|

Konsultasi Nasional Gereja dan Pendidikan. Surabaya, 19-21 Mei 2016

Oleh: Pdt. Henriette Hutabarat-Lebang

Tema: Bertolong-tolonganlah dalam Menanggung Bebanmu untuk Membangun Bangsa dengan Kasih Kristus

 Sub-tema: Dengan Semangat Kebangkitan Nasional, Gereja Meningkatkan Peran Pendidikan Kristen dalam Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

 

Pengantar

Terima kasih kepada Panitia Penyelenggara yang mengundang saya untuk berbagi refleksi  menyangkut Tema dan Sub-tema Konsultasi Gereja dan Pendidikan Nasional ini.  Konsultasi ini, yang dihadiri oleh saudara-saudara para pimpinan gereja, wakil lembaga atau yayasan yang mengelola pendidikan Kristen, para pendidik dan pakar di bidang pendidikan dan pemerhati pendidikan Kristen – sangat penting dan strategis.  Konsultasi ini merupakan kesempatan bagi kita untuk merenungkan ulang peran gereja dalam bidang pendidikan di tengah pergumulan nyata yang sedang dihadapi bangsa kita. Di samping itu terbersit harapan, sedikitnya dari saya, semoga Konsultasi ini mengembangkan pemikiran yang bernas dan strategis mengenai sumbangsih gereja melalui pendidikan Kristen dalam mempersiapkan masa depan Indonesia yang lebih baik, di tengah konteks masyarakat majemuk yang sedang  berubah cepat.

Pertanyaan penting bagi Konsultasi ini adalah hal-hal apakah yang dapat secara nyata dilakukan secara bersama oleh gereja-gereja di Indonesia melalui pendidikan, khususnya untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia?  Mereka yang kini berusia dini, sedang belajar di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar, namun mereka yang akan menjadi penata dan pemimpin negara kesatuan republik Indonesia yang kita cintai ini, ketika bangsa kita merayakan ulang tahunnya yang ke-100 pada tahun 2045.  Tindakan nyata inilah yang semoga muncul dalam Konas ini, akan merupakan wujud komitmen gereja dalam ikut menentukan arah bangsa kita menggapai masa depan yang lebih baik; dapat dilakukan melalui pendidikan formal, misalnya lewat sekolah, maupun informal antara lain lewat pembinaan di gereja dan dalam keluarga.

Pendidikan sebagai bentuk kesaksian Kristiani

Sejak awal kehadiran gereja di Indonesia, pendidikan merupakan salah satu bidang pelayanan yang dianggap utama yang bertolak dari nilai-nilai Injil Kerajaan Allah yang menyelamatkan, yang membebaskan manusia dan dunia ini dari genggaman dosa yang berwujud dalam pelbagai bentuk. Gereja meniru jejak Yesus yang melayani dunia ini melalui preaching (memberitakan Firman Allah), teaching (mengajar) dan healing (menyembuhkan). Lembaga-lembaga penginjilan sejak awal pelayanannya di Indonesia membuka sekolah-sekolah sampai ke desa-desa sebagai sarana untuk memberitakan Injil Kristus tentang pembebasan dari kegelapan dan kebodohan.  Upaya ini dilanjutkan oleh gereja-gereja hingga saat ini, sebagai upaya untuk ikut mencerdaskan anak bangsa.

Adalah tugas kita semua sebagai gereja untuk terus-menerus merefleksikan pola dan bentuk-bentuk partisipasi gereja yang relevan bagi upaya mencerdaskan naradidik di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk yang mengalami perubahan yang sangat cepat serta pergeseran nilai yang cukup signifikan.  Berdasarkan uraian di atas, cukup mendesak bagi kita untuk merumuskan VISI Pendidikan Kristiani hingga tahun 2045, yang bertolak dari analisis kita mengenai perobahan sosial yang sedang terjadi di Indonesia di bawah sorotan Firman Tuhan (refleksi teologis alkitabiah).  Visi ini akan menjadi guiding star kita bersama dalam mengembangkan dan merencanakan pendidikan yang memberdayakan naradidik untuk menjadi agen transformasi dalam keluarga, gereja dan masyarakat, serta pembawa damai sejahtera bagi semua anak bangsa dan tanah air Indonesia. Dengan demikian Visi ini berwawasan kebangsaan dan oikoumenis (oikos=rumah; menein=yang didiami), peduli kepada kemaslahatan semua anak bangsa yang mempunyai pelbagai latar belakang sosial, etnis, budaya, agama, dan menopang kelanjutan kehidupan (sustainable life) di planit bumi ini.

Bertolong-tolonganlah kamu…

Nampaknya rumusan tema Konsultasi ini “Bertolong-tolonganlah dalam Menanggung Bebanmu untuk Membangun Bangsa dengan Kasih Kristus” bertolak dari Galatia 6:2 yang dikaitkan dengan ‘beban’ bersama atau tugas bersama untuk membangun bangsa berporos pada kasih Kristus.

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!

Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

“Bertolong-tolongan” adalah sebuah kualitas hidup kristiani yang bersumber dari kasih Kristus yang peduli terhadap keselamatan manusia dan dunia ini. Injil kerajaan Allah bukan hanya menyangkut urusan surga nanti, tetapi justru kehendak Allah harus terwujud dalam kehidupan kita di sini, di dunia ini, sebagaimana doa yang Tuhan Yesus ajarkan: “Jadilah kehendakmu di bumi seperti di surga.”

Sebagai murid Kristus, kita sungguh-sungguh telah merdeka (Gal. 5:1). Jika kita meyakini hal ini, semestinya kita bebas dari pemikiran yang membelenggu diri kita, tradisi maupun praktik hidup yang sebenarnya memenjara diri kita dan menghalangi kita untuk hidup sebagai manusia citra Allah. Dalam konteks surat Galatia, Paulus berhadapan dengan orang-orang yang memandang rendah orang lain dengan menjadikan Hukum Taurat sebagai pembenaran atas sikap tersebut. Mereka yang bersunat (keturunan Yahudi) melecehkan mereka yang tidak bersunat (non-Yahudi) sehingga ada kecenderungan kelompok non-Yahudi yang menjadi Kristen untuk menyunatkan dirinya.  Paulus menegur orang-orang ini katanya:

“Kristus telah memerdekakan kamu….

Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.

Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat

tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal. 5:1, 5-6)

Sejalan dengan itu, dalam praktik dan relasi antar sesama dalam komunitas, terjadi pengkotak-kotakan berdasarkan latar belakang suku bangsa (Yahudi – Yunani), status sosial (tuan – hamba), gender (laki-laki – perempuan). Bahkan terjadi penindasan orang Yahudi terhadap Yunani; tuan yang merasa diri orang merdeka terhadap hamba; laki-laki terhadap perempuan. Paradigma berpikir yang dualistik hirarkhis ini – yakni paham yang menekankan bahwa realitas terdiri dari dua bagian, yang satu lebih penting atau tinggi kedudukannya daripada yang lain, ditentang oleh rasul Paulus, dengan menggarisbawahi bahwa:

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.

Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani,

tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan,

karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal. 5:26-28)

Kemerdekaan di dalam Kristus mengatasi semua perbedaan buatan manusia, hal yang membuat terciptanya sebuah komunitas manusia baru. Ciri komunitas itu adalah hidup bertolong-tolongan, saling memperdulikan, saling mendukung, saling mendampingi; termasuk mendampingi dengan lembah lembut mereka yang melakukan pelanggaran, “sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”  (Gal. 6:1) Dengan kata lain, yang kuat semestinya tidak jatuh ke dalam pencobaan, misalnya menghakimi yang lemah. Apalagi meninggalkannya!  Melainkan membuka diri untuk menolong dan mengarahkan mereka  ke jalan yang benar.

Tema Konas ini mengingatkan sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan Kristen di Indonesia untuk saling peduli satu terhadap yang lain.  Kita menyadari bahwa belakangan ini perjalanan sekolah-sekolah Kristen tidak semuanya mulus. Bahkan tantangan dan hambatan cukup besar.  Kita saksikan cukup banyak sekolah Kristen yang “mati segan, hidup tak bisa”, terutama karena terbatasnya kesediaan tenaga pendidik yang handal dan minimnya dukungan dana.  Tema dari Konsultasi ini mengajak semua stakeholder pendidikan Kristen untuk saling bahu membahu demi panggilan membangun bangsa dalam kasih Kristus, atau karena kasih Kristus yang menjadikan kita teman sekerjaNya untuk mendatangkan kebaikan di bumi ini.  Yang kuat hendaknya membagi pengalaman, ketrampilan manajemen, bahkan sumber daya dan dana untuk mendukung yang lemah. Sementara yang lemah secara ekonomi dapat juga membagi talentanya kepada semua, termasuk mereka yang kuat secara ekonomis. Perlu dicatat bahwa kurangnya dukungan dana dan SDM yang handal hanya merupakan salah satu faktor saja yang menyebabkan merosotnya pelayanan banyak sekolah Kristen. Jika menganalisis situasi sekolah-sekolah kita, sebenarnya ada beberapa faktor lain yang dibutuhkan untuk kelanjutan pelayanan sekolah-sekolah Kristen di Indonesia. Antara lain adanya Visi yang jelas dan Komitmen gereja serta yayasan pengelola pendidikan untuk mendukung usaha pendidikan tersebut.

Dengan Semangat Kebangkitan Nasional, Gereja Meningkatkan Peran Pendidikan Kristen dalam Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Sub-tema Konas ini hendak mengajak kita sebagai penyelenggara dan pemerhati pendidikan Kristen di Indonesia untuk meningkatkan peran pendidikan Kristen dalam membangun dan memperlengkapi Generasi Emas Indonesia sehingga mampu memberi diri dan komitmennya untuk membangun masyarakat majemuk Indonesia yang lebih baik, dimana damai sejahtera sebagai inti nilai Injil, dapat dinikmati oleh semua anak bangsa dan mengalir menyejukkan segenap bagian tanah air tercinta ini.  Sekalipun sebagian sekolah-sekolah Kristen sepertinya sedang berjalan tertatih-tatih, kita tidak patah semangat. Konas ini kita adakan ketika bangsa kita memperingati hari Kebangkitan Nasional, dengan sebuah harapan bahwa momentum ini dapat memperkuat semangat kebangsaan kita dan dalam kerangka itu, merevitalisasi pendidikan Kristen di Indonesia.   Sikap ini adalah bagian dari realisme yang berpengharapan. Walau kita merasa lemah, namun di dalam Dia yang empunya pekerjaan kita merasa kuat dengan mengandalkan bimbingan Roh Kudus, tetap bermimpi untuk ikut menciptakan masa depan bangsa yang lebih nyaman dan dinamis lewat dunia pendidikan, sehingga kemuliaan Allah menjadi nyata di tanah air tercinta ini, sebagaimana harapan pemazmur 85:

 “Sesungguhnya keselamatan dari padaNya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia,

sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.

Bahkan Tuhan akan memberikan kebaikan dan negeri kita akan memberikan hasilnya.”

(Maz. 85:10-13)

 Tantangan yang kita hadapi

Kita hidup dalam masyarakat majemuk Indonesia yang berubah cepat. Akibat perubahan sosial yang cepat itu, banyak nilai yang menunjang kehidupan bersama mengalami pergeseran.  Munculnya berbagai ketegangan bahkan konflik sosial memperlihatkan bahwa masyarakat kita yang majemuk (suku, budaya, agama, dsb), yang tadinya hidup berdampingan dan saling tolong menolong, kini semakin memperlihatkan pola hidup yang semakin mementingkan diri dan kelompoknya.  Motto bangsa kita, “bhineka tunggal ika” nampaknya semakin diabaikan oleh banyak orang.  Hal ini dapat menggoyahkan sendi-sendi keutuhan bangsa kita.

Persaingan yang tidak sehat, yaitu situasi di mana warga masyarakat tidak segan lagi menyingkirkan atau menyikut orang lain terutama mereka yang lemah atau yang dianggap sebagai saingan, semakin meningkat di era globalisasi ini yang menekankan ekonomi pasar. Manusia Indonesia berlomba dan bersaing mengejar keuntungan dengan menghalalkan berbagai cara yang secara moral tidak bertanggungjawab.  Nilai individualisme dan materialisme semakin subur dalam masyarakat.  Penyalahgunaan wewenang dan kuasa serta berbagai bentuk korupsi semakin marak, merasuki seluruh sendi kehidupan masyarakat.  Kepentingan bangsa dan kesejahteraan sosial bagi semua, sebagaimana yang ditekankan dalam Pancasila dan UUD 45, semakin diabaikan.

Sidang Raya ke-16 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengindentifikasi 4 (empat) masalah pokok yang dihadapi oleh bangsa kita, yaitu: Kemiskinan, Ketidakadilan, Radikalisme dan Kerusakan Lingkungan.   Lanjut digarisbawahi bahwa keempat masalah ini mempunyai akar yang sama yaitu terletak dalam Kerakusan manusia, yakni nafsu ingin memperoleh materi, kedudukan dan kuasa tanpa batas. Dalam kaitan ini kita teringat pada ungkapan Mahatma Gandhi: “The world has enough for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.”  (Dunia yang Tuhan ciptakan ini memiliki kekayaan yang cukup untuk kebutuhan semua orang, tapi tidak cukup untuk keserakahan manusia.)  Walaupun kita melihat mol-mol semakin tumbuh di mana-mana bagai cendawan di musim hujan, namun tidak semua warga masyarakat mempunyai daya beli yang cukup untuk menikmati dagangan di sana.  Pada pihak lain, hadirnya mol-mol itu ikut memupuk gaya hidup konsumtif terutama di kalangan generasi muda.  Dengan kata lain, kita masih berhadapan dengan masalah kemiskinan dan ketidakadilan, jurang kaya dan miskin semakin melebar.   Ketidakadilan sosial ini tidak jarang menjadi pesemaian benih-benih kecemburuan sosial yang bermuara dalam radikalisme.  Dorongan mengejar keuntungan yang besar, membuat manusia mengeksploitasi sumber daya alam tanpa batas, yang berakibat pada kerusakan ekologis yang sudah sulit untuk diperbaiki, yang tentu mempunyai dampak bagi kehidupan yang layak (sustainable life) bagi generasi yang akan datang.

Perkembangan tehnologi komunikasi yang luar biasa telah memungkinkan hadirnya informasi dan komunikasi jarak jauh dalam rumah kita lewat satelit lewat televisi atau melalui telepon genggam yang ada di tangan kita. Peristiwa yang terjadi di belahan bumi lain dapat kita ikuti pada saat yang bersamaan.  Namun berbagai kemajuan tehnologi komunikasi ini acap “mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat,” yaitu ketika masing-masing kita asyik dengan gadget kita, terhubung lewat facebook atau wa dengan orang lain, menembusi jarak jauh, namun melupakan orang-orang dekat (istri, suami, anak, tetangga) yang ada di sekitar kita.  Bisa saja kita duduk bersama sebagai keluarga di depan tv, “nonton bareng, namun hati kita tidak bareng” karena dikuasai oleh jaringan komunikasi yang lebih luas.  Akibatnya, tidak sedikit keluarga yang mengalami relasi yang hambar dan dingin dalam rumahnya, karena didesak oleh kepentingan pribadi anggotanya.  Kebersamaan (holy family time), kehangatan dan kepentingan bersama sebagai keluarga makin terpinggirkan oleh sikap egoisme masing-masing anggota.

Menghadapi masalah-masalah  ini  pertanyaan yang muncul adalah dimanakah peran pendidikan formal di sekolah pada berbagai jenjang, dan pendidikan non-formal yang diselenggarakan di rumah atau di gereja?  Headline koran Kompas 18 Mei 2016 mengangkat hasil penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW) dengan topik: “Anggaran Pendidikan Jadi Sasaran Korupsi: Pengawasan Keuangan Lemah”. Dijelaskan bahwa:

“Anggaran pendidikan menjadi sasaran empuk untuk dikorupsi. Selama 10 tahun terakhir, korupsi di sektor pendidikan menyebabkan kerugian negara senilai Rp. 1,3 triliun. Para pelaku mulai dari kepala dinas pendidikan, staf dinas pendidikan, hingga kepala sekolah.”  Selanjutnya dikatakan bahwa dana yang paling rentan di korupsi pada sektor pendidikan, adalah dana alokasi khusus (DAK). Korupsi juga terjadi pada danaBOS, dana infrastruktur sekolah, sarana dan prasarana, serta buku pelajaran.” 

Keadaan ini memperlihatkan bahwa krisis moral juga telah merasuki dunia pendidikan.  Korupsi dan penyalahgunaan wewenang dan kepercayaan telah meracuni kehidupan para pendidik. Kalau demikian, contohapa yang dapat dipelajari oleh naradidik dari penyelenggara pendidikan? Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah apa peran pendidikan Kristen berhadapan dengan nilai-nilai individualisme, egoisme dan suburnya korupsi yang melanda masyarakat kita?  Apakah kita sebagai pendidik Kristen dan lembaga pendidikan Kristen yang kita kelola masih tidak terpengaruh dengan nilai-nilai individualisme, penyalahgunaan wewenang dan kuasa, serta praktik korupsi, ataukah sudah terkontaminasi juga dengan virus yang dahsyat ini?  Apakah lembaga pendidikan Kristen termasuk pendidik Kristen dan semua pemerhati pendidikan masih mampu memainkan peranan yang positif, kreatif tapi juga kritis dan transformatif dalam ikut serta memajukan pendidikan nasional yang berwawasan kebangsaan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 45?  Pertanyaan ini mendesak untuk kita jawab bersama agar arah kita ke depan menjadi jelas, termasuk hal-hal yang ingin kita capai lewat jerih dan juang kita untuk tetap menyelenggarakan sekolah-sekolah Kristen sekalipun kita berhadapan dengan berbagai keterbatasan (dana, SDM, dsb)?

Arah ke depan: Pendidikan yang membebaskan

Prof. H.A.R. Tilaar dalam bukunya: “Sowing the Seed of Freedom: Ki Hajar Dewantara As a Pioneer of Critical Pedagogy” (2014) menekankan bahwa sebagai bangsa Indonesia kita menjadi korban dari dua bentuk kemiskinan. Yang pertama adalah kemiskinan ekonomi karena kekayaan alam Nusantara yang telah dieksploitasi oleh kekuasaan penjajah asing di masa lampau. Sebagaimana yang tadi saya jelaskan, kemiskinan ini masih terus berlangsung bahkan ketidakadilan makin merebak oleh dominasi dan manipulasi para pemegang kuasa dan uang, yang diperkokoh oleh berkembangnya neo-liberalisme yang menekankan pentingnya persaingan demi keuntungan materi. Yang kedua, menurut Prof Tilaar, kemiskinan intelektual sebagai akibat pembatasan kebebasan berpikir dan bertumbuh bagi perkembangan intelektual manusia.

Prof. Tilaar mengulas dengan sangat mendalam peranan Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidik Indonesia di awal abad ke-20, dalam mempromosikan pendidikan nasional yang memberi ruang bagi pertumbuhan kebebasan berpikir bagi naradidik.  Konsep pendidikan yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa (didirikan tahun 1922) lahir dari kesadaran akan pembodohan yang telah terjadi dalam masyarakat pada saat itu, yang didalangi oleh kepentingan kaum penjajah. Bapak pendidik ini menggarisbawahi pentingnya membangun kesadaran naradidik dan kesadaran masyarakat agar dapat bebas dari pelbagai kekuatan luar yang menghalangi kebebasan berpikir seseorang. Paradigma pendidikan ini menempatkan naradidik sebagai subyek dari proses pembelajarannya, mampu mengembangkan kebebasan berpikirnya, kritis terhadap realitas di sekitarnya, sehingga mampu menolak hal-hal yang tidak benar dan memilih hal-hal yang membangun dirinya dan masyarakatnya. Naradidik bukan gelas kosong yang siap diisi oleh pendidik dengan apa saja (termasuk ideologi dan pola pikir yang merugikan bangsa), sebuah pendekatan pendidikan yang menjadikan naradidik semata menjadi obyek. Berbeda dengan pola pendidikan pada jamannya, Ki Hajar Dewantara menekankan penghargaan (respect) terhadap naradidik terutama sensitivitas atas kebutuhan naradidik untuk bertumbuh dalam kebebasan sebagai bagian dari hukum alam. Paradigma berpikir serupa dikembangkan oleh Paolo Freire dari Amerika Latin sekitar tahun 70-an melalui judul bukunya: “Pedagogy of the Oppressed” (1970).  Prof. Tilaar menggarisbawahi:

The principle concept stated by Ki Hajar Dewantara in the praxis of education implies the close relations between education and politics, between education and the society, between education and culture of the people.   This extraordinary concept provided a new dimension to education unknown to the world at the time.” (Tilaar 2014, xii)

Tilaar menggarisbawahi bahwa pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan masyarakat dan budayanya, tapi juga dengan politik.  Dalam kaitan ini dapat dikatakan bahwa dalam konteks Indonesia, pendidikan nasional semestinya terarah kepada membangun masyarakat Indonesia yang majemuk, yang memegang nilai-nilai Pancasila dan UUD 45 serta menghargai motto negara “bhineka tunggal ika.”  Pendidikan nasional semestinya akrab dengan kearifan budaya lokal, warisan nenek moyang kita yang mempunyai nilai-nilai yang menunjang kehidupan bersama, seperti kebiasaan berbagi dan saling menghargai, hal-hal yang dapat menangkal sikap individualisme dan egoisme yang makin subur di tengah arus globalisasi yang ditandai dengan neo-liberalisme.  Namun tidak jarang terjadi bahwa pendidikan dan kebijakan menyangkut pendidikan diwarnai oleh kepentingan politik tertentu yang bisa saja menjauhkan bangsa ini dari tujuannya untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang dinikmati oleh semua.   Perubahan kurikulum yang sudah terjadi sebelas kali selama Indonesia merdeka dapat saja memperlihatkan pergeseran-pergeseran konsep pendidikan maupun praktik pendidikan yang menjauh dari jiwa pendidikan nasional yang digagas oleh tokoh pendidik nasional kita seperti Ki Hajar Dewantara.

Pertanyaan bagi kita sebagai peneyelenggara dan pemerhati pendidikan Kristen di Indonesia, khususnya di tengah pengaruh neo-liberalisme dalam masyarakat kita adalah bagaimanakah kita mengembangkan pendidikan Kristen yang berporos pada kasih Kristus yang memerdekakan, sehingga mereka yang mengecap pendidikan lewat sekolah-sekolah Kristen dapat memancarkan kasih itu dalam cara berpikir dan bertindaknya.  Walaupun sekolah Kristen mempunyai kekhasan yakni digerakkan oleh nilai-nilai kristiani, tetapi justru nilai inilah yang dapat menolong kita untuk  tidak terjatuh ke dalam eksklusifisme, yakni menganggap agama atau budaya atau suku kitalah yang paling benar.  Kita percaya sebagaimana bahwa: “Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNya.” (Maz. 145:9)  Sekolah Kristen di Indonesia semestinya berorientasi kepada pendidikan yang berwawasan kebangsaan yang menolong naradidik untuk bertumbuh mengembangkan diri secara holistik (intelektual, spiritualitas maupun moral), dengan memanfaatkan kekayaan budaya lokal serta menghargai perbedaan.  Pada gilirannya naradidik seperti ini akan memberikan sumbangan bagi pembangunan masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.

Kita perlu sadar akan beratnya tantangan yang kita hadapi dalam dunia pendidikan dewasa ini. Pendidikan tidak lagi melulu dianggap sebagai sarana memfasilitasi naradidik untuk mengembangkan diri dan pemikirannya, tetapi semakin dianggap sebagai sebuah komoditas atau investasi yang harus dibayar tinggi.  Penekanan yang sering kita dengar bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan pasar, adaklah dampak dari globalisasi yang menekankan ekonomi pasar.  Di tengah situasi ini, mampukah pendidikan Kristen menawarkan alternatif pendidikan yang membebaskan semua anak bangsa, tetapi terutama mereka yang tersingkirkan karena tidak lemah secara ekonomi.

Di tengah godaan komersialisasi pendidikan, kita sebagai pendidik Kristen dan pengelola lembaga pendidikan Kristen diingatkan oleh nasihat rasul Paulus dalam Roma 12:2: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  Hal ini sejalan dengan gagasan Presiden Jokowi mengenai “revolusi mental.”  Hanya jika kita mampu membarui diri di bawah sorotan Firman Tuhan sambil meminta tuntunan Roh Kebenaran, kita dapat menjadi agen pendidikan transformatif yang dapat dipercaya.

Pendidikan adalah upaya bersengaja untuk mendampingi dan menopang naradidik menjadi manusia yang mandiri berpikir sehingga mengalami pertumbuhan intelektual, moral dan spiritual yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi masyarakat di mana ia hadir dan berkarya. Termasuk menjadi agen transformasi bagi kemajuan bangsa dan tanah air kita.  Kita perlu mencari alternatif-alternatif baru untuk tetap menyelenggarakan pendidikan Kristiani yang tidak harus selalu terbatas pada pendidikan formal yang dibatasi oleh tembok-tembok kelas. Saya terinspirasi oleh sebuah tulisan dalam Kompas 17 Mei 2016, yang berjudul “Berbagi rasa Merdeka” dan ingin saya bagikan pada kesempatan Konas ini.

“Ada juga penggerak yang terus berjalan kaki memanggul noken mencari dan membujuk anak-anak membaca, sekalipun anak-anak yang belum mengenalnya kerap menghindar sebelum akhirnya teryakinkan. Untuk mnecapai anak-anak di pulau yang kekurangan buku, ada penggerak yang tak keberatan melaut dan meninggalkan keluarganya berhari-hari. Semuanya bergerak dengan sejenis dendam agar jangan sampai masa kanakkanak mereka yang paceklik buku terus beulang sampai ke generasi berikut: cukup para penggerak itu sajalah yang tak beruntung karena bacaan yang tak memadai.

Meski tak selalu terungkap jelas, dendam itu menyertai langkah para penggerak yang beraneka ragam ini, dari kaki Gunung Slamet di Jawa Tengah hingga pantai Pambusuang di Sulawesi Barat, dari Danau Toba di Sumatera Utara hingga Teluk Cenderawasih diPapua. Tanpa gembar-gembor mereka terus mendatangi pembaca, menyodorkan dan mengenalkan sejumpat nikmat membaca, setitik rasa merdeka. Pustaka Bergerak memang belum bisa membawa listrik ke tempat-tempat yang jauh, hanya negara dan perusahaan besar yang sanggup melakukan itu. Namun, dengan pustaka yang bergerak, rakyat kecil pun bisa menunjukkan bahwa mereka juga sanggup berbagi rasa merdeka kepada sesama.”  (Kompas 17 Mei 2016, hal. 6)

Selamat merenungkan, selamat berkonsultasi, selamat berkarya semoga Roh Allah menguatkan dan membarui kita, sambil kita yakin akan nasehat Firman Tuhan:

“…berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (I Kor. 15:58)

 

Penulis adalah Ketua Umum PGI