|

Memohon Hikmat Dalam Memimpin Umat

BAKI ~ 16 Agustus 2015 | Renungan Minggu XII Setelah Pentakosta

Bacaan Alkitab: I Raja-raja 2:10 -12; 3:3-14 Mazmur 34:9-14 Efesus 5:15-20 Yohanes 6:51-58

Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup – menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini? (I Raj. 3:9) – adalah sebuah permohonan yang dilayangkan oleh Salomo kepada Tuhan dalam perjumpaan melalui mimpi.

Sebelum melayangkan permohonan, dalam dialog dengan Tuhan, Salomo menyampaikan beberapa hal:

• Bahwa Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada Daud, ayahnya, yang hidup setia, benar dan jujur. Lalu Salomo mengingatkan bahwa karena kesetiaan ayahnya itu, Tuhan memberikan jaminan kepada keturunan Daud, yakni kepadanya, untuk menjadi raja atas Israel (ayat 6);

• Salomo lalu melanjutkan bahwa berdasarkan jaminan Tuhan itu, ia yakin bahwa sekalipun ia masih sangat mudah dan belum berpengalaman, Tuhanlah yang mengangkat dia menjadi raja (ayat 7), dan menempatkannya di tengahtengah umat pilihan-Nya, yang tak terhitung banyaknya (ayat 7-8, dan lihat ayat 9b);.

Inilah yang menjadi dasar dan kepatutan bagi Salomo melayangkan permohonannya meminta hikmat dari Tuhan untuk memimpin dan menghakimi umat Israel.

Jika dicermati dan dihubungkan dengan pasal-pasal sebelumnya, permohonan Salomo ini ada kaitan dengan usahanya memperkokoh tahtanya. Baginya, klaim perjumpaannya denga Tuhan melalui mimpi di Gibeon, suatu tempat pelaksanaan ritual agama, adalah sebuah afirmasi bahwa kekuasaannya berasal dari Allah. Klaim ini sekaligus merupakan sebuah legitimasi, bahwa dirinya adalah pewaris sah dinasti Daud.

Akan tetapi, walaupun begitu, afirmasi dan legitimasi sebagai standart normatif yang dipakai untuk mengokohkan diri dan tahtanya, Salomo juga sadar bahwa ia tak dapat semata mengandalkan semua itu, apalagi ia masih mudah dan belum berpengalaman, pun tak mungkin hanya bersandar pada iman dan kebesaran Daud, ayahnya, tetapi, ia sendiri harus membangun relasi personal dengan Tuhan dan meminta kepada hati yang bijak melaksanakan dan mewujudkan keadilan bagi rakyat Israel.

Relasi personal dengan Allah memohon hikmat inilah yang kerapkali Renungan Minggu XII Setelah Pentakosta 16 Agustus 2015 Bacaan Alkitab: I Raja-raja 2:10 -12; 3:3-14 Mazmur 34:9-14 Efesus 5:15-20 Yohanes 6:51-58 Memohon Hikmat Dalam Memimpin Umat 199 diabaikan atau pun dilupakan oleh para pemimpin masa kini, entah itu pemimpin-pemimpin politik atau pemerintahan atau pun pemimpin-pemimpin agama (gereja). Kecenderungan yang kerap terjadi adalah godaan untuk mengikuti syawat kekuasaan yang korup ketimbang mengontrolnya dengan memberikan ruang kepada hubungan personal dengan Tuhan. Tak heran, jika kekuasan yang bersifat demokratis pun gampang saja dieksploitasi demi kepentingan-kepentingan pragmatis, individualis atau pun demi kelompok tertentu. Begitu juga, kepemimpinan di dalam gereja, kendati didasarkan pada sistem presbiterial sinodal pun, dapat pula direduksi menjadi sebuah struktur yang hierarkis, berpusat pada orang tertentu saja sebagai penentu keputusan dan pengambil kebijakan institusi atau organisasi, tanpa melibatkan mereka yang terkait, potensial dan kapabel.

Kepemimpinan Salomo, kendati itu bersifat monarkis dan tidak relevan lagi bagi kepemimpinan modern masa kini, tok kita dapat belajar darinya bahwa keutamaan dari seorang pemimpin dalam memulai tugasnya adalah membangun relasi pesonal dengan Allah sambil meminta hikmat untuk melayani umat dan berbuat adil demi kesejahteraan bersama. Nats di atas mengajak dan mengingatkan kita untuk senantiasa memohon kepada Allah “hati yang faham menimbang perkara … dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat …”. Tanpa hikmat kebijaksanaan, kekuasaan apa pun itu akan mudah jatuh pada pada godaan-godaan individual yang korup dan destruktif. (RKW)