Refleksi PELITA: Perempuan Lintas Iman Perkuat Solidaritas dan Komitmen Aksi Nyata
admin
24 Apr 2026 14:41
JAKARTA, PGI.OR.ID-Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah membawa terang bagi perempuan Indonesia sekaligus rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dirayakan dalam sebuah ruang Refleksi Perempuan Lintas Iman (PELITA), bertajuk “Bersama Menyuarakan Hak, Menegakkan Keadilan dan Bergerak dalam Aksi untuk Perempuan dan Anak Perempuan” di Grha Oikoumene, Jakarta, Kamis (23 April 2026).

Acara yang diinisiasi oleh Biro Perempuan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dengan didukung oleh Persekutuan Kaum Wanita KIBAID ini dihadiri oleh utusan perempuan Lintas Iman dari Perempuan Muhamadiyah, Perempuan Konghucu Indonesia (PERKHIN), Koalisi KBB, MATAKIN, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia, PERMABUDHIi, PGLII, PGIW Jakarta, PGIW JaBar, PGIW Banten, PERUATI, PWKI, Lingkar Berdaya dan utusan pengurus bidang pelayanan perempuan Sinode Anggota PGI wilayah Jabodetabek. Pertemuan perempuan dari beragam latar belakang iman dan organisasi ini, untuk merawat serta meneruskan terang yang diwariskan Kartini, yaitu terang yang tidak hanya membebaskan tetapi juga menguatkan peran perempuan dalam keluarga, masyarakat dan kehidupan berbangsa.
Pdt. Ira Imelda, mewakili Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI, dalam sambutannya mengingatkan bahwa jalan yang dilalui perempuan hari ini tidak hadir secara tiba-tiba. Selain Kartini, ia menyebut sejumlah tokoh perempuan dari berbagai daerah sebagai bagian dari mata rantai sejarah panjang perjuangan, seperti Dewi Sartika di Jawa Barat, Maria Walanda Maramis di Minahasa, Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia di Aceh, hingga Martha Christina Tiahahu dari Maluku. Ia juga menegaskan bahwa di balik nama-nama besar tersebut, terdapat banyak perempuan lain yang tidak tercatat dalam sejarah, namun turut membuka jalan melalui langkah-langkah kecil yang sering kali tak terlihat.“ Jalan yang kita lalui hari ini adalah hasil dari banyak langkah, baik yang besar maupun kecil, yang terlihat maupun tidak terlihat,” ujarnya.

Ia turut menyoroti paradoks kehidupan perempuan di era modern. Di satu sisi, perempuan memiliki akses yang semakin luas terhadap pendidikan, pekerjaan, dan ruang publik, termasuk ruang digital. Namun di sisi lain, berbagai persoalan mendasar masih terus terjadi, seperti keterbatasan akses pendidikan, kekerasan terhadap perempuan di rumah, tempat kerja, ruang publik, bahkan ruang ibadah dan ruang digital, serta minimnya ruang aman bagi suara perempuan untuk didengar. Ia mengajak perempuan lintas iman untuk berjalan bersama, saling menguatkan, dan membuka ruang agar setiap suara dapat hadir tanpa rasa takut. Ia juga menegaskan bahwa pertemuan ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga momentum untuk membulatkan tekad menuju aksi nyata.
Refleksi yang mengalir sepanjang acara memperlihatkan beragam pergumulan yang saling terhubung. Siti Aminah dari Koalisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) menegaskan bahwa iman sejati tidak dapat dilepaskan dari kemanusiaan. “Hukum tertinggi itu adalah kasih sayang. Kita boleh berbeda dalam iman, tetapi kita bersaudara dalam kemanusiaan,” katanya, seraya mengajak semua pihak untuk bersolidaritas terhadap perempuan yang hak dan kebebasannya masih dibatasi.
Hal senada disampaikan Yayah Kisbiyah dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP. Muhammadiyah. Ia menekankan bahwa iman sejati tidak hanya berbicara tentang relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga kepekaan horizontal terhadap sesama, terutama mereka yang terpinggirkan dan termarjinalkan. Ia juga mengungkapkan pengalamannya merasakan ruang lintas iman yang hangat, saling menopang, dan membuka harapan akan solidaritas yang membebaskan.
Sementara itu, Is Werdiningsih menyuarakan keberanian dalam identitasnya sebagai penghayat kepercayaan. “Menjadi perempuan adalah perjuangan. Menjadi penghayat adalah keteguhan. Menjadi keduanya adalah keberanian,” ungkapnya. Ia mengingatkan bahwa keadilan belum sungguh hadir selama masih ada yang harus menyembunyikan identitas demi rasa aman.
Dalam refleksi yang berbeda, Pdt. Johan Kristantara, Sekretaris Eksekutif Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan (KKC) PGI, mengajak hadirin merenungkan perjuangan perempuan di berbagai wilayah yang terdampak eksploitasi lingkungan, seperti Toba, Pegunungan Kendeng, Morowali, hingga Raja Ampat. Ia menggambarkan bagaimana suara perempuan sering kali hadir dalam kesunyian keseharian. “Ratapan itu tidak selalu terdengar di mimbar atau ruang konferensi, tetapi di dapur kecil, di tepi sumur yang mengering, di perjalanan panjang mencari air bersih. Ratapan ini bukan sekadar tangisan, melainkan doa yang lahir dari tanah yang terluka,” ujarnya.
Dalam sesi refleksi lainnya, Dina Lumban Tobing, dari Lingkar Budaya, menghadirkan suara anak muda yang menekankan pentingnya keluarga sebagai ruang pertama pembentukan harapan dan ketahanan. Ia menuturkan bahwa keluarga, termasuk keluarga yang dipilih seperti sahabat, dapat menjadi ruang aman untuk saling menguatkan, berbagi, dan merayakan perjuangan, meski tidak selalu berakhir dengan kemenangan. ““Saya percaya, harapan itu sering lahir dari ‘gereja kecil’, yaitu keluarga. Bahkan lebih dari itu, keluarga yang kita pilih, persahabatan, terutama di antara perempuan dan orang muda, menjadi ruang aman untuk saling menguatkan. Di situlah kita bisa tetap bertahan, saling merangkul, dan terus mengupayakan perjuangan, meski tidak selalu menang.” Ungkap Dina.
Hal serupa ditegaskan oleh Equivalent Pangasi Rajagukguk, Kepala Biro Keluarga dan Anak PGI, yang menyoroti pentingnya peran keluarga, gereja, dan komunitas dalam menjadi ruang pemulihan dan penguatan bagi perempuan. Ia mengingatkan bahwa perjuangan Kartini melalui tulisan-tulisannya belum selesai, sebab hingga kini masih banyak perempuan yang menghadapi ketidakadilan dalam berbagai bentuk.
Pada akhir pertemuan, para peserta juga merumuskan sejumlah langkah bersama. Di antaranya adalah menginisiasi gerakan forum perempuan lintas iman, memberi perhatian pada berbagai isu strategis seperti persoalan ekologis dan ketidakadilan struktural, serta merencanakan pertemuan lanjutan sebagai ruang evaluasi sekaligus merayakan capaian bersama. Selain itu, komitmen untuk membangun sinergi sumber daya dan berbagi pengalaman juga ditegaskan sebagai upaya saling melengkapi dan menguatkan dalam perjalanan bersama ke depan
Pdt. Mezisita Herlina, Kepala Biro Perempuan pada akhir peretmuan menegaskan bahwa terang kini ada di tangan setiap perempuan. Refleksi dan rencana tindak lanjut yang telah disusun, menurutnya, adalah langkah awal untuk merebut kembali ruang bersuara, yang harus dilanjutkan dengan tindakan nyata.
Pertemuan ini menjadi penegasan bahwa semangat Kartini tidak berhenti sebagai warisan sejarah, melainkan terus hidup dalam langkah-langkah perempuan masa kini, yang memilih untuk bersuara, bergerak, dan menghadirkan terang di tengah kehidupan. (NA)
Berikan Komentar
Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *
Berita & Peristiwa
Refleksi PELITA: Perempuan Lintas Iman Perkuat Solidaritas dan Komitme...
JAKARTA, PGI.OR.ID-Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah membawa terang bagi perempuan Indonesia...
MPH-PGI Terima Kunjungan Pimpinan Sinode GPKB di Grha Oikoumene
JAKARTA,PGI.OR.ID-Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH-PGI) menerima kunjungan p...
Seminar Paskah Nasional V: Sekum PGI Tegaskan Peran Gereja di Tengah K...
PALU, PGI.OR.ID — Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Dr. Darwin Darmawan, M...

