Sidang Majelis Sinode Am GPI 2025 Dibuka, PGI: Gereja Perlu Menghidupi Discernment dan Menjadi Komunitas yang Membumi
admin
03 Dec 2025 14:42
JAKARTA, PGI.OR.ID — Sidang Majelis Sinode Am (SMSA) Gereja Protestan di Indonesia (GPI) tahun 2025 resmi dibuka pada Selasa, 2 Desember 2025, di Kebayoran Park Hotel, Jakarta. Sidang ini menjadi momentum penting bagi GPI untuk meneguhkan arah pelayanan, memperkuat tata gereja, serta menilai kembali relevansi kesaksian gereja di tengah dinamika bangsa.
Acara pembukaan dihadiri oleh sejumlah tokoh gerejawi dan pemerintah, antara lain Wakil Gubernur Daerah Khusus Jakarta Rano Karno, yang menegaskan pentingnya kontribusi gereja dalam membangun harmoni sosial di tengah tantangan urban dan pergeseran budaya masyarakat kota. Hadir pula Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Jeane Marie Tulung, yang menyampaikan dukungan pemerintah terhadap peran GPI dalam pendidikan, pembinaan iman, dan penguatan kebangsaan.
Ketua Umum Badan Pelaksana Harian Sinode Am GPI, Pdt. Eben Nuban Timo, dan Sekretaris Umum, Pdt. Henrek Lokra, membuka secara resmi pelaksanaan sidang yang mengusung tema biblis: “Ujilah Segala Sesuatu dan Peganglah yang Baik” (1 Tes. 5:21). Tema ini mengajak gereja melakukan spiritual discernment—kepekaan rohani untuk membaca tanda-tanda zaman dan menentukan arah pelayanan yang relevan, bermakna, dan setia kepada Injil.

Dalam sambutannya, Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, menegaskan bahwa gereja dituntut untuk menguji diri secara jujur dan rendah hati. Ia menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan GPI, seperti regenerasi pelayan dan kebutuhan gereja menjadi ruang yang ramah bagi kaum muda; transformasi pelayanan pendidikan gerejawi; serta pentingnya kehadiran gereja dalam dinamika sosial-politik tanpa terjebak kepentingan praktis.
Pdt. Darwin juga menekankan urgensi pertobatan ekologis. Ia mengingatkan bahwa rangkaian bencana—seperti banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—menjadi isyarat rusaknya relasi manusia dengan alam. Gereja, katanya, harus menguji gaya hidup konsumtif, kebijakan pembangunan yang tidak adil lingkungan, serta praktik pelayanan yang belum sensitif terhadap keberlanjutan ciptaan.
Tantangan pelayanan digital turut mendapat perhatian. Menurut PGI, GPI telah memulai langkah penting dalam digitalisasi liturgi dan administrasi pelayanan, tetapi discernment tetap diperlukan dalam menentukan konten, metode pengajaran, serta pengembangan teologi digital agar gereja tidak kehilangan keotentikannya di tengah dunia yang cepat dan dangkal.

Pada akhirnya, Sekum PGI berharap SMSA GPI 2025 menjadi ruang pengambilan keputusan strategis untuk memperteguh peran gereja sebagai komunitas yang membumi, memperjuangkan keadilan dan keutuhan ciptaan, memperkuat regenerasi, serta meningkatkan kolaborasi oikumenis di tingkat nasional. (EDP)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Sekjen LWF Apresiasi Kerja-kerja Advokasi yang Dilakukan PGI
JAKARTA,PGI.OR.ID-Sekretaris Jenderal Lutheran World Federation (LWF) Pdt. Dr. Anne Burghardt, menyampaikan ap...
PGI Dorong Pemuda Gereja di Papua Gunakan Media untuk Suarakan Keadi...
JAYAPURA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendorong pemuda gereja di Tanah Papua untuk s...
LAPORAN DANA GEMPA FLORES 14 SEPTEMBER 2026
LAPORAN DANA GEMPA FLORES 14 SEPTEMBER 2026Laporan Dana Darurat Respons Gempa Flores merupakan bentuk transpar...

