Gerakan Suluh Kebangsaan, Upaya Cegah Perpecahan Bangsa

Jelajah Kebangsaan ke-5 di stasiun Tugu Yogyakarta membahas topik patriotisme, Selasa (19/2) malam. (Foto: VOA/Munarsih Sahana).

YOGYAKARTA,PGI.OR.ID-Merasa prihatin dengan kondisi sosial masyarakat yang mengancam keutuhan bangsa, sejumlah tokoh mendirikan Gerakan Suluh Kebangsaan dan berkeliling ke sejumlah kota menggunakan kereta api untuk mendiskusikan topik-topik kebangsaan dengan para suluh masyarakat.

Seperti dilansir VOA, berawal dari ide sejumlah tokoh, seperti mantan ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Mahfud MD, putri mantan presiden Abdurrahman Wahid Alissa Wahid, dan rohaniawan Benny Susetyo, Gerakan Suluh Kebangsaan digagas di Yogyakarta pada 9 Januari 2019.

Pada 23 Januari 2019 Gerakan Suluh Kebangsaan memulai diskusi keliling “Jelajah Kebangsaan” dari stasiun Merak menuju sembilan kota di Jawa. Di stasiun Gambir mereka membahas topik Indonesia Emas, di Cirebon membahas Inklusivisme Beragama dan Kebangsaan, di Purwokerto membahas Nalar Sehat dan Budi Luhur, dan Jelajah Kebangsaan ke-5 di stasiun Tugu Yogyakarta Selasa malam (19/2) membahas patriotisme.

Prof. Dr. Mahfud MD mengatakan, Gerakan Suluh Kebangsaan mengumpulkan sekitar 50 orang dari berbagai kalangan yang diharapkan bisa menyampaikan pesan-pesan kebangsaan kepada orang lainnya dalam jumlah lebih banyak. “Gerakan Suluh Kebangsaan hanya mengumpulkan orang-orang yang dianggap bisa menjadi suluh. Kita tidak mungkin langsung ke rakyat. Itu kan tugasnya DPR, tugasnya pemerintah. Jadi kita memberitahu ini lalu pemerintah ambil ini suluhnya dan menghadang kami juga isu-isu hoaks yang berkembang di tengah-tengah masyarakat,” kata Prof. Dr. Mahfud MD.

“Kita menyampaikan beberapa masalah pokok yang menjadi problem bagi ikatan kebangsaan kita. Misalnya soal ancaman perpecahan dari suatu proses demokrasi. Saling tuding, saling caci-maki kan itu yang sekarang ada. Nah kita anggap itu berbahaya. Kita juga ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa pemilu itu pesta demokrasi. Pesta itu biasanya menyenangkan. Kalau sebuah pesta menjadi horor itu tidak bagus,” jelasnya.

Narasumber Prof. Dr. KH Malik Madani dari Nahdlatul Ulama Yogyakarta pada kesempatan itu mengajak hadirin untuk menerapkan konsep beragama yang ia sebut progresif. “Kita berbeda agama tetapi kita merasa sama-sama anak bangsa yang satu yaitu Indonesia. Itulah yang dalam bahasa kami dikenal sebagai Ukhuwah Wathoniah, persaudaraan sesama anak bangsa. Bangsa ini harus mensyukuri nikmah Allah maka patriotisme, kecintaan pada tanah air kita pertahankan kita kembangkan, tampil sebagai umat beragama yang progresif,” kata Prof. Dr. KH Malik Madani.

Sementara itu Romo Benny Susetyo menjelaskan apa yang dimaksud dengan patriotisme dan nasionalisme. Benny mencontohkan, tokoh patriot bangsa Indonesia dari Yogyakarta adalah Sultan Hamenngkubuwono IX. “Contoh patriot sejati adalah Sultan Hamengkubuwono IX. Karena dia memberikan seluruh kekayaannya untuk membiayai republik ini ketika republik belum memiliki apa-apa. Nasionalisme adalah orang yang memberikan dirinya seutuhnya untuk bangsa dan negara, bukan menjadi “benalu” negara. Lha problem kita sekarang adalah menghadapi elit politik yang menjadi “benalu” negara,” jelasnya.

Alissa Wahid mengingatkan saat ini nilai kebangsaan Indonesia sedang mendapat tantangan pelik akibat dampak kemajuan teknologi informasi. “Jangan heran kalau sekarang ada ideologi trans-nasionalisme itu menguat di Indonesia. Karena apa, karena mereka mengikatkan dirinya dengan orang-orang lain di penjuru dunia yang lain melalui teknologi transformasi. Karenanya ini menjadi penting,” kata Alissa Wahid.

Peserta Jelajah Kebangdaan di Yogyakarta didominasi oleh kelompok milenial yang merasa menemukan rujukan untuk menguatkan rasa nasionalisme, seperti Dika Wastyawati, mahasiswa (21). “Sebagai mahasiswa saya jadi bisa membuka wawasan apa sih itu kebangsaan, patriotisme, apalagi di zaman sekarang ini kalau saya lihat di sosial media, itu banyak sekali yang rasa kecintaan pada Indonesia itu berkurang,” jelas Dika.

Muhammad Umar Fachrudin (23), guru pada Madrasah Aliyah Al Hikmah di Brebes Jawa Tengah merasa diingatkan untuk membela tanah air dengan nasionalisme dan patriotisme, bukan dengan ikut perang. “Kita dituntut untuk patriotis dan nasionalis. Nasionalis itu tentang rasa, dan patriotis itu tindakan dan tindakan disitu contoh-contoh konkritnya dari membayar pajak kemudian membuka lapangan kerja yang membantu masyarakat. Dan patriotisme yang akan saya lakukan itu dengan berusaha ikut mencerdaskan anak banngsa,” katanya.

Sementara Fuad dari Angkatan Muda Muhammadiyah mengatakan, saat ini dibutuhkan patriotisme yang tidak sebatas mengatakan dirinya patriotis. “Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana jiwa patriotisme betul-betul bisa diterapkan bukan hanya slogan, tidak. Dengan jiwa patriotisme itu kemudian kita memberikan kontribusi untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Tetapi bukan untuk mendeclare (menyatakan) dirinya seorang patriotis, serta bisa menetralisir isu-isu hoaks, kita harusnya memiliki peran seperti itu, sebagai agent of change pemuda,” jelas Fuad.

Nurul Safitri, mahasiswa asal Padang mengusulkan agar Suluh Kebangsaan juga menyertakan masyarakat dari akar rumput. “Mungkin akan lebih baik jika diskusi seperti ini kita laksanakan langsung menyentuh pada masyarakat awam yang tidak hanya mengumpulkan para akademisi karena bisa saja orang akan berfikir, oh itu hanya pembicaraan buat orang-orang elit. Padahal banyak masalah dihadapi orang-orang awam,” kata Nurul Safitri.

“Jelajah Kebangsaan” masih akan berlanjut di sejumlah kota dan akan berakhir di stasiun Banyuwangi Jawa Timur pada awal bulan April 2019. Dari Yogyakarta Munarsih Sahana melaporkan untuk VOA Washington.

 

Pewarta: Markus Saragih

COPYRIGHT © PGI 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*