk mengamalkan amanat/doa Tuhan Yesus Kristus ini GIA memperbuka diri dalam hubungan ekumenis, bekerja sama berdasarkan kasih dengan Gereja-Gereja, Badan/Lembaga non-gerejawi lain, yang tidak merugikan doktrin dan peraturan GIA. Hubungan ekumenis termaksud terjalin setara saling menghargai, jujur, berdasarkan kasih sesuai doa Tuhan Yesus Kristus yang bertujuan menjadi suatu kesaksian kepada dunia supaya mereka percaya dan bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus yang penuh kasih. (Yohanes 17: 21- 23).

GIA berdenominasi Pentakosta ini memiliki Sistem Pemerintahan Gereja Presbiterial Sinodal Khas GIA. Pemerintahan jamak dan bukan tunggal. Khas GIA artinya Ketua Majelis selalu dijabat Gembala Jemaat/Pendeta. Saat ini GIA memiliki 252 pendeta, 135 pendeta muda.

29

Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI)

Menjadi Anggota PGI: 13 September 1960
Berdiri: 6 Desember 1920
Telepon: (024) 831.2795
Fax: (024) 8442.644
e-Mail:  sinodemi@idola.net.id
website:

 

Profil Singkat

GKMI berdiri pada 6 Desember 1920, yang ditandai dengan terjadinya pembaptisan kudus bagi 25 orang petobat baru sebagai hasil penginjilan yang dilakukan oleh Tee Siem Tat. Baptisan pertama itu diselenggarakan di rumah Tee yang beralamat di Jl. K.H.Wahid Hasyim (dulu Panjunan) No.11 Kudus.

Dari Kudus penginjilan terus bergerak ke beberapa kota terdekat seperti Jepara, Bangsri, Welahan, Pati, Blora dan Pecangaan, sambil memberikan pelayanan diakonia. Sekarang ini, telah ada 41 gereja dewasa, 52 cabang dan 59 pos Pekabaran Injil. Dari Pulau Jawa, GKMI menyebar ke Lampung Selatan, Kalimantan Barat, Bali, Batam dan sedang menjejagi ke Singapura dan negara Asia lainnya.

Masuk PGI 13 September 1960. Menurut data statistik GKMI memiliki 50 gereja, 16.208 anggota jemaat, 50 pendeta dan 30 pendeta muda. Selain itu memiliki 8 evangelis dan 30 tenaga orientasi. Sementara wilayah pelayanannya meliputi Jawa, Jabotabek, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Batam.

30

Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS)

Menjadi Anggota PGI: SR V di Jakarta (3-14 Mei 1964)
Berdiri: 2 September 1903
Telepon: (0622) 23676, 433381
Fax: (0622) 22626
e-Mail:  gkps@gkps.or.id
website: www.gkps.or.id

 

Profil Singkat

Menyadari sulitnya meraih orang Simalungun menjadi Kristen, J. Wismar Saragih bekas pamong pemerintahan kerajaan Simalungun (pangulubalei) memperjuangkan identitas Simalungun dalam kristenisasi suku Simalungun. Perjuangan Saragih ternyata tidak begitu saja diterima HKBP yang waktu itu menaungi orang Kristen Simalungun. Upaya memperjuangkan identitas Simalungun itu akhirnya diterima HKBP setelah perjuangan panjang pada 26 September 1940 di mana orang Kristen Simalungun diakui kedudukannya dalam distrik sendiri bernama HKBP Distrik Simalungun.

Tetapi orang Simalungun tidak puas dengan posisi itu. Hak Otonomi Khusus terus diperjuangkan dari HKBP di Pearaja, hingga diakui HKBP tahun 1952 dengan dibentuknya HKBP Simalungun (HKBP-S) di mana Pdt. J. Wismar Saragih sebagai Wakil Ephorus HKBPS dan Pdt. A. Wilmar Saragih sebagai Sekretaris jendral HKBPS. Akhirnya, 1 September 1963 HKBP resmi memandirikan orang Kristen Simalungun dengan ditandatanganinya Naskah Panjaeon (Kemandirian) HKBP Simalungun dari HKBP. Sejak itu HKBP Simalungun berganti nama menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) berkantor pusat di Kota Pematangsiantar. Pdt. Jenus Purba Siborokemudian menjadi Ephorus GKPS pertama dan Pdt. Lesman Purba sebagai Sekretaris Jenderal GKPS pertama.

GKPS adalah sebuah Gereja dari daerah Simalungun yang dirintis oleh zendelling (pengabar Injil) dari Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG), sebuah badan pengabaran Injil dari Jerman sebagai bagian dari upayanya menyebarkan Injil bagi Suku Simalungun. Semenjak tahun 1900-an RMG mendirikan gereja-gereja di Simalungun sebagai bagian dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dengan menggunakan bahasa Toba sebagai bahasa pengantar.

Kesadaran diri di kalangan suku Simalungun untuk meningkatkan usaha pengabaran Injil mempercepat laju penyebaran Injil di suku Simalungun terutama setelah digunakannya bahasa Simalungun sebagai pengantar. Kemandirian ini berlanjut sampai jemaat HKBP di Simalungun memandirikan dirinya menjadi satu distrik hingga akhirnya mandiri total menjadi GKPS dan memberikan pelayanan bagi lingkungan sekitarnya di berbagai bidang (bukan hanya pelayanan agama).

Pada 16 Maret 1903, Dr. Schreiber dari RMG secara resmi mengirim telegram singkat yang merekomendasikan pengabaran Injil ke Timorlanden (sebutan bagi Simalungun). Setelah menerima telegram yang berisi Tole den Timorlanden das Evangelium (perintah menyebarkan injil di tanah Timur) maka pada tanggal 2 September 1903 sekelompok penginjil dari RMG yang dipimpin oleh Pendeta August Theis tiba di Pematang Raya untuk menyebarkan Injil.  Tanggal 2 September sampai saat ini diperingati setiap tahunnya oleh anggota GKPS di seluruh dunia sebagai hari olob-olob (bahasa Simalungun untuk “suka cita”) untuk mensyukuri masuknya ambilan na madear (bahasa Simalungun untuk Firman-Firman Alkitab/ajaran Kristen) di Simalungun, dan Pendeta August Theis, penginjil RMG yang merintis penyebaran Injil di daerah Simalungun.

Pada 15 Januari 1964 GKPS mendirikan pusat pelatihan pertanian di Pematang Siantar (PELPEM GKPS) dan satu tahun kemudian GKPS menjadi anggota wilayah PGI-Wilayah SUMUT serta menjalin kerja sama dengan gereja-gereja Lutheran lain, seperti Evangelical Lutheran Church in America (ELCA, sejak 1969) dan Lutheran Church of Australia (LCA, sejak September 1973). GKPS juga menjadi anggota beberapa organisasi gereja di tingkat dunia dan regional, seperti Dewan Gereja-gereja se-Dunia (WCC, sejak Agustus 1973), Dewan Gereja-gereja Asia (CCA, 31 Mei 1977)[34] dan Federasi Lutheran se-Dunia (LWF, sejak 1968). Karena semakin berkembangnya jemaat GKPS didirikanlah Kantor pusat/kursus Zentrum GKPS dan mulai menjalin kerja sama dengan Gereja Mulheim Jerman.

Mitra-mitra GKPS lainnya di luar negeri adalah: UEM (United Evangelical Mission, sejak Juni 1996), EZE (Evangelische Zentralstelle für Entwicklunghilfe), Brot für die Welt, Kirchenkreis Hagen, Kirchenkreis Solingen, Kirche di Hachenburg, Dekanat Bad Marienberg, dan Gereja Mulheim (25 November 1980) yang semuanya berada di Jerman.

GKPS terdaftar sebagai anggota PGI sejak 10 Mei 1964. GKPS berdenominasi Lutheran dan memiliki wilayah pelayanan di Indonesia. Statistik GKPS per Desember 2013 adalah 217316 anggota jemaat, 649 jemaat (kuria), 127 resort, 209 pendeta, 79 penginjil, 6448 penatua dan 7323 syamas.

31

Gereja Kristen Pemancar Injil (GKPI)

Menjadi Anggota PGI: 10 Mei 1964
Berdiri: 30 Mei 1959
Telepon: (0551) 21154
Fax: (0551) 34469
e-Mail:  mstrk-gkpi@plasa.com;  mstrk-gkpi@telkom.net
website:

 

Profil Singkat

Berdirinya GKPI tidak terlepas dari pengaruh misi pekabaran injil yang dilakukan oleh yayasan penginjilan yang masuk ke Kalimantan Timur, The Christian Misionari Alliance (CMA), sebuah pekabaran Injil yang muncul di Amirika Serikat pada 1880-an yang didirikan sekaligus sebagai pemimpin pertamanya adalah A.B. Simpson. Beliau adalah mantan pendeta Gereja Presbiterian di New York, yang dikenal komitmennya mengabdi kepada kaum miskin.

Awal penginjilan di Kalimantan Timur dimulai dari kedatangan lima misionaris dari CMA New York ke Surabaya, Jawa Timur pada 1929. Para misionaris tersebut adalah Rev. J.W. Brill dan istrinya, Rev. G. E. Fisk dan istrinya, dan Rev. David C. Clench. Perintis pekerjaan misi di Kalimantan Timur adalah David C. Clench dan George E. Fisk yang masuk ke sana pada 1929. Setelah David Clench tinggal di Balikpapan selama setahun, ia pindah ke Samarinda dan melakukan Pekabaran Injil terhadap orang Dayak di Hulu Sungai Mahakam. Sedangkan Fisk berlayar ke Pulau Tarakan, pulau kecil di Kalimantan Timur, dimana perusahaan minyak Belanda berada. Peristiwa ini terjadi pada 11 Juli 1929. Namun karena ia kesulitan berhubungan dengan orang-orang Dayak di pedalaman Kalimantan, ia pindah ke Tanjung Selor, ibukota Kabupaten Bulongan Kalimantan Timur. Dari sana ia menjalin hubungan dengan orang Dayak Kayan dan Dayak Kenyah di Kalimantan Timur bagian Utara.

GKPI berdiri pada 30 Mei 1959 di Desa Tanjung Lapang, Kecamatan Malinau Barat, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, dan menjadi anggota PGI pada 10 Mei 1964. GKPI resmi berdiri pada ibadah pembukaan pertama 30 Mei 1959 dihadiri 26 orang. Pembentukan GKPI ini dimotivasi oleh kuatnya keinginan masyarakat yang telah merasakan peran gereja dalam menanggulangi masalah-masalah sosial, seperti pendidikan dan kemiskinan masyrakat Dayak yang ada di pedalaman Kalimantan Timur. GKPI terdaftar di Depag RI dengan No. E/VII/15/59/73 dan didaftar ulang kembali dengan No. 81/1992.

Para perintis berdirinya GKPI yang pertama terdiri dari 26 orang anggota, yaitu : Elisa Mou, Petrus Balang, Lawa Kapung, Yusak Fraid, Yaran Ada’, Ringan Busek, Yusuf Busek, Koleng Gelawat, Singa Gelawat, Yudin Gelawat, Labo Ringan, Yukung Murang, Y.B. Sangian, Ipa Tutu, Paren Tutu, Elis Upai, Riga Padan, Gadung Ada, Buda Seremen, Lasun Tuan, Sipai Ipa,Rangai Danur, Gadung Belibing, Busan Labang, Gerit Peru, dan Dari Murang. Untuk prtama kali persekutuan yang berjumlah 26 orang ini membentuk Badan Pengurus pada 30 Mei 1959.

Kata Pemancar dalam nama “Gereja Kristen Pemancar Injil” merupakan suatu ungkapan mengabarkan Injil. Istilah Pemancar (bahasa Dayak Lundayeh : ngerasat) secara luas berarti penyinaran (hal menjadikan sesuatu bersinar, bercahaya atau berkilauan) apabila kata ini dihubungkan dengan kata Injil, maka berarti menyiar Injil atau hal menjadikan Injil bersinar. Hal ini mau menonjolkan makna dasar dari tugas pokok gereja yaitu mengabarkan Injil. Jadi secara sederhana GKPI dapat dikatakan sama dengan gereja Kristen yang mengabarkan Injil. Gagasan ini merupakan pemikiran Elisa Mou untuk kemudian dibicarakan oleh para perintis yang juga merupakan jemaat pertama GKPI Tanjung Lapang.

GKPI yang berdenominasi Reformeed ini memiliki wilayah pelayanan di kalimantan Timur.

 

32

Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS)

Menjadi Anggota PGI: 14 Mei 1964
Berdiri: 21 Januari 1952
Telepon: (0271) 585.1555, 672.7107
Fax: (0271) 624704
e-Mail:  bp_gbis@telkom.net
website: http://www.gbis-online.org

 

Profil Singkat

GBIS adalah sebuah denominasi Gereja di Indonesia. Dalam Bahasa Inggris disebut Bethel Full Gospel Church of Indonesia. Merupakan anggota Persekutuan gereja-Gereja di Indonesia No. 34. GBIS juga menjadi salah satu gereja pendiri dan penopang Yayasan Pendidikan Kristen Petra dan Universitas Kristen Petra Surabaya

Kelahiran GBIS diawali dengan keluarnya Pdt. F.G Van Gessel dengan beberapa pendeta lainnya dari GPDI dan membentuk Badan Persekutuan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Surabaya pada tanggal 21 Januari 1952. GBIS lahir dari satu kerinduan untuk mendapatkan kembali gereja, bukan hanya sekedar sebagai satu organisasi gereja, namun juga sebagai organisme, bersifat otonom dan memiliki jiwa fellowship.

Sejak kelahirannya, GBIS telah berkembang demikian cepatnya, sehingga dalam waktu 15 tahun telah memiliki kira-kira 450 mata jemaat dengan 70000 anggota yang tersebar di seluruh persada Nusantara. Sehingga dapat dikatakan, saat itu GBIS telah menjadi organisasi Pentakosta terbesar ke-2 se Indonesia setelah GPdI. GBIS memiliki Komisi Wanita (WBIS), Komisi Pemuda (PBIS) dan Komisi Sekolah Minggu. GBIS berdenominasi Pentakosta.

 

33

Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS)

Menjadi Anggota PGI: 10 Mei 1964
Berdiri: 25 Februari 1964
Telepon: (031) 547.7614 | Fax: (031) 547.6938
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Pendeta Ishak Lew Lewi Santoso menerima panggilan Tuhan di Indonesia melalui pergumulan yang cukup berat dan panjang. Di awal-awal pelayanannya, Beliau membuka sebuah pos pelayanan di daerah Bibis – Surabaya pada tahun 1945, di daerah Sawahan – Surabaya pada bulan Juli 1946, dan di beberapa tempat yang lain (yang mana semuanya itu nantinya menjadi gereja-gereja mandiri). Pada perkembangan selanjutnya, beliau berkehendak mendirikan Organisasi Gereja pada Tahun 1959 yang nantinya didaftarkan di Departemen Agama Jakarta melalui Kantor Urusan Agama Daerah Tingkat I Jawa Timur dengan nama “Gereja Pantekosta” dengan nomor pendaftaran: E-83-1960. Dikarenakan nama “Gereja Pantekosta” tersebut ternyata adalah nama kembar, artinya nama yang juga dimiliki oleh organisasi gereja lain di daerah tertentu, maka Beliau menggantinya dengan nama “Gereja Pantekosta Pusat Surabaya” (disingkat: GPPS) yang terdaftar di Departemen Agama Dirjen Bimas Kristen-Protestan di Jakarta pada tanggal 26 Februari 1964, yang sekaligus tanggal tersebut diakui sebagai tanggal berdirinya GPPS.GPPS secara mutlak percaya, menerima dan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dalam kasih Allah Bapa yang kekal dan pertolongan Roh Kudus, dipanggil berdasarkan deklarasi kekuasaan, dilengkapi deklarasi kesetiaan, untuk memproklamirkan serta melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Dengan semangat penyerahan diri kepada Roh Kudus dalam rangka menghadirkan kasih Allah secara nyata dan tanda-tanda Syalom Kerajaan Allah, GPPS berpedoman pada Filosofi Pelayanan “Hidup dengan Iman, Bekerja menurut Panggilan” dan Filosofi Doa “Banyak berdoa banyak berkat, kurang berdoa kurang berkat dan tidak berdoa tidak ada berkat”.GPPS bersifat Sinodal di mana Majelis Pusat sebagai pimpinan tertinggi. GPPS melaksanakan kehendak Tuhan Yesus Kristus sesuai Yohanes 17:21, mewujudkan kesatuan tubuh Kristus dalam hubungan yang serasi dan seimbang dengan gereja-gereja serta lembaga-lembaga Kristen lainnya demi melaksanakan Missio Dei di muka bumi. GPPS berdenominasi Pentakosta ini memiliki 1.219 pendeta, wilayah pelayanan di seluruh Indonesia. Saat ini GPPS memiliki 418 gereja, 62 Pos Pekabaran Injil, dengan sekitar 43076 orang jumlah anggota jemaat yang dilayani 1219 pendeta.

34

Huria Kristen Indonesia (HKI)

Menjadi Anggota PGI: 29 Oktober 1967
Berdiri: 1 Mei 1927
Telepon: (0622) 25995 | Fax: (0622) 23238
e-Mail:  support@kanpushki.com
website: http://www.kanpushki.com

 

Profil Singkat

HKI adalah sebuah gereja Lutheran di Indonesia yang berkantor pusat di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Gereja ini termasuk kelompok gereja-gereja Protestan dan merupakan anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Berabad-abad lamanya suku Batak berada dalam “kegelapan”. Oleh anugerah Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, setelah tiba waktunya, Allah mengutus hamba-hambaNya memberitakan Injil ke tengah-tengah kehidupan suku Batak yang masih berada dalam kegelapan itu.Tahun 1907, Badan Zending Jerman Reinische Mission Gesellschaft (RMG) mendirikan jemaat di Pematangsiantar (sekarang jalan Gereja) dan jemaat ini menjadi pusat utama para misionaris RMG di Sumatera Timur. Namun, warga jemaatnya banyak yang tersebar di sekitar pinggiran kota Pematangsiantar yang jaraknya kurang lebih 4 km dari gereja ini, dan F. Sutan Maloe Panggabean adalah salah seorang diantaranya. Tanggal 20 Mei 1908, F. Sutan Maloe Panggabean mengusulkan agar didirikan satu jemaat baru di Pantoan, karena mempertimbangkan sulitnya menjangkau gereja di Pematangsiantar dengan jalan kaki. Usul ini ditolak Pdt. R. Scheneider (misionaris RMG) di gereja Pematangsiantar.Akhirnya F. Sutan Maloe berinisiatif mendirikan persekutuan gereja yang diberi nama Hoeria Christen Batak (HChB) di rumahnya di daerah pantoan, pematangsiantar. Tahun 1909, F. Sutan Maloe lulus dari Sekolah Guru Seminari Sipoholon. Tanggal 1 April 1927, F. Sutan Maloe yang sudah membuka kebaktian Minggu di rumahnya, akhirnya membuat surat pemberitahuan resmi pendirian HChB kepada pemerintahan dengan alasan utama, penolakan RMG terhadap usulan pendirian. Keinginan Sutan menyelenggarakan pekabaran Injil (marturia), persekutuan (koinonia) dan pelayanan kasih (diakonia) seperti yang difirmankan Yakobus 1:22, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”.Tahun 1927-1930 sambutan amsyrakat Kristen Batak terhadap HChB di pematangsiantar dan sekitarnya sangat luar biasa. Dalam kurun waktu yang relatif singkat (8 tahun) telah berdiri 5 jemaat dengan 220 kepala Keluarga. Tanggal 5 Agustus 1928, 123 orang warga jemaat RMG yang ada di Medan mendirikan salah satu jemaat baru yang disebut “Hoeria Christen Batak Medan Parjolo” (HChB Medan). Sementara kelompok yang tidak senang dengan jemaat ini, mereka mengejek dengan sebutan “partai 123”.Tanggal 9 September 1929, pimpinan HChB Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean dan Sekretaris I, M Titoes Lumban gaol melayangkan permohonan Rechtperson dan izin melayani sakramen (baptisan dan perjamuan kudus) kepada Gubernur Jenderal Hindia belanda di Jakarta yang kemudian tidak dijawab. Tanggal 1 Agustus 1931, permohonan kedua Rechtperson dan izin melayangkan sakramen juga tidak dijawab. Sementyara di tahun 1931-1942, HChB menyebar sampai ke Deli Serdang, tapanuli di daerah Humbang, Sipahutar, Pangaribuan, Silindung sekitarnya. Patane Porsea atau Toba Hulbong sekitarnya, tapanuli Selatan, tapanuli Tengah, Sidikalang, atau Dairi sekitarnya, tanah Alas dan sekitarnya.Tahun 1932, HChB mengutus Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean untuk dapat langsung menghadap Gubernur Jenderal di Jakarta. Tanggal 27 Mei 1933 Pemerintah Hindia belanda memberikan izin Rechtperson kepada HChB. Sepuluh hari berikutnya izin melayangkan sakramen juga diberikan. Menyadari pentingnya pelayanan melayani sakramen, tahun 1933 Voorzitter F. Sutan Maloe Panggabean ditahbiskan menjadi pendeta. Tahun 1933-1935, Jemaat HChB mencapai lebih dari 170 jemaat.Tanggal 16-17 November 1946, perluasan misi gereja dan kesadaran HChB bukan hanya berada di Tanah Batak saja, pada Sinode HChB tahun 1946 nama HChB diperluas dan diubah namanya menjadi Huria Kristen Indonesia (HKI). Sementara Voorzitter (Ketua) yang baru  Pdt. T.J. Sitorus terpilih memimpin HKI selama 32 tahun sampai Juli tahun 1978. Usai sinode, ada beberapa jemaat dan pendeta yang tidak menyetujui perluasan nama ini. Mereka terpisah dari HKI dan tetap memakai nama HChB, yang kemudian diubah menjadi Gereja Kristen Batak (GKB).

Tanggal 29 Oktober 1967, HKI diterima menjadi anggota Dewan gereja-Gereja Indonesia (DGI) pada Sidang raya di Makassar. Tanggal 26 Agustus 1976, Sinode GKB menyatakan diri bergabung kembali dengan HKI.

HKI adalah salah satu gereja anggota di CCA, LWF, WCC, UEM dan memiliki hubungan yang baik dengan gereja-gereja di Indonesia dan gereja manca negara misalnya ELCA di Amerika Serikat, Gereja Lutheran di Australia (LCA), Gereja Rheinland dan Westfalia di jerman, dan secara khsuus memiliki hubungan kemitraan dengan K.K. Hamm Jerman.

HKI bedenominasi Lutheran ini memiliki wilayah pelayanan di Sumatera dan Jawa.

35

Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB)

Menjadi Anggota PGI: 29 Oktober 1967
Berdiri: 27 Januari 1966
Telepon: (0461) 21436 | Fax: (0461) 22218
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Tahun 1912, Indische Kerk mengutus penginjil Ds. J. Kelling (yang waktu itu berdiam di Makassar) untuk menyebarkan Injil di daerah Banggai di Distrik Lamala. Pada waktu itu di daerah Luwuk Banggai baru ada dua agama, agama suku Pilogot, dan agama Islam. Usai melewati proses waktu dan menempuh berbagai upaya pemberitaan Injil, tanggal 21 Januari 1913 diadakanlah baptisan massal pertama di desa Mantok-Lamala, kemudian pembaptisan berikut berlanjut di desa Molino dan sesudah itu Ds. J. Kelling kembali ke Makassar.Selanjutnya Indische Kerk menugaskan Ds Tumbelaka dan seorang pembantunya melaksanakan pelayanan dan pembinaan bagi jemaat-jemaat di Kabupaten Banggai. Sekolah-sekolah Kristen pun mulai dibangun dan guru-guru agama cukup mengambil peran dalam menanamkan pengajaran tentang Injil. Memang tidak dapat disangkal, mengawali tugas pemberitaan dan pelayanan bagi orang-orang yang belum ataupun yang sudah menerima baptisan ada banyak faktor yang menyulitkan, antara lain terbatasnya tenaga penginjil, penyesuaian dengan bahasa penduduk setempat, jauhnya jangkauan dari badan yang mengutus tenaga penginjil dengan daerah yang menjadi objek penginjilan.Namun seiring dengan perjalanan waktu, beberapa dari orang-orang pribumi yang sudah menerima Injil diutus mengikuti pendidikan di sekolah penginjilan baik di GKST maupun di GMIM. Mereka yang pada akhirnya membantu meneruskan pelayanan. Pada 1913 jumlah anggota baptis 2.338 jiwa.Ketika GMIM berdiri sendiri, Pimpinan Gereja Protestan (Indische Kerk) di jakarta menyerahkan pelayanan di tanah Banggai kepada GMIM untuk dijadikan daerah pelayanan Pekabran Injil. Itu berlangsung sejak 1935-1947. Berhubung komunikasi sulit dan jarak yang terlalu jauh, pelayanan di tanah Banggai diserahkan GMIM kepada Zending Poso (GKST).Pada 1963 majelis Sinode GKST membentuk Sinode GKST Wilayah Luwuk Banggai. Pelayanan dan kehidupan jemaat pun mulai bertambah dan berkembang yang ditandai dengan terbentuknya jemaat-jemaat baru, juga semakin bertambahnya tenaga pelayan. Akhirnya 27 januari 1966 Sinode GKST Wilayah Luwuk banggai ditetapkan sebagai Sinode yang Mandiri dengan nama Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB).Seiring perkembangan pelayanan dan semakin bertambahnya jemaat-jemaat GKLB, mengingat luasnya wilayah pelayanan GKLB dan jarak yang harus dijangkau, pada 3 Februari 2000 GKLB dimekarkan lagi di mana jemaat-jemaat yang berada di wilayah pelayanan Banggai Kepulauan telah berdiri sendiri menjadi satu Sinode dengan nama Gereja Protestan Indonesia banggai kepulauan (GPIBK). Dengan demikian wilayah pelayanan GKLB hanya meliputi di daerah “Banggai Daratan”.GKLB berdenominasi Reformeed dan memiliki `120 pendeta, 172 jemaat dan 42.627 anggota jemaat yang dipayungi dengan sistem pemerintahan gereja Presbiterial Sinodal (kepelayanan yang berjalan bersama). Wilayah GKLB adalah di Banggai daratan.

36

Gereja Kristus Tuhan (GKT)

Menjadi Anggota PGI: 29 Oktober 1967
Berdiri: 7 Desember 1939
Telepon: (0341) 325826
Fax: (0341) 368871
e-Mail:
website :

 

Profil Singkat

Diawali 1917 melalui persekutuan umat Kristen Tionghoa yang ada di Surabaya bekerjasama dengan The Methodist Mission Amerika, telah diadakan kebaktian tetap Jemaat Tionghoa-Surabaya. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, semua misi di Jawa Timur dilayani oleh NEV sejak tahun 1929.Kemudian pada 1939 atas prakarsa Ds.H.A.C.Hildering gereja-gereja di Jawa Timur, termasuk GKT, disahkan sebagi gereja berbadan hukum No.17 Stbl.694 pada 7 Desember 1939 dengan nama: “Tiong Hoa Ki Tok Kau Khoe Hwee, Oost Java” (Chineesch Christelijke Kerk Classis Oost Java). Pada tahun 1956, untuk memperlancar pelayanan, disepakati supaya gereja-gereja Tionghoa yang bahasa pengantarnya melayu/Indonesia berganti nama menjadi: Gereja Kristen Indonesia Jawa Timur (GKI Jatim), sedangkan yang bahasa pengantarnya bahasa Tionghoa tetap memakai nama asli.Namun pada 10 September 1968 Dirjen Bimas (Kristen) Protestan mengubah nama Tiong Hoa Ki Tok Kau Khoe Hwee, Oost Java menjadi Gereja Kristus Tuhan (GKT). Nama itulah yang dipakai sampai sekarang. GKT yang berdenominasi Reformeed ini memiliki wilayah pelayanan di Jakarta, Jawa tengah, Jawa Timur, bali dan NTB.

37

Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID)

Menjadi Anggota PGI: 10 Mei 1964
Berdiri: 4 April 1965
Telepon: (0451) 484.682 | Fax: (0451) 484.683
e-Mail:  ms_gpid@yahoo.com
website :

 

Profil Singkat

GPID adalah sebuah kelompok gereja Protestan di Indonesia yang berpusat di pulau Sulawesi bagian tengah. GPID yang terbentuk pada 4 April 1965 ini merupakan gereja bagian Gereja Protestan di Indonesia (GPI) yang berdiri sendiri.Pada awalnya, anggota jemaatnya berasal dari warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang datang ke Sulawesi Tengah sejak tahun 1909, dan kemudian berkembang sebagai hasil penginjilan yang dilakukan oleh GMIM. Dengan demikian jemaat GPID tersebar di Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Poso, Sigi dan Kota Palu sebagai kedudukan kantor Sinode. GPID berdenominasi Reformeed.

 

38

Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB)

Menjadi Anggota PGI: 26 April 1971
Berdiri: 10 Juli 1927
Telepon: (021) 3190.3203 | Fax: (021) 314.3881,877.92729
e-Mail:  mpgpkb@plasa.com
website:

 

Profil Singkat

Bagi masyarakat tanah Batak yang memeluk agama kristiani, saat merantau ke Jakarta pasti gereja yang dicari adalah gereja HKBP. Bisa dimakhlumi karena di tanah asalnya, HKBP sangat terkenal bagi para jemaatnya bahkan HKBP sendiri adalah gereja yang memiliki jemaat terbesar di Asia Tenggara. Tapi tidak banyak komunitas Batak yang tahu kalau gereja Batak yang berdiri di Jakarta pada awalnya adalah Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB).GPKB merupakan pemisahan dari Bataksche Christelljke Gemeente (BCG). BCG sendiri didirikan pada tahun 1927 oleh sekelompok pemuda dan keluarga Batak Kristen yang kurang memahami bahasa Melayu tinggi dan tidak mengerti bahasa Belanda. Kebaktian pertama dimulai pada 10 Juli 1927 yang dihadiri 13 orang.Ketika di tubuh BCG terjadi ketidaksepakatan, dan Reinsche Zending (RZ) dari tanah Batak serta utusan pemerintah Hindia Belanda mencoba menengahi, sebagian warga jemaat tidak setuju karena dinilai telah turut mencampuri urusan rumah tangga BCG. Warga jemaat yang tidak setuju inilah yang kemudian mendirikan Punguan Kristen Batak yang didorong oleh keinginan untuk manjujung baringinna (mandiri). Maka pada tahun 1928 berdirilah PKB (GPKB sekarang), dan selanjutnya pun PKB berkembang dimulai dari Jakarta, Palembang, hingga kembali memasuki Tanah Batak (Tapanuli).Kepengurusan PKB Batavia (Jakarta) berfungsi mengkoordinasi seluruh jemaat PKB yang kemudian membentuk Sinode. Kantornya yang ada sekarang di Jl. H.O.S. Cokroaminoto No. 96 sebelumnya adalah Restaurant Terry yang kemudian dibeli dan diubah menjadi gedung gereja. Seiring dengan perkembangan PKB di Jakarta, maka GPKB Jakarta berganti nama menjadi GPKB Menteng. GPKB terdaftar sebagai anggota PGI pada 18 April 1971.GPKB hingga sekarang tetap berdiri, dan sudah memiliki 40 gereja di beberapa cabang daerah, 7 gereja diantaranya ada di Jakarta. GPKB sendiri sudah diakui Pemerintah dan terdaftar di Departemen Agama.Hubungan GPKB sendiri dengan gereja-gereja Batak yang sudah mulai banyak berdiri di Jakarta terutama HKBP, berjalan sangat baik. Ada 8 organisasi gereja Batak (HKBP, GKPS, GPKB, GKPI, HKI, GKLI, GPKA, dan GKPM) sudah ikut bergabung dalam wadah PGI yang menganut asas kesatuan dan keesaan gereja. Bahkan kedelapan organisasi itu kerap mengadakan pertukaran mimbar antar gereja. GKPB berdenominasi Lutheran.

39

Gereja Protestan Indonesia Gorontalo (GPIG)

Menjadi Anggota PGI: 26 April 1971
Berdiri: 18 Juli 1965
Telepon: (0435) 823.815 | Fax: (0435) 823.815
e-Mail: sinode_gpig@yahoo.co.id
website:

 

Profil Singkat

GPIG  ialah cabang kemandirian dari Indische Kerk atau Gereja Protestan Indonesia (GPI). GPIG melayani wilayah provinsi Gorontalo (melayani hampir 10.000 umat di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo), sebagian wilayah Sulawesi Utara (Kabupaten Bolaang Mangondow, Bolaang Mongondow Barat, kota Mubagu dan Bolaang Mongondow Utara) dan Sulawesi Tengah (Kabupaten Buol, Kabupaten Parigi, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Tolitoli). Sementara di luar Sulawesi tercatat ada tiga gereja milik GPIG yang berada di Jawa, satu di Surabaya, satu di Surakarta dan satu di Blora. Untuk di luar negeri GPIG memiliki dua buah gereja, di Malaysia dan Filipina.GPIG bermula dari kehadiran orang-orang Kristen di Gorontalo pada abad ke-16 seiring dengan kehadiran pemerintahan kolonial Belanda. Pembaptisan pertama dilayani oleh misionaris J.H.Lineman. GPIG adalah bagian dari GPI yang dimekarkan menjadi gereja yang berdiri sendiri berdasarkan keputusan Badan Pekerja Am GPI di Jakarta pada 30 April 1964, dan diresmikan pada 18 Juli 1965. Pada Sidangnya yang pertama tanggal 19–20 Juli 1965 ditetapkan Badan Pekerja Sinode periode pertama (1965–1969) dan terpilih sebagai Ketua adalah Pdt. J.Pondaag. Setelah mandiri, GPIG memiliki tekad untuk tetap hidup dan melayani sekalipun mengalami banyak pergumulan dan tantangan. GPIG berdenominasi Reformeed.

 

40

Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU)

Menjadi Anggota PGI: 22 April 1972
Berdiri: 22 April 1937
Telepon: (0298) 321.149/325.674 | Fax: (0298) 321.149/325.674
e-Mail:  gkjtu@indo.net.id
website:

 

Profil Singkat

GKJTU merupakan suatu organisasi gereja Kristen Protestan di Indonesia yang didirikan untuk melayani dan berlokasi di provinsi Jawa Tengah. GKJTU memiliki jemaat hampir 30.000 orang. GKJTU berpusat di kota Salatiga, Jawa Tengah.GKJTU awalnya bernama “Salatiga Zending”, berdiri 17 Desember 1889. Kemudian menjadi gereja dengan nama “Pasamuwan Salatiga Zending‘ atau sebutan sehari-harinya “Parepatan Agung” (PA) yang didirikan di Purwodadi-Grobongan pada 27 Maret 1937. Pada Sidang gereja di Salatiga tanggal 20 April 1949 ditetapkan menjadi Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU). GKJTU berdenominasi Reformeed.

41

Gereja Kristen Kalimantan Barat (GKKB)

Menjadi Anggota PGI: 22 April 1972
Berdiri: 2 Juli 1966
Telepon: (0561) 737411 | Fax: (0561) 737411
e-Mail:  sinodegkkb@yahoo.com
website: http://www.gkkb.or.id/

 

Profil Singkat

GKKB berdiri karena buah pekerjaan misi misionaris-misionaris dari berbagai negara. Sejarah gereja ini dimulai dari tiga gereja yang berdiri secara terpisah di tiga kota utama: Singkawang, Pontianak, dan Pemangkat.GKKB Jemaat Singkawang, memiliki sejarah paling panjang, berdiri pada awal abad ke-20, tepat pada tahun 1906, buah hasil pelayanan misionaris Amerika yang bernama Charles M. Worthington. Kemudian pada tahun 1928 Gereja ini mendapat bantuan pelayanan dari Basel Mission. GKKB Jemaat Pontianak, dimulai pada tahun 1935 oleh sekelompok orang Kristen asal Tiongkok. Gereja ini kemudian mendapatkan bantuan pelayanan dari hamba-hamba Tuhan Tiongkok.Selama pendudukan Jepang, orang-orang Tionghoa di Kalimantan Barat, khususnya orang-orang Kristen Tionghoa mengalami masa penderitaan. Namun mereka tetap bertahan, walaupun gereja ditutup dan salah satu pendetanya dibunuh. Gereja ini kembali setelah masa perang dan pada tahun 1950 mendapatkan bantuan pelayanan dari misionaris China Inland Mission (sekarang OMF International).GKKB Jemaat Pemangkat dirintis oleh beberapa orang Kristen yang pindah ke kota Pemangkat. Awalnya hanyalah berupa kebaktian rumah tangga. Tetapi atas bantuan para misionaris yang datang ke Pemangkat pada tahun 1950-an, maka Gereja Pemangkat resmi berdiri pada tahun 1963.Ketiga gereja ini kemudian meluaskan pelayanan ke daerah sekitarnya, maka berdirilah gereja-gereja di berbagai kota di Kalimantan Barat. Pada awalnya ketiga gereja ini berdiri sendiri. Baru pada tahun 1966 ketiga gereja utama berserta gereja-gereja yang didirikan masing-masing sepakat bergabung dan mendirikan satu organisasi dengan nama Tiong Hua Kie Tok Kauw Hwee, dengan Gereja Pontianak sebagai pusat. GKKB berdenominasi Reformeed dengan wilayah pelayanan Kalimantan Barat.

 

42

Gereja Gerakan Pantekosta (GGP)

Menjadi Anggota PGI: 29 Oktober 1967
Berdiri: 29 Maret 1923
Telepon: (021) 315.1984 | Fax: (021) 315.1984
e-Mail:  adiharsanto@yahoo.co.id
website :

 

Profil Singkat

Meniti sejarah Gereja Gerakan Pentakosta (Pinkster Beweging) masuk ke Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan tokoh pendirinya, yakni Rev Johannes Gerhard Thiessen, yang dilahirkan di Kitchkas, Ukraina, 22 November 1869. Tamatan Seminary Theologia St. Chrischona di Switserland, dan Tamatan Sekolah Kedokteran di Roterdam, yang me-nikah dengan Anna Maria Vink, mengawali pelayananya, sebagai Utusan Injil di Pulau Sumatera pada Tahun 1901.Rev Johanes Thiessen bersama isterinya meninggalkan negeri Belanda, dan diutus oleh Doopgzinke Kerk sebagai guru injil ke daerah Sumatera Utara untuk bekerja melayani suku Batak. Dapat dikatakan bahwa pada mulanya Rev Johannes Thiessen membawa Injil yang holistik maksudnya sambil menginjil juga membantu pelayanan kesehatan masyarakat disekitarnya. Ia mendirikan Gereja dan juga rumah sakit. Selama melayani di Pekantan, Tuhan mengaruniakan anak tiga orang putra dan tiga orang putri yang semuanya lahir di Sumatera. Bersama keluarganya, papa Thiessen pun kembali ke Negeri Belanda, karena telah selesai menunaikan tugas di Sumatera hingga tahun 1916.Pada waktu itu gerakan Pentakosta yang dimulai di Amerika Serikat melanda benua Eropa. Kebangunan Rohani terjadi di mana-mana dan kuasa Roh kudus dinyatakan dalam setiap kebaktian kebangunan Rohani. Kebangunan Rohani yang diikutinya di Switzerland.Dari Switzerland Thiessen kemudian ke Jerman dan berkenalan dengan pastor Jonathan Paul, perintis Gerakan Pentakosta di Jerman dan juga Br Roelof Polman pelopor Gerakan Pentakosta di Belanda. Setelah mengalami baptisan Roh Kudus, Tuhan memperbaharui visi dan misi Thiessen.Selanjutnya, pada 1921 Thiessen bersama keluarganya meninggalkan Belanda dan kembali ke Indonesia. Mereka tidak kembali di Pulau Sumatera melainkan ke pulau Jawa dengan membawa visi baru dari Tuhan de-ngan predikat Evangelist (penginjil). Beberapa pelopor aliran Pentakosta lainnya bergabung dengan Thiessen antara lain Br John Bernard dari Liverpool, Inggris dan Weenink Van Loon Hoofd On-derwyzer (Kepala Sekolah), mereka dari satu persekutuan yang bernama ‚’’De Bond Voor Evangelistie’’ yang membentuk suatu yayasan” De Zendings Vereeniging”. Yayasan ini mengelola/mengasuh sebuah sekolah Kristen yakni Hollands Chineesche school met de Bijbel, sebagai pimpinan Sekolah ditunjuk Wenink Van Loon.Di samping itu, di Kota Temanggung terdapat pula Yayasan Zwakzinhigenzorg yg disponsori oleh Pa Van Steur. Yayasan tersebut bergerak di bidang penampungan anak-anak terlantar yang mempunyai sebuah Panti Asuhan yang pimpinannya adalah suster M A Van Alt, semua tokoh tersebut ternyata adalah simpatisan GerejaGerakan Pentakosta yang diperkenalkan oleh John Bernard, rekan Thiessen. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Maret 1921 datang pula dua penginjil dari,” Bethel Tempel” dari Seatle Amerika Serikat yakni Pdt C E Grosbeck dan Pdt DR Van Klaveren. Keduanya membawa serta keluarganya. Mereka tiba di pelabuhan Batavia dengan menumpang KM Suwa Maru pada Maret 1921. Namun keduanya langsung menuju ke Denpasar Bali. Sangat disayangkan karena pada waktu itu oleh pemerintah Hindia Belanda menyatakan bahwa Pulau Bali tertutup untuk penginjilan sebab Pulau Bali telah dijadikan sebagai pulau wisata untuk menarik para pelancong dari luar negeri supaya boleh meningkatkan pendapatan keuangan dari pemerintah yang ada. Oleh karena itu kedua pe-nginjil tadi tidak dapat berbuat banyak sekalipun sempat memberitakan injil di pulau dewata ini tapi hasilnya tidak menggembirakan. Dan pada bulan Desember 1922 keduanya berangkat menuju ke Surabaya.

Di Surabaya mereka berpisah, Pdt Van Klaveren menuju Jakarta dan bergabung dengan Gerakan Pentakosta pimpinan Thiessen. Sedangkan Pdt Groesbeck tetap di Surabaya dan giat mangadakan penginjilan (Camp Meetings) dan kebanyakan yang hadir di dalam camp meeting itu adalah pemuda-pamuda berdarah campuran Belanda Indonesia. (Ambon, Minahasa, Timor). Kemudian Pdt Groesbeck bertemu dengan Van Gesel seorang karyawan BPM di Cepu.Dan mereka bersama-sama bergabung pada persekutuan De Bond Voor Evangelisatie yang pada waktu itu kerohaniannya lebih maju daripada orang-orang Kristen lainnya. Ibu moeke Wynen salah seorang yang aktif pada organisasi ini, dan dialah memperkenalkan penginjil dari Seatle USA ini pada organisasi tersebut. De bond Voor Evangelisatie berpusat di Bandung dan pimpinannya antara lain Wenink Van Loon yang waktu itu telah bergabung bersama-sama dengan Pinkster Beweging Pimpinan Papa Thiessen.

Pada 29 Maret 1923 tibalah di Cepu Rev Johannes Thiesen bersama Wenink Van Loon (pimpinan‚ De bond Van Evangelistie dari Bandung dan mengadakan kebaktian. Dan keesokan harinya adalah hari Jumat Agung (Goede Vrijdag). Pada 30 Maret 1923 diumumkan akan diadakan baptisan air di daerah pasar sore. Jumlah yang dibaptis pada waktu itu adalah 13 jiwa yang nama-nama mereka sebagai berikut, Jan Jeckel, Ny Jeckel, tn F G van Gesel Ny van Gesel, Ch C De Vriew, Tn Frists S Lumoindong, Tn Win Vincentie, Ny Vincentie, Tn Agust Kops, Corie Eiderbrink, Anton leterman, Tn Sambow Ignatius Paulus Lumoindong, Ny SIP Lumoindong Vincentie. Mereka dibaptis oleh Pdt Thiessen dan Pdt Groesbeck, dalam kebaktian Kebangunan Ronahi di Cepu. Pada 29-30 Maret 1923 itu terjadi peme-nuhan Roh Kudus pada mereka yang mengikuti Kebaktian dan acara pembaptisan air. Sehingga tanggal 29 Maret 1923 sebagai hari berdirinya Pinkster Beweging oleh Rev Johannes Thiessen.

Thiessen dan Wenink Van Loon kembali ke Bandung dan menersukan pelayanan disana. Sedangkan dari Cepu Api Pentakosta terus menjalar dengan disertai kuasa dan mukjizat-mukjizat ke Surabaya dan hampir seluruh Jawa Timur. Para Pelopor aliran Pentakosta ini membagi wilayah pelayanan mereka. Sedangkan Rev Johannes memilih Kota Bandung sebagai basis pelayanannya. Pada mula pelayanannya di Bandung Papa Thiessen menyewa gedung pangadilan negeri (Landraadzaal) sebagai tempat kebaktian, karena pada malam hari dan minggu tentunya tidak dipergunakan.

Karena makin banyak pengunjung, tempat kebaktian tidak memadai lagi. Timbul hasrat untuk membangun gereja sendiri.Tuhan mengge-rakkan hati Zr Kuilsoonlaan (sekarang jl. Marjuk No. 11) untuk dibangun gedung gereja. Dengan pertolongan Tuhan berdirilah gereja (gedung) Pinkster Beweging yang pertama di Bandung diberi nama BETHEL. Gedung gereja ini dapat menampung + 300 orang. Dan tempat inilah Thiessen kemudian dibantu oleh anak-anaknya mengabarkan injil yang penuh kuasa dan heran. Untuk memenuhi ketentuan dari pemerintah dari Hindia Belanda, maka Thiessen mangajukan permohonan untuk memberitakan injil di daerah Jawa barat pada tanggal 04 April 1923. Permohonan tersebut dikabulkan oleh pemerintah dan dikeluarkan Surat Keputusan No. 28 Tertanggal 04 Juli 1924 dari Gouvernour Generral Butitenzorg. Dengan SK tersebut palayanan papa Thiessen mendapat pengakuan pemerintah dan pelayanannya semakin meluas ke kota-kota lainnya.

Dekade 30 tahun (1923-1953) atau sampai meninggalnya rev. Johannes Thiessen pada 1 Maret 1953,saat usia 83 tahun, Gereja Gerakan Pentakosta sudah menyebar ke beberapa kota di pulau jawa, di Makassar Sulawesi Selatan sampai ke pedalaman tanah Toraja, dan di Minahasa, Sulawesi Utara.  Dan dalam dekade 30 tahun berikutnya Gereja Gerakan Pentakosta atau sampai tahun tahun 1980 telah meluas ke pedalaman kalimantan timur dan Barat, serta Sumatera Selatan atau Lampung sampai ke Sumatera Utara dan Sanger Talaud, Sulawesi Utara. Dari tahun 1990 sampai sekarang GGP (Pinkster Beweging) telah meluas ke propinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat dan Maluku hingga ke manca negara.

43

Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI)

Menjadi Anggota PGI: 10 Juli 1976
Berdiri: 30 Agustus 1964
Telepon: (0622) 22664
Fax: (0622) 433.625
e-Mail:
website: www.gkpi.org

 

Profil Singkat

Gereja di segala abad dan tempat menghadapi berbagai tantangan dan pertanyaan, baik yang bersifat klasik maupun yang baru. Hal ini sejalan dengan perkembangan zaman dan konteksnya. Terhadap semua itu gereja harus memberi jawaban; jawaban itu harus bersumber dari dan didasarkan pada Firman Tuhan di dalam Alkitab, sebagai satu-satunya sumber ajaran dan norma yang benar.Demikian GKPI. GKPI adalah bagian dari Tubuh Kristus yang esa, kudus, am dan rasuli di muka bumi ini. GKPI adalah juga suatu persekutuan yang secara khas hadir di Negara Republik Indonesia ini. Sejak berdirinya tanggal 30 Agustus 1964. GKPI ditantang untuk memberi jawaban atas berbagai pertanyaan dan masalah yang menyangkut banyak hal mendasar yang diimaninya, dalam rangka menyatakan ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus Kristus,  Raja Gereja dan Juru Selamat dunia.Ada berbagai  jawaban yang telah dikemukakan dan dirumuskan GKPI di sepanjang sejarah dan perjalanannya. Jawaban dan pernyataan iman itu tersebar di berbagai dokumen, berupa keputusan-keputusan dan pesan-pesan Sinode Am dan Rapat Pendeta, maupun berbagai hasil pertemuan dan persidangan di semua aras (tingkatan), dari tingkat Jemaat hingga Pusat. Karena sifat dan bentuknya tersebar dan tidak tersusun padu, GKPI perlu menyusun dan memiliki  rumusan yang lebih lengkap dan terpadu, agar dapat dipedomani dan digunakan seluruh warga dan pelayan GKPI, tatkala menghadapi berbagai pertanyaan dan masalah yang menyangkut iman mereka.Pokok Pokok Pemahaman Iman GKPI ini berfungsi sebagai pertama, pedoman dan tuntunan bagi seluruh jajaran GKPI dalam hal ajaran, supaya tidak diombang- ambingkan oleh rupa rupa angin pengajaran (Ef 4:14) dan supaya dapat menjawab perkara-perkara mendasar yang berkaitan dengan imannya, sebagaimana terlihat dari susunan isi dokumen ini. Kedua, pedoman  dan acuan bagi warga dan pelayan GKPI dalam merumuskan bentuk, isi, dan tujuan kesaksian dan pelayanan, demikian juga dalam menyusun peraturan dan program GKPI di semua aras. Ketiga, pedoman dan acuan untuk memberi jawaban dan pertanggungjawaban tentang imannya terhadap berbagai pengajaran dan nilai yang terus menerus bermunculan dan berubah, sekaligus menolaknya kalau ternyata bertentangan dengan iman Kristiani.Pokok pokok Pemahaman Iman GKPI ini bersumber dan berdasar pada Alkitab. Karena itu tidak dimaksudkan sebagai pengganti ataupun tandingan terhadap Alkitab. Namun di lain pihak dokumen ini hendak juga mencerminkan pemahaman dan penafsiran atas amanat Alkitab secara aktual, sehingga Alkitab sungguh-sungguh bersuara secara relevan pada masa kini, dan pesannya menjadi jelas bagi para warga dan pelayan GKPI.Pokok-pokok Pemahaman Iman GKPI ini juga mengacu pada sejumlah dokumen iman gereja dari segala abad, terutama yang dipelihara dalam tradisi iman gereja reformatoris, seperti Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, Pengakuan Iman Athanasianum, Katekhismus Martin Luther dan Konfessi Augsburg, demikian juga Pokok pokok ajaran bapa bapa gereja yang diakui sebagai bersifat ekumenis dan reformatoris. Dan sebagai bagian dari Gereja Kristen yang mengesa di Indonesia, Pokok pokok Pemahaman iman ini juga mengacu kepada Pemahaman Bersama Iman Kristen di Indonesia (PBIK), salah satu dari Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG) yang dirumuskan bersama di dalam Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI).Seperti dinyatakan dalam Tata Gereja GKPI, dengan pokok Pokok Pemahaman Iman ini GKPI juga sekaligus hendak menegaskan jatidirinya sebagai gereja yang hadir di tengah pergumulan bangsanya, dan turut memberi sumbangan bagi peletakan landasan moral, etika dan spritual bagi kehidupan bangsa Indonesia yang sedang membangun demi perwujudan cita-citanya.Selain Visi-misinya, motivasi GKPI periode 2010-2015 adalah GKPI sebagai tubuh Kristus, yang memiliki kerohanian berkualitas, dan berperan memberitakan Kabar Baik bagi pembaruan gereja dan masyarakat di Indonesia.” (Lih. TG-GKPI Pasal II.2). Sedangkan misinya yaitu “GKPI sebagai tubuh Kristus, menjalankan lebih sungguh-sungguh tri-tugas gereja (Apostolat, Pastorat, dan Diakonat) yang menunjukkan bahwa Tuhan itu baik bagi semua orang, sebagai jawaban dan jalan keluar terhadap berbagai masalah mendasar yang dihadapi umat kristiani pada khususnya dan seluruh bangsa dan masyarakat di Indonesia pada umumnya dewasa ini.

GKPI berdenominasi Lutheran dan memiliki wilayah pelayanan di Sumatera dan Jawa.

44

Gereja Protestan Indonesia di Buol Toli-toli (GPIBT)

Menjadi Anggota PGI: 10 Juli 1976
Berdiri: 18 Apr 1965
Telepon: (0453) 23143 | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GPIBT adalah sebuah kelompok Gereja Kristen Indonesia yang berbasis di Toli-toli dan Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. GPIBT lahir dari hasil penginjilan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang pada pertamakalinya mengutus A. Rondonuwu ke Toli-toli dan Ev. A.D. Siwy ke Buol. Awalnya, jemaat-jemaat yang berdiri ini disebut sebagai jemaat GMIM wilayah Buol dan wilayah Toli-toli. Tetapi setelah makin berkembang, maka dalam Sidang Sinode GMIM tanggal 14–18 Desember 1964 di manado, diresmikan menjadi gereja yang berdiri sendiri dengan nama Gereja Protestan Indonesia di Buol Toli-toli (GPIBT).Pada Sidang Sinode yang pertama tanggal 18 April 1965 ditetapkan Badan Pekerja Pertama dan terpilih sebagai ketua adalah Pdt. J.J.Ch.W. Wala. GPIBT yang berdenominasi Reformeed ini, memiliki wilayah pelayanan di Buol, Tolitoli.

45

Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM)

Menjadi Anggota PGI: 10 Juli 1976
Berdiri: 9 Juli 1916
Telepon: (0759) 322.012 | Fax: (0759) 322.011
e-Mail:  pusatgkpm@yahoo.co.id
website:

 

Profil Singkat

GKPM ialah suatu kelompok gereja Kristen Protestan di Indonesia. Didirikan di pulau Pagai utara dan akhirnya menjadi anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yang ke 45.GKPM berdiri pada 9 Juli 1916 di Nemnemleleu – Sikakap, Mentawai, untuk mewujudkan tri tugas panggilan gereja, yaitu: persekutuan, kesaksian, dan pelayanan, sebagai tubuh Kristus dalam menghadirkan Kerajaan Allah yang berisikan keadilan, perdamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia, khususnya di Pulau Mentawai. GKPM termasuk denominasi Lutheran.

 

46

Gereja Kristen di Indonesia di Sumatera Utara (GKI SUMUT)

Menjadi Anggota PGI: 10 Juli 1976
Berdiri: 11 Sep 1969
Telepon: 0622-23143 | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Sinode GKI Sumut terletak di Jl. Gunung Simanuk-manuk No.13, Pematangsiantar – Sumut 21115.Menilik sejarahnya GKI Sumut sebelumnya bernama Gereja Gereformeed Sumatera Utara, lahir dan berkembang sebagai hasil misi Gereja Gereformeed Kwitang – Jakarta tahun 1877. Beberapa pendeta yang aktip melayani pada waktu itu adalah Pdt. Harrenstein, Pdt.Dr.J.H.Baving, Pdt.W.S.Wlersings.Setelah jemaatnya berkembang, maka pada 11 September 1969 gereja ini dilembagakan menjadi satu sinode yang berdiri sendiri dengan nama Gereja Gereformeed Indonesia Sumatera Utara. Kemudian, pada Sinode tanggal 17-19 1974 diputuskan untuk berubah nama menjadi Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara (GKI Sumut), denominasi Reformeed.

47

Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA)

Menjadi Anggota PGI: 19 Mei 1977
Berdiri: 26 Oktober 1975
Telepon: (0634) 21302 | Fax: (0634) 22751
e-Mail:  kp_gkpa@yahoo.com
website: http://gkpa.wordpress.com

 

Profil Singkat

GKPA adalah suatu sinode gereja Kristen Protestan di Indonesia yang berkantor pusat di Padangsidempuan, Provinsi Sumatera Utara. GKPA pada awalnya merupakan bagian jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Untuk menunjukkan ciri khasnya huruf A (Angkola) ditambahkan di belakang nama HKBP, seperti misalnya nama gereja yang terbentuk pada tahun 1940-an di daerah Bona Bulu Luat Angkola diberi nama HKBPA. Kemudian jemaat ini dimekarkan dan menjadi satu sinode yang berdiri sendiri dengan nama Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA).Awal berdirinya GKPA berasal dari pergumulan Putra-putri Angkola tentang pentingnya Berita Kesukaan/Injil disampaikan, dan dengan mudah dimengerti oleh orang–orang Angkola. GKPA semula bernama HKBPA dan berdiri sendiri dari HKBP tanggal 26 Oktober 1975, dan sejak semula telah memiliki misi: “Patanakkon Hata Ni Debata di Luat Angkola“, adalah penggabungan dari HKBPA dan GPA yang ditetapkan pada tanggal 1 Juli 1988.  Saat ini jemaat GKPA tersebar di seluruh Indonesia, dan terdiri dari 6.291 KK dan 29.511 jiwa.Berbekal dari pengakuan Pemerintah c.q. Depag RI No. 1 Ket/413/159277 tertanggal 19 Oktober 1997, No. 75 tanggal 10 Maret 1988 dan No. 21 TAHUN 1995, serta berdasarkan UU No. 8 / 1985 Tambahan Berita Negara RI No. 17 tanggal 26 Pebruari 1999 GKPA tetap memberitakan Kristus walaupun menghadapi banyak pergumulan dan tantangan. GKPA berdenominasi Lutheran.

 

48

Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM)

Menjadi Anggota PGI: 6 September 1979
Berdiri: 25 Maret 1933
Telepon: (0431) 865.941 | Fax:
e-Mail:  revlibororing@yahoo.com
website:

 

Profil Singkat

KGPM berdiri pada 1933, sebagai satu gereja di Minahasa, adalah merupakan jawaban atas berbagai masalah yang ada pada Gereja Negara (Indische Kerk) yang menguasai kehidupan kerohanian jemaat-jemaat protestan sejak permulaan abad ke-19 sampai dengan permulaan abad ke-20. Namun, kelahiran KGPM itu tidaklah secara tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses perjuangan yang cukup lama dengan dasar dan latar belakang yang kuat seperti kepincangan/kelemahan Indishe Kerk (aspek gerejawi/rohani), kepincangan sosial dan situasi perjuangan bangsa Indonesia ketika itu (aspek politik).Usaha perintisan mendirikan gereja otonom dimulai dari Dominggus Lambertus Mangindaan (asal Pondang, Minsel). Pada 1858 dia selesai menempuh pendidikan teologia I Rotterdam Negeri Belanda. Dia membawa 2 ijasah yaitu Hoofdacte (ijasah kepala sekolah) dan Domine (pendeta). Dominggus dikirim belajar ke Rotterdam pada 1848 oleh Zendeling CT Herman yang bertugas di Amurang. Setelah kembali dia sebagai utusan Injil NZG. Diangkat oleh Indische Kerk sebagai pendeta di Tikala Manado dan wakil Predikant Manado.Khotbah awalnya, Lambertus Mangindaan sudah mengumandangkan Gereja Minahasa berdiri sendiri dengan alasan tertulis dalam Alkitab Yohanes 9:5, 8:12, 12:36, yaitu Yesus Kristus Terang Dunia. Usaha ini terus diperjuangkannya. Dia mendapat simpati dari Zendeling HJ Tendelo di Amurang (1857-1862), AC Schaafmn Langowan (1860-1870), JAT Schwarz di Sonder (1866-1905) dan CJ Van de Lufde di Amurang (1861-1898). Aksinya ini membuat dia diberhentikan dari jabatannya dengan alasan pertama, dia pribumi, dianggap lebih rendah dengan petugas bangsa Belanda. Kedua, dia diprotes menjadi wakil Predikant di Manado. Ketiga, dia berjuang untuk mendirikan Gereja Minahasa berdiri sendiri. Tidak disetujui oleh petugas Gereja di Eropa dan dianggap tidak layak memberitakan injil pada suku bangsanya.Selanjutnya ada Joel Walintukan dan W. Sumampouw. Joel Walintukan berasal dari Wuwuk dan Amurang (Minsel) adalah seorang guru Kweekschool NZG di Tanawangko. Pada 1886 dipindahkan ke Kuranga Tomohon. Dia menentang penyerahan jemaat-jemaat ke Indische Kerk dan berjuang mendirikan Gereja Minahasa Berdiri Sendiri. Dalam perjuangannya dia dibantu oleh Willem Sumampouw (Tonsea Lama) yang adalah guru pertukangan di Kweekschool dan pengikutnya para guru NZG yang merangkap sebagai guru jemaat. Karena tindakannya, maka dia diberhentikan pada 1890 dan digantikan oleh AM Pangkey (Kawangkoan Bawah) yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Sekolah di Pondang Amurang. Setelah Joel Walintukan diberhentikan, Wellem Sumampouw juga kembali ke Amurang dan berdagang hasil bumi. Dia kemudian menikah dengan Nona Tumbuan di Wakan. Dia desa Wakan dia berusaha menanamkan ide tentang pendirian Gereja Minahasa Berdiri Sendiri.Pada 1912 AM Pangkey dan JU Mangowal (Sonder) yang adalah guru di Kweekschool Kuranga Tomohon membentuk Perserikatan Pangkal Setia. Pangkal Setia didirikan untuk memajukan pengajaran Kristen, memperhatikan kepentingan sekutunya dan memperkuat hubungan dengan Belanda. Pada 12 Juli 1920 Perserikatan Pangkal Setia diakui sah sebagai organisasi oleh pemerintah dengan diterbitkannya besluit No 31 dari Gubernur Jenderaql Nederland di Betawi (Jakarta). Tapi pada 1921 Perserikatan Pangkal Setia mulai berusaha kearah pembentukan Gereja Minahasa berdiri sendiri lepas dari Indische Kerk. Paad 1928 Perserikatan Pangkal Setia dikembangkan untuk umum dengan dipelopori guru-guru NZG. Pada tahun itu B.W Lapian menduduki posisi sebagai Wakil Ketua. Pada waktu itu Pangkal Setia sudah ada cabang-cabangnya.Perjuangan Pangkal Setia pada tahun 1921 dsetujui pegawai NZG (Heiebink Rooker, G.B Tiekstra, B Barends ten Kate dan Jansen Klomp). Mereka meminta Kweekschool Kurang yang akan menjadi dasar dari Sekolah Pendeta Minahasa yang dibuka pada 1 Juli 1927 dan pelaksanaannya dibuktikan dengan pengiriman Ds J.E Stap yang tiba bulan November 1927 di Tomohon. Dia menjadi direktur asrama yang menampung 55 orang siswa kelas III, termasuk JG Mangindaan. J.E Stap dibantu isterinya Nyonya Stap Glader.Juli 1922, Direktur Sekolah Barends ten Kate memberitahu kepada siswa kelas III bahwa mereka adalah kelas yang terbaik dan menjadi siswa pertama dari sekolah pendeta itu dengan lamanya studi selama 2 tahun. Tapi para siswa minta agar mereka belajar selama 3 tahun supaya pelajaran lebih luas dan tinggi. Mereka ini yang akan menjadi pendeta-pndeta Gereja Minahasa berdiri sendiri yang didirikan oleh Pangkal Setia. Kebaktian Gereja Minahasa Berdiri Sendiri dimulai AM Pangkey di Kuranga, Tomohon pada bulan Juli 1925 dan dilanjutkan pada setiap hari Minggu. Pada tahun itu juga disusunlah Peraturan Gereja (Peraturan itu setelah diadaptasi menjadi Peraturan KGPM). NZG juga dimintakan supaya mengambil alih jemaat-jemaat di Minahasa, dengan alasan Indische Kerk tidak melaksanakan amanat setelah surat timbang terima pada 1880 untuk mendirikan Gereja Minahasa Berdiri Sendiri.Gerakan Pangkal Setia ini pada triwulan I tahun 1926 ditentang oleh Predikant Ds E.A De Vreede dan Inlandsch Leraren Bond melalui Kerk Bestuur. Gubernur Jenderal dan Menteri Kolonie Colyn di Belanda mendesak dibatalkan. Akibatnya JE Stap memperpadat pelajaran teologia sehingga pendidikan bias selesai pada April 1926 dan ujian pada Mei 1926. Usaha mendirikan Gereja Minahasa berdiri sendiri akhirnya juga kandas, JU Mangowal yang diutus ke Batavia tidak menghasilkan apa-apa seperti yang dialami oleh Joseph Jacobus.Sementara penolong-penolong Injil dari Indische Kerk mulai menyadari betapa pentingnya usaha yang sedang dilaksanakan oleh Pangkal Setia, Majelis Gereja di Manado serta beberapa tokoh masyarakat lainnya. Maka pada tahun 1928 dibentuklah di Manado Organisasi Persatuan Penolong-penolong Injil dengan dana dari Ilandsch Leraren Bond atas usaha dari Talumepa. Salah satu tujuan organisasi ini ialah mendukung lagi mempekukuh usaha Pangkal Setia guna pendirian gereja otonom buat Minahasa.

Sekitar 1931 dan 1932 gerakan keluar dari Indische Kerk semakin meluas dan semakin hangat dibicarakan di kalangan masyarakat. Gerakan ini semakin kuat karena pemerintah tidak mau melepaskan gereja dari Negara dan akan mengabilalih kembali NZG pada tahun 1930. Dalam kondisi seperti itu Komisi Reorganisasi (Komisi XII) dibentuk Ds De Vreede tepat melaksanakan tugas. Pada tahun 1932 Komisi XII memutuskan mengangkat GSSJ Ratulangi, R Tumbelaka dan Mr. A.A Maramis, sebagai wakil masyarakat untuk memperjuangkan kepada pemerintah kolonial Belanda di Batavia.

Agustus 1932 Perserikatan Pangkal Setia mengundang Majelis Gereja Manado dan lain-lain mengadakan rapat besar di Kuranga Tomohon dengan keputusan: 1. Membentuk Gereja Minahasa berdiri sendiri, dengan pemimpin orang Minahasa. 2. Dibentuk Panitia Kerapatan Gereja Protestan Minahasa. Panitia ini bertugas untuk persiapan berdirinya gereja otonom dengan sembilan anggota: Ketua Josef Jacobus (Ketua Pengadilan Negeri Manado), wakil ketua Zacharias Talumepa (pensiunan Inlands Leraren Bond), Sekretaris B.W Lapian (Pangkal Setia). Anggota-anggota: A Kandou (pensiunan School Opziener), B Warouw (pensiunan Hoof Opziener), E Sumampouw (pensiunan guru Manadosche School), A.E Tumbel (pensiunan guru Manadosche School), P.A Ratulangi (pensiunan Kepala Distrik) dan J.L Tambajong (pensiunan Kepala Distrik).

Pada 11 Maret 1933 bertempat di Sicieteit Harmoni (sekarang Ban BNI 1946) yang dulunya dikenal dengan jalan Juliana Lau kemudian jalan Hatta, berkumpullah 75 orang tokoh gereja dan tokoh masyarakat seperti: JU Mangowal, J Jacobus, FE Kumontoy, dr C Singal, dr AB Andu, Z Talumepa, NB Pandean, BW Lapian, RC Pesik dan lain-lain. Mereka bertemu dengan GSSJ Ratulangi yang memimpin pertemuan. Pertemuan itu membicarakan pemisahan gereja dan Negara dan tuntutan untuk segera mendirikan Gereja Protestan Minahasa.  Sam Ratulangi hasil sidang di Volksraad. Meski belum mendapat restu dari pemerintah Belada untuk mendirikan gereja berdiri sendiri, namun para peserta telah sepakat mendirikan gereja otonom. Dengan memilih Josep Jacobus menjadi formatur tunggal sebagai ketua badan dan membentuk pengurusnya. Hasil ini diminta disampaikan oleh Sam Ratulangi pada sidang Volksraad berikut. Pertemuan ini sempat heboh setelah diberitakan dalam media melalui Mingguan Pikiran Paangkal Setia, Keng Hwa Poo, Menara, Pewarta dan media lain.

Seminggu kemudian yakni 18 Maret 1933 di rumah Joseph Jacobus di Tikala Manado. Pertemuan ini tidak lagi dihadiri oleh Sam Ratulangi, Mr AA Maramis dan Tumbelaka karena mereka telah kembali ke Batavia. Pada pertemuann ini berhasil ditetapkan Badan Pengurus Organisasi Gereja dan nama pengurus organisasi gereja. Susunan Pengurus Badan Organisasi itu adalah: Ketua Joseph Jacobus, Wakil Ketua Zacharias Talumepa, Sekretaris BW Lapian, Bendahara AK Kandou. Pembantu-pembantu: B Warouw, E Sumampouw, PA Ratulangi, EA Tumbel dan JL Tambajong. BADAN PENGEMBALAAN terdiri dari: Zacharias Talumepa, H Sinaulan dan NB Pandean. Badan Penasihat: GSSJ Ratulangi, AB Andu, Ch Singal dan A Mononutu. BADAN PENDAMPING terdiri dari: JU Mangowal, AM Pangkey dan HM Pesik. Nama organisasi yang disepakati waktu itu adalah: Kerapatan Gereja Protestan Minahasa disingkat KGPM.

KGPM lahir sebagai bentuk kesaksian kepada Indische Kerk yang dinilai hadir sebagai alat untuk mengukuhkan dominasi pemerintahan penjajah di Indonesia. Didorong oleh rasa nasionalisme yang kuat, maka pada 25 Maret 1933 dalam suatu rapat di Manado, diputuskan untuk mendirikan satu sinode gereja dengan nama Kerapatan Gereja Protestan Minahasa. Pengurus yang terpilih pertama kali pada waktu itu adalah J.Jacobus (ketua), Z.Talumepa (wkl.ketua), B.W.Lapian (Sekretaris), dan N.B.Pandean (Bendahara). Kemudian, KGPM melepaskan diri dari Indische Kerk pada 29 Oktober 1933 dan sejak itu menyatakan diri sebagai gereja yang berdiri sendiri. KGPM berdenominasi Reformeed dan memiliki wilayah pelayanan di Indonesia.

 

49

Gereja Mission Batak (GMB)

Menjadi Anggota PGI: 22 Juli 1980
Berdiri: 17 Juli 1927
Telepon: (061) 770.94788
Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Kurang lebih 48 tahun sejak Injil diberitakan di tanah Batak, antusias orang-orang Batak yang telah menjadi Kristen sangat besar untuk ikut serta menyebarkan Injil ke daerah yang belum mengenal kekristenan. Kerinduan bersama untuk menyebarkan Injil itulah yang mendorong terbentuknya Pardonganon Mission Batak. Atas dasar kerinduan itu, pada tanggal 02 November 1899 oleh prakarsa Pdt. Henock Lumbantobing berdiri Zending Batak yang disebut Pardonganon Mission Batak “PMB” yang mana atas inisyatif Pdt. Henock Lumbantobing dan Pdt. Metzler, Pearaja dijadikan sebagai pusat Zending tersebut.Kata “Mission Batak” yang digunakan sebagai nama badan zending tersebut mengandung arti yang dalam bagi setiap orang Kristen pribumi, yang merasakan tanggungjawab atau kewajiban mutlak untuk mengeluarkan sesuatu dari miliknya kepadanya usaha zending pribumi tanpa menaruh rasa curiga kepada usaha zending luar negeri (Kongsi Barmen di tanah Batak sejak tahun 1861). Setelah pendirian badan zending tersebut, terdapat berbagai sikap yang antusias dan mendukung dari berbagai pihak, di antaranya sambutan dari Badan Zending “Kongsi Barmen” yang dengan gembira menyambut berdirinya badan zending tersebut.Menanggapi hal tersebut, Kongsi Barmen menganjurkan agar pada tahun pertama dan tahun kedua, Kongsi PMB agar mengumpulkan modal dan pada tahun ketiga melancarkan gerakan zending atas biaya sendiri. J.T.H. Panjaitan dalam bukunya, Panggilan dan Suruhan Allah: Risalah dan Kesan-kesan Serta Pandangan-Pandangan Mengenai Pekabaran Injil Huria Kristen Batak Protestan Untuk Peringatan 75 Tahun Pekabaran Injil HKBP (1899-1974), (Pematangsiantar, Departemen Zending HKBP, 1974), menyebutkan dalam kesempatan itu, Kongsi Barmen juga setuju dengan program kerja yang dirumuskan Kongsi PMB, di antaranya : – Untuk turut melancarkan usaha Zending di Pulau Samosir, Uluan, Pakpak/Dairi dan Simalungun.; Membantu Kongsi Barmen untuk memberikan pelayanan yang cukup kepada jemaat-jemaat yang jauh terpencil dari tempat pendeta Eropa.; – Membantu usaha sosial di antara masyarakat Kristen dan bukan Kristen, antara lain merawat orang-orang cacat.Sebuah karya misi yang terlaksana dalam tubuh gereja Batak yang terlihat dalam PMB adalah sebuah bentuk misi yang transformatif. Misi pemberitaan akan Injil melalui para missionaris mendapat respon dari orang-orang Batak, mereka percaya dan dibaptis. Terang yang diberikan Injil menjadikan orang-orang Batak Kristen memiliki rasa ingin ikut serta dalam usaha pekabaran Injil tersebut. Inilah yang terjadi dalam Lembaga Pardonganon Mission Batak (PMB). GMB menjadi anggota PGI pada 22 Juli 1980GMB yang lahir karena didorong nasionalisme serta keinginan untuk merdeka dari kuasa penjajahan Belanda dan dominasi Zendeling Eropa di tengah-tengah gereja Batak. Kebaktian perdana diadakan pada 17 Juli 1927 di Gedung Methodist Boys School (Medan), dipimpin oleh Vorg.Mahadi Siregar. Pendeta Pertama yang ditahbiskan adalah Pdt.Kenan Hutabarat. Demikianlah gereja ini terus hidup dan melayani sekalipun menghadapi banyak tantangan dan tekanan, terutama pada saat pembentukannya. GMB menjadi anggota PGI pada 22 Juli 1980.

50

Gereja Angowuloa Masehi Indonesia Nias (Gereja AMIN)

menjadi Anggota PGI: 22 Juli 1980
Berdiri: 12 Mei 1946
Telepon:   |   Fax:
e-Mail: amin.nias@yahoo.co.id
website:

 

Profil Singkat

Gereja AMIN adalah salah satu gereja Protestan di Indonesia yang ada di Pulau Nias, yang beralamat di Jl. Gereja AMIN No. 48, Desa Tetehosi I, Gunungsitoli Idanoi, Provinsi Sumatera Utara. Tahun 1865 misi Protestan di pulau Nias dimulai oleh RMG. Pada saat itu, penduduk pulau masih memeluk agama leluhur. Kemudian ketika kekuasaan colonial Belanda masuk (sekitar tahun 1900an), pertumbuhan jemaat Kristen kian melambat lambat (706 pada tahun 1890).Pada 1 Mei 1946 Gereja AMIN memisahkan diri dari BNKP. Alasan paling kuat yang digunakan adalah gaya kepemimpinan BNKP yang legalistis dan kewenangan para pemimpin tradisional (adat) di dalam gereja, sehingga gereja itu hanya terbatas pada satu kepala Adat (Nias). Tokoh utama di balik pendirian Gereja AMIN adalah Adolf Gea dan Pdt. Sigambowo Zebua. Gereja AMIN berdenominasi Lutheran ini, memiliki wilayah pelayanan di Nias, Sumatera dan Jawa.

51

Gereja Kristen Anugerah (GKA)

Menjadi Anggota PGI: 4 Desember 1980
Berdiri: 1 September 1963
Telepon: (021) 631.5309 | Fax: (021) 6470.0736
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GKA bermula dari penginjilan langsung ke rumah-rumah, mendoakan ke rumah-rumah sakit, dan penghiburan ketika mengalami musibah. Lama-kelamaan banyak jiwa yang tertarik masuk menjadi Kristen, dan kemudian dibaptis. Pendiri serta pengurus pada pertama kali terbentuk adalah Bishop Prof.Dr.Jahja Hardjojo bersama 6 orang teman.Sekarang ini kegiatan yang dilakukan adalah menyelenggarakan kebaktian, KKR, pemahaman Alkitab, seminar-seminar rohani dan pemuridan. GKA yang berdenominasi Pentakosta ini memiliki wilayah pelayanan di Jakarta.

52

Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL)

Menjadi Anggota PGI: 3 Oktober 1983
Berdiri: 6 Februari 1966
Telepon: (0471) 23616 | Fax: (0471) 23616
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GPIL merupakan suatu organisasi gereja Kristen Protestan di Indonesia yang didirikan melayani wilayah Sulawesi Selatan. Gereja ini ialah bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI/Indische Kerk).Cikal bakal GPIL berasal dari kelompok kebaktian yang melepaskan diri dari Jemaat Pniel Palopo Gereja Toraja, tahun 1965. Kebaktian sendiri untuk pertama kalinya dilaksanakan pada Juli 1965 dengan nama Jemaat Wara yang dilayani oleh Pdt. M. Gasong. Kemudian, pada hari Minggu 6 Februari 1966 diresmikan menjadi satu gereja yang berdiri sendiri dengan nama Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL).  Pada sidangnya yang pertama dipilih dan ditetapkan Badan Pekerja Sinode pertama, yaitu Pdt.M.Gasong (Ketua), K.M.L.Pagalla (Sekretaris) dan Itjtjing Pasande (Bendahara).Wilayah pelayanan GPIL meliputi 4 provinsi di pulau Sulawesi yaitu Sulawesi Selatan (kabupaten Luwu, Luwu Utara, kota Palopo, kota Pare-pare, kabupaten Luwu Timur, kabupaten Luwu Barat dan kabupaten Sidrap (Sidenreng Rappeng), Sulawesi Tengah (kota Palu, kabupaten Poso, kota Poso, kabupaten Morowali dan kabupaten Sigi serta wilayah Donggala), Sulawesi Barat (Mamasa dan Mamuju) serta  Sulawesi Tenggara (kabupaten Kolaka, Konewa dan kota Kendari).GPIL resmi masuk pada 3 Oktober 1983,  Dewan Gereja Asia, Dewan Gereja se-Dunia dan Sinode Am Sulawesi Selatan. GPIL merupakan mitra gereja dari Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara/GEPSULTRA, Gereja Toraja, Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) dan gereja-gereja mandiri dari GPI. Seperti Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Gereja Protestan Maluku (GPM) dan Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH). GPIL berdenominasi Reformeed.

53

Gereja Kebangunan Kalam Allah (GKKA)

Menjadi Anggota PGI: 28 Oktober 1984

Berdiri: 13 Mei 1973

Telepon: (031) 849.0732, 841.6908    Fax: (031) 849.0151
e-Mail :  mph_gkkaind@yahoo.com
website :

 

Profil Singkat

GKKA merupakan satu dari tiga Sinode Gereja yang didirikan Chinese Foreign Missionary Union (CFMU), sebuah Badan Misi Gereja-gereja Tionghoa di Tiongkok yang dibentuk oleh Pdt.Robert A.Jaffray (Kanada) dan Pdt.Dr.Leland Wang pada tahun 1929. Sejak berdirinya, CFMU dengan semangat berkobar-kobar menjalankan pelayanan misi sampai ke Indonesia dan berdirilah gereja-gereja Tionghoa di berbagai daerah.GKKA sendiri lahir sebagai hasil keputusan Sidang Raya Pertama wakil gereja-gereja yang ada di Surabaya, Ujung Pandang, dan Sidoarjo di Surabaya pada 11 – 13 Mei 1973. Pada tahun yang sama, jemaat di Damai Kalimantan Timur dan jemaat-jemaat lain serta pos-pos PI di sekitarnya yang digembalakan Pdt. Chang Shih Ying menjadi anggota Sinode GKKA. Demikian juga jemaat yang ada di Tarakan bergabung ke GKKA pada tahun 1974. GKKA berdenominasi Injili.

 

54

Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK)

Menjadi Anggota PGI: 25 Februari 1987
Berdiri: 5 September 1973
Telepon: (021) 2903.4345-6
Fax: (021) 2903.4337
e-Mail:  sinodegkkk@cbn.net.id;  gkkk@sinodekalamkudus.org
website: http://www.sinodekalamkudus.org

 

Profil Singkat

Berdirinya GKKK merupakan hasil misi yang dilaksanakan oleh Evangelize China Fellowship (ECF)/Yayasan Penyiaran Injil Tiongkok atau Chung Kuo Pu Tao Hui, Shanghai, China. ECF adalah Yayasan Penginjilan yang dipimpin oleh Pdt. Andrew Gih. Misi pelayanan ECF adalah mengadakan Penyiaran Injil dan KKR, juga mendirikan panti panti asuhan yatim piatu akibat perang saudara yang melanda Tiongkok waktu itu.Setelah negara RRC berdiri tahun 1949, ECF pindah ladang pelayanan di luar daratan Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Malaysia, Indonesia, Macao, Singapura, Thailand, Myanmar, Philipina dan Amerika Serikat. Di Indonesia ECF dinasionalisasikan menjadi Yayasan Penyiaran Injil Indonesia yang merintis GKKK dan Yayasan Malseta, yang bertujuan mendirikan Sekolah Teologi MAAT yang kemudian diubah menjadi SAAT Malang.Pdt. Andrew Gih lahir di Shanghai, China tahun 1901. Mengalami lahir baru tahun 1923 dan mempersembahkan diri jadi hamba Tuhan tahun 1926. Menikah dengan Dorcas Chang Chui Ing di Shanghai tahun 1928. Mendirikan ECF tahun 1947 di Shanghai, kemudian dipindahkan ke Hongkong pada 1949. Menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Cascade College, Portland, Oregon, USA tahun 1950. Beliau pensiun tahun 1978 dan meninggal dunia 13 Februari 1985 di Los Angeles, USA pada usia 85 tahun.Dr. Andrew Gih tercatat pernah bekerja sama dengan Dr. John Sung, seorang penginjil yang sangat berpengaruh di Tiongkok. Dr. Andrew Gih dan Dr. John Sung adalah dua tokoh Injil berkarisma yang membawa kebangunan rohani di gereja-gereja di Tiongkok sebelum berdirinya pemerintahan RRC tahun 1949. Pengaruh pengajaran dan semangat penginjilan terhadap gereja-gereja Tionghoa di daratan maupun di luar daratan Tiongkok sangat besar. Khotbah-khotbah mereka sangat menekankan pertobatan dan penginjilan. Dr. John Sung meninggal tahun 1942 di usia 42 tahun, usia yang masih relatif muda.Dr. Andrew Gih memutar haluan pelayanan dari daratan Tiongkok ke selatan samudera yang disebut nan Yang. Tahun 1950, Dr. Andrew Gih pertama kali datang ke Indonesia mengadakan kebaktian-kebaktian kebangunan rohani di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dalam pelayanan di Medan, Dr. Andrew Gih bertemu Dr. Peter Wongso, kemudian menjadi motor penggerak keberadaan GKKK dan SKKK yang ada di seluruh Indonesia dan menjadi murid pertama MAAT yang didirikan Dr. Andrew Gih.Dr. Peter Wongso lahir dalam kelaurga Pendeta Metodis Hok Kian Tiongkok tahun 1932. Pindah ke Indonesia tahun 1949. Tinggal di Kota Medan dan giat memberitakan Injil di Gereja Metodist Medan. Beliau bertemu Dr. Andrew Gih di Medan saat Dr. Gih berkunjung dan mengadakan KKR di Medan. Mereka berdua melihat kebutuhan tenaga hamba Tuhan yang mendesak di kalangan gereja-gereja Tionghoa untuk menggembalakan jemaat dan memberitakan Injil kepaada orang-orang Tionghoa di perantauan di Indonesia.Tanggal 10 Mei 1952 dihadapan Notaris Mr. Raden Soedja, Dr. Andrew Gih yang diwakili istrinya Dorcas Gih, Ds Pouw Peng Hong dan rekan-rekan lain mendirikan dua yayasan. Yayasan Penyiaran Injil Indonesia (mirip ECF, Yayasan Penyiaran Injil Tiongkok) dengan akte notaris No. 41 dan Yayasan Madrasah Alkitab Asia Tenggara (Malsetra) dengan akte No. 42. Yayasan Penyiaran Injil Indonesia kemudian berkembang menjadi Sinode GKKK dan Yayasan Kalam Kudus Indonesia yang masing-masing mempunyai Satuan Unit Pelayanan GKKK dan SKKK.

Madrasah Alkitab Asia Tenggara (MAAT) di Malang, Jawa Timur adalah sebuah sekolah teologi yang berazaskan Alkitab, berteologi Injili dan berakar pada budaya Tionghoa. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Mandarin. MAAT juga memiliki disiplin belajar dan kehidupan kampus yang ketat. Tahun 60an MAAT dipimpin Rektor James Hui. Sebelumnya ia menjabat sebagai konsul dari pemerintah Tiongkok Nasionalis untuk Philipina di Manila. Isteri James Hui seorang wanita Kristen Tionghoa yang berbudi luhur. Ia sangat mendukung pelayanan suaminya sebagai rektor dan ia menjadi ibu asrama bersama ibu Ruth Chang.

Mahasiswa MAAT yang tinggal di kampus memiliki kehidupan yang sangat disiplin. Bangun pagi lalu berdoa, membaca Alkitab, merenungkan firman Tuhan, mengutip salah satu ayat, menghafal ulang sebelum makan pagi dengan mahasiswa lain di meja makan waktu sarapan pagi. No Bible no breakfast, moto Dr. Reland Wong itu selalu diingat. Mahasiswa harus mencuci pakaian sendiri, mencuci kamar mandi dan WC. Pria bertugas ke kantor pos, wanita bergilir masak di dapur dan belanja ke pasar. Pria dan wanita bergilir mencuci piring. Dilarang kerasa berpacaran. Motto kehidupan di kampus adalah “segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Korintus 14:40)”. MAAT mengenggembleng mahasiswanya sedemikian rupa, sehingga kebutuhan hamba Tuhan di gereja-gereja Tionghoa di Indonesia terpenuhi secara kuantitas maupun kualitas.

Setelah Dr. James Hiu dan isterinya pensiun, mereka kembali ke Taiwan tahun 1964. Gantinya Pdt. Peter Wongso. Sebagai Rektor, kepemimpinan Pdt. Peter Wongso sangat menekankan misi penginjilan. Semangat penginjilan ditanamkan ke dalam jiwa mahasiswa MAAT ini sangat bermanfat bagi mahasiswa itu sendiri dan sangat mendukung pertumbuhan gereja di Indonesia. Sebagian lulusan MAAT yang tergerak diutus membuka ladang baru mendirikan Pos PI GKKK di seluruh Indonesia. Mulai dari Medan, Pematangsiantar, Sibolga, Padang Sidempuan, Batang Toru, Pekan Baru, Selat panjang, Padang, Pangkal Pinang, Batam, Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Blitar, Denpasar, Makassar, Bone, Ambon, Jayapura, Sorong, manado dan Pontianak. GKKK berdenominasi Injili.

55

Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP)

Menjadi Anggota PGI: 22 April 1988
Berdiri: 16 April 1952
Telepon: 0639-22750 | Fax: 0639-22750
e-Mail:  pimpinanpusatonkp@gmail.com
website:

 

Profil Singkat

Gereja ONKP bertumbuh dari pekerjaan utusan Injil E.L. Denninger dari lembaga penginjilan Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) di Barmen, Jerman. Denninger mendarat di Gunung Sitoli pada 27 September 1865.Pada hari raya Paskah 1874, pertama kali dilayankan sakramen baptisan kepada 25 orang warga suku Nias. Salah seorang tokoh Nias yang berperanan besar dalam usaha pemberitaan Injil ialah kepala kampung, Ama Mandranga. Upaya supaya jemaat-jemaat Nias menjadi swadaya telah dimulai agak dini. Sarana yang hendak disebut terakhir ialah penerjemahan Alkitab dan buku-buku lain ke dalam bahasa Nias (Utara) oleh pekabar Injil H. Sundermann, dengan bantuan Ama Mandranga dan beberapa orang Nias lannya. Injil Lukas selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Nias pada 1874, dan seluruh Perjanjian Baru diselesaikan pada 1891.Sementara di kalangan masyarakat Nias sendiri terjadi penyembuhan melalui doa, mimpi-mimpi, keadaan ekstatis. Lahirlah juga sejumlah besar lagu gereja yang baru. Orang melakukan doa syafaat yang satu untuk yang lain. Kuasa adat berkurang. Anggota jemaat bergairah mengabarkan Injil kepada yang belum menerimanya.Pada 16 April 1952 terbentuklah gereja baru dengan nama Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP). BPH pertamanya Pdt. Dalihuku Marunduri (Presiden), Pdt. Dalimano Hia (Sekretaris), Snk. Huno Hia (Bendahara), Pdt. Fangaro Gulo (Komisaris) dan Pdt. Fosasi Daeli (Penasehat). Kini ONKP hadir pula di bebearpa kota di Indonesia, di luar Pulau Nias. ONKP berdenominasi Lutheran.

56

Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS)

Menjadi Anggota PGI: 22 April 1988
Berdiri: 6 Agustus 1987
Telepon: (0725) 42598 | Fax: (0725) 42598
e-Mail:  sinode_gksbs@yahoo.co.id;  sinode@gksbs.org
website: http://www.gksbs.org

 

Profil Singkat

GKSBS memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Bermula dari datangnya orang-orang Kristen dari Pulau Jawa mengikuti program transmigrasi (kolonisasi) mulai tahun 1936. Dua tahun kemudian, tahun 1938 Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) terpanggil melayani mereka dan mengirimkan para pelayannya ke Sumatera Bagian Selatan.Tahun 1971, Sinode GKJ mulai mempersiapkan kemandirian gereja yang dilayaninya di ‘Tanah Seberang’ yang ketika itu bernama Sinode GKJ Wilayah I di Sumatera Bagian Selatan. Arah kemandirian itu diwujudkan dengan melakukan program-program pembinaan yang intensif, perkunjungan-perkunjungan ke wilayah pelayanan dijadwalkan secara teratur sampai tahun 1987. Usaha-usaha itu diberkati Tuhan dan menghasilkan buah.Pada Sidang XVIII Sinode GKJ di Yogyakarta 6 Agustus 1987 diputuskan, Sinode GKJ Wilayah I di Sumatera Bagian Selatan dinyatakan mandiri dan menjadi sinode sendiri dengan nama Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (disingkat GKSBS). Pada awal kemandiriannya itu, Sinode GKSBS masih menggunakan Tata Gereja GKJ.Pada Sidang IV Sinode GKSBS 26-29 Agustus 1996 di Bandar Lampung, GKSBS mengesahkan Tata Gereja/Tata Laksana GKSBS, bertepatan dengan disahkannya Tata Gereja/Tata Laksana GKSBS, nama “Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan” menjadi “Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan”. Pemerintahan Gereja (secara teologis) adalah Kristokrasi, yang menganut sistem “Presbiterial Sinodal” yang didalamnya menekankan pentingnya kebersamaan dalam hal dana, sesuai amanat musyawarah Majelis Sinode 1987 dan Sidang I Sinode GKSBS.Pada Sidang Sinode VIII Sinode GKSBS 23-26 September 2005 di bengkulu, disetujui (Artikel 12: Liturgi Kontekstual) yang didalamnya termuat tentang pelayanan perjamuan kudus untuk anak mulai diberlakukan.

57

Gereja Protestan Kalimantan Barat (GPKB) Pontianak

Menjadi Anggota PGI: 24 April 1989
Berdiri: 10 Februari 1963
Telepon: (0561) 37523 | Fax:
e-Mail:  sinode.gpkb@gmail.com
website:

 

Profil Singkat

GPKB Pontianak didirikan pada tahun 1963 sebagai perwujudan dari Amanat Agung Tuhan Yesus untuk memberitakan Kabar Baik ke seluruh dunia, khususnya di daerah Kalimantan Barat. Pekabaran Injil (PI) masuk di Tanah Borneo, terutama di Kota Pontianak dan sekitarnya pada 1839. Ketika itu Zending yang berasal dari Amerika, “American Board of Commissioners for Foreign Missions” menginjili, namun tidak membawa hasil yang memuaskan. Tahun 1906, masuk PI Methodist (Board of Foreign Missions of The Methodist Episcopal Church) dari Amerika. Dibantu warga keturunan Tionghoa yang ada di Singapura, khususnya mereka yang sekolah di Theologia. Sehingga PI di Kalimantan Barat hanya ditujukan bagi orang-orang keturunan Tionghoa di Pontianak dan sekitarnya.Badan-badan Zending lainnya yang pernah melayani pekabaran Injil di Kalimantan Barat, antara lain Christian Missionary Alliance (CMA) di Balai Sepuak dan Melawi, kelompok lain dari Amerika seperti Go Ye Fellowship, The Borneo Faith Missions, World Wide Evangelization. Namun misi Katolik adalah misi yang pertama masuk pada masyarakat suku Dayak Kanayatn tahun 1894 melalui Desa Sejiram, Singkawang, kemudian mendirikan pusat penginjilan dan pendidikan di Desa Nyerongkop. Selanjutnya dari Desa Nyerongkop menjangkau seluruh wilayah Dayak Kanayatn antara lain Menjalin, Karangan, Sompak, Pak Kumbang, Sidik (pedalaman Semakin), Pahauman, dan Ngabang, berhasil menjangkau hampir seluruh wilayah Dayak Kanayatn.Misi Protestan pertama adalah Region Beyond Mission Union (RBMU), misi khusus untuk amsyrakat pedalaman. Teologinya yang mula-mula beraliran menonite yang banyak dipengaruhi paham anabaptis. Menurut Sugit Zibeon, misi ini juga masuk lewat Sejiram, Singkwang tahun 1933. Penginjil wanita berkebangsaan Belanda bernama Great van Eint membuka pos pelayanan pertama di Desa Perigi Kecamatan Darit kepada suku dayak Banyuke berbahasa banyadu sampai tahun 1954, berhasil membawa lebih dari 3000 jiwa Dayak Kanayatn dan Banyuke kepada Kristus. Tahun itu juga berbadan hukum, dengan nama Gereja Persekutuan Pemberitaan Iman Kristus (GPPIK), (sekarang Gereja Persekutuan Pemberitaan Injil Kristus). Tanggal 11 Agustus 1957 Sekolah Alkitab Berea (SAB), (sekarang STT Berea) didirikan.Lahirnya GPKB yang diawali dari suatu persekutuan kecil, yang sebagian besar anggotanya TNI/Polri/Sipil beserta keluarganya. Ketika itu jemaat berjumlah 20 KK atau sekitar 80 jiwa mengadakan ibadah/kebaktian di AULA RAI ASRU/kompleks asrama Sudirman Pontiakan (asrama militer). Kini, menjadi kompleks pertokoan “Nusa Indah” Pontianak. Penggunaan tempat ini atas izin tertulis dari Pangdam XII Tanjungpura. Komandan Distrik Militer 1207 Pontianak J.J. Korah untuk pembinaan rohani anggota ABRI dan keluarganya. Persekutuan ini diadakan seminggu sekali dan dilayani Pdt. J.G. Liando yang saat itu menjabat sebagai KA. Roh. PROTDAM XII Tanjungpura.Para penggagas/pendiri gereja yang semuanya dari kaum awam, sebagai manusia biasa penuh kelemahan dan kekurangan. Mereka menyadari untuk mendirikan sebuah lembaga/organisasi, perlu suatu perencanaan yang matang. Apalagi organisasi gereja perlu tenaga pendeta., tempat ibadah, dan dana penunjang. Meski banyak tantangan dan pergumulan, Tuhan tahu motivasi dan kerinduan mereka. Tuhan menjawab doa dan kerinduan mereka, dengan menggerakkan hati seorang ibu janda Kristen keturunan Tionghoa Ny. Hen Kim Moy, memberikan Cuma-Cuma tanah beserta bangunan rumah diatasnya tempat kediamannya (karena mereka semua pindah ke Jakarta) untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Tanah itu terletak di jalan Wa’Serang No 81 Pontianak (sekarang berdiri Gereja Protestan Kalimantan Barat (GPKB) ELIM Jalan Rajawali No. 57 Pontianak), pada 10 februari 1963.Berkaitan dengan itu, Badan Majelis Gereja dan Badan Pengurus Gereja terbentuk guna mewujudkan visi dan misinya. Berdasarkan keyakinan iman, GPKB meletakan dasar firman Tuhan yang terambil dari Perjanjian Baru, Roma 1:16-17: “Aku tidak malu memberitakan Injil, karena Injil adalah kuasa Allah….” (terjemahan baru); “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama orang Yahudi tetapi juga orang Yunani”; “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah yang bertolak dari Iman dan memimpin kepada Iman. Seperti ada tertulis orang benar akan hidup oleh iman”.

Nats firman Tuhan ini tercantum dalam logo stempel GPKB sampai sekarang. Sebagaimana diungkapkan GPKB didirikan bukanlah karena hibah dari salah satu Zending/missie ataupun adanya sponsor dari luar, tapi GPKB lahir oleh kerja dan kuasa Roh Kudus melalui para tokoh-tokoh/perintis dan pencetus lahirnya GPKB, di mana segala usaha daya dan dana dengan segala pengorbanannya semuanya bersumber dari mereka beserta jemaat yang ada pada saat itu. Setelah GPKB resmi berdiri lengkap dengan Badan Majelis Gereja dan Pengurus Gereja, maka ditetapkan GPKB Pontianak, sebagai Pusat Pengembangan pekabaran Injil sampai ke pelosok daerah di Kalimantan Barat.

58

Gereja Bethel Indonesia (GBI)

Menjadi Anggota PGI: 30 Oktober 1989
Berdiri: 6 Oktober 1970
Telepon: (021) 420.6330; 428.03664 | Fax: (021) 4280.3786
e-Mail:  bpsgbi@cbn.net.id
website:

 

Profil Singkat

GBI adalah suatu kelompok atau Sinode Gereja Kristen Protestan di Indonesia yang bernaung di bawah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GBI juga anggota dari Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI).GBI berdiri sebagai hasil pekabaran Injil dari Bethel Pentacostal Temple Inc., Seattle, Washington, Amerika Serikat, yang mengutus dua orang misionarisnya Rev. van Klaveren dan Groesbeek ke Indonesia.Groesbeek memberitakan Injil di Bali kemudian di Cepu dan bertemu dengan van Gessel. Beberapa tahun kemudian, Groesbeek pindah ke Surabaya, dan seterusnya ke Batavia tahun 1926. Dengan bertambah banyaknya jemaat, hingga memperoleh pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda dengan nama De Pinksterkerk in Indonesia.Tahun 1932 didirikan satu gedung gereja di Surabaya, dan mendirikan pelajaran Alkitab yang diberi nama ”Studi Tabernakel”, yang kemudian di tahun 1935 menjadi Sekolah Alkitab di Surabaya NIBI. Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Om Ho) dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.Pdt. H.L. Senduk melayani GBI Jemaat Petamburan dibantu istrinya Pdt. Helen Theska Senduk, Pdt. Thio Tjong Koan dan Pdt. Harun Sutanto. Tahun 1972, Pdt. H.L. Senduk memanggil anak rohaninya, Pdt. S.J. Mesach dan Pdt. Olly Mesach untuk membantu pelayanan di GBI Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt. S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang GBI Jemat Sukabumi yang dilayaninya sejak tahun 1963. GBI yang berkembang hadir bukan hanya sebagai gereja aras nasional, tetapi telah menjadi gereja internasional yang tersebar di seluruh dunia.Untuk melengkapi pemahaman firman Tuhan, Sinode GBI mempunyai Lembaga Pendidikan Theologi yang berada di Jakarta dengan nama Seminari Bethel. Seminari Bethel Jakarta terletak di jalan Petamburan IV/5 Tanah Abang, Jakarta Pusat10260, Indonesia. Seminari bethel Jakarta menaungi beberapa unit pendidikan., Sekolah Penginjil (SP), Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK). Pendidikan yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). SMTK telah mendapatkan status terakreditasi dengan predikat A-Unggul dari Departemen Agama.Selain itu, Instutut Theologia dan Keguruan Indonesia (ITKI) yang menyelenggarakan beberapa program pendidikan Strata 1 (S1) sampai Strata 3 (S3). Program S1 menyelenggarakan program studi: teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Misi. Program S2 menyelenggarakan program Master of Arts in Church Ministry (MACM) dan Magister Theologi (MTh) dengan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Pastoral Konseling. Program S3 menyelenggarakan program studi: Doctor of Ministry (D.Min) dengan program studi: Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Konseling pastoral. GBI juga membidani lahirnya beberapa sinode-sinode baru, diantaranya Gereja Bethany Indonesia, Gereja Mawar Sharon, Gereja Tiberias Indonesia dan Gereja Berita Injil. GBI berdenominasi Pentakosta dan memiliki wilayah pelayanan di Indonesia.

 

59

Gereja Kristen Injili Indonesia (GKII)

Menjadi Anggota PGI: 7 Mei 1991
Berdiri : 17 Juni 1967
Telepon: (0732) 7000.572 | Fax:
e-Mail:  sinodegkii@ymail.co.id
website:

 

Profil Singkat

GKII dirintis oleh seorang misionaris utusan CMA, Pdt. Hubert Mitchael, yang melayani di Suku Anak Dalam-Lubuk Linggau. Ia dibantu oleh F.L.Tobing, dan berhasil mendirikan gereja pada tahun 1938 dengan jumlah anggota mula-mula 21 jiwa.

Lantas CMA menyerahkan pelayanan ke WEC. Kemudian dirintislah penginjilan ke Curup Bengkulu dan membentuk persekutuan yang diberi nama Persekutuan Injili Internasional. Dari Curup, pelayanan bergerak ke Sekojo Palembang, dan Pdt. K.G. Williams melayani di Suku Anak Dalam Belah Batu Rupit. Tahun 1967 nama gereja ini diubah menjadi Gereja Kristen Injili Indonesia dan berpusat di Palembang. GKII berdenominasi Injili.

60

Gereja Masehi Injili Indonesia (GEMINDO)

Menjadi Anggota PGI: 12 Mei 1993
Berdiri: 19 Agustus 1964
Telepon: (021) 437.2212 | Fax: (021) 437.2210
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GEMINDO berdiri sejak tahun 1970 di Jakarta. Sejak berdiri sampai saat ini pelayanan Gemindo terus berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Kini GEMINDO memiliki 21 jemaat dan 26 pendeta. GEMINDO berdenominasi Reformeed.

61

Gereja Kristen Injili di Indonesia (GEKISIA)

Menjadi Anggota PGI: 12 Mei 1993
Berdiri: 11 Agustus 1964
Telepon: (0736) 26991 | Fax: (0736) 26991
e-Mail: msg@bengkulu.wasantara.net.id
website:

 

Profil Singkat

GEKISIA dirintis pertama kali oleh F.L.Tobing yang diundang masyarakat Bengkulu untuk menjelaskan tentang iman Kristen. Ia tiba di Desa Sukanegeri dan Palak Bengkerung, Kec.Air Nipis-Bengkulu Selatan, tahun 1963. Karena minat warga cukup besar, maka didatangkanlah penginjil dari Institut Injil Indonesia (Malang). Baptisan pertama dilayankan kepada 30 orang. Dalam perkembangannya kemudian terbentuklah beberapa jemaat di daerah Bengkulu dan Musi Rawas Sumatera Selatan.GEKISIA, semula bernama Gereja Kristen Injili di Sumatera bagian Selatan (GEKISUS) yang pertama-tama didirikan di Dusun Suka Negri, marga Anak Dusun Tinggi, Manna, Bengkulu Selatan 16 Agustus 1964 dan diresmikan sebagai sinode dalam sidangnya yang pertama 25-27 Januari 1974 di bengkulu. Konferensi pertama di bengkulu 25-27 Januari 1974 ini memutuskan untuk membentuk satu sinode gereja yang baru dengan nama Gereja Kristen Injili di Sumatera Bagian Selatan (GEKISUS) yang berkedudukan di bengkulu. Nama ini kemudian dirubah menjadi Gereja Kristen Injili di Indonesia (GEKISIA) melalui sebuah persidangan istimewa yang diadakan 31 Agustus, dan terdaftar di Depag RI dengan SK No. 68 tahun 1987.GEKISIA adalah gereja Protestan yang misioner (Matius 28:19-20) dan menganut sistem Presbiterial Sinodal. GEKESIA berdsarkan firman Tuhan dari 1 Korintus 3:11 berbunyi: “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasr lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus”.GEKISIA adalah persekutuan orang-orang percaya yang mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat dan merupakan suatu Badan Ilahi yang terdiri dari jemaat-jemaat yang mampu melaksanakan Tri Kemandirian Gereja, mengurus diri sendiri, membiayai disi sendiri, dan mengembangkan diri sendiri sesuai firman Tuhan. GEKISIA terpanggil untuk bersekutu, melayani dan bersaksi. GEKESIA berdenominasi Injili.

 

62

Gereja Kristen Luther Indonesia (GKLI)

Menjadi Anggota PGI: 12 Mei 1993
Berdiri: 18 Mei 1965
Telepon: | Fax: (0633) 31708
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Pada awal berdirinya gereja ini bernama Huria Kristen Batak Protestan Luther (HKBPL). Pendirinya adalah Ds. J.Sinaga pada 18 Mei 1965. Pelayanannya dimulai di Tapanuli Utara, lalu bergerak ke Medan, Pematangsiantar, Dairi, Riau, Jambi hingga ke Jakarta. GKLI berdenominasi Lutheran.

 

63

Gereja Protestan Persekutuan (GPP)

Menjadi Anggota PGI: 13 Mei 1993
Berdiri: 18 Mei 1975
Telepon: (061) 787.5903 | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Mendengar nama Gereja Protestan Persekutuan, kebanyakan orang menganggap gereja ini sebuah organisasi greja beraliran kharismatik. Meski sebenarnya gereja ini terbuka dengan metode ibadah seperti cara ibadah kharismatik dalam pujian dan penyembahan. Terutama pada ibadah-ibadah di gereja GPP yang berada di kota, tetapi menjaga ciri dan dogma sebagaimana gereja-gereja Lutheran pada umumnya.

GPP mencatat tanggal, bulan dan tahun berdirinya yaitu sejak dimulainya ibadah pertama pada 18 Mei 1975. Tanggal itu pertama kali ibadah dimulai sejak berpisah dari gereja induk/awal, HKBP. Atas berbagai pertimbangan dan banyak hal majelis jemaat dan dua pendeta HKBP Teladan Medan sepakat memisahkan diri dari HKBP dan membentuk sebuah persekutuan doa. Dalam perjalanan waktu dan proses yang panjang, akhirnya persekutuan doa ini menjadi sebuah gereja yang didaftarkan ke Departemen Agama dengan nama Gereja Protestan Persekutuan (GPP) Nomor;F/Ket/278/79 Mei 1979. Pendaftaran ulang. Dep. Agama RI No. F/Kep/121/2115/90 tertanggal 21 Juli 1990.

GPP menjadi anggota dari beberapa persekutuan antara lain Anggota Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Wilayah Sumatera Utara pada Sidang MPL-PGIW Sumut di Gunungsitoli Nias 7-13 November 1990. GPP diterima menjadi anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) pada sidang MPL PGI di Bandung 7-15 Mei 1993 dengan nomor urut 63. Diterima menjadi anggota Gereja Lutheran seDunia (Lutheran World Federation/LWF pada sidang Council Lutheran World Federation di Turku, Finlandia, 14-23 Juni 2000. GPP juga bermitra dengan Bo Moon First Methodist Church dan Yo Do Dong Methodist Church Korea. Anggota National Committee-Lutheran World Federation Indonesia. GPP berdenominasi Lutheran.

 

64

Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI)

Menjadi Anggota PGI: 12 Mei 1993
Berdiri: 21 November 1988
Telepon: 021-4661954 – 56 | Fax: 021-4661957 ; 021-79197836
e-Mail:  admin@sinode-gksi-setia.org
website: http://www.sinode-gksi-setia.org

 

Profil Singkat

Karena anugerah dan kemurahan Tuhan Yesus, maka pada 21 November 1988, lahir di bumi persada yang kita cintai, Indonesia, Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI). Sesungguhnya Tuhan Yesus Kristus sendirilah yang mendirikan GKSI (Matius 16:18) dan Dia juga yang akan menumbuhkan, mengembangkan dan meneruskan sampai kegenapannya.Kehadiran GKSI merupakan sebagian dari gereja-gereja yang esa di Indonesia yang secara bersama-sama terpanggil menunaikan tugas dan pengutusanNya mengemban misi Allah di tengah-tengah dunia dalam konteks Indonesia pada masa kini. Atas dasar inilah, GKSI berdiri bersama gereja-gereja lainnya di Indonesia, terpanggil bersekuutu, bersaksi dan melayani di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia sebagai satu wilayah kesaksian dan pelayanan. GKSI berkedudukan di Jakarta dan ditetapkan sebagai pusat Sinode GKSI.Terlahir dalam visi yang unik dan misi yang langka. Mulai dari Pdt. Dr. Matheus Mangentang, MTh, Ketua Umum sekaligus salah seorang pendiri GKSI, prihatin terhadap para hamba Tuhan di Indonesia yang ketika itu sangat minim melayani dan berperan serta penggembalaan di daerah-daerah tertinggal di pedalaman.GKSI terlahir dari Visi yang Tuhan anugerahkan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang, yang kemudian diimplementasikan para pendiri gereja mula-mula (para perintis awal) dituangkan dalam Anggaran Dasar GKSI nomor 47 tahun 1988 tertanggal 21 November 1988 pada Notaris Ferdinand Karindahang Makahanap, SH, sehingga secara hukum GKSI lahir dan berperan aktif dalam penginjilan dan pendirian Gereja Tuhan di Indonesia.GKSI saat inihadir hampir di seluruh provinsi di Indonesia, terutama di pedalaman Kamimantan secara keseluruhan, di Sumatera, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Barat, dan sedang dalam proses di Sulawesi tenggara dan NTT, sedangkan target ke depan adalah Maluku. GKSI sejak awal berdirinya adalah anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).GKSI mempunyai visi dan misi, melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus secara konsisten dan berkesinambungan. GKSI dan STT Injili Arastamar (SETIA) seperti dua sisi mata uang yang tdiak bisa dipisahkan. Keduanya akan terus mengutus hamba Tuhan maupun mahasiswa praktik menjangkau dan merintis gereja di tempat-tempat dimana Injil Kristus belum diberitakan.

Melalui Sidang Sinode Am I GKSI tahun 2002 telah menerima Vim 2030 SETIA sebagai VIM 2030 GKSI. Ruang lingkup misi GKSI (berdsarkan AD-ART GKSI) mencakup seluruh wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe Talaud sampai Rote. GKSI berdenominasi Injili.

 

65

Gereja Tuhan di Indonesia (GTDI)

Menjadi Anggota PGI: 12 Mei 1993
Berdiri: 1 Juni 1971
Telepon: (061) 451.6477 | Fax:
e-Mail:  katnasbphgtdi@yahoo.com
website:

 

Profil Singkat

GTDI sebelumnya berbentuk Yayasan Bait Allah yang didirikan oleh Pdt.Dr.S.B.Pardede tahun 1971. Yayasan ini melaksanakan pekabaran Injil, dan setelah berkembang S.B.Pardede  mendirikan gereja dengan nama Gereja Tuhan di Indonesia berkedudukan di Medan dengan surat pengesahan dari kantor Depag Sumut tahun 1973 dan Depag RI tahun 1974. GTDI berdenominasi Pentakosta.

 

66

Gereja Kristen Indonesia di Sulawesi Selatan (GKI SULSEL)

menjadi Anggota PGI: 20 Oktober 1994
Berdiri: 1980
Telepon: (0411) 332.981/322.984 | Fax: (0411) 332.981, 326.871
e-Mail:
website :

 

Profil Singkat

GKI Sulsel dimulai dengan terbentuknya persekutuan ibadah berbahasa Mandarin yang dilayani oleh Pdt. Yeany (Belanda) bersama dengan Go Kim Nam dan Lie, tahun 1921. Pada tahun 1923 persekutuan ini mendirikan gereja yang diberi nama Gereja Protestan Tionghoa. Di kemudian hari, gereja ini berubah nama lagi menjadi Gereja Kristen Indonesia di Sulawesi Selatan, sehingga anggota jemaatnya tidak lagi hanya keturunan Tionghoa tetapi terbuka ke semua orang. GKI Sulsel berdenominasi Reformeed.

67

Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB)

Menjadi Anggota PGI: 29 Juni 1995
Berdiri: 7 Juni 1987
Telepon: (021) 536.90033 | Fax: (021) 536.90055
e-Mail:
website: http://www.gkpb.net/

 

Profil Singkat

Keberadaan GKPB tidaklah dapat dipisahkan dari visi pemulihan gereja yang Tuhan berikan kepada perintisnya, Almarhum Jerimia Rim. Secara progresif Tuhan memakai hamba Tuhan yang biasa dipanggil ”kak Yer” ini untuk mewujudkan panggilan apostolik tersebut. Hal ini nampak dari perkembangan peranannya dalam gerakan rohani diantara kaum muda di Indonesia di era tahun 1970-1980-an.Di masa itu melalui pelbagai Kebaktian Kebangunan Rohani Tuhan telah memakai hidupnya untuk membawa dampak yang besar di dalam diri kaum muda di tanah air. Pada saat yang sama Tuhan juga memimpin dirinya untuk menggumuli pelayanan pemuridan di antara para remaja dan kaum muda di Surabaya. Pelayanan pemuridan tersebut diwadahinya dalam lembaga yang ia dirikan dan yang diberinya nama Making Disciples for Christ. Lembaga pelayanan yang dikenal dengan nama singkatannya, yaitu MDC ini terdaftar pada Departemen Agama sebagai Yayasan Masa Depan Cerah. GKPB berdenominasi Injili.

 

68

Angowuloa Fa’awosa Kho Yesu (AFY)

Menjadi Anggota PGI: 11 November 1995
Berdiri: 25 November 1925
Telepon: (0639) 22581 | Fax: (0639) 22581
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Gereja AFY atau Himpunan Persekutuan dalam Yesus berkantor Sinode di Desa Hilibadalu Km 31,7 Kec. Sogae’adu Kab Nias Provinsi Sumatera Utara, dengan jumlah jiwa berdsarkan statistik sinode tahun 2012 yaitu 46.328.021 jiwa. Gereja AFY lahir 9 November 1925, dipelopori Thomas Lombu (Ama Wohkhi), seorang kaum awam yang mengalami pertobatan dan lahir baru pada masa gerakan pertobatan massal yang pernah berlangsung di Nias (Tano Niha) tahun 1916. Thomas Lombu adalah seorang suku Nias yang bekerja sebagai mandor jalan pada pemerintahan Belanda yang berkuasa di Nias pada waktu itu. Thomas Lombu dibaptis pada 25 Desember 1921 oleh misionaris dari lembaga misi Zending (RMG) di gereja Misi Zending Sogae’adu. Setelah pertobatannya, Thomas Lombu menjadi murid Zending tahun 1922.Pada 9 November 1925, di dalam perjalanan pulang dari pekerjaannya, Thomas Lombu mengalami pengalaman spiritual pribadi. Baginya, hal itu menjadi tanda panggilan khusus dan ia memutuskan untuk meayani pekerjaan Tuhan. Pengalaman khusus itu justru menjadi cikal bakal bagi Thomas Lombu mendirikan persekutuan gereja.Awalnya, Gereja AFY hanya berbentuk persekutuan-persekutuan doa yang langsung dipimpin Thomas Lombu bersama teman-temannya. Selanjutnya mereka menetapkan nama persekutuan doa itu dengan sebutan Persekutuan Doa Fa’awosa. Untuk memperkuat persekutuan itu, Thomas Lombu bersama teman-temannya melayani dan memberitakan Injil di kampng-kampung yang belum dijangkau para Misionaris Zending, yaitu di sekitar kampung halamannya. Sambil melayani dan memberitakan Injil, Thomas Lombu dan teman-temannya mendirikan persekutuan doa Fa’awosa serta mendirikan tempat-tempat peribadatan berbentuk pos-pos pelayanan, hingga berhasil menggabungkan 10 kampung ke dalam persekutuan doa Fa’a awosa.Tahun 1930, persekutuan doa Fa’a awosa mulai menghadapi ytantangan dan penolakan dari para misionaris zending, hingga persoalan ini diperhadapkan secara hukum di hadapan Asisten Residen Van Nias, Pemerintah Belanda yang ketika itu berkuasa di Nias. Kemelut ini berlangsung hingga tahun 1933. Setelah melewati berbagai proses hukum dan pertanggungjawaban penuh dihadapan Asisten Residen Van Nias, tanggal 18 Agustus 1933, Asisten Residen Van Nias mengeluarkan keputusan bahwa persekutuan doa Fa’awosa yang dipimpin Thomas Lombu dinyatakan resmi berpisah dari Badan Misi Zending. Thomas Lombu diijinkan melanjutkan panggilan pelayanannya di dalam persekutuan doa Fa’a awosa. Artinya persekutuan doa Fa’awosa dan Badan Misi Zending masing-masing melaksanakan pelayanannya sesuai panggilan masing-masing.Setelah keputusan itu, keesokan harinya Thomas Lombu dan teman-temannya melaksanakan sidang pertama kali dan memutuskan persekutuan doa Fa’a awosa dimandirikan menjadi organisasi gereja dengan sebutan tetap sebagai Osali Fa’awosa (Persekutuan). Thomas Lombu dipilih menjadi pucuk pimpinan dengan jabatan Presiden. Seiring dengan itu, pos-pos pelayanan yang telah dibentuk diberbagai tempat dimandirikan statusnya menjadi jemaat.Dalam upaya perluasan wilayah pelayanannya, Thomas Lombu dan teman-temannya terus melakukan penyebaran misi diberbagai tempat dan pelosok di seluruh wilayah kepulauan Nias. Mereka juga mendirikan persekutuan jemaat dan gereja, hingga memperoleh cukup banyak jemaat. Demikian juga di dalam pembenahan sistem organisasi, Thomas Lombu menata dan menguatkan organisasi melalui penetapan peraturan-peraturan. Baik yang berkaitan dengan pelayanan maupun keuangan, serta melaksanakan misi pengkaderan, meskipun masih dalam bentuk-bentuk sederhana.Pasca Thomas Lombu meninggal dunia, para generasi penerus melaksanakan pembenahan dan konsolidasi organisasi untuk mencapai tujuan pelayanan gereja yang diembannya. Tahun 1975, Gereja AFY melaksanakan Sidang Sinode ke-VIII, yang menyempurnakan nama Fa’awosa menjadi Angowuloa Fa’awosa kho Yesu atau disingkat AFY. Gereja AFY memiliki KSU Fa’awosa dengan 76 pendeta melayani 216 jemaat di 23 resort wilayah pelayanan.

69

Gereja Rehoboth (GR)

Menjadi Anggota PGI: 25 November 1996
Berdiri: 27 Juli 1947
Telepon: (022) 423.0722 | Fax: (022) – 4216784
e-Mail:  info@gerejarehoboth.org;  j.runkat@gmail.com
website: http://gerejarehoboth.org

 

Profil Singkat

Gereja Rehoboth dirintis oleh Pdt.Latuparisa tahun 1946 dengan jumlah anggota mula-mula 12 keluarga. Pelayanan dilanjutkan oleh Pdt. E.L.Corbeth dan melakukan ibadah di sebuah gedung yang hingga sekarang ditempati, yaitu di Jl. Dewi Sartika No.36-38 (dulu no.22-24) Bandung, dengan nama De Pinkster Zending Rehoboth Kerk.

70

Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI PAPUA)

Menjadi Anggota PGI: 10 November 1997
Berdiri: 25 Mei 1985
Telepon: (0956) 22426 | Fax: (0956) 22170
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Sejarah GPI Papua berada dalam tiga fase, yaitu fase badan Zending, fase Gereja Protestan maluku dan fase Gereja Mandiri.Fase Badan ZendingFase Badan Zending di papua ditandai tibanya dua pekabar Injil Tukang dari Jerman, Karel Witler Ottow dan Johan Gotlob Geissler. Mereka berdua menginjakkan kaki di pantai Pulau Mansinam-Manokwari pada 5 Februari 1855 setelah pelayaran tiga minggu dari Ternate. Penginjilan mereka mulai menunjukkan hasil pada 1 Januari 1865 ketika Geissler membaptis seorang ibu dan anaknya. Sejarah masa pekabaran Injil ini terbagi dua wilayah, daerah bagian barat papua dan daerah bagian selatan.Pekabaran Injil (PI) berkembang pesat dan meluas ke daerah-daerah lain di Papua. Di bagian Barat banyak daerah dibuka, karena mulai banyak masyrakat yang meminta tenaga guru dan baptisan Kristen. PI dan pembangunan jemaat-jemaat baru berjalan bersama pelayanan di bidang pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan formal dan nonformal menjadi pelayanan strategis bagi perkembangan dan kemajuan masyrakat di Tanah Papua.Tahun 1912 Utrechtse Zending Vereniging (UZV) mengirim Pdt. Starrenburg menyelidiki peluang PI di fakfak. Karena Pemerintah Belanda telah membuka pos pemerintahannya di fakfak tahun 1898, fakfak dijadikan pos PI 1 yang menjangkau ke arah Barat dan Selatan. Dua pedneta penginjil, Bout dan Wetstein-sebelumnya van Muijlwijk ditempatkan di pos PI ini, sekaligus bertanggungjawab mendidik dan mempersiapkan bakal Guru Jemaat.Tahun 1930 wilayah pelayanan UZV diserahkan kepada Indische Kerk, Gfakfak, Kaimana dan Arguni serta Babo. Wilayah pelayanan ini diserahkan menjadi tanggungjawab pelayanan dan pembinaan Gereja Protestan Maluku pada 1935.Fase Gereja Protestan Maluku (1935-1985)Tahun 1935 Gereja Protestan Maluku (Moluksche Protestantsche Kerk) melembaga menjadi Gereja Bagian Mandiri dalam lingkungan GPI. Sejak itu GPM bertanggungjawab melayani jemaat-jemaatnya sendiri termasuk jemaat-jemaat di Tanah Papua yang diserahkan GPI. Ketika itu jemaat-jemaat di Tanah Papua yang harus dilayani GPM tersebar di daerah Merauke, Kainama, Teluk Arguni, Fakfak, Babo, Teluk Bintuni, Sorong, Misool (Raja Ampat), Manokwari dan Holandia (Jayapura, yang kemudian berdiri sendiri sejak tahun 1958).

Fase Gereja Mandiri

Tahun 1987 Sidang Sinode Istimewa GPI Irja menetapkan Tata Gereja GPI Irja sekaligus dicantumkan Panasila sebagai azas kehidupan bermasyrakat, berbangsa dan bernegara. Tahun itu juga GPI Irja diterima resmi menjadi salah satu Gereja Bagian Mandiri dalam lingkungan Gereja Protestan di Indonesia (GPI). Sejak 31 Oktober 1989 GPI Irja terdaftar sebagau gereja yang sah dan berbadan hukum pada Departemen Agama Republik Indonesia. Hal ini ditandai dengan Surat Keputusan Dirjen Bimas Kristen Depag RI Nomor 2000 tahun 1989. Sejak tahun 2002/2003 GPI Irja telah berubah nama menjadi GPI Papua. Untuk itu dikeluarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimas Kristen Departemen Agama RI No.DJ.III/KEP/HK.00.5/47/2009 tertanggal 2 Februari 2009 tentang Perubahan Nama Gereja Protestan Indonesia di Irian Jaya (GPI Irja) menjadi Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI Papua). GPI Papua berdenominasi Reformeed.

71

Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)

Menjadi Anggota PGI: 13 November 1997
Berdiri: 25 Agustus 1991
Telepon: (0627) 22428 | Fax: (0627) 22428
e-Mail:  kpsgkppdsdk@yahoo.co.id
website: http://gkppd.blogspot.com

 

Profil Singkat

Jemaat awal GKPPD terbentuk sebagai hasil Zending HKBP yang mengutus Pdt. Samuel Panggabean mengabarkan Injil di tanah Pakpak, 7 September 1905. Ibadah perdana dilaksanakan di rumah keluarga Raja Sibayak Pakasior Manik di Desa Kuta Usang Suak Pegangan. Pada 3 Maret 1963 berdiri HKBP di Simerkata Pakpak-Sumbul, yang kelak menjadi Gereja Pakpak yang berdiri sendiri dimekarkan dari HKBP.Pada 20 Oktober 1990, diadakan sidang penetapan nama, pemnetapan aturan-peraturan gereja di Gereja GKBP Simerkata Pakpak Sukadame-Sidikalang, Dairi. Peresmian GKKPD sebagai satu satu sinode gereja yang mandiri dilaksakanan di Medan, 15 Agustus 1991 dengan Pdt. E.J. Solin sebagai Ephorus dan St. Sakkap Manik pelaksana harian.GKPPD merupakan persekutuan orang Kristen dari suku Pakpak dan suku lainnya yang ada di Indonesia dan dunia. Gereja ini mandiri pada 25 Agustus 1991 dari HKBP yang berujung perpecahan di internal GKPPD. Perpecahan ini dapat diselesaikan setelah melakukan Sidang Sinode penyatuan pada 16 Agustus 1991.Menurut data statistik 2013, GKPPD memiliki 7.902 KK (37.678 orang), 143 jemat, 30 pendeta, 6 biblevrow, 1 diakones dan 1.403 penatua. GKPPD berdenominasi Lutheran.

 

72

Gereja Keesaan Injili Indonesia (GEKINDO)

Menjadi Anggota PGI: 25 Januari 1999
Berdiri: 31 Oktober 1993
Telepon: (021) 8242.0642  | Fax: (021) 910.6942
e-Mail:  gekindoindonesia@yahoo.com
website:

 

Profil Singkat

GEKINDO bermula dari pos-pos Pekabaran Injil (PI) yang dibentuk Pdt. Benny Nenoharan, Mdiv dan Pdt. Ny. Anna Nenoharan, STh sejak 16 Juli 1984-16 Juni 1987 di Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya ada rencana untuk menjalin kerjasama dengan Gereja Kristen Injili Indonesia yang berpusat di Curup, bengkulu, tetapi karena letak geografisnya terlalu jauh, maka pada 31 Oktober 1993 pos-pos PI ini sepakat mendirikan satu sinode gereja yang diberi nama Gereja Keesaan Injil Indonesia (GEKINDO) yang berpusat di Bekasi. GEKINDO berdenominasi Injili.

 

73

Gereja Masehi Protestan Umum (GMPU)

Menjadi Anggota PGI: 26 November 1998
Berdiri: 15 Maret 1950
Telepon: (0431) 867.336/862.703, 861.703 | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Cikal bakal GMPU bermula dari terbentuknya sebuah perkumpulan sosial yang mengadakan ibadah dengan memakai bahasa daerah Sangihe Talaud di tahun 1937. Karena anggota peserta ibadahnya terus berkembang, akhirnya pada 15 Maret 1950 diresmikan menjadi Gereja Masehi Protestan Umum, berkedudukan di Sario Manado. Jumlah anggota pada waktu itu tercatat 809 jiwa. Ketua GMPU yang pertama adalah Pdt. Marthin Laihad yang juga turut menjadi salah seorang pelopor berdirinya gereja ini.Kini, GMPU mengembangkan pelayanannya di 6 provinsi yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Halmahera Tengah, Jawa Tengah, dan Jogyakarta. Ada 46 jemaat, serta 59 pendeta. GMPU berdenominasi Reformeed.

74

Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Menjadi Anggota PGI: 22 Maret 2000
Berdiri: 31 Oktober 1977
Telepon: (0426) 21519 |  Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GKSB didirikan pada 31 Oktober 1977 dengan nama Gereja Protestan di Sulawesi Selatan (GPSS). Nama ini diubah pada Sinode Am VII, 27-31 Oktober 2005, menjadi Gereja Kristen Sulawesi Barat, seiring dengan berdirinya provinsi Sulawesi Barat, lokasi di mana sebagian terbesar dari gereja ini berdomisili. Jemaat-jemaat GKSB umumnya berada di pedesaan. Hanya ada dua jemaat kota (Mamuju dan Makassar). Karena itu, GKSB bertekad untuk membawa Injil yang memerdekakan sekaligus mensejahterakan khususnya bagi masyarakat Sulawesi Barat. GKSB berdenominasi Reformeed.

75

Gereja Kristen Oikoumene di Indonesia (GKO)

Menjadi Anggota PGI: 22 Maret 2000
Berdiri: 29 Juli 1979
Telepon: (021) 745.3362 | Fax: (021) 745.3362
e-Mail:  sinode_gko@yahoo.com
website: http://sinodegko.wordpress.com

 

Profil Singkat

GKO di Indonesia berasal dari sejumlah orang Kristen dari berbagai latar belakang masyarakat pindah ke Perumnas pertama yang dibagun di Depok, Jawa Barat. Mereka datang dari wilayah Jakarta dan daerah-daerah Indonesia lainnya pada tahun 1976. Karena didorong oleh kesadaran dan kerinduan bersama akan kebutuhan pelayanan rohani, maka umat Kristen yang berasal dari berbagai denominasi gereja tersebut  bersepakat untuk mengorganisasikan diri dalam sebuah wadah gereja yang bersifat ekumenis.Karena itu, secara sukarela dan dengan pernyataan bersama dibentuklah Gereja Oikoumene di Depok yang kemudian berubah nama menjadi Gereja Kristen Oikoumene di Indonesia (GKO). GKO. GKO menggunakan nama ‘oikoumene’ untuk mengakomodasi kebutuhan umat dari berbagai tradisi gereja, seperti Calvinis, Lutheran, dan Pantekosta yang ada di Depok saat itu.Secara sinodal GKO lahir pada 29 Juli 1979 dengan sistim Presbiterial Sinodal. Sedangkan Pengakuan Iman yang digunakan adalah pengakuan Iman Rasuli dan Nicea-Konstantinopel. GKO diorganisir menurut tradisi presbiterian yang dikombinasikan dengan tradisi gereja lain dalam berbagai bidang pelayanan.

76

Gereja Sahabat Indonesia (GSI)

Menjadi Anggota PGI: 23 November 2000
Berdiri: 19 Desember 1989
Telepon: (021) 5312.5894 | Fax: (021) 5312.5894
e-Mail:  gsi@cbn.net.id;  arbitergs@yahoo.com
website:

 

Profil Singkat

GSI yang saat ini memasuki masa usia pelayanan 26 tahun, tepatnya pada 19 Desember 2013 mempunyai hubungan historis dengan Friends Church Southwest Yearly Meeting (FCSYM) California, USA. Tahun 1987 Rev. Dr. Charles Mylander, General Superintendand FCSYM  dan Rev. Dr. C.W. Perry (alm) Mission Board saat itu datang ke Jakarta dan bertemu Pdt. Dr.J.L.S.Lelengboto (alm) membicarakan kemungkinan pengembangan pelayanan Friend Church di Indonesia.Oktober 1987, kedua misionaris itu kembali ke Indonesia (Jakarta) dan disepakati mempersiapkan pembukaan pelayanan dengan nama Gereja Kristen Sahabat Indonesia sekarang Gereja Sahabat Indonesia (GSI). Sasaran daerah pelayanan pertama kali adalah di daerah pedalaman “potensial”  Dusun Senuang, Kuala Behe, Kecamatan Air Besar, sekarang kecamatan Kuala Behe, Kabupatyen Pontianak, sekarang Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat.Sambil melakukan tugas fungsi gerejawi, terus berupaya melengkapi syarat formal administratif (Badan Hukum) layaknya suatu lembaga keagamaan (gerejawi) yang berlaku umum di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). GSI adalah lembaga keagamaan (gerejawi) yang legal dan sah di wilayah negara NKRI, terrdaftar di Kementrian Agama RI dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen No. DJ.III/Kep/HK.00.5/61/830/2007 (pengganti SK No. 53 tahun 1993) pada kementrian Dalam Negeri RI cq. Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dengan SKP No. 4476/DPM/SOS/IX/93 berdasarkan Undang-undang No. 8 tahun 1985 dan menjadi anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) ke-77 tahun 2000 Surat Keputusan No. 052/PGI-XIII/SKEP/2000 serta menjadi anggota tetap dari Evangelical Friends International (EFI) dan Friends World Consultation Chruch (FWCC).Gereja yang mempunyai moto “Kamu adalah sahabatKu” ini baru saja melakukan persidangan gerejawi sebagai wujud persekutuan anggota-anggota GSI dan pengambilan keputusan tertinggi. Sidang Umum VI itu dilaksanakan dari 23-26 Oktober 2013 yang lalu di Wisma Remaja Anugerah, Gunung Geulis, Bogor. Hasilnya beberapa keputusan, diantaranya terpilihnya Badan Pengurus Periode 2013-2018 yang terdiri dari Badan Pertimbangan, Badan Pemeriksa Keuangan dan Perbendaharaan, dan Badan Pengurus Harian.Nama Gereja Sahabat berdasarkan Yohanes 15:14-15 “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tau apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat”.GSI saat ini telah hadir dan melayani di daerah-daerah pedalaman di sembilan provinsi dengan 46 jemaat lokal dan sejumlah pos-pos pelayana. GSI berdenominasi Injili.

77

Gereja Utusan Pantekosta di Indonesia (GUPDI)

Menjadi Anggota PGI: 23 November 2000
Berdiri: 22 Januari 1935
Telepon: (021) 30010301, 30010309 | Fax: (021) 30010308
e-Mail:  sinodegupdi@yahoogroups.com
website:

 

Profil Singkat

De Pinkster Zending adalah salah satu aliran Pantekosta yang datang ke Indonesia, yang memisahkan diri dari Pinkster Gemeente. Kelompok ini dipimpin oleh Sr.MA van Alt dan menolak pembatasan pelayanan mimbar terhadap wanita. Kemudian pada 22 Januari 1935 mendirikan sebuah organisasi gereja dengan nama Pinkster Zending (Gereja Utusan Pantekosta Di Indonesia) melalui konferensi yang diadakan di Malang.Berkat dan anugerah Tuhan yang dinyatakan luar biasa GUPDI pun berbuah, dan karena dipandang turut berjasa dalam melayani masyarakat maka pemerintah Belanda pernah memberikan penghargaan Deorde van Oranye-Nassau. GUPDI berpedoman memberitakan Injil Empat Segi (Four Square Gospel), yaitu: Yesus sebagai Juruselamat dunia, Tabib di atas segala tabib, Pembaptis dengan Roh Kudus, dan Raja di atas segala raja yang akan datang kembali.

78

Gereja Protestan Indonesia di Banggai Kepulauan (GPIBK)

Menjadi Anggota PGI: 21 November 2001
Berdiri: 3 Februari 2000
Telepon:    | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GPIBK lahir pada 3 Februari 2000 di Jemaat Efrata Bulagi melalui Sidang Khusus II Sinode Gereja Kristen di Luwuk Banggai. GPIBK berdenominasi Reformeed.

 

79

Gereja Masehi Injili di Talaud (GERMITA)

Menjadi Anggota PGI: 12 Oktober 2002
Berdiri: 23 Oktober 1997
Telepon: 0433-311.407 | Fax: 0433-311.407
e-Mail:  germita_lirung@yahoo.com
website:

 

Profil Singkat

GERMITA merupakan pemekaran dari Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud pada 23 Oktober 1997. Berdiri sebagai gereja dari usaha pekabaran Injil para misionaris yang datang dari Belanda dan Jerman sejak tahun 1959. Mereka dikenal sebagai penginjil tukang (Zendeling Werkman), yaitu: A.C.van Essen, P.Gunther, W.Richter, dan K.E.W.Tauffmann.Sekarang ini, GERMITA merupakan lembaga keagamaan terbesar di kepulauan Talaud. Di samping memberitakan Injil, gereja ini juga concern dalam peningkatan SDM khususnya bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat. GERMITA berdenominasi Reformeed.

80

Gereja Kristen Abdiel (GKA)

Menjadi Anggota PGI: 24 Maret 2005
Berdiri: 14 Agustus 1976
Telepon: (031) 7315860 | Fax: (031) 7315860
e-Mail:  sinodegka@telkom.net;  tjan.eng.liem@gmail.com
website:

 

Profil Singkat

Sinode GKA pada awalnya diprakarsai oleh tiga gereja, yaitu: Gereja Kristen Amoy di Surabaya; Gereja Kristen Zion di Denpasar-Bali; dan Yayasan Gereja Kristen Surabaya. Ketiga gereja ini berasal dari Gereja Tiong Hwa Kie Tok Kouw Hwee. Nama ini kemudian hilang karena perubahan situasi politik di Indonesia, sehingga muncullah kesepakatan ketiga gereja untuk mendirikan Gereja Kristen Abdiel pada 14 Agustus 1976. Dengan perubahan nama ini, nama ketiga gereja pendirinya pun berubah menjadi Gereja Kristen Abdiel Trinitas (asal Gereja Kristen Amoy); Gereja Kristen Abdiel Zion Denpasar (asal Gereja Kristen Zion) dan Gereja Kristen Abdiel Gloria (asal Yayasan Gereja Kristen Surabaya).Pada Sidang Raya GKA ke XVIII di Batu pada 21-24 januari 2002 disahkan tata dasar dan tata laksana Sinode GKA. Gereja ini terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hingga tahun 2003 gereja ini telah menyebar ke Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali.Berdirinya Sinode GKA pada 5 Oktober 1976 dengan akte pendirian No. 9 Notaris Kho Boen Tian dan kemudian didaftarkan pada Dirjen Bimas Kristen Protestan Departemen Agama Republik Indonesia, hingga diterbitkan surat keterangan No. E/ket/27/0135/77 pada tanggal 9 Februari 1977. Adapun ketua sinode yang pertama Widada Puspana, SH (Wang Yong Fa). GKA berdenominasi Injili. Saat ini memiliki 15 jemat dan 98 pendeta.

 

81

Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI)

Menjadi Anggota PGI: 26 Januari 2006
Berdiri: 12 Desember 1971
Telepon: (021) 586.9522 | Fax: (021) 569.80495
e-Mail:  sinodegkri@yahoo.co.id
website:

 

Profil Singkat

GKRI yang lahir 12 Desember 1971 ini, didirikan Pdt. Prof. Dr. S.J. Sutjiono. Gereja ini berkembang pesat. lahir pada 12 Desember 1971, didirikan oleh Pdt.Prof.Dr.S.J.Sutjiono. Gereja ini berkembang pesat yang tampak dari lahirnya jemaat-jemaat baru dan pos-pos PI. Pada tanggal 3 – 6 Oktober 1985 para Koordinator mengadakan musyawarah di Wisma Bumi Asih Jakarta dan menghasilkan terbentuknya Sinode GKRI yang ditangani oleh Majelis Pusat (sementara). Kemudian pada Sidang Sinode I tanggal 22-25 Oktober 1986 di Ciawi-Bogor ditetapkan Pengurus Sinode peropde I dan pengesahan Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangganya.GKRI pada awal terbentuknya sudah memiliki 106 gereja atau jumlah anggota. Jumlah ini merupakan hasil yang sangat baik karena usia gereja ini masih sangat baru namun sudah banyak yang menjadi anggota. Dalam perkembangannya, GKRI memutuskan masuk menjadi anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.GKRI mempunyai wilayah pelayanan yang cukup luas dan kegiatan pelayanan yang sangat menarik. GKRI menjadi cepat berkembang karena gereja ini selalu memberikan informasi mengenai kepengurusan gereja, warta gereja dan juga info dari bidang-bidang pelayanan yang ada di gereja ini. Selain itu juga, para tokoh dari GKRI juga membuat artikel-artikel yang menarik bagi para pembacanya seperti artikel mengenai aborsi, surga, kasih dan banyak lagi.Berdirinya GKRI memiliki misi dan prinsip menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup dan mengutamakan Tuhan dalam segala tugas dan aktivitas dari anggota jemaat. Maka manusia dapat hidup menurut apa yang menjadi misi dan prinsip hidup yang diajarkan GKRI. GKRI berdenominasi Injili.

82

Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah (GSJA)

Menjadi Anggota PGI: 26 Januari 2006
Berdiri: 4 April 1941
Telepon: (021) 380.7454 | Fax: (021) 384.3200
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GSJA adalah lanjutan dari Bethel Indies Zending yang diakui oleh pemerintah pada 4 April 1941.Kemudian namanya berubah menjadi “The Assemblies of God in Indonesia” yang disahkan Dep.Kehakiman R.I pada 10 Februari 1951 dengan badan hukum No.Y.A.8/11/16. Pendirinya adalah tiga orang misionaris Amerika Serikat, yaitu: Kenneth G.Short, Ralph M.Devin, dan Raymond Arthur Busby. Yang bertindak sebagai Ketua Umum hingga tahun 1959 adalah Ralph Mitchell Devin. Sesudahnya diserahkan kepada pendeta nasional, dan untuk pertama kalinya dipilih Pdt. Soemardi Stefanus.Gereja ini terdaftar di Ditjen Bimas Kristen Departemen Agama RI dengan Nomor SK: 74 tahun 1988 tertanggal 10 maret 1988 dan beraliran Pentakosta. Kini GSJA memiliki 13 sekolah Alkitab, Penerbit Gandum Mas, Malang.Misi pelayanannya memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus dan mendirikan Sidang JemaatNya berdasarkan Alkitab. Sedangkan visinya sampai tahun 2011 mengupayakan membuka 300 gereja bari di perkotaan, 200 gereja baru di pedesaan, dan 20.000 kelompok sel. Sementara sistem pemerintahannya, GSJA mengadopsi gabungan antara bentuk Sinodal/Presbiterian dan bentuk Kongregasional. Pada bentuk sinodanya: 1) Terjadi pengangkatan seorang pendeta oleh sebuah otoritas organisasi di atasnya, 2) Organisasi dapat memindahkan dan memberhentikan pendeta melalui jalur BPP-BPD, 3) Adanya gereja berstatus Madya dan Pratama yang berada di bawah otoritas Badan Pengurus Daerah.Bentuk Kongregasionalnya: 1) Adanya gereja lokal berstatus pembina yang memiliki otoritas kuat di mana gereja lokal menyokong dan memilih pendetanya dan menjalankan pemerintahannya sendiri berdasrkan Peraturan Rumah Tangga mereka, 2) Adanya Majelis Gererja yang menjadi otoritas dalam gereja.GSJA juga menjalin hubungan dan bekerjasama dengan GSJA Dunia (World Assemblies of God Fellowship). Kini, GSJA bagian dari Persekutuan Assemblies of God in the World (WAGF) yang adalah denominasi Pentakosta terbesar di dunia.  Berdasarkan laporan WAGF di Portugal, GSJA dunia memiliki anggota sebanyak lebih dari 64 juta orang di 140 negara dengan 330.000 pelayan Injil, 310.000 gereja di seluruh dunia (Afrika, Asia Pacific, Eurasia, Eropah, Amerika, Amerika latin, Karibia, dan Asia bagian utara). Di Afrika sendiri terdapat sekitar 12 juta anggota, di Brazil sekitar 14-16 juta anggota, di Amerika Serikat sekitar 2,2 juta orang. GSJA berdenominasi Pentakosta.

83

Gereja Kristus Yesus (GKY)

Menjadi Anggota PGI: 26 Januari 2007
Berdiri: 3 Juni 2002
Telepon: (021) 649.9903,649.9903 | Fax: (021) 649.9903
e-Mail:  sekum@cbn.net.id
website: http://www.gky.or.id

 

Profil Singkat

GKY adalah kelompok Gereja Kristen Protestan di Indonesia yang didirikan atas dasar pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya dasar dan kepala gereja sebagaimana tercantum dalam Alkitab, (Matius 16:18, 1 Korintus 3:11, dan Kolose 1:18). Atas dasar pengakuan tersebut, maka Gereja Kristus Yesus adalah bagian integral dari Gereja yang kudus dan am (universal).Agustus 1944, sebagian anggota jemaat Chung Chi Tuh Chiao Hui (CCTCH) Ketapang mendirikan pelayanan dalam bahasa Tionghoa (Kuo-yu Pu). Kou yu Pu menjadi jemaat otonom pada 3 Juni 1945 dan disebut Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui Kuo Yu Thang, serta menempati gedung tetap di Jalan Mangga Besar 1/74 (Gang Komando), Jakarta. Di tempat ini jemaat dikenal sebagai CHCTCH Kuo Yu Thang Mangga Besar.Sejalan dengan perubahan nama CHCTCH menjadi Gereja Kristus sebagaimana disahkan dalam Surat Keputusan Departemen Agama Republik Indonesia No. H/II/2918 tertanggal 11 Mei 1963, maka nama CHCTCH Kuo Yu Thang Mangga Besar berubah menjadi Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar. Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar adalah jemaat otonom dalam wadah Sinode Gereja Kristus yang terdaftar di Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Status otonom Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar dipertegas dengan Surat Keterangan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Kristen) Protestan Departemen Agama Republik Indonesia No. E/Ket/200/1029/79 tertanggal 9 April 1979. Karena kepentingan pengembangan pelayanan internal dan eksternal maka pada tanggal 3 Juni 2002, GKJMB yang memiliki 11 jemaat dan 13 pos membentuk Sinode Gereja Kristus Yesus.Dengan menjunjung tinggi Alkitab yang adalah Firman Allah, Gereja Kristus Yesus disingkat GKY bertekad menjalankan misi Allah bagi dan melalui gereja-Nya (missio ecclesiae) dalam bentuk persekutuan, pelayanan, dan kesaksian dengan visi “Gereja yang Mulia dan Misioner”. GKY berdenominasi Injili.

 

84

Gereja Kristen Protestan Injili Indonesia (GKPII)

Menjadi Anggota PGI: 26 Januari 2007
Berdiri: 7 Desember 1969
Telepon: (024) 352.0260-61 | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

GKPII dirintis dan dirikan oleh Ds. J. A. Luturyali. Atas dorongan dan dukungan anggota jemaat, GKPII dideklarasikan pada 7 Desember 1969 di Semarang, dengan pengurus terpilih adalah Ds. J. A. Luturyali (Ketua) dan Andrias Bunga, BA (Sekretaris). GKPII berdenominasi Injili.

85

Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII)

Menjadi Anggota PGI:26 Januari 2007
Berdiri: 10 Februari 1928
Telepon: (021) 319.02510 | Fax: (021) 314.2148
e-Mail:  bphp@kemah-injil.orggkiipusatjkt@yahoo.co.id
website: http://www.kemah-injil.org

 

Profil Singkat

GKII adalah suatu kelompok Gereja Kristen Protestan di Indonesia yang bermula dari Sulawesi Selatan. Awal mula berdirinya gereja ini tidak lepas dari sosok Dr. Robert Alexander Jaffray dan A.B. Simpson. Mereka berdua keturunan Skotlandia, berkebangsaan Kanada, lahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristen, anggota Gereja Presbiterian. Keduanya sama-sama mendapat penglihatan khusus mengenai dunia, orang-orang yang belum percaya Yesus, dan bertindak berdasrkan penglihatan mereka itu sehingga melalui pelayanan mereka, di kemudian hari beribu-ribu orang bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya.Ketika masih muda, R.A. Jaffray pernah mendengar Simpson berkhotbah, dan saat itu juga Jaffray menyerahkan dirinya untuk siap pergi, melayani di luar negeri sebagai misionaris (utusan Injil). Kemudian Jaffray masuk Sekolah Alkitab Simpson. Setelah tamat serta mendapat pengalaman menggembalakan jemaat, Jaffray memutuskan memulai pelayanannya sebagai misionaris (utusan Injil).Surat Kabar GLOBE di Toronto, Kanada melaporkan upacara pelantikan dan pentahbisan yang diadakan 20 januari 1896: “Dr. Albert Benamin Simpson dari New York telah mengambil bagian dalam kebaktian pentahbisan dan pelantikan Robert Alexander Jaffray. Ia yang memimpin doa utusan Injil yang akan pergi ke negeri Tiongkok. Suasana hikmat meliputi Bethel Chapel, Toronto ketika tujuh orang Badan Pengurus Jemaat itu menumpangkan tangan ke atas kepala duta Allah yang masih muda ini. Dengan kesungguhan hati Simpson menyerahkan Jaffray kepada Allah untuk pelayanan suci sebagai pendeta yang akan menggembalakan umatNya. Tidak sedikit di antara orang-orang yang hadir itu mengaminkan permohonan doa Simpson atas Jaffray, agar Tuhan memakai Jaffray bukan hanya untuk memenangkan pribadi-pribadi, tetapi juga bangsa-bangsa bagi Kristus”.Allah menjawab doa yang disampaikan A.B. Simpson, pendiri C&MA ini melalui pelayanan yang dilaksanakan Robert Alexander Jaffray dikemudian hari. Sejak dilantik menjadi utusan Injil tahun 1896, R.A. Jaffray melayani di Tiongkok Selatan selama selama kurang lebih 32 tahun; Jaffray mendirikan Chinnese Foreign Mission Union (CFMU); berhasil mendirikan gereja; membangun sekolah Alkitab yang berpusat di Wuchouw dan membangun lembaga penerbitan khususnya untuk komunitas yang berbahasa Kanton (Cantonese). R.A. Jaffray mulai perjalanannya ke Indonesia (kepulauan Hindia Belanda) dan menjejakan kakinya di Borneo (Kalimantan) pada 10 Februari 1928. Inilah perjalanan pertama Jaffray ke Indonesia untuk mengadakan survei sekaligus memberitakan Injil.Setelah kembali ke Tiongkok Selatan, Jaffray mewujudkan kerinduannya akan pelayanan dan tuaian yang sangat besar di Indonesia. terutama pelayanan yang diawalinya di Kalimantan, kota Samarinda dan balikpapan. Sambil menunggu kedatangan para utusan C&MA yang sedang disiapkan di Amerika dan Kanada, maka pada bulan Februari 1929, Jaffray membawa dua hamba Tuhan yang diutus CFMU, suatu organisasi penginjilan yang didirikan Jaffray di Tiongkok Selatan, Yason S. Linn dan Paul R. Lenn. Mereka tamatan Wuchow Bible School, untuk membantu pelayanan yang dimulainya di kalangan orang Tionghoa di Kalimantan Timur dan kota Makassar, Sulawesi Selatan.Juni 1929, Jaffray pergi ke Saigon, Vietnam menyambut kedatangan rombongan pertama utusan C7MA yang dikirim dari Amerika dan Kanada ke Indonesia. Pada 29 Juni 1929, rombongan yang terdiri dari george dan Anna Fisk, Wesley dan Ruby brill serta David Clench tiba di Surabaya, Jawa Timur. Tak seorang pun yang menduga kelak betapa luasnya pekerjaan Tuhan yang dimulai C&MA di Indonesia.

Setibanya di Surabaya, Jaffray yang fasih berbahasa mandarin ini langsung mengadakan kontak dengan orang-orang Tionghoa. Keesokan harinya mereka mendapat kesempatan melayani dalam kebaktian penginjilan di salah satu gereja Tionghoa (kemungkinan besar gereja inilah yang mendesak Jaffray untuk meminta agar dikirim seorang utusan Injil. Penginjil T.H. Loh, lulusan Sekolah Alkitab Wuchow dikirim dan menjadi CFM/C&MA pertama ke Pulau Jawa menggembalakan jemaat Kanton di Surabaya itu). Menurut catatan Jaffray, waktu kebaktian penginjilan dilaksanakan, ada enam pria yang menyerahkan diri untuk didoakan. Itulah buah sulung dari suatu panen besar yang nantinya akan dituai di beberapa tempat di Indonesia.

Tanggal 1 Juli 1929, Jaffray dan rombongan dari C&MA berangkat ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan kendaraan darat. Tanggal 4 Juli 1929, Jaffray mengunjungi pejabat pemerintahan Belanda di Jakarta. Jaffray menulis hasil kunjungannya sebagai berikut: “Wawancara kami dengan Konsul Zending (Kepala Dewan Pengutusan Injil) berjalan dengan lacnar. Kami mengajukan permohonan agar diberi izin melayani di Kalimantan dan Lombok (NTB). Kami sungguh mengucap syukur kepada Allah atas kerjasama yang baik dari Pemerintah belanda. Seandainya mereka tidak mau memberi izin, secara manusia kami tidak dapat berbuat apa-apa di Indonesia”.

Sekembalinya ke Surabaya, para utusan Injil C&MA berpisah untuk memulai pelayanan masing-masing. Tanggal 19 Juli 1929, David Clench berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur; keluarga Wesley Brill ke Lombok, NTB dan keluarga George Fish ke Tarakan, kalimantan Timur. Sedangkan Jaffray sendiri kembali ke Tiongkok Selatan.

Jaffray menyadari pelayanan C&MA di Indonesia tidak dapat berkembang hanya dengan diawasi dari jauh. Karena itu, Jaffray memutuskan untuk menetap di Indonesia. Keputusan ini, pada awalnya tidak mendapat dukungan dari C&MA. Pasalnya, C&MA yang berpusat di Amerika Serikat pada waktu itu sedang mengalami krisis finansial atau yang dikenal dengan Great Depression. Mereka hanya merestui pembukaan pelayanan di Indonesia, namun tidak menjanjikan dukungan apapun.  Visi Jaffray untuk Indonesia sudah bulat, menjangkau Indonesia melalui Penginjilan, Pendidikan dan Penerbitan.

Untuk menetapkan pusat pelayanan yang tepat, Jaffray segera mempelahari peta. Ia melihat kota pelabuhan Makassar sangat strategis secara geografis. Jaffray membayangkan kota itu seperti sebuah poros roda yang jari-jarinya kelak memancarkan terang Injil ke seluruh pelosok Nusantara atau tanah air Indonesia. Akhirnya, September 1930, Jaffray pindah ke Makassar dan menetap di Makassar sebagai pusat “C&MA” atau “Kemah Injil” pertama. Kantornya di rumah kediaman Jaffray sendiri, di jalan Daeng Tompo No 8. Di tempat inilah Jaffray meletakkan fondasi dan mengembangkan “sayap Injil”, ke seluruh Indonesia, dari Sabang di Sumatera sebelah barat sampai ke Marauke di Irian Jaya (Papua) sebelah timur.

 

86

Gereja Protestan Soteria di Indonesia (GPSI)

Menjadi Anggota PGI: 26 Januari 2007
Berdiri: 4 Mei 1975
Telepon: (021) 435.0118, 439.00856 | Fax: (021) 435.0118
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

Pembentukan GPSI dipelopori oleh Pdt. Edward, beberapa majelis, dan anggota jemaat pada 4 Mei 1975. Ibadah perdana dilaksanakan pertama sekali di rumah salah seorang anggota jemaat (D. T. Nisapih) yang beralamat di Jl. Gadang No.73 Tanjung Priok.Dalam waktu relatif singkat, jemaat baru ini membeli sebuah rumah panggung di atas empang di Jl. Gembira Terusan No. 24 Tanjung Priok untuk dijadikan sebagai tempat ibadah. Pada tanggal 21 Desember 1975 terbentuklah pengurus gereja yang terdiri dari Majelis, Komisi, dan Panitia Pembangunan. GPSI menjadi anggota PGI pada 26 Januari 2007.

87

Gereja Kristen Sangkakala Indonesia (GKSI)

Menjadi Anggota PGI: 28 Februari 2008
Berdiri: 22 September 1946
Telepon: (021) 569.66547 | Fax: (021) 569.60327, 560.0687
e-Mail:  gksipusat@yahoo.co.id
website: http://gksi.or.id

 

Profil Singkat

GKSI dimulai dengan pelayanan sebuah Yayasan pada tahun 1988, yaitu Yayasan Kasih Sejahtera (YAKASTRA). Pada pertengahan tahun 1988, oleh kemurahan Tuhan, YAKASTRA dipertemukan dengan Gereja Zending Protestan Chung Hua Ya She Kauw Fie berkedudukan di Jakarta yang didirikan pada tahun 1946. Pada pertemuan tersebut terjadi kesepakatan untuk mengadakan penggabungan.Awal tahun 1989 Gereja Zending tersebut mengadakan Rapat Luarbiasa untuk melengkapi persyaratan yang diatur Depag-RI dan menyempurnakan YAKASTRA untuk kemudian diberi nama menjadi Gereja Kristen Sangkakala Indonesia, yang selanjutnya mendapat pengakuan dari pemerintah RI melalui SK yang diterbitkan Dirjen Bimas Kristen pada 10 Juli 1989. Meski begitu, sebetulnya GKSI bukanlah gereja baru, melainkan sudah berdiri sejak sejak 22 September 1946. Pendirian GKSI diprakasai oleh: Otto Robby Panggabean, Sylvia Darmawan, Henky Setiawan Umar, Thea Darmawan, dan Ma Yoeng Sen.

88

Kerukunan Gereja Masehi Protestan Indonesia (KGMPI)

Menjadi Anggota PGI: 23 Februari 2009
Berdiri: 20 Juli 1965
Telepon: 0411- 854.553 | Fax:
e-Mail:
website:

 

Profil Singkat

KGMPI merupakan hasil penyatuan dua lembaga gerejawi, yaitu: Gereja Masehi Protestan Indonesia (GMPI), berdiri pada 20 Juli 1965 di Manado; dan Rukun Agama Protestan Indonesia (RAPRI), berdiri pada 31 Oktober 1948 di Tamako. Karena keduanya memiliki dogma serta visi yang sama, serta didorong oleh semangat untuk bersatu, maka pada tahun 1972 pimpinan GMPI (Pdt.Paulus Maluegha) bersama dengan pimpinan RAPRI menjajagi untuk kemungkinan bersatu.Penyatuan itu akhirnya terealisasi pada 8 Desember 1972 melalui Sidang Khusus (Sidang Raya I) dengan nama Jemaat GMPI Yayasan RAPRI. Kemudian pada Sidang Raya II pada 25-29 Juni 1980 di GMPI Kalvari Talengan-Tabukan Tengah – Sangihe Talaud, nama GMPI Yayasan RAPRI diubah menjadi Kerukunan Gereja Masehi Protestan Indonesia (KGMPI). KGMPI berdenominasi Reformeed.

89

Jemaat Kristen Indonesia (JKI)
Berdiri  :  tahun 1977
website :
logoJKI