Kepemimpinan dan Spiritualitas

BAKI ~ 23 Agustus 2015 | Renungan Minggu XIII Setelah Pentakosta

Bacaan Alkitab: I Raja-raja 8:1,6; 10-11; 22-30, 41-43 Mazmur 34:15-22 Efesus 6:10-20 Yohanes 6:56-69

[S]ebagai penerus trah Daud dari ibu Batsyeba, Salomo berhasil memperkokoh kerajaan Israel dan memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke negerinegeri jauh. Pada zamannya, kerajaan Israel tampil sebagai sebuah kekuatan adidaya di antara bangsa-bangsa sekitarnya. Salomo menjadi raja yang kuat lagi berhikmat. Kemasyuran dirinya terdengar luas di mana-mana. Apalagi ketika tercapai keinginannya mendirikan Bait Suci di Yerusalem sebagai pusat peribadatan Israel. Pada masanya untuk pertama kali bangsa Israel memiliki satu tempat pelaksanaan ritual keagamaan yang terpusat. Sebelumnya, orangorang Israel termasuk juga Salomo, masih mempersembahkan korban-korban di bukit-bukit pengorbanan, di antaranya di Gibeon (lihat I Raj 3). Daud memang sudah memindahkan tabut perjanjian ke Sion, tetapi di bawah pemerintahannya baru dapat membangun kesatuan kekuatan politik di Yerusalem sebagai pusat kerajaan. Keberhasilan Salomo menyatukan dua pusat kekuatan yakni politik dan agama di Yerusalem ini tentu membawa implikasi-implikasi religious-politis, baik bagi Salomo sendiri maupun bagi orang-orang Israel secara keseluruhan.

  1. Secara religius menunjukkan bahwa Salomo tetap setia hidup dihadapkan Allah dan mengikuti ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya. Sementara dampaknya bagi orang Israel ialah muncul rasa keberagamaan dan kebersamaan yang kuat sebagai umat pilihan Tuhan.
  2. Secara politis, penyatuan ini bagi Salomo, kian memperkokoh kekuasaannya serta mempermudah kontrol sosial dan politik. Tetapi, sekaligus pula menumbumbuhkan semangat nasionalisme dan kebangsaan di kalangan orang-orang Israel yang sebetulnya berasal dari berbagai suku dan puak.
  3. Pentahisan Bait Suci dengan melibatkan tua-tua Israel, kepala-kepala suku atau puak di Israel serta imam-imam memperlihatkan bahwa Salomo berhasil menyatukan mereka, tetapi juga tetap memberikan peran kepada mereka sesuai fungsinya masing-masing.

Selanjutnya dalam pentahbisan Bait Suci digambarkan tentang Renungan Minggu XIII Setelah Pentakosta 23Agustus 2015 Bacaan Alkitab: I Raja-raja 8:1,6; 10-11; 22-30, 41-43 Mazmur 34:15-22 Efesus 6:10-20 Yohanes 6:56-69 Kepemimpinan dan Spiritualitas 203 kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan (I Raj. 8: 10-11), sesudah para imam meletakkan tabut perjanjian di ruang maha kudus. Tabut perjanjian ini adalah simbol kehadiran Tuhan dan bukti bahwa perjanjian-Nya dengan Israel, yang diadakan sejak nenek moyang mereka ke luar dari tanah Mesir (ayat 21) sampai kepada Daud hingga Salomo, tetap, tidak berubah. Salomo lalu menyampaikan doa di depan mezbah dan di hadapan segenap jemaah Israel, memohon agar Tuhan tetap teguh dengan janji dan kasih setia-Nya itu (ayat 22:26). Salomo memohon agar Tuhan, yang diam di Bait Suci pun yang tinggal tetap di di sorga mendengarkan doanya bersama umat (ayat 27-30). Selanjutnya Salomo memohon agar Tuhan juga mendengarkan doa orang asing yang datang berdoa di rumah Tuhan ini karena kebesaran nama Tuhan terdengar di seluruh bangsa di bumi (ayat 41-43).

[A]pa makna doa ini? Bagi Salomo sendiri, ini merupakan sebuah afirmasi dari Tuhan atas tahtanya, dan sekaligus merupakan pemenuhan janji yang diikat sejak para leluhur Israel sampai Daud, ayahnya. Bila dalam pasal 3, permohonan Salomo meminta hikmat dilayangkan dalam perjumpaan dengan Allah melalui mimpi, sekarang doanya itu disampaikan di hadapan jemaah Israel di Bait Suci. Dalam pasal 3 ini, relasi Salomo dengan Tuhan masih sangat personal. Sementara dalam pasal 8, relasi Salomo dengan Tuhan nyata di depan umum dengan melibatkan segenap umat Israel. Namun, bukan saja itu. Salomo menyampaikan juga permohonan kepada Tuhan agar mendengarkan doa orang asing, yang bukan seagama, seras dan sebangsa. Ini memperlihatkan bahwa ketika Bait Suci ditahbiskan pengaruh Salomo sudah meluas hingga ke negeri-negeri lain. Tampaknya ada hubungan yang baik dan harmonis dengan orang-orang dari bangsa-bangsa itu. Sehingga ia merasa perlu menyebutkan dalam doanya orang asing yang datang ke negerinya dan berdoa di Bait Suci. Ini menunjukkan sikap inklusif Salomo, yang menerima orang lain berdoa di tempat peribadatan orang Israel.

Sikap inilah yang dapat kita ambil dari model kepemimpinan Salomo, yang memperlihatkan sebuah kepemimpinan yang tak dapat dilepaskan dari kehidupan spiritualitas, yang mendorong kepada usaha-usaha riil dan konkrit bagi keadilan, pengampunan dan kemakmuran umat (lihat ayat 31- 41) dan siapa saja, di luar komunitas atau orang asing sekalipun. (RKW)