Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Membuka Round Table Meeting MPK-PGI, Ketum PGI Ajak Gereja Wujudkan Agenda Nyata Transformasi Pendidikan Kristen

Thumbnail
Author

admin

11 Aug 2026 10:57

Share:

TANGERANG SELATAN, PGI.OR.ID — Gereja-gereja di Indonesia didorong untuk tidak berhenti pada diskusi mengenai krisis pendidikan Kristen, tetapi mulai membangun agenda bersama yang konkret dan berdampak. Ajakan tersebut disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, saat membuka Round Table Meeting Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia bersama PGI di Hotel Trembesi, Serpong, Tangerang Selatan, Senin–Selasa (11–12/8/2026).

Forum yang diikuti sekitar 90 peserta dari 20 sinode di berbagai wilayah Indonesia ini mempertemukan pimpinan sinode, gereja, yayasan pendidikan, serta pengelola sekolah Kristen. Pertemuan tersebut menjadi ruang bersama untuk membaca berbagai tantangan pendidikan Kristen sekaligus merumuskan langkah strategis bagi transformasi pendidikan Kristen di Indonesia.

Penyelenggaraan forum ini dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan yang semakin kompleks dalam dunia pendidikan Kristen. Dalam Sidang Raya XVIII PGI di Toraja pada 2024, PGI mengidentifikasi sejumlah krisis yang membentuk situasi polikrisis, yakni krisis kebangsaan, keesaan, ekologi, pendidikan, keluarga, dan ekonomi. Situasi tersebut semakin kompleks dengan hadirnya revolusi teknologi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang membawa perubahan besar terhadap hampir seluruh aspek kehidupan.

Di tengah berbagai krisis tersebut, pendidikan menjadi salah satu perhatian penting karena berkaitan langsung dengan pembentukan karakter, kualitas sumber daya manusia, serta masa depan generasi bangsa. Gereja sendiri memiliki sejarah panjang dalam pelayanan pendidikan dan karena itu dipandang memiliki tanggung jawab untuk terus mengambil bagian dalam menjawab tantangan tersebut.

Dalam khotbah pembukaan, Pdt. Etika Saragih menekankan bahwa pendidikan Kristen tidak semata-mata bertujuan menjaga generasi muda agar tidak terpengaruh oleh berbagai nilai negatif di sekitarnya. Lebih dari itu, pendidikan Kristen harus mempersiapkan generasi yang mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat. “Kita tidak hanya ingin generasi yang tidak terpengaruh, tetapi generasi yang memberikan pengaruh,” tegasnya.

Menurut Pdt. Etika, gereja dan sekolah dipanggil untuk mempersiapkan generasi yang mampu menjadi terang di berbagai bidang kehidupan. Pendidikan Kristen harus melahirkan orang-orang yang membawa nilai-nilai Kristiani dalam dunia pendidikan, pekerjaan, teknologi, seni, politik, maupun berbagai ruang kehidupan sosial lainnya.

Pesan tersebut sejalan dengan penegasan Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, yang menyebut pelayanan pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari panggilan gereja. Karena itu, persoalan yang dihadapi sekolah-sekolah Kristen tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis atau administratif lembaga pendidikan. “Sekolah bukan sekadar unit administratif di bawah yayasan. Sekolah adalah perpanjangan tangan panggilan gereja untuk membentuk manusia yang beriman, berkarakter, berdaya, dan mampu menghadirkan transformasi di tengah masyarakat,” ujar Pdt. Jacklevyn.

Ia menegaskan, ketika sekolah Kristen mengalami krisis, gereja perlu melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari tantangan terhadap visi dan misi pelayanan pendidikan gereja. “Karena itu, ketika sekolah Kristen mengalami krisis, sesungguhnya yang sedang kita hadapi adalah krisis gereja, krisis visi, dan krisis misi pelayanan pendidikan,” lanjutnya.

Menurut Pdt. Jacklevyn, gereja perlu membaca perubahan zaman secara kritis dan memahami dampaknya terhadap pendidikan. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, tekanan ekonomi, penurunan jumlah peserta didik, hingga krisis guru merupakan sejumlah tantangan yang membutuhkan respons bersama. “Kita hidup di tengah berbagai tantangan besar, mulai dari disrupsi teknologi dan kecerdasan artifisial, tekanan ekonomi, menurunnya jumlah siswa, hingga krisis guru yang semakin mendesak. Semua ini menuntut gereja dan lembaga pendidikan untuk bekerja sama lebih erat dalam mencari solusi yang berkelanjutan,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan agar forum tersebut tidak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan dan menghasilkan rekomendasi semata. Menurutnya, keberhasilan pertemuan harus diukur dari kemampuan para pemangku kepentingan untuk menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata. “Saya mengajak kita melampaui retorika dan mulai merumuskan agenda aksi yang nyata. Ukuran keberhasilan forum ini bukanlah banyaknya rekomendasi yang dihasilkan, melainkan sejauh mana kita mampu mengimplementasikan langkah-langkah yang berdampak bagi masa depan pendidikan Kristen,” tegasnya.

Salah satu kunci yang ditekankan Pdt. Jacklevyn adalah penguatan jejaring lintas sinode dan yayasan pendidikan. Menurutnya, setiap gereja dan lembaga pendidikan memiliki pengalaman, sumber daya, serta praktik baik yang dapat dibagikan dan dikembangkan bersama. “Kita perlu membangun jaringan lintas sinode dan yayasan pendidikan agar pengalaman, sumber daya, dan karunia yang dimiliki masing-masing dapat saling menopang. Ketika kita membuka diri untuk belajar satu sama lain, kita akan menemukan bahwa Tuhan telah menempatkan kekayaan pengalaman yang dapat mengangkat kita bersama,” ujarnya.

Ia berharap forum tersebut menjadi momentum untuk menyatukan panggilan gereja dalam mempersiapkan generasi masa depan. “Mari jadikan forum ini bukan sekadar ruang pertukaran gagasan, melainkan ruang untuk menyatukan panggilan Kristus dalam mempersiapkan generasi masa depan. Dengan hati yang terbuka dan kerendahan hati untuk saling belajar, saya percaya Tuhan akan menuntun kita merumuskan langkah-langkah yang membawa perubahan nyata,” katanya.

Ketua MPK Indonesia, Handi Irawan, menyampaikan pandangan senada. Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah Kristen saat ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga secara sendiri-sendiri. Karena itu, kolaborasi di seluruh ekosistem pendidikan Kristen menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

“Kolaborasi yang telah kita bangun bersama selama beberapa tahun terakhir harus terus diperkuat. Tantangan yang kita hadapi hari ini tidak cukup dijawab dengan diskusi semata, tetapi membutuhkan solusi yang nyata, yang lahir dari kreativitas, inovasi, dan kerja sama yang baik,” ujar Handi. Ia berharap Round Table Meeting MPK-PGI 2026 dapat menghasilkan gagasan yang solutif dan dapat memberikan dampak nyata, baik bagi gereja maupun masyarakat.

Pertemuan ini dirancang sebagai bagian dari proses transformasi pendidikan Kristen yang dimulai dari kesadaran bersama mengenai kondisi dan tantangan pendidikan saat ini. Proses tersebut kemudian diarahkan pada perumusan visi tentang sekolah Kristen yang sejati, sekaligus pengembangan langkah-langkah transformasi melalui praktik-praktik baik, penguatan jejaring, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Apresiasi terhadap forum tersebut juga disampaikan Pdt. Rita Mariane, Wakil Sekretaris Umum MPH Sinode GKE. Menurutnya, pertemuan ini memberikan ruang dialog yang penting antara gereja, yayasan, dan pengelola sekolah. “Forum seperti ini penting karena memberi kesempatan bagi kami untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan menemukan solusi bersama atas berbagai tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah Kristen di daerah,” ungkapnya. Ia berharap hasil pertemuan tersebut tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi diterjemahkan menjadi langkah nyata yang mendukung transformasi pendidikan Kristen di berbagai daerah.

Melalui Round Table Meeting 2026, MPK Indonesia dan PGI mendorong lahirnya gerakan bersama untuk memperkuat kembali pendidikan Kristen sebagai bagian dari kesaksian dan pelayanan gereja. Transformasi sekolah Kristen diharapkan tidak hanya menjawab persoalan internal lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi kontribusi nyata gereja dalam mempersiapkan generasi yang beriman, berkarakter, berdaya, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Dengan demikian, pendidikan Kristen tidak hanya dipertahankan sebagai warisan pelayanan gereja, tetapi terus diperbarui agar mampu menjawab kebutuhan zaman dan menghadirkan terang Kristus bagi gereja, masyarakat, dan bangsa. (NA-EDP)

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Membuka Round Table Meeting MPK-PGI, Ketum PGI Ajak Gereja Wujudkan Ag...
by admin 11 Aug 2026 10:57

TANGERANG SELATAN, PGI.OR.ID — Gereja-gereja di Indonesia didorong untuk tidak berhenti pada diskusi mengena...

SURAT PASTORAL MPH-PGI Dalam Rangka Hari Remaja Oikoumenis Sedunia 202...
by admin 10 Aug 2026 19:24

SURAT PASTORAL Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Dalam Rangka Hari Remaja Oikoume...

Panduan Merancang Ibadah Hari Remaja Oikoumenis Sedunia 2026 “REST...
by admin 10 Aug 2026 18:32

PengantarRemaja merupakan salah satu fase pertumbuhan yang penting dalam kehidupan manusia. Pada masa transis...