Pemazmur Menyikapi Kesesakan

Kejadian 22:1-4, Mazmur 13, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Pemazmur di kala menghadapi hambatan atau tantangan hidup berupa ejek-olok para musuh yang menyesakkan hati; mengharubirukan perasaan dan meredupkan sukacita, mempertanyakan terlambatnya pertolongan Tuhan (ay. 2-3). Perasaan yang mendominasi imannya, terungkap pada empat kali pertanyaannya ”Berapa lamalagi”, (ay. 2-3). Terkesan reaksi awalnya adalah, ”menyalahkan” Allah, ”Kau lupakan akuterus-menerus”, dan ”Kau sembunyikan wajah-Muterhadap aku?” Namun di dalam situasi yang dialaminya, dengan sungguh-sungguh ia mencurahkan isi hatinya memohon kepada Allah untuk mempertimbangkan perkaranya dan memberikan penghiburan ”sesegera” mungkin (ay.4-5).

Pengalaman pemazmur mengingatkan kita pada pengalaman manusiawi di saat mengalami, kedukaan, kesulitan maupun penderitaan. Cepat menemukan apa atau siapa penyebab (yang dijadikan kambing hitam) dan jarang bertanya, ”apa salah saya?” atau ”apa maksud Tuhan?” dengan persoalan ini. Pemazmur segera menyadari bahwa jiwanya yang gundah akan memperoleh kelegaan–jika ia meletakkan segala kesedihannya, di hadapan Allah.

Sikap dan permohonan pemazmur menunjukan ”solusi positif dan inofatif” bagi kita yang hidup di zaman ini di kala diperhadapkan dengan pergumulan hidup – ”Pandanglah kiranya,jawablahaku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah matakubercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati” (ay. 4).

Semua umat pilihan Allah di dalam Tuhan Yesus, sudah sangat memahami bahwa Tuhan tidak menjanjikan kehidupan yang nyaman tanpa masalah di dunia ini, kecuali penyertaan, kasih setia dan perbuatan baik-Nya yang kekal untuk selamalamanya (ay. 6).

Kehendak Allah Bapa yang tersirat di dalam mazmur ini; untuk kita pada zaman ini yaitu:
Pertama, hidup di dalam anugerah-Nya sebagai anak-Nya, adalah suatu kehidupan yang berkualitas yang tidak dapat dihancurleburkan oleh terpaan berbagai pergumulan hidup. Berada pada posisi sebagai anak-Nya, kita dapat memohonkan anugerah iman yang memampukan, kita dapat melihat melampaui segala permasalahan yang dialami sewaktu-waktu, dan mengetahui dengan jelas dan pasti hasil akhir yang membahagiakan di balik semua pergumulan hidup yang Ia izinkan.

Kedua, memohonkan hati yang taat kepada bimbingan Roh Kudus, sehingga dapat terhindar dari berbagai pencobaan dan jeratan dosa yang menjauhkan kita dari kasih karunia Allah dan damai sejahtera-Nya. (bnd. Mat.
6:13 dan Yes. 59:1-2).

Ketiga, kejar dan usahakanlah damai sejahtera yang menyebabkan mata bercahaya, membangkitkan gairah dan semangat hidup. Tuhan Yesus mengajar, ”carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Paulus mengungkapkan kembali kehidupan di dalam Kerajaan Allah adalah; hidup di dalam kebenaran, damai sejahtera dan sukacita di dalam Roh Kudus (Rm. 14:17).

Mengapa Kain berhati panas dan bermuka muram? karena tidak hidup dalam kebenaran (Kej. 4:5) dan pemazmur memastikan bahwa jika Allah tidak membangkitkan gairah hidupnya, dan membuat matanya bercahaya, maka ia akan berbaring dan mati (ay. 4).

Kesimpulan: apabila penderitaan, kesulitan dan permasalahan hidup yang membuat ”perasaan kita” seolah-olah berada di dalam kesenjangan dari hadirat Allah, maka hampirilah Allah dengan ”iman” bukan dengan “perasaan”. Iman yang membuka mata kita untuk memandang kepada Allah Bapa kita, yang sedang melatih dan memurnikan iman dan pengharapan kita untuk melangkah lebih jauh ke dalam anugerah-Nya (bnd. 1Pet. 1:3-4). Sebab Allah turut bekerja di dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi semua orang
yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). (AGT)