|

Kekuasaan untuk Kemanusiaan

BAKI ~ 27 September 2015 | Renungan Minggu XVIII Setelah Pentakosta

 Bacaan Alkitab : Ester 7:1-6,9-10; 9:20-22, Mazmur 19:7-14, Yakobus 5:13-20, Markus 9:38-50

Kisah Ratu Ester adalah cerita tentang kekuasaan yang digunakan untuk mencegah pembunuhan masal sebuah bangsa. Dengan kekuasaan yang dimiliki, Ratu Ester berani mengungkapkan rencana busuk Haman, pejabat tertinggi Kerajaan Persia yang menjadi kepercayaan Ahasyweros, Raja Persia, yang kekuasaannya terentang dari India hingga Etiopia.

Ester adalah perempuan Yahudi, isteri kesayangan Raja Ahasyweros, menggantikan Ratu Wasti yang disingkirkan raja. Ia seorang Yahudi yang memilih menetap di kota Susan, di tanah pembuangan Persia, dan tidak kembali ke negerinya, Kerajaan Yehuda. Sejak kanak-kanak, Ester diasuh oleh Mordekhai, saudara sepupunya, yang pernah menyelamatkan Ahasyweros dari rencana pembunuhan dan kemudian diberi jabatan di lingkungan istana Persia.

Haman, pejabat tertinggi kepercayaan Ahasyweros, bermaksud memusnahkan Mordekhai dan seluruh bangsa Yahudi. Haman ingin membunuh Mordekhai karena lelaki tua Yahudi ini bersikeras menolak berlutut dan bersujud kepadanya di pintu gerbang istana padahal itulah perintah raja Ahasyweros.

Ia merasa dilecehkan dan dendam sekaligus. “Terlalu hina untuk membunuh Mordekhai saja, karena orang telah memberitahukan kepadanya kebangsaan Mordekhai itu. Jadi Haman mencari ikhtiar memunahkan orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu” (3:6).

Melalui siasat, Haman memperoleh izin Ahasyweros untuk memusnahkan bangsa Yahudi dan merampas harta-milik mereka. Rencanapun disusun, surat pemberitahuan diedarkan kepada para pihak berwenang di seluruh wilayah Kerajaan Persia. Kala itu, Kerajaan Persia terbentang dari India hingga Etiopia, dan Ahasyweros adalah seorang raja dengan kekuasaan besar, kaya raya (1:1-4) dan rendah hati (12-13).

Mordekhai mengetahui rencana Haman dan menyampaikannya kepada Ester. Ester lalu berencana mengundang Haman dalam pesta perjamuan bersama raja. Ketika Ahasyweros bertanya kepada Ester, “Apakah permintaanmu, hai Ratu Ester? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan dipenuhi.” (7:2). Ester menjawab bahwa ia ingin bangsanya, juga dirinya sendiri, tidak dimusnahkan dari Kerajaan Persia. Ia meminta jangan sampai genosida terjadi. Dalam pesta perjamuan itu akhirnya rencana Haman terbongkar dan Ahasyweros menghukum Haman. Lalu titah raja: “Sulakan dia pada tiang itu.” (7:9).

Ester adalah teladan tentang bagaimana kekuasaan yang diperolehnya digunakan untuk kepentingan yang mulia: mencegah pembunuhan masal bangsa Yahudi. Ia perempuan Yahudi yang tetap setia kepada Allahnya dan tradisi bangsanya di tengah-tengah pergaulan lingkungan istana Persia yang kerlip-gemerlap, megah dan mewah, namun penuh persaingan dan intimidasi.

Kekuasaan dan peluang dimilikinya tidak membuatnya “lupa daratan” dan “mabuk”, atau dimanfaatkan untuk memperkaya diri dan memuaskan kesenangan diri pribadi. Sebaliknya, ia memperjuangkan hak untuk hidup bermartabat – termasuk menjalankan agamanya – sebagian warga bangsanya yang memilih menetap di Persia.

Persoalan kekuasaan ini sungguh relevan untuk konteks Indonesia kini, ketika penyalahgunaannya merebak luas di semua tingkatan wilayah maupun bidang. Penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya pribadi, atau kepentingan pribadi, berlangsung mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi dan pusat. Penyalahgunaan berlangsung tanpa mengenal bidang-bidang pekerjaan: di Mahkamah Konstitusi yang menjaga tegaknya tonggak-tonggak kebangsaan dan negara pun kekuasaan dimanfaatkan untuk jual-beli atau sogok-menyogok urusan pilkada. Di departemen yang mengurusi hal keagamaan, termasuk urusan kitab suci, korupsi berlangsung dengan angka-angka yang membelalakkan mata.

Bantuan-bantuan sosial dari masyarakat untuk para pengungsi atau para korban bencana alam, juga dikorupsi. Kekuasaan di sini tak lagi dilihat sebagai sarana pelayanan: untuk memperbaiki hajat hidup orang banyak atau kemaslahatan bersama.

Mengungkapkan rencana busuk petinggi papan atas, tentu memerlukan keberanian. Tidak mudah membongkar permainan busuk yang dilakukan secara berjamaah pula. Sejarah mencatat, paling mudah bersekutu dalam permainan jahat, dan kemudian meraup berbagai keuntungan dari persekongkolan itu. Ada sebutan “korupsi berjamaah” dan whistleblower. Korupsi berjamaah dilakukan secara terstruktur dan bersama-sama. Whistleblower adalah pengungkap fakta, pengungkap kejahatan, yang terbungkus rapih dalam suatu konspirasi sehingga tidak diketahui.

Tindakan Ester mengungkap kejahatan Haman mengingat kita akan ungkapan bijak, “Kebenaran tak dapat dikalahkan.” Tiga hal yang tak bisa lama bersembunyi: matahari, bulan dan kebenaran.

About PGI

Admin Website PGI Staf Komunikasi dan Informasi PGI Contact: Website | More Posts