|

Keagungan Allah dan Alam Raya Tempat Manusia Bercermin

BAKI ~ 4 Oktober 2015 | Renungan Minggu XIX Setelah Pentakosta

Bacaan Alkitab: Ayub 1:1, 2:1-10; Ibrani 1:1-4, 2:5-12; Mazmur 8; Markus 10:2-16

Doksologi merupakan ciri kitab-kitab Mazmur, khususnya bertutur tentang keagungan Allah yang tercermin melalui ciptaan-Nya. “Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan” (Mzm. 15:6); “Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:2); “Cemerlang Engkau, lebih mulia daripada pegunungan yang ada sejak purba”. (Mzm. 76:5); “TUHAN, gembalaku yang baik” (Mzm. 23).

Gema puji-pujian para pemazmur itu dikumandangkan Injil Matius secara tajam, “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang-orang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan tidak benar.” (Mat. 5:45). Banyak larik lagu ibadah dan liturgi gereja terinspirasi kitab-kitab Mazmur.

Mazmur 8 dijuluki sebagai mazmur puji-pujian dan refleksi pengenalan diri di hadapan Allah Pencipta. Struktur mazmur ini menegaskan aspek pujian reflektif: a) Keagungan Allah tercermin dalam ciptaan-Nya (ay. 1-4); b) Manusia mahkluk hina dimuliakan Allah (ay. 5-6); c) Manusia berkuasa atas ciptaan Allah lainnya (ay. 7-9); Penutup: Pujian kepada Allah (ay. 10).

Bait-bait mazmur memperlihatkan kontras yang tajam memanfaatkan unsur-unsur alam. Langit, bulan, bintang-bintang sebagai ciptaan di cakrawala melukiskan keagungan dan kebesaran Allah. Semua menunjuk kepada kemegahan berjarak: nun jauh tak terjangkau di atas bumi. Bayi-bayi dan anak-anak menyusu, yakni makhluk-makhluk lemah yang hidupnya masih tergantung pada orangtuanya, menunjukkan kepedulian dan keberpihakan Allah. Bayi dan anak adalah penanda kehidupan yang terus berputar berkesinambungan melalui regenerasi. Puncak penelusuran manusia atas kebesaran ilahi itu adalah pertanyaan, “Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?” (ay. 5b). Menurut pakar linguistik, kata kerja mengindahkan (pagad) bermakna: mendatangi atau memelihara. Allah mengindahkan manusia selaku makhluk ciptaan yang istimewa dengan mendatangi dan memelihara walau manusia kecil saja di tengah jagad raya.

Keistimewaan manusia itu dilukiskan pemazmur: “Engkau membuatnya hampir sama dengan Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.” (ay. 6-7). Bait-bait ini mengumandangkan pesan-pesan kitab Kejadian: manusia diciptakan menurut gambar-Nya (1:27), diperintahkan untuk “beranak-cucu memenuhi bumi” dan “berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang….”

Perenungan manusia atas kemegahan alam raya membuahkan pertanyaan reflektif: Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya? Pertanyaan ini terarah kepada Allah dan alam sekaligus. Pertama, alam yang indah dan megah menjadi tanda-tangan Allah, membayangkan jari-jemari Allah yang maha cerdas dan kreatif. Kedua, kendati diberi anugerah keunggulan menguasai makhluk-makhluk hidup lainnya, di tengah alam raya manusia ibarat setitik debu yang dengan mudah dihempaskan gelombang besar ombak, badai, gempa bumi, tsunami, dan tornado. Atau diterkam harimau, singa, buaya, dan komodo yang kekuatannya melampaui keperkasaan manusia.

Marcus Garvey pernah berkata: “God and nature first made us what we are, and then out of our own created genius we make ourselves what we want to be. Let God and the sky be our limit and eternity our measurement.” (Allah dan alam raya telah menunjukkan siapa kita, dan melalui kejeniusan kita sebagai ciptaan, kita menjadi apa yang kita inginkan. Biarlah Allah dan langit menjadi batas kita dan keabadian menjadi ukuran kita).

Manusia memang ibarat sebutir pasir di tengah-tengah jagat raya yang penuh galaksi menakjubkan. Di satu sisi, di hadapan jagat raya itu manusia bisa bercermin betapa kecil dirinya. Alam lebih kuat dan mampu menaklukkan manusia. Siapa bisa menjinakkan badai gurun, tornado, gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi? Alam raya menjadi stempel maha karya Allah. Di sisi lain, di hadapan keagungan dan kekudusan Allah manusia bisa bercermin pada nur kemuliaan-Nya yang berkilau atas dirinya yang hina-dina. Ia hidup dalam kefanaan dan kecenderungan untuk mengikuti berbagai nafsu yang merugikan dirinya sendiri dan sesamanya manusia. Namun Allah memberikan kemuliaan sebagai citra-Nya dan karunia untuk menaklukkan alam. (RMPH)

About PGI

Admin Website PGI Staf Komunikasi dan Informasi PGI Contact: Website | More Posts