Pekerjaan yang Dikehendaki Allah

BAKI ~ 2 Agustus 2015 | Renungan Minggu X Setelah Pentakosta

Bacaan Alkitab: 2 Samuel 11:26 – 12:13a Mazmur 78:23-29 Surat Efesus 4:1-16 Yohanes 6:24-35

[Y]esus berkata kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh.6:35) Firman ini sungguh menantang logika banyak orang. Bagi orang yang melihat TUHAN saat itu, kata-kata ini sungguh menantang iman. Karena kata-kataNya tidak bisa dipahami dengan konsep yang biasa dipahami manusia. Kata-kata ini hanya bisa dipahami dengan iman. TUHAN melihat hati mereka yang sebenarnya dan Ia berkata “Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” (ay.36)

Ketidakpercayaan manusia adalah sumber kejatuhan. Ketika nenek moyang manusia, Hawa melihat buah dari pohon pengetahuan di taman Eden, ia tahu bahwa ia tidak boleh memakan buah itu. Tetapi kepercayaannya pada Firman Allah goyah ketika ular menggoda dia dengan ajaran sesat.

Sayang sekali, kepercayaan manusia terbukti mudah berubah. Apalagi setelah makan buah pengetahuan, manusia telah memiliki kemampuan untuk menimbang apa yang baik dan apa yang jahat. Sayangnya juga, manusia sering tidak menyadari bahwa pertimbangannya sangat terbatas sehingga ia tidak menyadari bahwa ia lebih baik menyandarkan diri pada pertimbangan TUHAN daripada pertimbangan sendiri yang terbatas,

Kepercayaan manusia bisa sesat, bahkan manusia bisa tetap percaya bahwa ia telah mempunyai “kebenaran” versinya sendiri. “Kebenaran” yang tidak bersumber dari kebenaran yang hanya berasal dari TUHAN.

TUHAN berfirman, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutus Allah.”(ay.29). TUHAN mengajak manusia untuk melakukan apa yang benar, yang dikehendaki Allah, dan berhenti melakukan “kebenaran” versi manusia sendiri. Yang Ia kehendaki ialah supaya kita bekerja untuk percaya. Percaya bukanlah sesuatu yang statis.

Percaya adalah sesuatu yang dinamis. Untuk percaya, kita perlu berkomitmen sepenuh hati, jiwa dan raga kita. Hari ini kita bisa percaya, besok kepercayaan bisa goyah. Karena itu TUHAN memerintahkan kita untuk bekerja sesuai kehendak TUHAN yaitu untuk percaya kepada-Nya. Melakukan hal ini bukan berarti pasif. Renungan Minggu X Setelah Pentakosta 2 Agustus 2015 Bacaan Alkitab: 2 Samuel 11:26 – 12:13a Mazmur 78:23-29 Surat Efesus 4:1-16 Yohanes 6:24-35 PEKERJAAN YANGDIKEHENDAKI ALLAH 191 Percaya yang asli adalah sikap dan tindakan yang aktif. Karena ketika kita percaya sungguh-sungguh kepada Dia, kita akan melakukan segala yang Ia perintahkan untuk kita lakukan, Ketika kita benar-benar percaya, maka kita bekerja melakukan apa yang TUHAN firmankan.

Mudah? Sekali-kali tidak! Karena kehendak TUHAN sering kali bertentangan dengan kehendak keduniawian kita. Kepercayaan kita sering tidak bulat. Mulut bisa percaya TUHAN tetapi hati bisa dalam kebimbangan. Mulut bisa berkata bahwa kita percaya hanya TUHAN-lah yang memberikan nafkah kita, tetapi ketika sumber nafkah kita mengalami masalah, tindakan kita bisa jadi terjebak pada perilaku koruptif yang menghalalkan segala cara, tidak mengindahkan kehendak TUHAN.

Terlalu sulit? Sekali-kali tidak! Karena itu TUHAN memberikan diriNya. Roti hidup sebagai sumber kekuatan kita. Berbeda dengan roti dunia, Ia hidup dan bekerja dalam kita. Namun, TUHAN tidak ingin bekerja sendiri. Ia menuntut kita bekerja sama. Dan pekerjaan dari pihak kita yang dimintaNya adalah PERCAYA.

[D]engan percaya pada Roti Hidup, maka kita bersatu dengan Dia, bersatu dengan Tubuh dan Roh-Nya. Sehingga dalam iman kita percaya bahwa kita telah duduk bersama dengan Dia dalam Tahta kemenangan. Ketika kita kehilangan percaya, maka kehilangan kemenangan kita dan kuasa dunia akan menghancurkan kita. Karena percaya, maka kita telah duduk dalam kemenangan. Kehidupan kita bersama Kristus dimulai dengan duduk dalam kemenangan! Kehidupan kita adalah kemenangan untuk dipertahankan. Untuk tetap dikerjakan. (CMN)