Siapakah Yesus menurut Anda?

BAKI ~ 13 September 2015 | Renungan Minggu XVI Sesudah Pentakosta

Bacaan Alkitab : Amsal 1:20-33; Mazmur 116:1-9; Yakobus 3a;1-12; Markus 8:27-38

[I]njil Markus adalah kitab Injil pertama yang ditulis dari keempat Injil dalam Perjanjian Baru. Para ahli kitab menetapkan waktu penulisan Injil ini pada tahun 70 atau sebelum dihancurkannya Yerusalem. Dari gaya penulisannya, pembaca bisa dengan mudah menebak bahwa Markus memiliki sumber yang sangat terpercaya tentang Yesus dan perjalanan hidupnya untuk ia tuangkan dalam tulisan. Memang tidaklah mengherankan sebab sumber utama itu adalah Petrus salah seorang murid Yesus yang dalam bacaan ini menjadi tokoh yang
menonjol. Kitab Kisah Para Rasul memberikan banyak informasi tentang Markus yang disebut juga Yohanes, anak Maria, seorang pengikut Jalan Tuhan yang rumahnya selalu dijadikan tempat beribadah (Kis. 12:12). Ia adalah bagian dari sejarah gereja mula-mula di mana ia juga sempat ikut dalam perjalanan misi Paulus dan Barnabas (Kis. 12:25; 15:37; Kol. 4:10). Para ahli juga menyetujui bahwa Petrus ikut terlibat dalam memberi isi pada tulisan Markus, sehingga Injil ini mampu menggambarkan tentang Yesus dengan sangat personal termasuk juga hubungan-Nya dengan para murid-Nya dan peristiwa besar apa yang berlangsung pada bagian akhir pelayanan-Nya (Kis. 10:34-39).

Ayat 27-30 menceritakan sebuah diskusi singkat yang terjadi dalam perjalanan misi Yesus dan para murid-Nya di kampung-kampung daerah Filipi. Sebuah metode yang sangat menonjol dan menjadi ciri Yesus dalam penggambaran Markus adalah merangsang pemikiran para murid dengan melemparkan pertanyaan.
Kali ini, tentang siapa diri-Nya menurut pendapat orang. Yesus memulai sebuah diskusi seputar apa yang sudah dipelajari mereka dari pengalaman berinteraksi dengan banyak orang selama mengikut Dia. Terlihat mudah memberi gambaran tentang siapa Dia dari yang mereka dengar. Saya membayangkan saat itu para
murid berlomba memberi jawaban karena pastilah sewaktu Yesus membuat sebuah keajaiban mereka memperhatikan reaksi orang-orang di sekeliling dan pastilah para murid juga menjadi pendengar pertama apa kata orang tentang Yesus. Namun, ketika Yesus berpaling dan menanyakan pendapat para murid sendiri tentang diri-Nya, situasinya berubah. Sekejap, kalau berdasarkan cerita ini, hanya Petrus yang punya keberanian memberi pendapat. Pertanyaan Yesus mengandung makna yang cukup dalam yang akan membawa pada penjelasanNya mulai ayat 31-38.

Pengakuan atau pernyataan Petrus tentang Yesus sebagai Mesias, menemui paradoksnya ketika Yesus berbicara tentang Anak Manusia – tentang siapa diriNya – yang harus menderita, dibunuh dan bangkit. Hingga pada ayat 30, para murid belum merasakan suatu hal yang menyentak mereka tentang siapa Yesus. Apa yang mereka pahami adalah Yesus serupa tokoh-tokoh sejarah yang mereka kenal namun mereka tidak siap mendengar tentang siapa diri-Nya dari mulut Yesus sendiri. Penuturan Markus –berdasarkan kesaksisan Petrus- hendak menggambarkan bahwa pada saat yang sama ketika mereka merasa telah mengenal Dia, saat itu pula Yesus menyingkapkan sebuah pengetahuan baru yang tidak hanya harus mereka ketahui tetapi juga harus mereka jalani pada masa yang akan datang. Sebuah kesadaran muncul: menjadi pengikut Yesus itu harus siap untuk
menerima penderitaan yang ditimpakan kepada-Nya.

Saya mencoba memahami pengakuan Markus dengan pertanyaan yang kirakira akan terlontar dari Yesus: “Siapkah kamu menerima kenyataan tentang siapa Aku jika kukatakan yang sesungguhnya?” Tetapi respons Yesus berbeda dari apa yang saya pikirkan: “Jika engkau mengenal Aku hanya menurut persepsimu atau
orang lain, engkau akan lebih kecewa lagi dan pada akhirnya meninggalkan Aku.”

Begitulah kira-kira saya membayangkan kemungkinan jawaban Yesus. Dengan mengenal jalan penderitaan yang harus Dia tempuh, Ia mempersiapkan para murid untuk menghadapi masa-masa penuh penganiayaan. Dengan cara ini juga Yesus sedang mempersiapkan para murid untuk tampil dan memberi kesaksian tentang diri-Nya. Itulah yang dilakukan Petrus, yang kemudian dicatat Markus. Kisah-Nya ada di tangan kita untuk kita teruskan pada generasi selanjutnya. Kita mengenal Yesus dari tulisan-tulisan mereka. Pertanyaan untuk
kita dalam konteks modern ini, siapakah Yesus menurut Anda? Baiklah tiap orang menjawab dalam hatinya menurut pengalaman imannya. (EK)