|

Pemimpin Gereja Bersatu Menyuarakan Perlawanan Terhadap Perbudakan Modern

archbishop-Welby-dan-ecumenical-patriarch-bartholomew

ISTANBUL,PGI.OR.ID-Segala bentuk perbudakan manusia merupakan dosa yang paling mengerikan, melanggar kehendak bebas dan integritas setiap manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Demikian  pernyataan pada forum mengenai perbudakan modern yang diselenggarakan oleh Ecumenical Patriarchate dan Chruch of England di Istanbul pada 6-7 Februari 2017.

Dengan judul “Sins Before Our Eyes”, forum ini memuji upaya dari komunitas internasional yang mengesahkan Protokol PBB dalam mencegah, menekan, dan menghukum perdagangan orang, terutama perempuan dan anak.

Pertemuan ini bertujuan untuk mengumpulkan cendikiawan, praktisi, dan pembuat kebijakan dari seluruh dunia untuk berdiskusi mengenai perbudakan modern, menekankan pada perlindungan martabat manusia dan kebebasan sebagai sangat penting bagi Gereja serta komunitas agama dan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Selama forum, Ecumenical Patriarchate Bartolomeus dan Uskup Agung Canterbury Justin Welby menandatangani Deklarasi Bersama yang berisi mendesak umat beragama dan komunitas gereja, serta seluruh orang baik akan “menjadi terdidik, meningkatkan kesadaran, dan mengambil tindakan sehubungan dengan terjadinya tragedi perbudakan modern, dan berkomitmen untuk bekerja dan berdoa secara aktif terhadap pemberantasan bencana ini melawan kemanusiaan.”

Mereka juga mendorong pemimpin negara untuk mencari pendekatan dan cara yang efektif untuk menuntut mereka yang terlibat aktif dalam perdagangan manusia, pencegahan segala bentuk perbudakan modern, dan melindungi korban dalam komunitas kita, serta mengampanyekan harapan dimana pun orang itu dieksploitasi.

Dalam Pidatonya, His All-Holiness Ecumenical Patriarch Bartholomeus mengatakan: “Apapun gereja katakan, apapun yang gereja lakukan, cukup dalam nama Tuhan dan demi martabat kemanusiaan dan tujuan kekal manusia. Hal itu tidak mungkin bagi gereja untuk menutup mata kepada kejahatan, menjadi acuh tak acuh terhadap orang yang sengsara, tertindas, dan tereksploitasi. Iman yang benar adalah sumber perjuangan yang permanen melawan kekuasaan yang tidak manusiawi.”

Perbudakan lebih merajalela saat ini dibandingkan dengan waktu-waktu lain dalam sejarah manusia,” catat Uskup Agung Welby. Dia menyebutnya “Kekejian bagi martabat manusia”.

“Tidak ada dasar agama atau pembenaran untuk praktek komodifikasi manusia. Semua pemimpin agama dibutuhkan untuk berbicara melawan berbagai praktek seperti itu dan menantang para nabi-nabi palsu yang berusaha untuk mencari teks-teks suci untuk pembenaran perilaku menyesatkan mereka.”

Tahun lalu, jumlah pengungsi lebih dari 60 juta, dan penyelundupan manusia begitu mudah untuk menjadi perdagangan manusia,  tambah Uskup Agung Welby. Skala migrasi saat ini telah menjadi tempat makan alami bagi para tuan budak dan pedangan manusia. “Migran yang sedang berjalan didekati oleh orang asing dengan menawarkan pekerjaan atau menikah. Sebagian dari mereka menawarkan uang untuk bagian organ dan badan. Hal ini memilukan hati untuk berpikir bahwa ribuan yang lolos dari kengerian Daesh memiliki harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik rusak di pantai Eropa dengan niat jahat dari orang-orang yang mendapat keuntungan dari perdagangan najis tersebut,” jelasnya.

Sebanyak 10.000 anak-anak terdaftar sebagai pengungsi yang sekarang tidak ditemukan, dengan 5.000 hilang di Italia dan 1.000 Swedia. “Ini sangat tidak dapat diterima dan memalukan bagi pemerintah suatu negara dan badan PBB yang berkaitan harus merespon sebagai hal yang mendesak,” kata Uskup Agung Welby.

World Council of Churches (WCC) yang dalam pertemuan ini diwakili oleh Dr Katalina Tahaafe-Williams, WCC programme executive for Mission and Evangelism dan Dr Fulata Lusungu Moyo, WCC programme executive for the Just Community of Women and Men.

 

“Hal ini merupakan masalah yang sangat krusial yang perlu segera diatasi dan gereja-gereja harus membuat respon yang kuat untuk itu – pada nyatanya seluruh agama harus membawa kekuatan dan respon kebersamaan dalam pernyataan dan aksi,” refleksi Dr Katalina Tahaafe-Williams. “WCC bergabung dalam upaya ini dengan Ecumenical Patriarchate dan Archbishop of Canterbury untuk profil tinggi perbudakan modern sebagai dosa yang kita semua harus memeranginya,” katanya.

Menurut perkiraan Internasionl Labour Organisation (ILO) dan Global Slavery Index yang memaparkan materi selama forum, ada diantara 20 dan 45 juta orang di dunia dibawah satu atau bentuk lain bentuk lain dari perbudakan, dan sejumlah angka besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak yang mengalami ekspolitasi seksual.

“Perbudakan adalah dosa terhadap kemanusiaan, dan perdagangan manusia menjadikan manusia sebagai ciptaan segambar dengan Tuhan menjadi komoditas untuk eksploitasi seksual, buruh murah, dan penjualan organ,” ucap Dr Fulata Lusungu Moyo. Ditambahkan, sangat penting untuk gereja bersatu menyerukan bahwa ini sebenarnya salah.

Pada waktu yang sama forum ini telah memberikan harapan “penandatanganan pernjanjian bersama bukan hanya kata-kata, tetapi komitmen untuk mengakhiri perbudakan.”

Forum ini diakhiri dengan menanam benih untuk gereja-gereja bekerja bersama dalam melawan dehumanisasi – Ecumenical Patriarch dan the Archbishop of Canterbury membentuk gugus tugas bersama untuk memerangi perbudakan modern. (Jonathan Simatupang. Sumber: WCC News)