|

Penyelenggaraan Kirchentag ke-36 di Jerman

Suasana ibadah malam

Kegiatan Kirchentag ke-36 yang akan berlangsung pada 24-28 Mei 2017 di Jerman, telah dibuka secara resmi pada hari Rabu (24/5). Kirchentag merupakan tradisi gereja di Jerman yang dirayakan setiap 2 tahun sekali. Kali ini unik, karena dikaitkan dengan perayaan 500 tahun reformasi, sehingga dipersiapkan serta dilaksanakan secara oikoumenis, melibatkan gereja Protestan dan Katolik.

Ibadah pembukaan diselenggarakan di 3 tempat di kota Berlin yang semua cukup luas, dan dihadiri oleh sekitar 70.000 orang, tua muda, besar kecil, tidak hanya dari seluruh Jerman, tapi juga dari berbagai negara di seluruh dunia.

IMG-20170526-WA0014Tema Kirchentag ini, “Du siehst mich“, atau “Engkau melikat aku”, merupakan pengakuan iman Hagar dalam Kej. 16.13. Menarik bahwa perikop tentang Hagar yang acap diabaikan bahkan dilihat dengan kacamata prejudice oleh banyak gereja, diangkat menjadi perenungan diskusi selama 4 hari ini. Mata Allah terus menatap dunia ini, terutama ditempat di mana kekerasan terjadi, mengajak gereja pada peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke surga untuk terus melihat dan peduli terhadap dunia ini.

Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang yang hadir dalam kegiatan ini mengungkapkan, ada fenomena yang menarik. Gedung-gedung gereja banyak yang kosong di ibadah hari Minggu. Tapi yang mengejutkan bahwa kegiatan seperti Kirchentag begitu diminati orang.

Ketua Umum PGI bersama peserta dari GMIM

Ketua Umum PGI bersama peserta dari GMIM

Lebih jauh Ketua Umum PGI menjelaskan: “Sering kita dengar komentar bahwa Christianity is dying, kekristenan sedang mati di Eropa akibat sekularisasi, tapi dengan adanya Kirchentag bisa terlihat bahwa benih-benih kekristenan tidak mati. Hanya butuh cara untuk mengungkapkan secara lebih kontekstual. Orang berduyun-duyun ke ke dalam kelompok-kelompok PA, masuk ke grup-grup diskusi tentang masalah aktual dalam masyarakat. Hadir di kegiatan yang menggunakan sarana artistik: musik, dancing, dan sebagainya.”

“Kemarin saya ikut sagu grup di mana paduan suara menyanyi sambil kami menari, semacam liturgical dance. Orang bisa memilih program mana yang akan dihadiri. Luar biasa! Kebanyakan peserta tinggal hingga ibadah malam, 15 menit, diadakan di beberapa tempat, umumnya gaya taize,” ujar Pdt. Ery, panggilan akrabnya.